NovelToon NovelToon
Mochi Milik Tuan Min

Mochi Milik Tuan Min

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.

"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.

Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."

"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.

"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"

Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."



Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Yoonji

"Apa ini? Siapa dia? " Tanya Frederick saat Yoonji mengirim sebuah foto seorang laki-laki, dengan alis bertaubat Frederick melihat foto di layar ponselnya.

"Cari tahu semua tentang laki-laki ini, semua tanpa terkecuali. Aku ingin hasilnya besok!" Tegas Yoonji dengan sorot mata tajam.

Frederick meletakkan ponselnya, mengusap kening mulus dengan keempat jari. Helaan nafas berat terdengar dari laki-laki jangkung itu.

Yoonji kemabali berkerja setelah dua hari cuti untuk melangsungkan resepsi pernikahannya. Pria itu benar-benar workaholic, dia sangat tidak suka jika tidak berkerja. Lebih tepatnya dia tidak ingin kecolongan lagi, dia ingin semua yang terjadi di kantor berada angsung dalam pengawasannya.

"Aku bukan orang kurang kerjaan yang bisa melakukan apa yang kamu inginkan dalam sekejap Yoon," Keluh Frederick, pekerjaan kantor sudah sangat menyita waktu Frederick.

Apalagi saat Yoonji tidak dikantor, Frederick harus mengantikan Yoonji menghadiri rapat dan melakukan pekerjaan pria itu, paahal perkerjaan Frederick sendiri cukup banyak. Belum lagi dia harus mengurus pesta pernikahan Yoonji. Pria itu tidak sepenuhnya percaya dengan EO, mesi pernikahan Yoonji dan Monika hanya sebuah drama, tetap saja semua harus sempurna.

"Lalu apa gunanya kau ada diruanganku sekarang? Apa kau merasa bonusmu harus aku berikan pada satpam di depan?" Yoonji menatap tajam pada pria yang sedang menyengir kuda di hadapannya.

"baik, jam sepuluh pagi kau akan mendapatkan seluruh informasi tentang pria ini, lengkap."

"Sembilan."

"Ok, ok jam sembilan pagi. tidak kurang dan tidak lebih, kalau begitu saya permisi untuk kembali berkerja Tuan Min." Fredrick bangkit dari duduknya, ia sedikit menunduk sebelum keluar dari ruangan Yoonji.

Sementara itu di rumah besar, terjadi sedikit keributan di dapur. Monika memaksa ingin memasak tapi koki yang ada di sana melarang Monika. Mereka sudh di perintahkan oleh Pratiwi untuk menjaga dan melayani Monika dengan baik.

" Pak wito tenang saja, saya bisa melakukan ini." Monika memaksa mengambil selasa kriting yang Wito ambil dari tangannya.

"Nyonya tidak perlu melakukan ini, Nyonya bisa mengatakannya pada kami. kami akan dengan sennag hati memasaknya untuk Nyonya," ucap Wito dengan hati-hati, Wito adalah koki yang berkerja di sana.

"Benar kata Paman Wito Nyonya, kalau Nyonya besar sampai tahu Nonya muda msak sendiri kami bisa kena marah," sahut wanita muda bernama Nita, dia adalah keponakan Wito yang juga berkerja di rumah itu. Keduanya bertanggung jawab atas semua perkerjaan yang berhubungan dengan dapur.

"Pak wito sana Nita tenang saja, aku nang akan bilang sama Nenek kalau aku ingin masak, tolonglah aku sangat bosan tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin membuat camilan saja," ucap Monika mengiba.

Kebosanan memang sudah melanda wanita itu sejak tadi pagi. Setelah sarapan Yoonji pergi berkrja, dan Nenek juga pergi katanya ada urusan. Kedua mertua Monika belum keluar kamar, mereka juga tidak ikut sarapan di meja makan. Sarapan di antar pelayan ke kamar mereka.

Monika yang biasa berkerja tetu saja merasa bosan, di apartemen dia masih bisa melakukan perkerjaan rumah tangga, sedangka rumah besar ini sudah banyak orang yang berkerja di tempatnya masing-masing, tak ada yang bisa Monika lakukan di rumah besar ini.

