Pondasi sbuah hubungan adalah kepercayaan, jika kepercayaan telah retak bahkan pecah hubungan itu akan hancur. Kejujuran, keterbukaan dan juga saling mengisi satu sama lain itu juga pnting dalam sebuah hubungan. Ikuti kisahnya dan jangan lupa like, komen dan subscirbenya gais.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
" Bu tolong! Danang belum ingin menikah dan juga mempunyai anak itu gak semudah yang ibu katakan bu. Banyak yang sudah lama menikah belum punya anak. Semua butuh proses, kalau ibu mau ada anak kecil kita adopsi anak kecil aja bu. Biar rumah rame dan ibu gak kesepian lagi. " Jawaban danang tak sesuai dengan apa yang fatma harapkan.
Wajah fatma seketika mendung, fatma semakin sedih dan yakin jika putranya sama sekali belum ada keinginan untuk menikah.
" Kamu selalu saja begitu danang! " Ucap fatma sembari berjalan meninggalkan danang seorang diri.
Sesampainya dikamar bu fatma duduk termenung sembari menatap kembali fotonya bersama damar dan alika.
Semenjak hari itu bu fatma jadi lebih banyak diam, disiang hari dia selalu menyempatkan diri mengunjungi damar dan alika. Meskipun hanya sebatas mengajak mereka makan es krim atau beli jajan di mini market.
*********
Tak terasa kepergian karin dari lujeng sudah satu bulan lamanya. Karina sudah mulai dengan aktifitasnya berkebun disamping rumah pada siang harinya.
Damar dan alika sudah masuk kesekolahannya yang baru, setiap pagi karina mengantar anak-anaknya dengan berjalan kaki karna letak sekolahan tak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.
Berbeda dengan karin yang mulai menata hidupnya, wulan dan lujeng justru mulai tak karuan.
Lujeng sudah kesana kemari mencari pekerjaan namun nhil tak ada satupun kantor atau instansi yang mau memeperkerjakan dia.
Sementara Wulan semakin menjadi saja tingkahnya, setiap hari dia hanya menghabiskan waktunya bermain tok tok didalam kamar. Wulan hanya keluar saat lapar saja, bahkan dimaspun tak ia perdulikan lagi.
Bu anik terpaksa bekerja sebagai buruh tani disalah satu ladang warga. Bu anik bekerja srabutan untuk mencukupi kebtuhanya dan makan sehari-hari.
" Jeng, kata teman ibu ada lahan yang baru mau mulai digarap milik juragan muda dikampung sebelah. Disana lagi butuh banyak kariawan apa kamu kamu bekerja disana? Lumayan loh buat nyambung kebutuhan kita. " Ujar bu anik dengan hati-hati. Pasalnya dia tak mau menyinggung hati menantunya.
" Apaaaa! Jadi buruh diladang? Yang benar saja bu, mana cukup penghasilanya buat perawatan aku bu! Paling-paling cuman cukup buat makan aja. Itupun tahu, tempe, sama kangkung! " Berang wulan, yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar dan nimbrung pembicaraan lujeng dan ibunya.
" Diam kamu wulan, sudah bagus ada tawaran pekerjaan. Kamu tidak tau kan dari kemarin aku pontang panting cari kerja. Kamu itu bukannya membantu kerjaan kamu malah cuman joged-joged gak jelas. Kamu harusnya sadar wulan, penghasilanku tak seprti dulu lagi. Kamu harus bisa belajar membuang kebiasaan buruk kamu yang suka foya-foya dan beli barang-barang gak jelas! " sungut lujeng pada ahirnya dia mengeluarkan apa yang tersimpan dalam dada dan ia tahan selama ini.
" Mas itu sudah tugas dan kewajiban kamu sebagai seorang suami ya. Aku gak mau tau ya mas pokonya aku gak mau kamu kerja diladang. Cari kerja dikelurahan ke, kecamatan ke atau kekabupaten mas! " Wulan bersikap seolah dia tak bisa menerima kenyataan bahwa dia dan suaminya tidak mungkin lagi bekerja diperkantoran.
" Dimas lapar bu. " ucap dimas sembari memegang perutnya yang keroncongan.
" Astaga dimas kamu belum makan nak! Ya Ampun wulan kamu itu ngapain aja seharian kenapa dimas sampai kelaparan apa kamu belum masak hah! " sentak bu anik yang semakin lama semakin geram dengan putrinya sendiri.