NovelToon NovelToon
Menikahi Tuan Danzel

Menikahi Tuan Danzel

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:370.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aquilaliza

Penyelamatan yang dilakukan Luna pada seorang Kakek membawanya menjadi istri dari seorang Danzel, CEO dingin yang tak memepercayai sebuah ikatan cinta. Luna yang hidup dengan penuh cinta, dipertemukan dengan Danzel yang tidak percaya dengan cinta. Banyak penolakan yang Danzel lakukan, membuat Luna sedikit terluka. Namun, apakah Luna akan menyerah? Atau, malah Danzel yang akan menyerah dan mengakui jika dia mencintai Luna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Danzel Yang Perhatian

Perjalanan Danzel dan Luna dihiasi keheningan. Tidak satu pun dari keduanya yang memulai pembicaraan. Danzel sesekali menatap Luna melalui spion. Tapi Luna, gadis itu terlihat begitu acuh.

Danzel menarik nafasnya lalu menghembuskannya. Ternyata diacuhkan memang sangat tidak enak. Perlahan, dia memelankan laju mobilnya, kemudian menepikannya dan berhenti. Dia menoleh ke belakang, dan Luna masih saja diam.

Tak mengatakan apapun, Danzel membuka pintu mobil dan keluar. Lalu, dia membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk, duduk tepat di samping Luna.

"Kau masih marah padaku?" tanya Danzel, menatap lekat wajah Luna. "Bukankah kau sudah memaafkanku?"

Luna menarik nafasnya lalu menolehkan wajahnya menatap Danzel. "Aku memang sudah memaafkanmu. Tapi, kau belum minta maaf pada Selly dan Ivan. Setelah malam itu, kau langsung pulang tanpa meminta maaf. Aku sudah menunggumu saat istirahat siang untuk menemanimu bertemu Selly dan Ivan. Tapi, aku malah dapat pesan pamit darimu."

Danzel meraih tangan Luna dan menggenggamnya. "Maafkan aku. Saat itu benar-benar mendadak. Ada rapat penting yang harus aku hadiri," jelas Danzel. Saat itu dia hanya mengirim pesan pamit pada Luna tanpa menjelaskan alasannya.

"Kalau kau mau, kita bisa ke tempat tinggal sahabatmu itu sekarang."

"Tidak. Tempat tinggal mereka cukup jauh. Aku juga ingin cepat sampai rumah dan istirahat."

Danzel tersenyum tipis, membuat Luna terpaku menatapnya. Danzel sangat jarang tersenyum selama ini. Dan sekali tersenyum seperti ini, membuat jantungnya berdegup semakin kencang.

"Ya sudah. Sekarang kita pulang. Kau—"

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan di kaca mobil membuat ucapan Danzel terhenti. Wajahnya berubah dingin. Dia tidak suka ada yang mengganggu waktunya bersama Luna. Danzel menurunkan kaca mobil, hingga terlihat seorang pria berseragam polisi di depannya.

"Selamat siang, Pak," ucap polisi tersebut.

"Selamat siang," jawab Danzel tenang.

"Maaf Pak, setiap pengendara yang melintas dilarang menghentikan mobilnya sembarangan. Setiap kendaraan juga dilarang diparkir sembarangan. Anda bisa dikenai hukuman atas tindakan anda."

"Maaf, Pak Polisi. Tadi saya merasa mual. Suami saya hanya berhenti sebentar untuk membantu saya mengatasi rasa mual," sahut Luna. Dia tahu tempramen Danzel. Dia takut Danzel malah tidak terima dengan peringatan sang polisi. Jadi, dia berinisiatif menjawab si polisi. Hal itu membuat Danzel menoleh menatapnya.

"Baiklah. Lain kali, jangan ulangi. Patuhi aturan berlalu lintas, dan jaga keselamatan," ucap Pak Polisi.

"Iya, Pak."

Danzel tersenyum tipis pada Luna, lalu mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Luna. Jantung Luna kembali berdegup dengan kencang. Dia membalas senyum Danzel. Semua itu tak lepas dari tatapan si polisi.

"Kita akan melanjutkan perjalanan. Mau pindah ke depan?" tanya Danzel.

"Tidak. Aku merasa nyaman di sini. Jika di depan, aku akan semakin mual," ujar Luna, melanjutkan kebohongannya.

