WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jailangkung
Seisi ruangan tampak senyap, setelah mereka tersentak serentak mendengar nama yang baru saja ku sebutkan. Kun pun nyaris tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun padaku. Ada apa memangnya? Apa aku salah baca??
"Adam?" Gumam Maxim sambil mengernyit ke arahku. Aku yang sedang melirik Kun pun mengganti fokus dan kini menatapnya.
"Kok.. Lu bisa bilang itu Adam sih?" Ucap Maxim, tidak terdengar seperti sedang protes. Tapi lebih kepada 'Kenapa aku membaca seperti itu?'
"Ya.. Karena tulisannya emang Adam kan." Sahutku datar. Namun Maxim malah mengernyit.
"Pas pertama kali baca, Pak Edi aja nyebutnya Agam.. Gue juga mikirnya itu Agam. Tapi setelah di liat lagi, di atas huruf G nya ada tangkai panjang, jadi bisa di baca Adam."
"Terus?" Aku mengangkat sebelah alisku.
"Maksud gue, kenapa lu bisa langsung mikir itu Adam, padahal beberapa orang yang baru pertama baca pun pasti bacainnya Agam, nama lu."
"Lu sendiri yang berbeda?" Aku tersentak kemudian mengernyit.
Aku kembali menatap kertas kusut ini. Setelah ku lihat lebih lanjut, barulah aku menyadari kalau tulisan ini adalah namaku. Tapi sungguh, kalau tak di beritahu, aku akan berpikiran kalau bacaannya adalah Adam. Bukan aku.
"Ke.. kenapa kalian bisa nyangka ini adalah nama gue?"
"Dan kenapa juga kalian nyangka kalau gue pelakunya?" Sambung Gino lagi. Kami pun serentak menoleh ke arahnya.
"Buktinya cuma kertas aneh kayak gitu? Kalian kira gue **** apa, nulis tulisan sejelek itu? Lu mau liat tulisan asli gue kayak gimana?" Protesnya lagi. Maxim mendecakkan lidahnya.
"Lu kira gue juga ****? Dan gak punya bukti lain?" Gino terdiam mendengarnya.
"Lu sendiri kan, yang minta gue buat nyariin bukti, kalau mau nuduh lu sebagai pelakunya?"
"Sayangnya lu gak tau lagi berhadapan dengan siapa..." Ucap Maxim sambil menunjuk kertas yang ku pegang.
"Makasih yaa, atas clue nya." Gino pun terbelalak mendengarnya.
"Gue bisa dapet petunjuk, dari kertas itu!"
Aku mengernyit. Bagaimana bisa Maxim mencari bukti, sementara clue yang ia dapatkan hanyalah perkataanku yang di rasuki Kun, dan sebuah kertas dengan nama aneh itu? Jadi rank satu yang di dapatnya itu tidak main-main.
"Max, langsung tunjukkin aja bukti-buktinya." Ucap Pak Edi.
"Jadi gini pak, pas Agam kesurupan, dia bilang dalangnya adalah Gino, Dia bilang, mereka udah terpanggil."
"Jadi saya berspekulasi, kalau Gino udah ngelakuin ritual terlarang yang biasa kita sebut dengan jailangkung, terlebih juga Max nemuin bukti kertas yang terkepal dari kantung celananya."
"Kertas itu... bau tembakau." Pak Edi tersentak dan menatap Gino dengan sengit.
"Kamu ngerokok Gin?" Gino langsung terkesiap atas ucapan pak Edi.
"Terus, kalau Gino ngerokok, pasti dia ngehindarin kamera cctv. Sementara di seluruh sekolah itu ada cctv. Kecuali gudang.. dan sumur belakang sekolah." Perkataan Maxim membuat Gino tercekat.
Kalau jadi aku, aku pun akan memikirkan hal yang sama dengan Maxim. Gino benar-benar bodoh jika berpikir bisa mengelabui aku dan juga Maxim.
Kini wajahnya pucat dan terlihat panik. Ia terlihat gelisah dan melakukan pergerakan berlebih. Apa ia takut kalau kebusukkannya terbongkar?
"Merokok di gudang itu mustahil, karena selain ruangan yang tertutup, ia juga akan meninggalkan bau rokok di badan dan baju.. Sekarang juga gudang udah di kunci. Jadi kemungkinannya ada di pilihan kedua.."
"Sumur di belakang sekolah.." Ucap Maxim sambil menilik ke arah Gino dengan senyum sombong khasnya. Kini Gino menyeka keringatnya. Ia tak lagi bergeming.
