Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 Alam Indigo
Menyeimbangkan nafas di jalur-jalur berbeda rumit terbengkalai___
Banyak tidak paham akan alur isi indera ke enam. Kalau di dunia nyata yaitu sumber kehidupan manusia adalah matahari sebagai planet terbesar dari seluruh jagat raya. Penyakit ghaib sering mengganggu, jadwal tidur berantakan, pola makan yang tidak teratur, langkah panjang melihat aktivitas alam nyata dan ghaib serta gangguan silih berganti.
Lorong ini masih panjang, terakhir kali di perpustakaan menyentuh buku prasejarah kerajaan Mandra Sukmo. Kerajaan di bangun pada abad ke 16 di masa kepemerintahan raja pertama Mangkubumi. Letak wilayah di kelilingi gunung, sungai dan perbukitan. Di bagian utara di bagian Timur terdapat Gunung Mahgiri yang berjajar tinggi berdampingan. Tiga gunung yang paling tinggi, gunung tersebut merupakan gunung Merapi.
Gunung mistis sebagai tempat ritual ilmu klenik. Tidak jarang masyarakat melakukan tradisi selamatan atau hal yang bersifat pribadi. Terlihat di pandang memukau sejauh-jauh mata memandang. Para pendaki banyak yang hilang, meregang nyawa bahkan mengalami kejadian-kejadian mistis.
Manusia-manusia yang melakukan proses ritual pemujaan, menyalurkan semua hasrat duniawi untuk mendapatkan harta kekayaan yang semu. Pencarian ilmu melakukan jalur meditasi persemedian. Banyak jiwa yang di sesatkan para setan, makhluk-makhluk di sekitar memanfaatkan kedatangan manusia yang mencari ilmu kebatinan dan lainnya di jadikan ajang sarang menduduki jiwa tersebut. Kebanyakan jiwa yang lemah terbengkalai di kesampingkan keinginan berubah diri di kuasai setan.
...❄❄❄...
#Tabir Pandangan alam ghaib
“Ah kaki ku menghilang!” teriakan seorang pria kesakitan.
Keranjang bakul menumpahkan ranting kayu kering. Tidak ada yang mendengar suaranya, tubuhnya terjatuh di tebing. Nyawa melayang, arwahnya bergentayangan tanpa dia sadari nafas berhenti. Kejadian ganjil lain di kabarkan para warga yang menyaksikan sendiri orang-orang yang tidak kembali lagi setelah memasuki tanah pegunungan.
Terjangkit penyakit kerasukan, kata yang tepat untuk manusia yang gambang terkena tipuan jin.
“Bisa di hitung dengan jari, satu bulan ini Cuma sepuluh orang yang keluar dengan keadaan utuh. Ratusan lainnya mengalami nasib buruk” ucap Cecep mengunyah kerupuk bulat.
“Eh jangan bahas hal begituan! Ingat pesan pak Legiman, wilayah ini juga terhitung angker!” Pon menutup mulutnya.
Salah satu dari mereka ada yang hampir di mangsa jin yang berwujud hewan buas. Para penduduk setiap tahun melakukan pengorbanan kepala kerbau di taburi bunga warna-warni. Raja-raja terdahulu atau orang-orang yang memiliki aliran darah biru yang daya tahan tubuhnya kuat sangat sulit di renggut jiwanya oleh setan.
Ada kekuatan ghaib yang melindunginya. Kemungkinan besar para leluhur bangsa lelembut berdiri di sampingnya. Tulang wangi yang di sebut-sebut incaran makhluk halus, para iblis tidak akan pernah berhenti mencari cara mendapatkan dirinya. Darah, jiwa dan tubuh yang di incar supaya di manfaatkan menambah kekuatan.
Ayahnya Legiman seorang pawang penakhluk gunung, dia mengumpulkan ilmu hingga tidak bisa di tandingi. Bisikan setan membawanya merenggut tanah kerajaan. Di samping itu dia juga memiliki taktik perang secara halus untuk menjatuhkan para pembesar.
“Ayah…”
Legiman melihat ke pohon yang ada di depannya, satu pohon bergoyang di balik batang besar terlihat sosok hitam besar menatap sorot mata merah tajam. Legiman ingin ayahnya kembali menjadi aktivitas normal. Dia tidak pernah mau mengikuti jejak ayahnya, sampai suatu hari dia bertekad menghentikan kegiatan ayahnya yang semakin lama di luar batas kewajaran sebagai manusia.
