no deskripsi
langsung baca aja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lyn98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
"Keira"
Sebuah suara datang dari arah pintu, membuat kontak mata mereka terputus, beralih menatap Daniel yang sedang berdiri. Lama terdiam lelaki itu masuk kedalam melirik Keira dan nevano secara bergantian, tatapannya menunduk pada kedua tangan mereka yang masih bertautan satu sama lain
Keira tersadar, lalu segera melepas tangannya dari genggaman nevano
"sudah saatnya kamu pulang tugas balas Budi kamu cuman sampai disini" tekan Daniel dengan tatapan mata terpusat pada nevano, rautnya datar dan tampak dingin, seperti tengah menahan emosi
tangan Keira ditarik terlalu kuat lantas tubuhnya hampir menubruk Daniel yang masih melempar tatapan permusuhan "terimakasih udah selamatin calon istri gue, sekarang kami harus pulang karena banyak hal yang harus kami diskusikan tentang persiapan pernikahan satu bulan lagi"
matanya melotot menatap Daniel dengan raut terkejut "Lo ngga sedang becanda kan?" bisiknya dengan nada penekanan, lelaki itu menunduk tersenyum miring lalu menggeleng
Nevano mengangkat alisnya, sedetik kemudian terkekeh kecil "selamat, Tapi pernikahan kalian terkesan terburu-buru baru, baru saja pesta pertunangan kalian batal. menurut gue bukan waktu pas untuk memikirkan pernikahan selain keselamatan kalian terkhusus pada Keira, Lo ngga liat hampir saja dia kena tembak" jedanya sejenak melirik sebentar pada Keira. raut wajah ramahnya hilang "dimana Lo disaat Keira hampir saja tertembak?" tanyanya menyindir alisnya menukik tajam
"Lo ngga pantas untuk Keir-
Ucapnya terpotong saat Daniel menarik kerah nevano tiba tiba "menurut Lo Keira pantas untuk Lo, ngga sama sekali" hardiknya
"Daniel lepas, Lo apa-apaan sih nevano udah tolongin gue" bentaknya, Keira berusaha melerai, menarik tubuh Daniel agar menjauh dari nevano
Daniel melepasnya secara kasar. memegang kembali pergelangan keira membawanya keluar dari ruangan tapi lagi lagi ucapan nevano sukses membuat Daniel menolehkan kepala
"Lo bilang apa tadi?"
"keselamatan Keira terancam, Lo harus lindungi dia, kalau Lo ngga mampu biar gue"
tubuh Daniel berbalik sepenuhnya menaruh minat dengan perkataan tersebut "maksud Lo apa, kenapa keselamatan Keira terancam" alisnya berkerut dan menatap bertanya tanya
"Lo ngga liat kejadian tadi, itu semua karena ulah ar--
perkataan nevano tak dilanjutkan melihat keira menggelengkan kepalanya dengan bibir terkatub rapat, mengkode nevano agar Lelaki itu tidak memberitahu Daniel, mengingat pesan ayahnya membiarkan keluarga Abraham tidak tau perihal masalah tersebut
"ayo daniel kita pulang" ajak Keira saat nevano kembali berniat membuka mulutnya. gelengannya tidak mendapat respon baik, Sebelum nevano memberitahu rahasia tersebut, Keira harus berbicara terlebih dahulu "masalah keselamatan gue biar urusan gue, dan peristiwa tadi semoga saja tidak terulang kembali, jadi Van berhenti ikut campur" tekan gadis itu waspada
Daniel melirik Keira, lalu tersenyum miring "yang dikatakan kaira benar, Lo tenang saja kejadian tadi yang terakhir, gue pastikan tidak terulang kembali lagian Vanya sudah tertangkap dia dalang dari penembakan tadi"
Keira menoleh cepat begitupun nevano, menatap kaget dan juga heran, saat nama asing itu disebut sebagai otak dari penembakan tadi, padahal sebenarnya bukanlah gadis itu, atau mungkin saja mereka yang salah. Tidak mungkin
"Vanya?" tanya keira, alisnya berkerut
"iya kei, jadi kamu ngga perlu khawatir. Oh iya gue mau berterima kasih lagi udah selamatin calon istri gue. Kami pamit" Daniel menariknya keluar dari ruangan
setelah berhasil keluar dari ruangan, Keira melepas genggaman itu, berjalan mendahului Daniel. Melewati ruangan mengarah lift menuju lantai satu, tidak pembicaraan sama sekali, Keira sibuk dengan pikirannya sendiri begitupun Daniel yang sibuk bermain henpon
saat sampai dilobby netranya malah menangkap seorang yang dikenalnya sedang duduk dikursi "Lo duluan aja ke mobil, nanti gue susul" tanpa menunggu balasan Keira lekas mendekat
"mbok Ina" panggil keira lantas duduk disamping wanita paruh baya tersebut yang tampak kaget, tubuhnya tersentak pelan
"siapa yang sakit mbok?, anak atau mbok sendiri?" tanya keira kembali bersuara waktu sapaannyan tak mendapat respon
mbok Ina masih menatap keira lama "non keira ngapain ke rumah sakit?" bukannya menjawab wanita itu malah berbalik bertanya "non ngga papa kan?, nona sakit, siapa yang sakit, ayah non ngga apa-apa?"