Kun menatap ke arah Gino. Ia membaca isi pikiran Gino sekarang.
.
.
.
(Flashback)
*Gino POV
Hari ini aku datang lumayan pagi dari pada hari senin biasanya. Bukan karena aku adalah murid teladan yang takut dengan kata "Terlambat Masuk", tapi lebih tepatnya, ada hal besar yang sudah ku rencanakan sejak hari sabtu lalu.
Hari ini aku meminjam mobil ayahku. Mobil ayahku ada dua, dan yang kini ku pakai adalah mobil yang selalu di bawa ibu kemana pun.
Aku beralasan untuk dapat menjemput teman-temanku dan pergi bersama. Tentu orang tuaku yang kaya raya tidak akan keberatan. Mereka tidak akan perduli dengan semua hal yang ku lakukan. Yang mereka tahu hanyalah uang jajanku cukup atau masih kurang.
Aku sudah membagi tugas untuk Satya dan yang lainnya. Kami akan membawa sesuatu yang tentunya akan merepotkan jika harus menggunakan motor.
Aku memarkir mobil tepat di depan rumah Satya. Ku lihat sudah ramai terparkir motor teman-teman satu gengku. Aku menekan klakson tiga kali dengan singkat, membuat mereka semua keluar dari dalam persembunyiannya.
"Gino udah dateng!!" Seru Satya.
Mereka pun keluar satu persatu sambil membawa sebuah tampah berbentuk lingkaran. Sebuah kendi kecil dari tanah liat. Sebungkus plastik bunga tujuh rupa, lilin merah, dan tentunya foto target yang kami curi dari sosmednya, dan telah kami cetak sebelumnya.
Mereka berjalan menghampiri mobilku sambil menatapku yang tengah memandang lurus ke arah mereka.
"Semua oke??" Tanyaku langsung.
"Beres!!" Ucap mereka sambil membuka pintu mobilku dan naik ke dalamnya. Yang ada di dalam mobil bersamaku hanya tiga orang, termasuk Satya yang kini masuk dan duduk tepat di sampingku. Dua lagi di belakangku. dan yang lainnya mengikuti kami dengan motornya.
Ku lihat Satya meletakkan alat-alat tersebut di atas tampah, dan aku sedikit tertarik dengan kendi kecil dari tanah liat yang berwarna kehitaman bak gosong dari pemanggangan.
"Itu darahnya?" tanyaku.
"Ya.. Darah ayam hitam yang kemarin kita bunuh." Aku tersenyum mendengarnya.
Kerja bagus teman-temanku. Jadi tinggal merealisasikan ritualnya saja kan...
.
.
.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menyuruh Satya untuk turun terlebih dahulu dari dalam mobil. Ia segera ku perintahkan untuk pergi ke belakang sekolah bersama dua temanku yang berada di dalam mobil.
Aku memarkir mobil di depan toko, karena sekolah tak mengizinkan muridnya untuk membawa kendaraan selain motor. Tak lama teman-temanku yang membawa motor datang bersamaku. Aku langsung naik berserta mereka untuk masuk ke sekolah.
Setelah memarkir motor mereka, kami pun segera menyusul Satya dan yang lainnya. Mereka nampaknya sudah menungguku dengan gelisah.
"Gin.. Lama amat lu!" Keluhnya.
"Berisik lu!! Mana alat-alatnya?"
"Tuh!" Ia menunjuk sebuah tampah yang ia letakkan di dekat sumur yang terbumbun pasir.
"Lu berani Gin?"
"Yaiyalah!! Emangnya elu, penakut!!" Satya terdiam.
"Siapa yang mau ikut main jailangkung bareng gue?" Semua temanku terdiam dan tak merespon. Mereka langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, ada yang berpura-pura melihat pohon kelor yang lebat di atas sana. Ada yang berpura-pura mengikat sepatunya.
"Yaelah! Anak geng motor tapi banci semua!" Keluhku kesal.
Tanpa menunggu lama, aku pun meletakkan semua alat-alat di atas tanah.
Ku buka kantung plastik dari bunga tujuh rupa, dan ku taburi merata di atas tampah. Setelah selesai, aku menyalakan lilin di tengahnya. Meletakkan foto Agam di atas bunga-bunga. Aku pun mengernyit, merasa ada sesuatu yang kurang.
"Mana bonekanya?" Pintaku sambil mengeluh menatap mereka. Mereka saling menyikut lalu mengendikan bahu.
