Aina, istri dari Aji seorang pelaut yg beroperasi di perairan Srilangka terpaksa harus menelan kepahitan.
karena, sejak dua tahun pernikahannya dengan aji, dia harus menerima kenyataan jika aji memberikannya nafkah yang sangat tidak layak.
di tahun dua ribu satu sampai tahun dua ribu lima, aji hanya memberikannya nafkah sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk setahun.
kemudian, di tahun dua ribu enam sampai dua ribu sepuluh, aji memberikannya nafkah sebesar lima ratus ribu untuk setahunnya.
dan mulai tahun dua ribu sebelas sampai dua ribu dua puluh dua, aji memberikannya nafkah untuknya dan untuk ketiga anak anaknya sebesar satu juta untuk setahun.
lalu, bagaimana caranya aina bertahan hidup sampai saat ini dengan nafkah yang tidak layak itu?
ikuti terus ceritanya ya guys, bantu suport terus cerita aku, dan bantu beri kritik dan sarannya agar cerita yg aku buat semakin menarik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aqidatul izaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23
Di mana hati nuraninya selama ini?.
Tuhan, dosakah jika aku balas kedzalimannya dengan kekejaman juga?.
Ah, tapi aku nggak pernah peduli, itu dosa atau nggak, yang jelas aku akan membalasnya sepuluh kali lipat lebih kejam dari perlakuannya selama ini.
Oke. Selama dia masih berada di dalam rumahku, sebisa mungkin aku memperlakukannya layaknya manusia.
Tapi jika dia sudah kembali ke kampung halamannya, maka aku akan memandangnya seperti ayam ayam potóng di pasar tradisional.
Aku mengalihkan pandanganku pada dua bocah yang tengah meminum es tehnya.
Hemm, aku rasa mereka tidak terlalu dekat dengan papanya.
"Habis dari pantai, kita beli makanan, bawa pulang ke rumah. " Ucapku membuat mama, Zain dan kedua bocah yg tengah asyik meminum es teh menoleh ke arahku dengan raut penuh tanda tanya.
"Untuk apa?, kita udah kenyang ini!. " Protes mama.
"Buat papa. " Sahutku cepat membuat mereka mendelik ke arahku, lahh, apa ada yang salah??.
"Sudahlah ma, nggak usah banyak protes!. " Ucapku lagi sembari terus mengutak-atik ponsel dalam genggamanku.
"Di belikan nasi rames aja, nggak usah muluk muluk!" Ucap Zain, mendengar itu mama menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Ya ya ya. " Sahutku cepat, membuat mereka menghela nafas lega.
"Adek udah kelar ini makan sama minumnya, " Ujar Darren sembari menepuk nepuk lenganku.
"Bu!, tempe mendoan tiga porsi, es teh lima gelas. " Ucap ku pada ibu penjual di warung ini.
"Semuanya tiga puluh enam ribu ya mbak, " Ujar ibu itu.
Aku segera menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepadanya.
"Ini mbak kembaliannya. " Ucap Ibu itu sembari menyerahkan uang kembalian kepada ku.
Aku segera menerima kembaliannya dan keluar dari warung tersebut dengan di ikuti oleh mama, dan juga Zain serta kedua adiknya.
"Di belikan nasi rames aja, nggak usah muluk muluk!" Ucap Zain, mendengar itu mama menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Ya ya ya. " Sahutku cepat, membuat mereka menghela nafas lega.
"Adek udah kelar ini makan sama minumnya, " Ujar Darren sembari menepuk nepuk lenganku.
"Bu!, tempe mendoan tiga porsi, es teh lima gelas. " Ucap ku pada ibu penjual di warung ini.
"Semuanya tiga puluh enam ribu ya mbak, " Ujar ibu itu.
Aku segera menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepadanya.
"Ini mbak kembaliannya. " Ucap Ibu itu sembari menyerahkan uang kembalian kepada ku.
Aku segera menerima kembaliannya dan keluar dari warung tersebut dengan di ikuti oleh mama, dan juga Zain serta kedua adiknya.
"Cepat beli sekarang! " Tegasku membuat Zain menggerutu kesal.
Lantas dia menghentak hentakkan kedua kakinya menuju apotik lagi.
Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa satu plastik berisi, satu pack hansaplast koyo, satu pack maker, dan satu buah fresh care aroma terapi.
"Nah ini baru bener. " Gumamku sembari menyalakan mesin mobil.
"Nah ini baru bener, nye nye nye. " Zain membeo ucapanku sembari memonyongkan bibirnya.
tanpa basa basi aku segera menginjak pedal gas dengan kencang, membuat mereka berteriak histeris.
"Laura! apa yang kamu lakukan? " tanya mamaku panik.
"nyetir mobil lah, ya kali Laura lagi joget joget? kan nggak mungkin. " sahutku sembari cengengesan membuat mama dan juga Zain makin geram melihatku.
"pelankan laju mobilmu Laura! " tegas mama namun masih terlihat laut kepanikan di wajahnya, lain halnya dengan Darren dan juga Sahim, mereka justru tersenyum kegirangan dalam situasi seperti ini.
"Masuk!" balas
jagan lupa koma sebelum di tutup petik 2
atau tnda seru setelah kta perintah
Bagus ceritanya 👍☺️
Penulisannya juga rapi, jadi enak bacanya 😊
Ini sih kayaknya author dah pengalaman😂
Soalnya beda banget sama yang masih belajar😁😁🤭
aku mampir nih
salam dari langit 😊
btw judulnya serem amat yak😂
1 juta utk setahun😂