Monika pun memutuskan untuk membuat cemilan yang ia sempat dia lihat di televisi tadi pagi. Soal bahan tersedia lengkap di lemari pendingin, Monika tidak khawatir tentang itu.

"Nyonya."

Sssst.

Monika menempelkan telunjuknya di bibir gadis seumurannya itu.

"Nita dari pada bawel mending bantuin aku," ucap Monika, dia menarik telunjukanya menjaug dari bibir Nita kemudian melanjutkan memotong selada.

Nita menoleh melihat pamannya seolah meminta izin, Wito pun mengangguk mengiyakan. Nyonya muda mereka satu ini sepertinya tidak bisa di cegah jika sudah ingin melakukan sesuat, biarlah. Kasihan juga jika dia saampai bosan. Nita tersenyum, dia pun mulai membantu Nyonya mudanya memasak.

Jujur saja saat Nita tahu kalau Yoonji menikah dia merasa takut, jika Yoonji menikah maka majikan dia tentu akan bertambah. Satu lagi orang yang akan sangat sulit di hadapi, sombong, pongaah dan sesuka hati memerintah, seperti itulah bayangan Nita tentang calon istri Yoonji, sama seperti sifat Yura dan Stefanie.

Tapi nyatanya, gadis yang Yoonji nikahni justru jauh dari semua sifat itu. Dia bahkan dengan ramah menyapa semua karyaan yang ada di sana meski dia tidak tahu namanya. Bahkan Nyonya muda itu juga memanggil Pamannya dengn sebutan Pak, tidak seperti penguni lain yang memanggil dengan nama saja.

"Wah.. ah..cocok sekali, memang cocok kamu berada di dapur seperti ini."

Monika dan Nita pun seketika menoleh saat mendengar ucapan itu, Wito pun sama. Pria itu menatap Stefanie dengan tajam tapi ia masih berusaha untuk bersikap sopan.

"Memang pantes gadis kampungan kayak kamu berbaur bersama mereka," lanjut Stefanie, wanita paruh baya itu berjalan mendekat melihat apa yang menantunya itu lakukan.

Monika memnutar matanya jengah, sejak awal sebenarnya dia sudah tahu jika Ibu mertuanya itu tidak menyukainya. Monika pun acuh, dia tidak mau ambil pusing wanita itu menyukainya atau tidak, Monika tidak begitu peduli.

Monika kembali melanjutkan pekerjaannya, ia pun menyenggol bahu Nita, tanda agar gadis itu mengikuti apa yang ia lakukan. Kesal di cuekin oleh. menantunya membuat wanita paruh baya itu mengacak-acak sayuran yang sudah di potong Monika.

Mata Monika memdelik tajam pada wanita yang sedang tersenyum dengan penuh kemenangan.

"Masakan sampah kayak gini siapa juga yang mau makan!"

1
kieky
keren plus bagus ceritanya...ada lucu" nya juga🤣
win ryry
weh jebol juga.
perjanjian kalian harus dibatalkan
win ryry
dimas kurang gercep
Isna Maria Prianti
masih ada beberapa typo.an yang harus dikoreksi lagi mak🙏☺️
Isna Maria Prianti
awwww akhirnya buka segel juga yoon🤣🤣🤭
Isna Maria Prianti
dasar yura gila
Isna Maria Prianti
apa.yang terjadi dengan mochi
Isna Maria Prianti
lanjuttt makkkk
Isna Maria Prianti
rasain lo stefani,lawan trus.mon
Isna Maria Prianti
pisang albino🤣🤣🤣🤣🤪
Isna Maria Prianti
ternyata bisa perhatian juga tuh kulkasnya ya mon🤣🤣🤣🤣🥰
Isna Maria Prianti
lanjut makkk
Isna Maria Prianti
lanjutt makkk
Isna Maria Prianti
lanjuttt makkk
Isna Maria Prianti
hahahahha mochi"
Isna Maria Prianti
lanjuttt makkkk
Isna Maria Prianti
akhirnya mereka nikah juga🥰
Isna Maria Prianti
hahahahahha tuan min
Isna Maria Prianti
oooo pantas saja tuan min tidak suka dengan ayahnya,jadi dia selingkuh to,dasar laki" gila😏
Isna Maria Prianti
lanjut makkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!