Roshan adalah seorang dokter anestesiologi berdarah Nepal, seorang pria dingin yang sulit membuka hati karena ia hanya mencintai satu orang wanita yang selalu ia lamunkan, yang ia kenal dengan baik namun tak berani ia temui. Dalam pikirnya tak ada satupun wanita yang sesempurna dia.
Dia adalah Aila seorang dokter bedah syaraf berprestasi berdarah sunda, wanita cantik berkulit sawo matang, tinggi semampai, berkerudung, dengan mata tajam dan hidung sampingnya, kecerdasannya, kebaikan hatinya membuat kecantikannya kian mengagumkan.
Roshan melihatnya sangat sempurna, segala cara ia lakukan agar ia bisa menjadi dokter di Indonesia.
Namun disanalah ia melihat kenyataan yang sebenarnya, bahwa wanita yang sempurna itu memiliki kisah pilu yang menyedihkan.
Hal ini membuatnya menyesal karena telah membenci dan menuduh hal yang tidak tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fakhrunisa aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit
Bangkit
Satu bulan telah berlalu setelah kepergian tuan yaser dan nyonya rania. Satu bulan terakhir ini aila disibukan dengan dua hal, rumah sakit dan aset perusahaan papanya. Karena tidak lain aila lah pewaris seluruh kekayaan tuan yaser.
Dalam hal ini andra menjadi orang yang paling antusias, dia selalu mendampingi aila saat mengurusi perusahaan dan seluruh aset tuan yaser. Sikapnya berubah manis saat membicarakan harta.
Belakangan andra semakin terpuruk banyak kerugian yang didapatnya seluruh hartanya habis dimeja perjudian dan ditangan perempuan perempuan penghibur. Maka dia sangat berambisi untuk kembali menjadi kaya raya.
"Aku sudah tidak sabar menjadi penguasa di perusahaan mertuaku!" gumamnya dalam hati.
"Aaaaaahhh tidak salah aku memiliki mertua sepertimu tuan yaser, aku tidak menyangka ternyata asetmu jauh lebih besar dari yang sudah kuselidiki" andra seakan telah menjadi seorang pemenang olimpiade.
"Aila sayang kapan aku bisa menempati kantor papa?" suara andra terdengar manis namun memuakan di pendengaran aila.
"Aku tidak tahu!".
"Ayolah jangan begitu, bagaimana bisa perusahaan papa berjalan jika tidak ada orang sepertiku yang memimpinnya!".
"Sudah kubilang aku tidak tahu!". Jawaban aila benar benar membuat andra geram, dia benar benar ingin menamparnya namun andra menahan diri karena zain ada disana.
"Jangan macam macam padaku!" bisik andra mengancam dan aila tak bergeming dia hanya diam dan menatap kesembarang arah.
"Zain apa semuanya sudah selesai? Sampai kapan aku harus mengurusinya? Sudah satu minggu aku cuti dari rumah sakit".
Zain mendekat dan duduk disofa tepat di seberang aila, "semuanya sudah selesai kok, semua saham, aset, warisan sudah atas namamu kamu bisa melakukan apapun tapi dibawah aturan yang diberlakukan".
"Apa? Kenapa tidak ada namaku disini? Aturan? Aturan apa yang mereka buat?" andra merasa kesal dengan yang zain ucapkan.
"Kenapa tidak ada namaku tercantum disini? Aku kan menantu satu satunya!" bentak andra melemparkan beberapa dokumen yang semula dia pegang pada zain.
Zain tersenyum penuh kebencian, "semua sudah sesuai dengan keputusan almarhum tuan yaser dan semuanya legal!".
Kurang ajar kau yaser, kau tidak tahu sedang melawan siapa!
Aila dan zain hanya tersenyum melihat raut andra andra yang begitu kesal.
"Zain aku serahkan semua padamu, aku percaya papa sudah mengatur yang terbaik".