Keira terkekeh geli melihat mantan pembantunya masih peduli padanya "aku ngga papa mbok, cuman Antar teman ke rumah sakit" mbok Ina menghela napas lega "jadi mbok ngapain ke rumah sakit?" tanya Keira mengulang
"cucu saya sedang dirawat karena demam tinggi, saya tidak tau ruangan mana jadi tunggu ayu datang dulu baru masuk sama-sama"
Ayu adalah anak satu satunya mbok ina yang dibesarkan sendiri karena suaminya Telah meninggal. Saat kecil pun ayu sering mengajarinya pelajaran sekolah dan sudah Keira anggap sebagai kakak sendiri
Keira mengangguk sebagai jawaban, kepalanya menoleh saat Daniel memanggilnya "kalau ada apa-apa mbok bisa hubungi Keira, oh iya minta nomor telepon mbok atau nomor ayu, ada hal yang perlu tanyain tapi hari ini ngga bisa, soalnya aku lagi buru buru mama papa udah nungguin Keira pulang" meliriknya matanya pada Daniel "Daniel ketik nomornya" perintahnya cepat
"maaf non, mbok ngga hapal nomornya" Keira meringis, berpikir keras mencari cari untuk mengetahui nomor ataupun alamat rumah milik mbok ina
"kenapa Keira?, mau minta nomor telepon?"
Kepalanya menoleh. tersenyum lebar, tubuhnya bangkit memeluk ayu "astaga kak ayu udah lama kita ngga ketemu" pekiknya girang "kak ayu sih ganti nomor telepon jadinya Keira ngga tau kabar kakak sama sekali" saat umur Keira 11 tahun ayu pindah keluar kota untuk mengeyam pendidikan dibangku kuliah sejak itu juga Keira tidak lagi bertemu, hingga hilang komunikasi saat gadis itu menikah. Keira pun tidak berniat menghubungi ayu hanya beberapa kali menanyakan kabar gadis itu lewat mbok ina
Ayu menepuk kepalanya "jadi gimana masih mau minta nomor hpnya?"