Danzel mengangguk. Dia lalu keluar dari mobil dan kembali ke kursi pengemudi. Danzel menurunkan kaca mobilnya lalu mengenakan seatbelt. Setelah itu, dia menoleh pada si polisi dengan wajah dinginnya, sekedar menganggukkan kepala untuk berpamitan. Hal itu membuat si polisi tersenyum.

"Selamat berkendara. Semoga anda dan istri anda sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Dan semoga calon bayi kalian sehat," ucap si polisi. Sepertinya dia salah memahami kebohongan Luna.

Tapi, itu membuat Danzel tersenyum tipis. Sementara Luna, dia tersenyum paksa. Dia tidak menyangka, sandiwaranya diartikan lain oleh si polisi.

***

Tiba di rumah, Danzel dengan cepat turun dari mobilnya dan segera membuka pintu mobil untuk Luna. Perbuatan Danzel membuat Luna mengulun senyum. Diperhatikan seperti ini membuatnya merasa senang. Danzel juga membawakan barang bawaannya.

"Danzel, tidak apa. Biar aku saja yang membawanya." Luna berusaha meraih barangnya dari tangan Danzel. Tapi, laki-laki itu dengan cepat menolaknya.

"Tidak apa-apa. Biar aku saja yang membawanya. Kau pasti lelah," ucap Danzel. Dia meraih sebelah tangan Luna dan menggenggamnya. Kemudian dengan lembut ia menariknya, membawa Luna memasuki rumah.

Bibi Marry dan Bibi Berna yang melihat keduanya merasa heran sekaligus senang. Mereka heran, sejak kapan Danzel bersikap hangat pada Luna. Meski begitu, mereka merasa senang Tuan dan Nyonya mereka akur.

"Tuan, Nyonya," sapa kedua wanita itu bersamaan.

"Hai, Bi," sapa balik Luna. Sementara Danzel, seperti biasa hanya mengangguk membalas mereka.

Keduanya langsung menuju kamar. Danzel meletakkan barang bawaan Luna, sementara Luna langsung berbaring di ranjang.

"Meskipun menyenangkan, tour juga cukup melelahkan," ucap Luna pelan.

Danzel yang mendengarnya menggeleng pelan. Dia berjalan mendekati ranjang, lalu ikut berbaring.

"Kau lelah?" tanya Danzel, menatap Luna. Luna hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan mata yang terpejam.

"Apa yang bisa aku lakukan agar lelahmu berkurang?"

Luna langsung membuka matanya, lalu memiringkan tubuhnya menatap Danzel. "Tidak ada," jawabnya. "Tapi, jika kau bisa, lelahku bisa hilang jika kau peluk," ucap Luna sambil menatap Danzel.

"Ayo, kemari!"

Luna menatapnya lekat. Dia tidak menyangka Danzel mau mengikuti keinginannya. Tiba-tiba dia ingin menguji Danzel lagi. "Aku lelah. Kau saja yang kemari."

Tanpa banyak bicara, Danzel langsung bergeser mendekati Luna. Dia membawa Luna dalam pelukannya. Dia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Luna, lalu sebelah tangannya memeluk tubuh Luna.

Luna terdiam dengan jantung yang berdetak cepat. Dia tidak menyangka Danzel benar-benar mau mengikuti keinginannya.

"Kalau mau tidur, aku saran kan untuk mandi dulu," ucap Danzel. Tangannya bergerak mengusap lembut rambut Luna.

Luna tak menjawab. Dia masih mencerna semua kejadian itu. Semuanya seperti mimpi. Dari pengakuan cinta Danzel, hingga hari ini, hari dimana Danzel menunjukkan sikap yang berbeda. Mengingat pengakuan cinta Danzel, membuat Luna ingin mendengarnya lagi.

"Danzel."

"Hmm?"

"Aku ingin bertanya."

"Bertanya apa?" balas Danzel. Tangannya masih belum berhenti mengusap rambut Luna.

"Mengenai yang kau katakan waktu itu."

"Yang ku katakan?" tanya Danzel. Usapannya di rambut Luna dihentikan. Danzel juga menatap Luna yang saat ini juga menatapnya.

"Iya, yang kau katakan waktu aku melakukan tour."

"Yang mana? Aku tidak ingat," jawab Danzel, berpura-pura lupa. Sebenarnya dia mengingat jelas semua peristiwa itu.

"Yang itu, saat kau mengakui perasaanmu padaku."

"Aku benar-benar lupa. Coba kau ulangi."