"Baik nona saya akan berusaha sebaik mungkin, nona fokuslah dengan rumah sakit, hal lain akan saya tangan".
Percakapan ini membuat andra semakin murka, setelah berpamitan andra langsung pergi meninggalkan aila.
****
Di rumah sakit
Aila berjalan menuju ruangannya, dia disambut oleh danial, ryan, dan para residen.
"Pagi tuan putri" jahilnya dokter danial mulai nampak.
"Sudah siap untuk bekerja lagi?".
"Insyaallah siap, maaf ya seminggu ini saya merepotkan semuanya" aila tersenyum begitu manis, senyuman yang sangat dirindukan oleh seisi departemen bedah saraf.
"Aaaaaaahhhh saya rindu sekali senyuman dokter aila" salah satu residen terdengar kegirangan.
"Siapa juga yang tidak rindu senyuman nona cantik seperti aila" timpal danial.
Tiba - tiba ponsel ryan berbunyi, ada panggilan dari suster jaga.
"Halo".
"Dokter segera kemari ya, ada pasien balita dengan kejang yang sering, kesadarannya menurun dok". Ryan langsung menutup telponnya dan mengajak aila, danial dan yang lainnya menuju unit gawat darurat.
Aila dan danial langsung memeriksa kondisi bayi berusia 1 tahun itu.
"Detak jantungnya melemah dokter".
Aila terus memperhatikan bayi ini dengan seksama, "dokter apa ini step biasa?" tanya seorang residen yang belum pernah menghadapi pasien bayi.
"Kita harus memeriksanya lebih lanjut sebelum memutuskan apapun" jawab danial.
Aila masih tetap memperhatikan bayi ini dengan seksama, "dok tulang buka pakaian anak ini" pinta aila mencurigai sesuatu.
"Yan siapkan anak ini untuk CT Scan dan X ray secepatnya".
"Baik dokter".
Danial langsung menyadari sesuatu melihat aila, "aila jangan bilang kamu mencurigai anak ini kena SBS?".
"Diagnosaku bilang begitu" timpal aila singkat sambil terus dengan seksama memperhatikan sang bayi.
aila menyelasar tubuh bayi itu dengan tangannya yang lembut, "sepertinya ada tulang yang cedera".
"Yan setelah hasil pindainya keluar, panggilkan orang tuanya keruanganku ya".
Ryan langsung menjalankan perintah aila. Aila segera kembali ke ruangannya disusul oleh danial.
Danial duduk santai disofa ruangan aila, "hebat kamu bisa secepat itu mendiagnosa".
"Inikan baru dugaanku mas".
"Tapi aku yakin dugaanmu tepat".
Tok... Tok... Tok....
"Masuk".
Masuklah seorang wanita muda yang dibawa ryan, perawakannya ramping cukup cantik dengan pakaian yang begitu seksinya namun wajahnya yang angkuh "Dokter ini ibu dari pasien balita bernama kresa".
"Silahkan duduk bu" wanita itu duduk dengan wajah tidak nyaman, aila sedikit risih melihat wanita ini. Danial pun langsung berdiri di samping aila.
"Bu saya akan tunjukan hasil scan dan x-ray anak ibu".
"Ini ibu bisa lihat hasilnya, anak ibu mengalami SBS atau shaken baby syndrom, ini sindrom yang dialami anak jika mengalami guncangan terlalu keras secara berulang, syukurlah dia hanya muntah dan kejang, anak ibu tidak menunjukan gejala yang lebih parah seperti cerebral palsy atau kerusakan yang lebih gawat".
"Bayi ibu hanya perlu penangan untuk cedera tulangnya saja nanti ibu bisa konsultasikan dengan dokternya".
"Aduh dokter terlalu panjang pemaparannya, sekarang begini aja, dokter tolong urus semuanya untuk biayanya nanti pacar saya yang akan bayar, saya terlalu sibuk buat masalah seperti ini".