"jadi dong, Daniel ketik nomornya" Daniel memutar matanya namun tetap mengikuti perintah keira
Ayu menyebut setiap angka, bahkan juga alamat rumah tempat tinggal mereka, Daniel mengecek nomor tersebut atas perintah Keira takut bisa saja salah menyebut ataupun ayu sengaja memberikan nomor yang salah. Untungnya tidak
"terimakasih kak" ujarnya tulus "kalau begitu Keira pamit dulu, oh iya semoga saja anak kamu cepat sembuh" Keira menyalim tangan mbok Ina kemudian segera pergi bersama Daniel menuju mobil
Mobil berjalan perlahan lahan meninggalkan pelantaran rumah sakit. perjalanan sekitar hampir satu jam mobil menuju rumahnya, tak lama kemudian berhenti. Keira keluar terlebih dahulu disusul Daniel
diruang tamu mereka sudah ditunggu keluarganya dan keluarga nevano. semua kompak memandangnya ketika melihatnya datang, kemudian Freya tiba tiba saja melangkah mendekat dan memeluknya erat, mengucapkan kata kata seolah peduli padanya
"aku ngga papa" tutur Keira lalu segera duduk disalah satu sofa menenangkan orang orang yang menatapnya khawatir entah itu nyata atau sekedar formalitas belaka, tapi dibanding semua itu Keira malah tertuju dengan reaksi papanya yang biasa saja
"maaf keira gara gara Vanya hampir saja kamu tertembak. Tante ngga habis pikir sama jalan pikiran gadis itu, padahal jelas-jelas Daniel sudah menolaknya" Anna melirik Daniel yang baru saja datang lalu duduk disamping Keira "tapi ini juga salah Tante, dulu tantelah yang mendekatkan gadis itu dengan Daniel, tapi ya gitu Daniel ngga suka jadi bukan berarti dia harus merencanakan penembakan itu" lanjutnya menjelaskan
"iya om juga minta maaf" kali ini Edwin yang berbicara "pertunangan kalian akan dilaksanakan dua Minggu lagi bersamaan dengan pernikahan Samuel dan Freya lalu setelah itu kalian menikah dua Minggu kemudian"
"iya Keira, tadi kita sudah membahasnya sebelum Daniel menjemput kamu" sahut nelli "kamu tenang saja Vanya sudah ditangkap oleh polisi"
menghela napas panjang Keira melirik kedua orang tuanya lalu menatap Edwin dan Anna "mungkin memang benar Vanya yang menjadi dalang penembakan tersebut, tapi ada satu hal yang perlu kalian tau" jedanya sejenak "aku salah satu saksi penangkapan arka"
"arka?, anaknya Marvin?" tanya Edwin. Keira mengangguk "kapan arka ditangkap bukannya kasusnya sudah tutup"
terdengar suara Geraman tertahan dari ayahnya, kepalanya berpaling menatap Abimanyu yang tampak gelisah. Kemudian kembali lagi pada edwin, tak peduli dengan tatapan mengitimindasi itu "mungkin kalian ngga tau kasus ini, berintanya pun ngga ditanyangkan di tv bahkan dimedsos. arka kembali ditangkap karena tersandung kasus narkoba, dan saksinya adalah aku"
"apa?, kamu berurusan sama arka" nelli menatap Keira dengan kedua mata melebar "kamu mau membahayakan kami Keira, kamu mau membahayakan anak saya, kamu mau Daniel mati ditangan mereka seperti kakak nevano yang meninggal karena berurusan sama mereka" cecarnya panjang lebar
"ayo pah kita pulang, Samuel Daniel ayo kita kembali ke rumah" nelli menarik tangan suaminya, berdiri dari duduknya "perjodohan kalian batal"
"mah" seru Daniel tak terima
Nelli berdiri dari duduknya "tidak bisa" tolaknya "kalian sangat patuh terhadap tradisi, Freya sudah bertunangan sama Samuel jadi sudah seharusnya perjodohan ini tetap dilanjutkan hingga jenjang pernikahan"
Anna menatap nelli dengan tatapan berkobar "baik, tapi cuman untuk mereka, Keira dan Daniel tidak bisa dilanjutkan mereka belum bertukar cincin, dan saya harap keluarga saya tetap baik baik saja setelah ini"
Anna menarik Daniel yang tak bergerak sama sekali, memaksanya untuk segera pergi dari sana. Menyusul Edwin dan Samuel yang sudah melangkah terlebih dahulu.
setelah kepergian keluarga Abraham, Suasana rumah tampak hening dan mencekam, tatapan marah ayahnya, ibu dan Freya yang melemar raut permusuhan. Namun dibanding itu, Keira merasa lega telah memberitahu rahasia tersebut kepada keluarga Daniel walau ada beberapa hal yang menggangu pikirannya sekarang.
"kamu memang bukan anak saya"
Keira hanya terdiam memandang ayahnya yang sudah pergi menuju lantai dua, lalu disusul ibunya
"bagus Keira, kesempatan Lo mendapatkan keluarga Abraham hancur"