Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman Max Menemukan
Episode ini ditulis dari sudut pandang Paman Max
_____________________&__________________
Hari ini adalah hari di mana aku harus mengesampingkan egoku. Sebenarnya enggan sekali aku mendatangi tempat itu, tapi demi orang yang sangat berjasa dalam hidupku, aku harus melakukannya. Akhirnya setelah sekian lama, aku akan kembali ke tempat terkutuk itu. Melanggar janjiku sendiri yang pernah aku ucapkan dulu.
Pagi ini aku bersiap dibantu Nuri istriku, dia mempersiapkan segala apa yang aku butuhkan saat di sana nanti. Pakaian, perlengkapan mandi dan lain-lain karena di sana aku mungkin tidak sebentar.
"Apa kau yakin akan kembali ke tempat itu?"
Tanya Nuri sambil memasangkan dasi di bajuku. Aku menatapnya yang juga menatapku, dia tersenyum cantik sekali. Ku usap wajahnya lembut ku cium keningnya mesra. Ia memejamkan matanya menikmati ciumanku.
"Aku mencintaimu." Ucapku berbisik di telinganya.
"Aku tidak kembali ke tempat itu untuk selamanya. Setelah menemukan mereka berdua aku akan segera kembali pulang."
Ucapku, ku peluk tubuhnya erat. Ia membalas memelukku tak kalah erat. Seolah-olah kami akan berpisah sangat lama.
"Segera temukan! Dan segeralah kembali. Aku menunggumu."
Ucapnya lirih dalam dekapanku. Ku lepaskan pelukanku dan ku tatap wajahnya yang sangat cantik. Dia selalu tersenyum saat pandang kami bertemu. Itu yang membuatku semakin jatuh cinta padanya.
"Aku pergi. Berdiamlah di rumah selama kepergianku. Jangan pergi ke manapun. Tetaplah di rumah bersama Rendy. Karena di luar sedang tidak aman untuk kita."
Ucapku memperingatinya, ia mengangguk. Aku beranjak dari kamar ditemani olehnya yang mengantarku hingga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumahku. Ku lirik spion di depan terlihat Nuri melambaikan tangannya melepas kepergianku.
Mobil yang ku kendarai terus melaju menembus jalanan kota yang mulai padat oleh pengendara. Berkali-kali aku terjebak macet di sana. Terdengar bunyi klakson mobil saling bersahutan menambah keriuhan jalanan padat tersebut. Ku lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, aaahhhh sudah pukul 10 rupanya. Tapi aku belum juga sampai ke tempat tersebut. Di karenakan kendaraan yang memadati jalanan, perjalanan ini terasa begitu lama sekali.
Tepat pukul 11 aku sampai di sebuah gerbang perkampungan, aku berdecak kesal karena harus memasuki tempat yang enggan aku datangi ini. Tapi, memang hanya tempat ini yang belum aku datangi. Aku datang ingin memastikan keberadaan mereka. Semoga aku dapat menemukan mereka di sini. Karena jika tidak, sia-sia sudah perjalanan melelahkan yang tempuh hari ini. Perlahan mobilku melaju memasuki gerbang perkampungan itu. Tempat itu masih sama persis seperti dulu saat terakhir aku berada di sini. Tempat yang dipenuhi kenangan pahit selama hidupku di sini. Tempat yang menjadikanku manusia tak berguna dalam hidupku sebelum aku bertemu dengan Tuan Dika yang mengajakku keluar dari tempat ini.
Tapi, ada yang berbeda dari tempat ini. Jalanan yang dulu tidak pernah kering selalu basah karena saluran pembuangan yang tidak tertata rapih. Kini tampak kering, bersih juga rapih. Perubahan yang luar biasa ku pikir. Aku semakin melajukan mobilku memasuki perkampungan itu. Aku masih ingat di tengah-tengah kampung itu ada lapangan yang dulu biasa ku jadikan tempat berkumpul bersama teman-teman sebayaku. Ku gerakan mobilku menuju lapangan tersebut, masih sama tidak ada yang berubah hanya sekarang tempatnya lebih indah dan bersih tidak seperti dulu kotor dan jorok. Ku parkirkan mobilku di pinggir lapangan tersebut, ini adalah saat yang tepat untuk memantau anak-anak sekolah di sini. Karna ini saatnya mereka telah menyelesaikan belajar mereka dan akan pulang setelah itu.
Sekolah itu berada tak jauh dari lapangan tempatku berdiam saat ini. Dari tempatku terlihat jelas mereka yang mulai keluar dari gerbang bambu sekolah tersebut. Aku hanya melihat mereka dari dalam mobil dengan membuka sedikit kaca mobil untuk memperjelas penglihatanku.
