Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 23
"Dia?" gumam David saat melihat Diana keluar dari dalam mobil mewah berwarna putih.
"Dia Ibu mertuaku, Dav," bisik Tania lalu berjalan keluar menghampiri ibu mertuanya.
David diam membisu, ke dua alisnya nampak mengkerut heran. Sepertinya dia mengenali Diana. David sempat bertemu dengan wanita paruh baya itu di Kantor Polisi. Anehnya, Diana sedang berbincang dengan pelaku penabrakan ke dua orang tua Tania kala itu.
'Aneh, kenapa Ibu mertuanya Tania kenal sama si penabrak itu? Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Ada hubungan apa, Ibu mertua Tania dengan si penabrak?' batin David seketika dihujani berbagai tanda tanya.
"Dav, perkenalan Ibu mertuaku," sahut Tania berjalan memasuki ruang tamu bersama Diana.
"Hmm! Jadi ini sepupu kamu itu?" tanya Diana mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman.
David seketika tersenyum ramah, dia pun sedikit membungkukkan tubuhnya sopan lalu berjabatan tangan.
"Nama saya David, Nyonya. Saya sepupu Tania, orang tua saya dan orang tua Tania ini saudara kandung," jawab David ramah dan sopan, tapi sejatinya ada banyak pertanyaan yang hampir memenuhi otak pemuda berusia 30-han itu.
"Hmm! Begitu rupanya, oke saya paham," ujar Diana melepaskan tautan tangan David juga balas tersenyum ramah.
"Baiklah, saya permisi sekarang ya, Tania. Kapan-kapan saya mampir lagi ke sini," pamit David.
'Saya pasti akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu bisa berakhir menjadi istri dari pengusaha kaya raya? Apa hubungannya keluarga suami kamu dengan pelaku penabrakan orang tua kamu? Mengapa saya merasa ada yang janggal dengan situasi ini,' batin David menatap lekat wajah Tania lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Diana penuh tanda tanya.
"Hati-hati di jalan, Dav. Kalau kamu sedang butuh bantuan, jangan sungkan datang ke sini ya," sahut Tania tersenyum lebar, "Bu, aku antarkan David ke depan dulu ya." Tania mengalihkan pandangan matanya kepada Diana dan hanya di jawab dengan anggukkan oleh wanita paruh baya itu.
Tania menyusul David yang sudah keluar terlebih dahulu, "Dav, tunggu aku," pinta Tania membuat David sontak menghentikan langkah kakinya.
"Gak usah di antar segala, saya bisa pulang sendiri," sahut David menatap wajah Tania.
"Tak apa, aku antarkan sampai ke depan aja ko," jawab Tania.
Langkah kaki ke duanya seketika tertahan ketika melihat mobil Orion mulai memasuki pintu pagar lalu berhenti tepat di depan teras rumah. Putri keluar dari dalam mobil, begitu pun dengan Orion Dirgantara. Ke duanya berjalan menghampiri Tania dan juga David.
"Mommy," sahut Putri seraya tersenyum lebar, "Eu ... Om ini siapa, Mom?" tanya Putri mendongakkan kepala menatap wajah David dengan kening yang dikerutkan.
"Om ini sepupu Mommy, Putri sayang. Namanya Om David," jawab Tania seraya merapikan rambut Putri yang sedikit berantakan, "Dav, kenalkan dia putri sambung aku, namanya Putri." Tania mengalihkan pandangan matanya kepada David.
"Om tampan sekali, kenalkan nama aku Putri," celetuk Putri menatap wajah David dengan tatapan mata berbinar.
"Kamu juga cantik, sayang. Perkenalan, nama Om David," jawab David ramah dan juga tersenyum lebar.
'Jadi Tania menikahi duda beranak 1,' batin David seraya berjabatan tangan dengan Putri.
"Om mau ke mana? Apa Om mau pulang?" tanya Putri.
"Kamu mau pulang ke mana? Mau saya antarkan?" tanya Orion dengan wajah datar, entar dia hanya basa-basi saja, atau memang tulus ingin mengantarkan sepupu dari istrinya itu.
"Tak usah, saya bisa pulang sendiri. Terima kasih atas basa-basinya," jawab David tersenyum menyeringai.
"Baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu," ujar Orion dengan wajah datar.