"Alah!! Gimana mau main jailangkung, bonekanya aja gak ada! Gimana sih kalian!!" Bentakku pada mereka, hingga membuat mereka menunjukkan wajah muaknya padaku. Ya, aku sadari itu.
"Gue buat sendiri aja!!" Gumamku sambil mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasku.
Ku kepalkan kertas berbentuk bola sebagai kepalanya. Dan yang memanjang untuk kedua sisi kiri dan kanannya sebagai tangan. Ku ikat dengan kuat pada masing-masing kertas agar dapat melekat di pena.
"Udah jadi!" Gumamku sambil melihat hasilnya. Teman-temanku hanya terdiam, menatap pasrah ke arahku.
"Jadi.. langsung mulai aja kan?" Ucapku yang memang tak pernah memainkan permainan seperti ini sebelumnya.
"Sediain kertas dulu, biar tu boneka bisa nulis nama seseorang di atasnya!"
"Yang nulis kita ya?" Tanyaku polos.
"Ya setannya yang gerakin, tapi tangan elu yang megang."
"Lah, gimana sih.. gue kan pengen nulis nama Agam disini!!"
"Kan udah ada fotonya, jadi tetep aja kok bakal kenanya si Agam!" Aku tersenyum senang mendengarnya.
"Ohh, oke.."
"Sekarang baca mantranya!!" Ucap Satya sambil berdiri dengan jarak beberapa langkah menjauh dariku. Teman-temanku yang lain pun tak ada yang berani berdiri di dekatku.
Mantranya gimana yaa?? Kalau di film-film horor sih, kayak gini..
"Ehem.. ehem.." Aku mendehem sebelum memulai, takut kalau suara yang ku hasilkan akan terdengar fals atau serak.
"*Jelangkung Jelangkung
Di sini ada pesta
Pestanya kecil-kecilan
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar"
"Jelangkung Jelangkung
Di sini ada pesta
Pestanya kecil-kecilan
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar"
"Jelangkung Jelangkung
Di sini ada pesta
Pestanya kecil-kecilan
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar*"
Aku membacakan matra itu sebanyak tiga kali pengulangan. Dan ketika selesai dengan pembacaan mantra yang ketiga, aku mulai merasakan pena yang ku genggam di atas kertas bergerak-gerak. Diiringi dengan api lilin yang bergerak tak beraturan meskipun tak ada angin yang meniupnya.
Heran? Bingung? Penasaran? Kok bisa?
Cuma itu yang terlintas di pikiranku. Teman-temanku mulai mengernyit heran. Mereka menatapku dengan tatapan tak percaya. Apa mereka kira aku bercanda? Dan aku yang sedang menggerakkan pena ini?
Tentu saja tidak!
"Lu yang gerakkin Gin?" Dengan cepat aku menggeleng.
"Bukan! Gerak sendiri!!"
"Masa' sih?? Setannya mulai nulis?"
"Nulis apa ya?" Mereka mulai mendekatiku yang sedang jongkok di dekat sumur. Aku tak dapat melawannya, semakin ku tahan, pena ini semakin bergerak liar dengan kekuatan yang besar. Ia mampu mengendalikan aku.
Dan anehnya, tiap ia bergerak, aku dapat merasakan efek panas berputar mengelilingi perutku. Rasanya bak air yang sedang di kocok di dalam botol. Membuatku sedikit mual dan merinding. Aku bersikeras menahannya, hingga tubuhku mulai mengaliri keringat.
"A... G... A... M..." Eja mereka satu persatu ketika tulisan cakar ayam mulai terbentuk.
"Agam?!" Sentak mereka kaget, apalagi aku yang sedang menulisnya.
"Dia nulis Agam?!" Seru temanku, seiring dengan kebas dan merinding pada tubuh sebelah kananku. Tepatnya pada titik tanganku menulis. Mata kananku ikut menggabur dan kepala bagian kananku sedikit ngilu bak tertusuk.
"Ternyata setannya sakti dong, tau aja kita mau nargetin Agam.."
"Kan ada fotonya, tentu tau lah!" Aku tersenyum puas karenanya. Ya, meskipun ada rasa aneh yang ku rasakan di tubuhku. Tapi aku tetap senang.
"Sekarang apa?" Tanyaku.
"Siram darah ayamnya ke tampah!" Pinta Satya.
Aku pun langsung mengambil kendi kecil dan membuka tutupnya. Memercikkan darah tersebut ke atas bunga-bungaan.