“Ayah! Ayo pulang! Kasihan ibu sedang sakit parah!” teriaknya di depan gua.
Batu-batu kerikil terlempar ke tubuhnya, Legiman terkejut tiba-tiba di sampingnya sosok hitam besar seolah mau merasuki. Berlari masuk ke dalam gua, ular-ular berdesis, suara cakaran kuku yang di asa di atas batu dan tangisan yang melengking.
“Ayah! Ayo cepat__”
“Pulang lah kau anak nakal! Jangan sampai aku menghabisi mu.”
“Ayah…!”
Sejak saat itu Legiman tidak lagi mendengar suara anak dan istrinya. Tidak pernah pula terlintas di benaknya pulan ke rumah.
Peristiwa serangan mistis dari kiriman kekuatan bola api terbang, di malam yang membeku. Banyak serangan beruntun yang bermaksud menghabisi. Para punggawa, penjaga istana inti yang merasakan adanya kekuatan jahat tidak henti mengeluarkan kekuatan guna sebagai perisai kerajaan.
Menyerang Raja ternyata tidak semudah yang di bayangkan para pecandu klenik. Serangan memakan dirinya sendiri, raja yang mengetahui orang terpercaya yang mengatakan menjadi penjaga setia ternyata berkhianat padanya. Di dalam catatan sejarah hingga kini tujuh turunan anggota keluarga masih di ganggu makhluk sebangsa jin, iblis ataupun siluman.
Dukun yang tampak wujud manusia ternyata jelmaan setan yang menunggu mangsa terperangkap. Pandangan lain dari informasi di bagian Selatan ada pantai lepas yang menyiarkan selendang hijau terbang. Di tepian pantai, wisatawa yang berkunjung di larang memakai pakaian hijau.
“Alam lain ku ini suda kelewatan batas. Tidak semua orang mempercayai apa yang aku lihat. Tapi semua ini seratus persen nyata, apa yang aku jalani sama dengan isi buku” gumam Luna sambil berjalan-jalan di alam bawah sadarnya.
~para bangsawan yang memiliki aliran darah biru tidak jarang merasa terpanggil lebih dekat di lautan. Mendapat gambaran lewat mimpi, merasa terpanggil sampai walaupun berenang sampai di tengah lautan tidak akan tenggelam terbawa ombak.
Air menyatu dengan dirinya, penghuni lautan tidak mengganggu seluk beluk yang berkaitan dengan darah biru.
Srap,
Srrapp, sreett.
Suara kepakan sayap Owel membuka sepasang mata Luna. Sukma yang berjalan meninggalkan tubuhnya kini masuk dengan cepat. Owel tidak seburuk yang para punggawa , kasim atau dayang pikirkan Di berdiri menunggu Luna melontarkan pernyataan.
“Owel, boleh kah aku meminjam buku ini? Ada banyak lagi yang belum aku baca..”
“Silahkan bawa buku perpustakaan yang tuan putri mau, hamba juga akan mengantar sampai alun-alun kerajaan.”
“Tidak Terimakasih Owel, aku berani pulang sendiri. Oh ya aku seperti melihat kejadian hidup ku di alam lain..”
“Dengan senang hati tuan putri…”
Owel menunggu Luna sedikit jauh dari perpus, dia mengikuti pandangan berjaga melihat pedangnya yang sangat panjang.
Luna memeluk buku berharga dalam dekapan. Sampulnya yang berserat, ada pancaran warna merah dari atasnya. Ada urat-urat akan kecil yang berwarna aneh, puluhan jangkrik menempel di atasnya. Luna menggunakan alat kebersihan membersihan semu yang mengganggu.
Ogok menarik ujung pedang, lari Owel mendekati sang putri di urungkan menunggu wanita itu tidak mengikuti. Owel yang terlebih dahulu berhenti mengepak di luar perpus, Luna melongo tidak menyangka sesepuh tertua pustakawan rela menjaga dirinya.
Ogok merasa terjepit melarikan diri di kejar Pati setelah mengetahui Luna akan di serang ganas. Putri selamat di ganti punggungnya yang terkena tusukan.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.