Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Koran Lama
Anak Perempuan Hilang di Keramaian Lampion.
Bryan membaca judul itu sampai huruf-hurufnya terasa menusuk mata.
Staf di kursi depan belum berani bicara. Mobil masih berhenti di area parkir sekolah, mesin menyala pelan, tetapi dunia Bryan seperti ditarik kembali ke malam delapan belas tahun lalu. Lampion merah. Tangan kecil yang licin oleh keringat. Suara petasan yang terlalu dekat. Lalu jeritan Mama Christine yang memecah keramaian.
Ia masih terlalu kecil saat itu untuk memahami kehilangan.
Tetapi ia cukup besar untuk mengingat bahwa setelah malam itu, rumah Wijaya tidak pernah benar-benar kembali terang.
"Minta file lengkapnya sekarang," kata Bryan.
Stafnya menoleh. "Arsipnya belum digital, Pak. Mereka bilang harus menghubungi bagian dokumentasi koran lama. Mungkin butuh waktu."
"Bayar biaya administrasinya. Minta scan darurat."
"Baik, Pak."
Bryan menutup mata sebentar. Ia tahu ia tidak boleh terburu-buru. Selama bertahun-tahun keluarganya sudah menerima terlalu banyak petunjuk palsu. Anak yang mirip. Umur yang hampir cocok. Bekas luka yang dikarang. Bahkan beberapa orang pernah datang membawa gadis muda dan cerita sedih hanya untuk meminta uang.
Namun nama Seline terus berdiri di antara semua garis itu.
Surabaya.
Usia yang sesuai.
Wajah yang membuatnya berhenti bernapas di pernikahan Michelle.
Dan sekarang, artikel lama tentang anak perempuan hilang di keramaian lampion.
Satu jam kemudian, file pertama masuk.
Bryan membukanya di tablet. Kualitas scan buruk. Kertas koran tampak menguning, beberapa huruf pecah, tetapi judulnya jelas. Di bawah judul ada foto hitam putih keramaian festival. Lampion kertas menggantung di atas jalan, orang-orang berdiri rapat, dan di sisi kanan foto ada gambar seorang perempuan muda yang wajahnya ditutup tangan.
Mama Christine.
Bryan langsung tahu meskipun foto itu buram.
Dadanya sakit.
Ia menggulir perlahan ke bagian artikel.
Seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahun dilaporkan hilang saat perayaan Cap Go Meh di kawasan Kota Tua pada Sabtu malam. Anak tersebut diketahui berasal dari keluarga Wijaya dan memiliki nama panggilan Taotao. Saat terakhir terlihat, ia mengenakan jaket merah muda dan sepatu putih kecil. Pihak keluarga meminta siapa pun yang melihat anak tersebut segera menghubungi pos keamanan festival atau kantor kepolisian terdekat.
Tablet di tangan Bryan hampir jatuh.
Taotao.
Nama itu bukan hanya nama kecil. Nama itu adalah suara Mama Christine setiap pagi selama bertahun-tahun, ketika ia duduk di kamar anak yang tidak pernah dibongkar. Nama itu adalah alasan Opa Herman tidak pernah mengizinkan festival lampion disebut sebagai hiburan biasa di rumah. Nama itu adalah lubang yang ditutup semua orang dengan pekerjaan, acara keluarga, dan senyum yang terlalu tertib.
Bryan membaca lagi.
Usia dua tahun.
Jaket merah muda.
Sepatu putih kecil.
Ia mengingat sesuatu yang datang seperti pecahan kaca. Tangan kecil yang memegang ujung lengan bajunya. Suara manis yang belum bisa menyebut namanya dengan benar. "Yan."
Bryan menunduk, menekan pangkal hidungnya.
Stafnya tidak bersuara.
Beberapa menit kemudian, file kedua masuk. Lampiran tambahan dari arsip foto.
"Pak," kata staf hati-hati, "mereka mengirim potongan foto keluarga yang pernah dimuat sehari setelah laporan pertama."
Bryan membuka lampiran itu.
Foto itu lebih buruk dari yang pertama. Empat orang berdiri di depan dekorasi lampion. Opa Herman masih lebih muda, wajahnya kaku seperti menahan amarah. Mama Christine berlutut di depan seorang anak kecil, satu tangannya memegang bahu anak itu. Seorang anak laki-laki kecil berdiri di samping, wajahnya setengah menoleh.
Bryan sendiri.
Di tengah foto, anak perempuan itu tertawa ke arah kamera.
Wajahnya tidak jelas. Butiran scan membuat mata dan hidungnya hampir menyatu. Tetapi bentuk pipinya, cara kepala kecil itu miring, dan lengkung bibirnya membuat Bryan sulit bernapas.