Satu per satu siswa di sekolah dasar tersebut keluar meninggalkan sekolah. Hingga setelah satu jam lamanya aku menunggu, namun yang ku tunggu tidak muncul juga. Apa mereka tidak ada di sini? Aku hanya bisa mendesah menghela nafas berat. Ku sandarkan tubuhku pada kursi mobil, ku tengadahkan wajahku menatap langit-langit mobil. Ku pejamkan mataku melepas lelah. Namun sesuatu membuatku langsung membuka mata sekejap, ku palingan wajahku ke luar jendela aku menyipitkan mataku untuk bisa melihat dengan jelas seorang wanita paruh baya itu dan seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun.
Tunggu... Sepertinya aku tidak asing dengan mereka berdua. Aku tersentak membelalakan mata tak percaya orang yang selama hampir enam tahun ini ku cari kini ada di hadapanku.
Dengan cepat ku buka pintu mobil dan berlari ke arah mereka yang sedang berbincang itu. Ku pastikan kembali agar Aku tidak salah melihat. Benar. Itu adalah mereka aku tersenyum senang sambil terus berlari kecil menghampiri mereka.
"Nyonya!" Ucapku dengan nafas terengah-engah.
Wanita paruh baya itu menoleh dan ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya sementara anak laki-laki kecil itu hanya menatapku datar.
"Max!" Ucapnya dengan suara bergetar.
Ia berjalan menghampiriku dan langsung memelukku. Wanita itu menangis pilu dalam pelukanku, ku balas pelukannya dengan erat. Aku bahagia hingga tak terasa air mataku pun lolos begitu saja. Ia mengusap-usap punggungku lembut. Sentuhan ini yang sangat aku rindukan, sentuhan seorang Ibu yang tidak aku dapatkan sejak aku kecil dulu. Ku lirik bocah lelaki itu dan ia hanya menatap kami dengan kening berkerut.
"Akhirnya... Akhirnya kau dapat menemukan kami."
Ucapnya sambil terus berderai air mata. Melepaskan pelukannya ia menatapku dengan tatapan bahagia jelas terpancar di matanya yang lembut.
"Kami sudah menunggumu sangat lama. Aku yakin kau akan menemukan kami. Terimakasih sudah menemukan kami." Ucapnya dengan senyum senang.
"Aku telah mencari Anda ke seluruh pelosok Nyonya. Setiap sudut ku datangi namun aku tak juga menemukan Anda dan Tuan Muda."
Ucapku melirik ke arah bocah laki-laki itu. Wanita itu pun melirik ke arahnya lalu memanggilnya.
"Razka sayang, kemarilah Nak! Ini Paman Max yang sering Nenek ceritakan padamu."
Bocah laki-laki yang menatapku dengan kening berkerut itu berganti dengan senyuman. Ia berjalan perlahan menghampiri kami berdua dan,
"Paman Max!" Ucapnya memanggil namaku sambil tersenyum senang.
"Ternyata apa yang dikatakan Nenek memang benar. Paman akan dapat menemukan kami."
Ia terus tersenyum dan tanpa ku duga ia berjalan semakin mendekatiku dan memelukku erat.
"Terimakasih Paman, terimakasih sudah datang menemukan kami di sini."
Ucapnya bergetar. Tunggu. Apa bocah ini menangis? Ku lepaskan pelukanku, ku pegang kedua bahunya dan ku tatap ia lembut.
"Tuan Muda, kenapa Anda menangis?"
Kembali ia mengerutkan dahinya bingung.
"Aku Razka Paman, bukan Tuan Muda. Nenek bilang Paman akan datang menjemput kami dari tempat ini. Aku hanya harus bersabar untuk itu." Ucapnya, aku menoleh pada wanita paruh baya itu dan ia tersenyum mengangguk
"Baiklah Nak Razka. Ayo kita ke tempat kalian dan segera pergi dari tempat ini."
Ucapku menggandeng bocah itu. Kami melangkah meninggalkan lapangan di mana mobilku terparkir di sana. Mereka berdua mengajakku ke tempat tinggal mereka selama ini. Kembali, aku tak dapat menahan air mataku melihat keadaan mereka sungguh menyedihkan.
Ya Tuhan... Selama ini orang yang ku anggap sebagai Ibu tinggal di tempat seperti ini, begitu kumuh dan kotor.
"Apa selama ini Nyonya baik-baik saja? Kenapa Nyonya memilih tempat ini?"
Tanyaku ingin tau bagaimana kehidupan mereka selama mereka bersembunyi.
"Kami berdua baik-baik saja Max. Kau bisa melihatnya sendiri, kami berdua tak kurang apapun meskipun tempat ini kotor dan jorok."
Wanita itu tersenyum menjelaskan, tidak ada gurat kesedihan pun penyesalan. Aku menjerit dalam hati demi menyaksikan semua ini.
Sungguh aku merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di dunia ini. Membiarkan seseorang yang ku anggap sebagai Ibu harus tinggal di tempat seperti ini begitu lama.
Tidak. Tidak akan aku biarkan mereka menderita lagi. Tidak akan.
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