Seketika itu juga, lilin merah pun padam. Diselingi dengan hembusan angin kencang yang membuat dedaunan kelor bergoyang dan berguguran.
Rasa dingin merambat memasuki kulitku. Dinginnya menusuk sampai ke daging dan tulang. Aku bergidik, merinding, dan yang pastinya aku merasakan sensasi kejut beberapa kali, menusuk-nusuk lambungku.
Rasa ini cukup menggelisahkan aku. Meskipun tempat ini ramai berkumpul teman-temanku, tapi rasa takut itu tetap saja menyeruak dan menghantuiku.
Aku pun menghamburkan darah ayam seluruhnya. Karena dari apa yang ku rasa, semakin sering aku memercikkan darah, efek di tubuhku jadi semakin normal seperti semula.
Dari kejauhan, kami mendengarkan suara teriakkan di lapangan upacara. Suara gaduh diiringi dengan lagu Indonesia Raya.
Teman-temanku segera menghubungi teman kelas kami yang sedang berada di lapangan upacara.
"Udah ada yang kesurupan!!" Ucap Satya sambil menatap ponselnya.
"Berarti mainan gue sukses dong." Ucapku sambil mengeluarkan rokok di dalam tasku. Aku pun menyulut rokok dengan api, menyesapnya sambil berdiri. Berusaha menenangkan diri dan menghilangkan panik yang ku rasakan tadi. Aku menatap boneka yang ku buat, sayang sih penanya karena mahal. Tapi aku langsung melepaskannya sembarang. Lagian udah di pakai setan.
"Gin, kok lu ngerokok disini sih?" Keluh Satya sambil menatapku.
"Tenang, disini gak ada cctv kok, lagian juga ruangan terbuka dan anginnya kencang, gak bakal ketahuan kok sama guru. Guru juga bakalan sibuk bentar lagi."
"Gue bawa sekotak.. pada mau?" Tawarku pada mereka. Mereka pun menuruti dan mengambilnya satu-persatu secara bergilir. Rokoknya masih sisa satu batang, dan ku letakkan kembali ke dalam tas.
Sementara orang-orang sibuk dengan kekacauan yang ada. Aku dan teman-temanku mengetuk abu rokok ke sembarangan tempat. Aku duduk santai menikmati keributan sambil menyesap rokok yang terasa begitu manis.
"Apa gak apa-apa nih?" Tanya Satya ketika aku menghembuskan asap rokok ke udara.
"Di dalem banyak yang kesurupan tuh." Sambungnya sambil menilik.
"Santai aja. Entar juga guru-guru pasti bertindak. Manggilin dukun misalnya." Sahutku seenaknya.
"Tapi, elu gak takut?"
"Udahlah.. Lagian cuma gue doang yang lakuin itu! Kalian kan cuma liat aja, jadi kalau ada apa-apa, ya gue yang tanggungjawab." Teman-temanku bungkam mendengarnya. Tentu saja, mereka semua tidak ada yang berani dengan ketua geng motor yang beringas di jalanan ini.
Aku pun menyundut api rokok pada sebuah kertas. Melempar kertas tersebut pada sebuah tampah dari anyaman daun kering yang telah ku siapkan dari rumah. Tentu yang ku sundut adalah foto Agam. Aku beranjak sambil meludah sembarang.
Aku menyimpan sebuah kertas yang sejak tadi ku kepal dengan sekuat tenaga, dan telah ku remas di saku celana. Kertas bertuliskan nama Agam.
"Kayaknya guru-guru udah sibuk deh. Jadi kita tinggal masuk ke dalam kelas." Ucapku dan teman-temanku tentu mengikutiku dengan setia. Namun Satya kembali menoleh ke tempat yang baru saja kami tinggalkan.
"Barang-barang itu gimana?" Aku pun menoleh.
"Biarin aja. Lagian gak bakalan ada yang tahu kalau kita pelakunya!"
*Gino POV End
(End of Flashback)
.
.
.
Maxim yang tadinya sempat keluar pun kembali masuk dengan membawa bukti yang ia maksud. Tampah, berisi bunga-bungaan dan aku tidak tahu lagi apa isi yang ada di dalamnya.
Ia duduk kembali ke dekat kami. Meletakkan tampah tersebut ke atas meja. Ia mengambil boneka yang terbuat dari kertas yang melilit pena.
"Liat pak, warna pena ini jelas-jelas benar-benar sama dengan tulisan Agam yang ada di kertas. Ini tinta khusus, gak semua orang punya pena ini." Ucap Max sambil menyoret pena ke atas kertas bertuliskan nama Agam. Ia pun memberikan kertas itu pada pak Edi. Pak Edi pun menilik, dan melihat tinta itu dengan seksama.