Aaaarrrrh wanita ini terlalu menyebalkan, kenapa dia tidak peduli dengan anaknya sendiri. Jika tidak mampu menjadi ibu kenapa harus melahirkan! Aku saja sangat ingin memiliki seorang anak!
"Emmmm iya bu baiklah".
"Tapi begini bu, ada yang ingin saya tanyakan untuk memastikan. Apakah dirumah ibu atau pengasuhnya sering mengguncang bayi dengan keras?".
"Maksud dokter saya siksa anak saya sendiri? jangan sembarangan ya!".
"Tenang dulu bu, dokter aila hanya menanyakan kronologinya saja, karena sbs ini terjadi jika anak diguncang keras dan berulang" timpal danial mencoba membela aila.
Wanita itu baru menyadari wajah danial, amarahnya hilang berubah menjadi sedikit nakal. Sepertinya dia terpesona dengan ketampanan danial.
Aila hanya tersenyum geli melihat perubahan tingkah wanita itu dan danial benar benar merasa ingin muntah.
"Oh dokter, enggak kok, anak saya itu sebetulnya sering menangis dan jika menangis untuk membuatnya berhenti saya sering menggendongnya mengangkatnya dan sedikit mengguncangnya tapi hanya sedikit".
Braaaakkkk "nah itu poinnya biarpun menurut ibu sedikit tapi bagi anak bayi itu berbahaya" danial menggebrak meja membuat wanita itu kaget bukan kepalang.
"Ahhh,sudahlah pokoknya kalian urus anak saya hingga sembuh, besok pacar saya akan datang mengurusi biayanya".
"Ciiiihhhhh wanita macam apa dia, binatang saja tidak seperti itu!" Danial menggerutu kesal selepas wanita itu berlalu.
........
"Kamu mau kemana aila?" tanya danial baru tersadar melihat aila keluar dari ruangannya.
"Nengok anak itu". Danial langsung keluar mengejarnya menemani aila melihat bayi lucu yang menggemaskan itu. Anak itu berkulit putih dan begitu tampan juga menggemaskan, tapi malang sekali dia memiliki ibu seperti itu.
Anak itu sepertinya terbiasa tanpa ibunya, buktinya setelah sadar sedikitpun dia tidak mencari ibunya dan tidak menangis.
"Hai anak manis, kita main ya" kresa mengangguk dengan wajah senang.
"Kamu mau,makanan sayang".
"Yes bubu".
Hah bubu? Kenapa dia panggil aku bubu? Ah biarlah asalkan anak ini bahagia aku tidak keberatan sama sekali.
Akhirnya seharian aila dan danial menemani anak itu, menemaninya terapi untuk cedera tulangnya, dan menemaninya tidur.
"Sepertinya aila senang sekali bersama anak itu, biasanya aila lebih banyak diam tapi dengan anak itu dia benar benar berubah riang" danial memperhatikan aila sambil tersenyum.
"Aila kamu gak akan pulang? Ini sudah malam, lagi pula kresa kan sudah tidur, biar aku suruh perawat menjaganya".
"Baiklah".
"Selamat malam sayang, lekas sembuh ya besok tante datang lagi" aila mengecup kening kresa penuh kehangatan, kehangatan yang tidak pernah didapatnya dari ibu kandungnya sendiri.
"Kamu itu sepertinya suka sekali dengan kresa" tanya danial sambil mengantarkannya ke parkiran.
"Entahlah!".
"Mas rasanya kebahagian aku yang hilang kembali lagi saat melihat anak itu".
"Pokoknya aku bahagia!!!!" teriak aila manja.
"aku menaruh hati pada anak itu".
Aaaaahhh menyenangkan sekali melihat aila sudah kembali seperti dulu. semoga setiap hari mas bisa melihat kamu sebahagia ini aila.
.
.
.
.
.
.
kaksaaaaay aku gak akan bosen nih, aku butuh suntikan semangat buat up up up.
jangan lupa like, comment sebanyak banyaknya dan jangan lupa follow.
thanks yaaaaa 😍 😘