Keyla merasa lelah dirinya selalu di hianati oleh suaminya. Hingga akhirnya dia menjadi wanita yang kuat dan cerdik untuk bisa memberikan pelajaran pada suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vania Putri Syadinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Emira
Keluarga Keyla di persilahkan masuk. Anak - anak juga menyalami Keyla dengan santun. Mereka memanggil Keyla dengan sebutan Bunda, dan memanggil Emira dengan sebutan Kakak.
Ada sekitar tiga puluh anak yang berada di Panti Asuhan. Sebagian besar anak masih berusia lima sampai dua belas tahun. Ada juga anak balita. Dari mereka juga ada yang tega di buang oleh orang tuanya.
Bagaimana kabar keluarga sehat Bu?". Sahut Mang Ojang dengan ramah. Dia dan istrinya di percaya untuk menjadi tangan kanan Keyla dengan mengurus serta menjaga panti asuhan.
"Alhamdulillah sehat Mang. Bagaimana keadaan panti? Apa ada kendala?". Tanya Keyla.
" Alhamdulillah sejauh ini masih bisa terhandle dengan baik Bu. Ada banyak juga donatur dari luar yang rutin memberikan sembako". Jelas Bu Dini sebagai pengurus panti.
"Alhamdulillah jika begitu Bu, semoga anak - anak tidak kekurangan bahan pangan dan pendidikan untuk masa depan mereka". Sahutnya.
Lalu Keyla menjelaskan tujuan mereka berkunjung secara mendadak, untuk mengadakan doa bersama anak - anak yatim piatu dan para tetangga sekitar agar pernikahan Ciko dan Emira di berikan kelancaran.
"Sapa kae ya Bu? Keluarga Bu Keyla apa yak". (Siapa dia Bu? Keluarga Bu Keyla bukan ya?). Ucap Bu Kokom pada tetangganya.
"Iya Bu, jare Emira garep mbojo ulih pengusaha juga". (Iya Bu, katanya Emira mau menikah sama pengusaha juga). Timpal tetangga.
"Halah, palingan garep ngrebut bandane maning. Kaya mien mamake be iya". (Halah, paling mau hartanya saja. Sama seperti Mamahnya dulu juga gitu). Ucap Kokom dengan mulut gaya miring dan mata melirik tanda tak suka.
Setelah sejenak beristirahat, mereka melanjutkan untuk berkunjung ke makam orang tua Keyla. Sesampai di sana, mereka mengirim doa serta membersihkan rumput yang tumbuh di sekeliling makam orang tuanya.
"Nek, Kek. Sebentar lagi Emira mau menikah. Emira minta doa restunya ya Nek, Kek. Semoga nanti pernikahan Emira lancar tanpa ada halangan apapun. Nenek sama Kakek yang tenang disana ya". Gumam Emira sembari mengelus batu nisan kakek neneknya.
"Pak, Buk. Terima kasih sudah menjadi orang tua yang baik untuk putrimu". Lirih Keyla dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.
Hari sudah menjelang pukul tiga sore. Setelah mengirim doa di makam Keyla dan Emira pulang dengan masuk melewati pintu belakang. Konon pamali jika pulang dari makam lewat pintu depan. Lalu mereka bergegas membersihkan diri.
"Mas, nanti bungkusannya kita bagikan saja di mushola setelah solat magrib". Ujar Keyla pada suaminya.
"Ya Dek, nanti Mas sekalian minta tolong sama Mang Ojang". Sahut Gerry.
Setelah mereka selesai melaksanakan solat margrib di masjid. Gerry meminta bantuan Pak Ustad untuk melakukan doa bersama. Lalu mereka membagikan bungkusan berisi sembako dan amplop dalam paperbag.
"Wah mewah banget ya. Jarang loh ada yang mau nikah beginian. Palingan hanya memberi kertas undangan saja". Ucap Bu Rani selaku tetangga setempat.
"Halah Bu, kaya gini ya kurang mewah. Katanya kaya, ngasi kok cuma isi beras, pop mie, snack sama duit 50". Ucap Bu Kokom tak kalah sengit.
"Segitu kalau di kalikan satu kampung sudah habis banyak Bu Kokom. Padahal Bu Keyla tidak menyuruh kita untuk ngamplop, eh dia hanya memberikan bingkisan sebagai doa restu saja". Ujar Bu RT dan para tetangga yang lain juga mengangguk tanda membenarkan.
Bu Kokom yang sengit dengan perkataan Bu RT langsung pergi meninggalkan mereka yang masih berkumpul.
"Bu Kokom itu kalau lihat orang sukses dikit langsung deh penyakit hatinya kumat". Ucap seorang warga.
"Iya begitulah Bu, amit - amit kita jangan sampai seperti itu. Kalau ada orang sukses ya kita turut bahagia agar bisa kecipratan suksesnya". Ujar bu Rani.
"Padahal Bu Keyla dari dulu baik sama kita. Dia dulu juga sering bagi - bagi rejeki sama tetangga. Makanya sekarang hidupnya sukses". Ucap tetangga yang tak kalah senangnya.