Seline saat tersenyum menahan malu di ruang utama Hartono.
Tidak sama persis. Tidak mungkin sama persis setelah delapan belas tahun.
Tetapi ada sesuatu yang menyeberang dari foto buruk itu ke wajah Seline, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata mirip saja.
Bryan memperbesar gambar.
Stafnya berkata pelan, "Pak, jangan terlalu dipaksa. Fotonya pecah."
"Diam."
Suara Bryan tidak keras, tetapi staf itu langsung berhenti.
Ia memperbesar bagian leher anak kecil itu. Kertas buram. Bayangan gelap. Garis putih karena kerusakan scan. Awalnya tidak ada yang jelas.
Lalu Bryan melihatnya.
Sebuah bentuk kecil di dada anak itu. Bulat memanjang, tergantung pada tali tipis.
Liontin.
Ia tidak bisa memastikan bahannya. Tidak bisa melihat ukiran. Tidak bisa langsung berkata itu giok keluarga. Tetapi ia tahu keluarga Wijaya pernah memberikan liontin kecil kepada Taotao pada ulang tahun keduanya. Mama Christine yang memilihnya. Opa Herman yang meminta ukiran nama keluarga di belakangnya.
Bryan menutup tablet, lalu membukanya lagi.
Ia takut jika layar ditutup terlalu lama, harapan itu akan hilang seperti asap.
"Hubungi rumah," katanya.
"Ke Opa Herman?"
"Iya. Jangan hubungi Mama."
Stafnya mengangguk cepat.
Tidak sampai satu menit, suara Opa Herman terdengar dari speaker. Berat, rendah, dan langsung.
"Ada apa?"
Bryan menggenggam tablet sampai buku jarinya memutih. "Opa, saya menemukan arsip lama."
Di seberang sana, hening turun.
"Tentang Taotao?"
Bryan menelan sesuatu yang pahit. "Iya."
Opa Herman tidak langsung bertanya. Orang tua itu selalu begitu. Dalam keluarga Wijaya, panik dianggap kemewahan yang tidak boleh muncul sebelum bukti lengkap.
"Kirim ke saya."
"Saya akan kirim sekarang. Tapi Opa..." Bryan berhenti. Nama Seline sudah berada di ujung lidahnya, tetapi mengucapkannya terasa seperti membuka pintu yang tidak bisa ditutup lagi. "Saya pernah bertemu seorang gadis."
"Yang kamu sebut setelah pernikahan Michelle?"
Bryan memejamkan mata. Tentu Opa ingat.
"Iya."
"Kamu yakin?"
"Belum."
"Kalau belum, jangan sentuh hidup anak itu."
Kalimat itu membuat Bryan diam.
Opa Herman melanjutkan, "Kalau dia bukan Taotao, kamu akan melukai orang asing. Kalau dia Taotao, dia sudah cukup lama terluka tanpa kita. Bawa bukti yang bersih."
Bukti yang bersih.
Itulah suara keluarga Wijaya. Bahkan ketika hati sudah berdarah, tangan harus tetap rapi.
"Saya mengerti," kata Bryan.
"Dan jangan beri tahu Christine."
Nama ibunya membuat Bryan menunduk. "Saya tahu."
Panggilan berakhir.
Bryan duduk lama tanpa bergerak. Di luar kaca mobil, anak-anak sekolah mulai keluar dari gedung untuk jam istirahat. Mereka tertawa, berlari, saling memanggil nama. Suara itu membuat foto koran di tablet terasa lebih kejam.
Delapan belas tahun lalu, seorang anak kecil juga pernah tertawa di bawah lampion.
Lalu hilang.
Di Hartono, malam itu Seline duduk di tepi ranjang setelah Darren tidur. Ia tidak tahu apa pun tentang arsip koran. Ia hanya merasa dadanya tidak tenang sejak pagi, seperti ada tangan jauh yang mengetuk pintu ingatannya.
Pelan-pelan, ia mengeluarkan liontin giok dari balik bajunya.
Permukaannya dingin di ujung jari.
Nama Wijaya di belakangnya sudah aus, tetapi tetap ada.
Seline menatapnya lama, lalu berbisik pada kamar yang gelap, "Kalau benar rumahku di Jakarta, kenapa rasanya semua jalan menuju ke sana selalu membuatku takut?"
Tidak ada yang menjawab.
Di dalam mobilnya, Bryan membuka kembali foto lama itu.
Ia memperbesar bagian leher anak kecil dalam gambar sampai layar hanya berisi bayangan kecil yang hampir hancur oleh usia koran.
Namun bentuk itu tetap ada.
Di leher anak kecil itu, ada liontin giok.