"Ck. Kau ini, belum tua saja sudah pikun. Waktu itu, kau mengatakan, aku mencintaimu—"

"Aku juga mencintaimu," potong Danzel sambil memberikan kecupan di kening Luna.

Luna terdiam, menatap lekat mata Danzel. Bibirnya bergetar, begitu juga dengan hatinya yang berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Setelah sadar, Luna mendorong tubuh Danzel dan mencubit perutnya.

"Shh... Sakit, Luna," ucap Danzel meringis pelan.

"Rasakan! Kau mengerjaiku, kan?"

"Iya. Aku—" Ucapan Danzel terhenti ketika melihat mata Luna berkaca-kaca. "Hei, Luna. Ada apa? Jangan menangis," ucap Danzel. Sebelah tangannya mengusap pipi Luna.

"Ayo katakan! Kau hanya mempermainkan ku, kan?"

"Tidak. Aku tidak pernah mempermainkanmu. Tadi aku hanya ingin mengerjaimu. Aku tidak lupa dengan semua pengakuanku waktu itu. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Danzel. Dia kembali membawa Luna dalam pelukannya. "Percaya padaku. Aku benar-benar mencintaimu."

"Kau sungguh-sungguh? Kau tidak bercandakan?"

Danzel menggeleng. "Aku tidak bercanda."

"Bagaimana dengan prinsipmu? Tidak ada cinta di hidupmu. Kau tidak percaya cinta dan kasih sayang."

Danzel meregangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Luna. Dia juga memaksa Luna menatapnya. "Dengar! Semuanya sudah runtuh Luna. Benteng yang ku bangun semuanya runtuh, Luna. Dan semua itu karena mu. Kau memberi banyak hal yang tidak pernah ku dapatkan. Aku tidak tahu, kapan pastinya perasaanku mulai tumbuh untukmu. Yang jelas, perasaanku ini bukan kebohongan. Cintaku benar-benar ada untukmu. Bukan rekayasa."

Luna terdiam. Perasaannya mengatakan jika Danzel mengatakan yang sejujurnya. Mata Danzel yang menatapnya penuh kelembutan membuatnya merasa yakin dengan semua yang Danzel katakan.

"Aku ingin tidak percaya padamu. Tapi, matamu dan setiap kata-katamu menggambarkan kejujuran dan kebenaran. Jadi, aku memutuskan untuk mempercayaimu."

Danzel terkekeh mendengarnya. Luna terlihat menggemaskan saat ini. Dengan penuh kelembutan, Danzel kembali membawa Luna dalam pelukannya, dan mengecup kening Luna.

"Terima kasih sudah mempercayaiku," ucap Danzel.

"Ya. Terima kasih juga telah mencintaiku," balas Luna.

1
Violet
Awalnya suka bgt dgn sikap bijak & dewasanya Luna tp makin ke blkg ceritanya sikap Luna kekanakan gampang kesel ditambah ngeyel gak mau di khawatirin pdhal sang suami udah prnah kena sayatan pisau & hampir diculik masih aja gak ada was2nya. Apakah harus suaminya meninggoy dl bru ngeh sadar bhw slama ini byk bahaya mengintai hidupnya? Hadeehhh
Bunda SalVa
bagus ceritanya kak 👍🏻
ira
lucu juga mereka ini 😁🤗
ira
barusan aja berjanji eh sudah dilanggar aja
ira
semoga Dede bayinya cepat hadir ya
ira
selamat ya sekretaris beni atas kelahiran putra kalian 🤗
ira
semoga adonan kalian cepat jadinya ya 😁😁
ira
aku sih lebih suka panggilannya Daddy dan mommy😁
ira
hayolohhh danzel🤣🤣🤣
ira
bnr sekali tuh
ira
emangnya kamu mampu 😒😒😒
ira
heh ternyata menyebar aib sendiri 🤣🤣🤣🤣
ira
Luna itu waras yang gila itu kamu Selena 🤣🤣🤣
ira
kok luna dan Selena bisa saling kenal apa mereka dulu teman sekolah atau apa
ira
🤣🤣🤣🤣🤣
ira
gemes deh sama mereka berdua😁😁
ira
mengusir secara halus ya danzel 🤣🤣🤭
ira
ulat bulu pergi jauh jauh
ira
baru kali ini baca novel yg sekertaris nya sdh punya istri dn ank serta ramah tdk dingin seperti bosnya😁
ira
Selly oh Selly 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!