"Mak, nek pengen sukses emang kudu bagi - bagi rejeki set ya. Nek ngono, Mamat garep bagi - bagi dolanan meng batire ben cepet sukses". (Mak, memangnya jika ingin sukses harus bagi - bagi rejeki ya. Kalau begitu, Mamat mau bagi - bagi mainan dengan temannga agar cepat sukses). Tanya Mamat anaknya Bu Rani yang masih polos berusia 5 tahun.
"Ya nek kaya gue ya bangkrut emak le. Koe gole tuku dolanan be hasil emak gelut set karo bapakmu". (Ya kalau seperti itu ya bangkrut emak le. Kamu bisa beli mainan juga dari hasil emak berantem dulu sama bapak kamu). Sahut Bu Rani dengan sewod. Seketika para tetangga yang berada di sana ikut tertawa.
..
Pagi harinya mereka kembali ke Kota. Keyla merasa sedih meninggalkan kampung halamannya yang banyak akan kenangan semasa kecilnya dengan kedua orang tuanya.
Dia juga merasa kesepian nantinya anak semata wayangnya akan menggelar status istri.
"Mas, kamu besok sudah mulai cuti kan?". Tanya Keyla duduk di samping suaminya.
"Iya Dek, Mas besok sudah ambil cuti". Sahut Gerry dengan meneguk secangkir kopi.
Di rumah sudah mulai ramai. Para tetangga ikut membantu di dapur menyiapkan makan untuk petugas WO yang sedang mendekor.
"Mas, tolong bagian sini juga". Suruh Keyla, dia sangat antusias ikut terjun dalam menghias dekor untuk pernikahan besok.
Persiapan yang sudah hampir 80% selesai dengan nuansa gold. Dan kartu undangan yang sudah tersebar.
"Halo Win.. Kamu jadi kan kesini untuk menginap di rumah?". Ucap Emira berbicara di ponselnya.
"Jadi dong, saya kan mau jadi ipar kamu, jadi saya harus ikut nimbrung buat acara besok". Ujar Wina dengan semangat.
"Kenapa saya nervous gini ya". Ucapnya
"Kalau untuk nikah sih masih aman, lebih nervous lagi saat malam pertama". Kekeh Wina.
"Ih seriusan Win. Jadi takut gini saya. Haha".
"Nah loh. Kemarin kamu ledekin saya. Eh ternyata kamu sendiri yang nervous". Ucap Wina dengan tertawa. Panggilan pun seketika di akhiri oleh Emira yang sudah terlihat nervous memikirkan nasibnya malam pertamanya setelah menikah nanti.
Emira langsung mempelajari cara menyenangkan hati suami di ranjang. Dia tidak mau terlihat seperti orang bodoh saat suami meminta haknya nanti.
Malam harinya Ciko tidak bisa tidur. Dia benar - benar nervous untuk besok pagi. Dia berkali - kali menghafalkan kalimat ijab qobul karena dia takut nanti dia salah berkata.
"Saya harus lancar besok. Jangan sampai gagal Ciko. Nanti kamu bisa gagal belah duren sama pujaan hati kamu". Gumam Ciko dengan mengepalkan tangannya tanda semangat.
Keesokan harinya keluarga Ciko sudah bersiap untuk berangkat ke kediaman mempelai wanita. Dengan di iringi 8 mobil mewah dan 1 mobil polisi untuk mengawali perjalanan mereka.
"Win, saya nervous banget nih". Ucap Emira dengan tangan dinginnya menggenggam tangan sahabatnya.
"Udah relax saja, saya tidak menyangka loh ternyata kita akan jadi ipar". Ucap Wina dengan mata haru.
"Ya semua sudah jalannya Win. Nanti saya jadi punya ipar serta sahabat buat kita ngegibah bareng". Ucap Emjra dengan terkekeh.
"Sayang kamu cantik sekali". Ucap Keyla dengan mata berkaca - kaca.
"Ah mamah jangan gitu dong. Nanti jadi meler nih hidung". Ucap Emira terkekeh dan menahan haru.
"Iya nih mamah tidak menyangka kamu kemarin masih minta gendong, kok sekarang sudah mau jadi istri orang". Ucap Keyla lalu mentap - tap matanya dengan tisu agar air mata tidak membasahi pipinya yang sudah di riasnya itu.
"Iya mah. Emira janji, walaupun Emira sudah jadi istri Ciko. Emira akan selalu ada juga buat mamah". Ucap Emira dengan memeluk ibunya.
Acara segera di mulai, para tamu undangan sudah hadir dan mempelai pria sudah berada di meja penghulu. Emira berjalan anggun di dampingi oleh ibu dan sahabatnya untuk duduk di meja penghulu. Vano juga sudah siap untuk menjadi wali nikah putrinya yang d temani oleh penghulu dan Gerry.
"Sudah siap?". Ucap Penghulu untuk membacakan data mempelai sebelum melakukan ijab qobul.
"Pernikahan ini tidak bisa di lanjut!! Karena saya telah hamil dan mengandung anak dari Mas Ciko". Ucap seorang wanita yang datang dari arah pintu.
si Keyla bukannya bljar dri msallu e mlhan tambah bodoh thor pda hal si Keyla jnda