"Iya, basic tintanya sama."
"Dan juga, ternyata Gino suka melakukan hal ini juga." Ucap Max lagi sambil membuka tutup pena dan mengeluarkan isinya. Menampakkan sebuah nama yang dililitkan di isi pena yang ada di dalamnya.
"Ada tulisan namanya sendiri.. Gino.." Ucap Max sambil menatap Gino yang masih terdiam.
"Dia kasih nama karena tahu pena-nya mahal, takut di ambil? Hihihii." Gumam Kun sambil tertawa seram. Aku mengernyit mendengarnya.
"Terus, boneka kertas ini juga bau tembakau.. Mungkin kita bisa periksa, apa masih ada atau enggak sisa rokoknya." Kak Pian langsung mendekat ke arah Gino dan mengambil tas yang ia kenakan.
"Buka!! Kakak mau periksa!!" Ucap Kak Pian kasar sambil melepaskan tas milik Gino. Gino tak melawan sama sekali, dan membiarkan kak Pian membongkar tasnya.
"Ada pak rokoknya!" Seru kak Pian sambil mengeluarkan rokok dari dalam tas Gino.
Aku kembali menatap kertas bertuliskan nama Adam tersebut.
"Jadi itu, Adam kan.. bukan gue?" Sanggahku, yang masih tak mempercayai kalau itu adalah namaku.
"Itu Agam kok! Nama lu. Waktu itu juga gue sempet mikir kalau itu Adam, tapi setelah liat ini..." Maxim mengambil sebuah foto yang sudah tersundut api di bagian tengahnya.
"Ternyata.. target permainan jailangkung ini.. Emang elu!" Maxim membalikkan foto itu, dan menampakkan wajahku di sana. Aku terbelalak kaget, namun hatiku di dominasi oleh rasa kesal dan geram pada Gino yang duduk di ujung sana.
Aku menatap tajam ke arahnya, dan entah kenapa.. aku melihat semua orang yang berada di dalam ruangan bak bergidik dan ketakutan melihat reaksiku. Termasuk kak Pian dan Pak Edi juga.
"Beraninya..." Gumamku sambil menyeringai. Bak sedang kesurupan di dalam toilet tadi.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
.
Hai readers, jadi cerita jailangkung ini merupakan kisah nyata yg author alami..
Sekitar kelas 5 Sd, empat temenku penasaran sama cerita jailangkung, jadi mereka pada main dan bikin dari kertas bonekanya.
Mereka main di sumur belakang sekolah yang udah kebumbun pasir, biasanya tempat tukang bersih sekolah bakar-bakar sampah.
Pas udah kelar baca tu matra, eeh penanya mulai gerak, terus temenku nanya, nama kamu siapa? Hantunya malah nulisin huruf empat kayak tulisan dokter.
Gak lama setelah itu, ada yang kesurupan, kelas 4, namanya Nurul. Jadi author berspekulasi kalau nama hantunya Nurul.
Setelah Nurul, hampir seluruh kelas 4 kesurupan semua, sampai empat temenku di panggil ke ruang guru karena ada yang laporin mereka.
Kami langsung di suruh pulang waktu itu, dan satu sahabatku yang ikut main, tangannya kayak darah2 gitu, tapi udah dipeperin entah ke dinding atau ke pohon, gak ngerti. Aku tanyain tangannya kenapa, terus dia bilang, dia mau copotin kepala boneka jailangkung yang dari kertas, taunya ada darah yang muncrat. Gak tau sih dia bohong apa enggak waktu itu, tapi emang tangannya kayak ada darah.
Maksud dia mau ngilangin bukti, tapi tetep aja kebuka semua kelakuan mereka karena pada dasarnya kan masih polos banget.
Karena aku yang alamin sendiri kisah ini, dan itu bener, jadi aku masukin aja ke cerita K.U.N ini
happy reading guys!!!
jgn lupa like, komen dan vote karyakuu yaaaa
makasihhhh 🤗
membaca nya, berasa aku jga trbawa dalam cerita nya.
Masya Alloh author nya pinter bgt buat novel yg bukan cma hiburan, tp banyak jg ilmu" agama nya, smpai" aku pn bljar keseharian mnurut sunah rosul, sperti ritual sblum tidur mnurut agama Islam. mksih bgt kakak author buat novel nya.🥰
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu