Mimpi dan cita-cita harus terbang begitu saja bagai layangan putus, saat pujaan hati mengatakan jika sedang hamil. Lalu bagaimana bisa Elza bertanggung jawab atas semua yang terjadi, sedangkan keduanya masih berstatus siswa SMA. Menikah adalah solusi terakhir yang diambil kedua belah pihak keluarga setelah kehamilan tersebut diungkap oleh pihak sekolah.
Lantas, mampukah Elza dan istrinya mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang sangat muda ini? Mampukah mereka menjadi orang tua yang baik untuk anaknya nanti? Atau justru mereka gagal menjadi orang tua karena masih terlalu muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Emosi Elzayin
"Candra?"
Elzayin mengernyitkan kening setelah istrinya menyebut salah satu mantan siswa di sekolahnya dulu. "Jadi kalian masih sering chatting?" tanya Elzayin dengan tatapan tajamnya.
"Terkadang," jawab Yollanda dengan kepala tertunduk.
"Oh, begitu rupanya!" Elzayin semakin geram mendengar jawaban jujur istrinya, "selama ini aku tidak pernah mengecek ponselmu karena aku percaya, jika kamu tidak berhubungan dengan pria lain. Akan tetapi sekarang ternyata kamu lebih memilih percaya berita dari mantanmu itu dari pada bicara baik-baik denganku!" sungut Elzayin.
"Ya, memang aku tadi sempat bicara dengan Zahra, tetapi tuduhanmu itu tidak semuanya benar. Aku datang ke cafenya karena ingin bicara dengan tante Hanum. Aku tidak berduaan dengan Zahra, karena tante Hanum ada di sana!" jelas Elzayin dengan tegas.
"Halah alasan! Udahlah ngaku saja kalau kamu memang sedang menjalin hubungan khusus dengan Zahra!" Ucapan Yollanda semakin terdengar sinis.
Kobaran api cemburu semakin membakar keduanya. Perdebatan terjadi di sana karena Elzayin tetap pada jawabannya. Sementara Yollanda masih mempercayai semua berita dan praduga yang disampaikan oleh pemuda bernama Candra.
Pyar!
Ponsel Yollanda pecah menjadi dua setelah dilempar ke dinding oleh Elzayin. Pemuda tampan itu rupanya kehilangan kontrol atas sikap yang ditunjukkan oleh istrinya. "Jangan harap setelah ini kamu bisa main handphone lagi! Aku sudah muak melihat semua videomu di aplikasi tek-tek seperti wanita murahan. Apalagi, sekarang kamu berani chattingan bersama pria lain!" ujar Elzayin dengan mata melotot.
"Gara-gara handphone kamu lupa kewajiban sebagai seorang ibu. Kamu lupa posisimu di sini sebagai seorang istri dan anak. Jangan seenaknya sendiri memperlakukan ibuku! Kamu pikir dia pengasuh hah!" Emosi Elzayin semakin memuncak.
"Kurang apa keluargaku kepadamu? Saat orang tuamu tidak peduli dengan keadaanmu, siapa coba yang merangkulmu? Di saat semua orang menghakimi kita bersalah dan memalukan, siapa coba yang melindungi kita? Papa dan Mama! Bukan Pak Budiono ataupun Ibu Arifah! Lalu sekarang kamu dengan santai memperlakukan ibuku seperti itu? Dasar gak pernah bersyukur!" sarkas Elzayin.
Suara isak tangis Yollanda terdengar di sana. Rasa cemburu yang sempat menguasai diri, kini lenyap sudah diterjang rasa takut. Pemuda yang selama ini dikenal lembut dan penyayang, ternyata sedang menunjukkan taringnya. Yollanda terkejut melihat kemarahan suaminya, karena saat berpacaran pun Elzayin tak pernah sekalipun berbuat kasar, meski dia seorang atlet bela diri.
"Jika kamu masih mengungkit masalah Zahra, lebih baik sekarang ikut aku! Kita pergi menemui tante Hanum untuk memperjelas semua ini!" ujar Elzayin sambil menarik pergelangan tangan Yollanda.
"Ampun, El! Ampun!" Yollanda berusaha melepaskan genggaman tangan Elzayin di pergelangan tangannya, "aku percaya, aku percaya. Jangan menemui Tante Hanum. Maafkan aku," ucap Yollanda di sela-sela isak tangisnya.
"Kamu yakin dengan ucapanmu, Olla?" tanya Elzayin dengan tegas, "aku tidak mau mendengar apapun setelah ini! Jangan pernah mengungkit masalah ini di kemudian hari! Awas saja!" ancam Elzayin.
Kekesalan yang sempat terpendam, kini telah meluap hingga membuat Yollanda banjir air mata. Gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak pernah menyangka jika hari ini akan mengalami pertengkaran hebat bersama suami tercinta. Dia bingung harus bagaimana, karena yang ada dalam pikirannya Elzayin lah yang akan meminta maaf. Ibunda Rizhan itu sudah merencanakan cacian untuk Elzayin, tetapi pada kenyataannya semua rencana tidak berguna.
"Aku minta maaf, El. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," gumam Yollanda dengan kepala tertunduk.
"Minta maaf sama Mama sana!" ujar pemuda tampan itu. Kali ini nada bicaranya mulai normal, tetapi napasnya masih memburu. "setelah ini belajarlah menjadi ibu yang baik bagi Rizhan." Pemuda tampan itu menatap istrinya yang sedang tertunduk.
Rasa sesal tentu hadir dalam diri Elzayin setelah emosinya perlahan hilang. Ada rasa tidak tega tatkala melihat sosok yang sedang terisak di sisinya. Akan tetapi jika semua ini dibiarkan saja, maka yang ada Yollanda semakin tak terkendali. Sungguh, kecemburuan yang ada dalam diri pemuda tampan itu lebih besar daripada Yollanda. Dia tidak terima ada pemuda lain yang menghubungi istrinya, apalagi pemuda tersebut adalah mantan kekasih Yollanda.
"Sementara waktu kamu tidak perlu main handphone. Anggap saja itu hukuman untukmu! Jangan harap aku memberimu handphone baru," ujar Elzayin dengan tegas sebelum beranjak dari tempatnya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa amarah.
***
Sementara itu, di ruang keluarga, ada Fina yang sedang mondar-mandir sambil menggedong Rizhan. Balita menggemaskan itu baru saja terlelap. Fina merasa resah setelah melihat bagaimana sikap Elzayin.
"Ya Allah, semoga saja mereka tidak bertengkar," batin Fina sambil menatap wajah Rizhan.
Tak lama setelah itu, terdengar derap langkah kaki dari arah depan. Ternyata Benny baru saja pulang dari pabrik. Pria paruh baya itu pergi ke kamar mandi, sebelum menyentuh cucunya. Beberapa menit kemudian, dia kembali dari kamar mandi dan menghampiri Fina.
"Kenapa sih, Ma? Sepertinya resah banget," protes Benny setelah melihat gerak-gerik Fina.
"Aku takut Olla dan Elza bertengkar, Pa. Sejak tadi mereka belum keluar dari kamar," jelas Fina seraya menatap sang suami.
"Ck. Mama ini seperti tidak pernah muda saja. Mereka gak keluar kamar kok dibilang bertengkar. Mungkin lagi mesra-mesraan kali, Ma," gumam Benny sebelum duduk di sofa.
Fina menurunkan Rizhan di atas sofa, sebelum menceritakan perihal yang terjadi. Setelah memastikan keadaan Rizhan aman, Fina membalikkan badan dan memilih duduk di samping suaminya. Helaan napas berat terdengar di sana saat Fina mulai merangkai kata yang tepat.
"Gak mungkin, Pa. Mereka gak mungkin mesra. Sepertinya Elza sedang marah besar kepada Olla," jelas Fina. Lantas, dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Aku takut Elza hilang kontrol, Pa. Coba sekarang Papa cek deh ke atas, ketuk pintunya, siapa tahu Elza khilaf dan mengikuti emosinya terus Olla dihajar,"
Benny termangu setelah mendengar penjelasan istrinya. Dia tetap bersikap tenang, meski wajahnya menunjukkan gurat kekhawatiran. Datang dan mengetuk pintu kamar putranya, tentu bukanlah solusi yang baik. Dia harus mencari cara untuk menenangkan istrinya.
"Ma, kita tidak perlu ikut campur masalah mereka. Cukup kita diam dan awasi saja bagaimana mereka berumah tangga. Elza tidak mungkin melakukan kekerasan kepada Olla. Lagi pula meski kita orang tuanya, kita tidak berhak mengatur rumah tangga mereka. Kalau Elza atau Olla datang terlebih dahulu dan minta solusi, barulah kita bisa memposisikan diri sebagai orangtua. Kalau untuk situasi saat ini, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya," tutur Benny seraya menggenggam tangan Fina, "sebaiknya Mama fokus dengan Rizhan saja," lanjut pria paruh baya itu setelah menatap cucu kesayangannya itu.
Bukankah memang benar apa yang dikatakan oleh Benny, jika orang tua tidak berhak ikut campur saat terjadi pertengkaran di antara anak dan menantu? Mungkin memberikan solusi adalah jalan terbaik untuk menjadi penengah dalam pertengkaran.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
eh kita udah berteman pa belum yah, lupa lupa inget 🤭✌lop sekebon terong ❤❤
tak perlu di sesali tapi anggap sebagai pendewasaan diri.
happy end.
Elza Yolanda Rizhan ❤❤
Semangat buat othor,,sehat selalu
Bertanggung jawab pada keluarga..
Menempuh pendidikan tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga
dari kisah Elza Yola byk hal yg bisa dipelajari
terutama utk para org tua 😍🙏
sehat dan sukses slalu thor..ditunggu karya selanjutnya 🥰🥰
Terkadang kita sebagai orang tua akan lebih sakit saat putra putri kita di sakiti orang lain..
semua tak lepas dari Bu Fina sebagai pendamping 🥰🥰
keluarga P Ben - b Fina mmg the best lah 😍😍😍
tapi si emak fina wajar sih msh dongkol.. anaknya dihina, disepelekan..jadi kapan lagi bisa balas tu hinaan 🤭😂😂✌️
Balas dendam terbaik memang dengan sukses
Salut...Salut banget malah..