David berjalan meninggalkan rumah mewah berlantai 2 itu dengan perasaan berkecamuk. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Ada banyak hal yang menurutnya terasa ganjal di sini. David bertekad akan mencari tahu semua itu sendiri, dia akan mengobati rasa penasarannya. Dirinya pun akan kembali lagi ke sini nanti.
Sementara Orion dan Tania hanya menatap kepergian David sampai laki-laki itu benar-benar keluar dari dalam pagar besi bercat coklat tersebut. Sedangkan Putri segera masuk ke dalam rumah menghampiri sang nenek di dalam sana.
Orion menoleh dan menatap wajah istrinya dari arah samping, "Tega kamu, Tania," celetuk Orion dengan wajah kesal membuat Tania seketika mengerutkan keningnya merasa heran.
"Kamu kenapa?" tanya Tania seketika tersenyum cengengesan.
"Kamu benar-benar tidak menghargai saya sebagai seorang suami, dasar tidak punya perasaan," ketus Orion lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Tania sendirian.
Tania membulatkan bola matanya seraya menatap kepergian suaminya dengan perasaan heran. Dia pun berbalik lalu mengikuti suaminya dari arah belakang.
"Mas, kamu kenapa? Apa kamu cemburu?" tanya Tania dengan nada suara lantang, tapi diabaikan oleh suaminya tentu saja.
Laki-laki itu semakin mempercepat langkah kakinya berjalan menuju kamar mereka yang terletak di lantai 2. Orion benar-benar merasa kesal. Hatinya pun terasa panas terbakar. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan merasa cemburu melihat kebersamaan istrinya dengan laki-laki lain. Sedalam itukah perasaan Orion kepada istrinya?
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka. Orion masuk ke dalam kamar di susul oleh Tania kemudian.
"Mas," sahut Tania meraih telapak tangan suaminya kasar, "Kamu kenapa? Kamu cemburu melihat kedekatanku sama si David?"
Orion menepis telapak tangan istrinya kasar, "Siapa yang cemburu, percaya diri sekali kamu, hah?" bentak Orion seraya menatap wajah istrinya dengan tatapan mata tajam.
Tania balas menatap wajah suaminya seraya tersenyum cengengesan. Dia pun mencubit ke dua sisi rahang suaminya merasa gemas dengan ekspresi wajah Orion yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Hmm! Kamu cemburu, Mas Oreo. Cemburu! Udah ngaku aja," celetuk Tania lalu kembali menurunkan telapak tangannya.
Orion seketika tersenyum kecil, "Sudah lama Mas tidak mendengar kamu memanggil Mas dengan sebutan Mas Oreo," decaknya lalu balas mencubit ke dua sisi pipi istrinya pelan.
"Ikh! Sakit tau," decak Tania dengan nada suara manja juga mengusap ke dua sisi pipinya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
"Dengarkan Mas baik-baik, Tania. Pokoknya, Mas gak suka melihat kamu dekat-dekat sama si David itu," ketus Orion tegas dan penuh penekanan, "Bukan hanya sama dia saja, tapi sama laki-laki lain juga. Kamu harus menjaga jarak dengan laki-laki manapun, paham?"
Bukannya menjawab pernyataan suaminya, yang dilakukan oleh Tania adalah mengecup bibir suaminya mesra, bahkan menyisir setiap jengkal bibir sensual seorang Orion membuat amarah yang semula meledak-ledak seketika tenggelam dan tergantikan dengan gairah yang tiba-tiba saja naik kepermukaan.
"Nakal kamu ya," bisik Orion sesaat setelah mereka melepaskan tautan bibir masing-masing, "Jangan salahkan Mas jika sekarang Mas jadi ingin bercinta sama kamu."
"Aku yang di atas ya?"
"Hah?"
Blug!
Tania tiba-tiba saja mendorong tubuh suaminya hingga dia berbaring terlentang di atas ranjang.
"Sayang!" sahut Orion dengan ke dua mata yang membulat sempurna.
"Sttt! Aku kunci pintu dulu sebentar," ucap Tania berjalan ke arah pintu lalu menguncinya kemudian, wanita itu segera menerkam suaminya di atas ranjang.
"Haaa! Taniaaaa, tunggu dulu sebentar!"
"Apa?"
"Tunggu, saya tak bisa napas! Pelan-pelan, sayang. Astaga!"
BERSAMBUNG