NovelToon NovelToon
Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kebangkitan pecundang / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:763.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: AsSekop

Datang sebagai menantu pria dengan status sebatang kara, Stefan hanya dianggap benalu dan sampah di rumah mertuanya. Selama tiga tahun Stefan mendapat cacian dan hinaan dari keluarga istrinya, Lionny. Pasca kecelakaan tragis yang membuatnya harus kehilangan ingatan, Stefan hanya bisa numpang makan dan tidur, bahkan nyaris seperti orang gila.
Keadaan tidak kunjung membaik. Stefan ingin bunuh diri. Lantas dihabiskannya lebih dari seratus obat dan vitamin dari dokter sekalian minum. Bukannya mati karena over dosis, ingatannya malah kembali.
Setelah melewati titik terendah dalam kehidupannya, sang menantu benalu pun bangkit untuk mengubah takdirnya, menjadi bos sukses, kaya, dan dikagumi!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AsSekop, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sebuah keputusan

“Hei sini dulu!” pekik Erick yang sedang duduk di lobi bersama Bobby.

Stefan membalik badannya, lalu mendekati Erick. “Ada apa, Pak Erick? Ada yang bisa saya bantu?”

“Kau main nyelonong saja.”

Stefan agak kaget rupanya ada mereka di lobi. “Maaf tadi saya agak buru-buru soalnya ada pekerjaan penting.”

“Bersih-bersih atau buat kopi untuk manajer? Santai dulu.”

“Bukan. Database server bermasalah. Saya ingin membantu IT yang lain.”

Erick bangkit, lalu memberikan tatapan remeh kepada Stefan. “Ingat omongan aku kemarin ya! Camkan itu baik-baik. Sekarang, kau bersihkan dan semir sepatuku! Cepat!”

Bobby berdeham, sebuah isyarat agar Stefan segera melakukannya. Seorang OB sudah menyiapkan alat semir dari tadi rupanya, kemudian diberikannya kepada Stefan.

Dengan congkaknya Ercik meletakkan kaki kanannya di atas meja. Stefan berjongkok, lalu mengelap debu-debu di pantofel hitam itu. Dilekatkannya sebuah sikat di sebuah wadah bermerek Kiwi, dicocol-cocolkannya.

Kemudian Stefan menyikat setiap sisi sepatu, bagian depan, belakang dan samping, semua kinclong. Erick menurunkan kaki kanannya, lalu menaikkan kaki kirinya. Disodorkannya sepatu bagian kiri itu hampir mengenai wajah Stefan.

“Cepat! Aku mau pergi pula ini!” titah Erick sambil membeliak. Ada sunggingan halus di sudut kiri bibirnya, kesan remeh.

Satu per satu karyawan yang baru saja masuk kerja melalui pintu depan pun kaget melihat Stefan melakukan hal demikian. Tidak ada satu pun karyawan yang mau membersihkan sepatu karyawan lainnya kecuali OB, itu pun sepatunya dititipkan di ruang OB, bukan seperti ini.

Setelah sepuluh menit kemudian Stefan pun bangkit, lalu pamit dengan Erick dan Bobby tanpa mengucapkan kata-kata yang banyak. Stefan masuk ke ruang kerjanya yang sempit, lalu terus menguatkan dirinya. Setelah itu, dia menuju ke ruang kerja IT untuk melaksanakan tugasnya.

Siang harinya sebelum jam istirahat, Stefan izin masuk ke ruangan kerja Bobby, lalu menyampaikan sesuatu yang cukup berat. “Pak, sebentar lagi saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya sudah mendapat izin dari Kakek Sanjaya untuk bekerja di Surabaya, Sanjaya Techno.”

Bobby langsung memberengut. “Tidak bisa begitu Stefan! Kau sudah tanda tangan kontrak kerja selama satu tahun. Setidaknya kau harus menyelesaikan kontrak dulu, baru bisa keluar dari sini.”

“Sesuai dari perintah Kakek Sanjaya, statusku hanya dimutasi, karena saya masih tetap bekerja di Sanjaya Group.”

Bobby tidak akan begitu saja menerima keinginan Stefan. “Kau masih dibutuhkan di sini, Stefan.”

Lantas Stefan menatap bosnya dengan cukup tajam. Perlahan kesabaran Stefan mulai berguguran. “Bapak sudah memperjakan saya secara tidak layak di sini. Jika saya mengatakan semuanya dengan jujur dan terbuka kepada Kakek Sanjaya, urusan bisa kacau, tapi saya masih punya hati terhadap Bapak.”

“Kau mengancamku, Stefan?” Darah Bobby mulai panas. “Kau tidak bisa seenaknya saja pindah tempat kerja.”

“Saya tidak mengancam sama sekali. Hanya saja saya ingin mendapatkan hak saya selaku pekerja. Sepertinya Bapak dan orang-orang di sini tidak menghargai saya.” Geraham Stefan bergemeletuk, bukan karena geram, tapi ada rasa takut.

“Baiklah, porsi kerjamu akan lebih disesuaikan.”

“Saya tetap akan pindah ke Surabaya, Pak. Saya juga akan membawa istri saya ke sana.” Bibir Stefan bergetar dan matanya nanar. Jantungnya berdegup agak kencang, tangannya keringat dingin.

“Apa?!” Bobby membeliak dan ternganga mulutnya. “Kau ini sudah gila, Stefan! Masih untung kau diberi kesempatan bekerja di Sanjaya Sawit, di kantornya pula, untuk tidak ditaruh di pabrik dusun sana. Kau ini tidak bersyukur.”

Stefan terus menguatkan dirinya. “Jika Bapak memperlakukan saya sebagai menantu dan pekerja dengan baik, saya tidak akan pernah ingin pindah. Sebaliknya, jika Bapak memperlakukan saya dengan buruk, wajar saya ingin pindah.”

“Apa kau sudah bilang sama Kakek kalau kau ingin membawa istrimu?”

Stefan mengangguk tegas. “Seharusnya dari dulu saya menuruti kemauan Kakek. Seharusnya dari dulu saya menetap dan bekerja di sana. Saya menyesal sekali.”

“Hah? Apa katamu? Kami jauh lebih menyesal sudah menerimamu menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya. Seharusnya kau tidak berada di sini, baik sebagai menantu maupun pekerja. Di mana pun, kau akan tetap menjadi sampah!” cecar Bobby Sanjaya berang.

\=\=\=>>>0<<<\=\=\=

Malam harinya, sepulang dari bekerja, Stefan berkunjung ke kediaman Bobby. Meskipun kehadirannya tidak diterima oleh mertua dan iparnya, Stefan terus memaksakan diri untuk bertemu dengan istrinya. Bagaimanapun Stefan yakin kalau istrinya masih cinta terhadapnya.

“Lionny, ayo kita pergi ke Surabaya, Kakek Sanjaya sudah menunggu. Kita akan menetap di sana, bekerja di sana, kita akan bahagia di sana,” lolong Stefan di teras rumah.

Tak ada satu pun penghuni rumah yang menyahuti omongan Stefan. Ketika menghubungi Lionny via telepon dan chat, tidak bisa karena nomor Stefan sudah diblokir. Bahkan nomor hp Stefan telah diblokir oleh mereka semua satu rumah. Meski tidak dipedulikan, Stefan masih stay menunggu.

“Lionny, kau istriku, jadi kau harus mendahulukan suamimu dari pada siapa pun, termasuk ayah kandungmu sendiri.”

Tak lama kemudian pintu pun terbuka.

Drrrtt .... Gaarr!

“Dasar menantu sampah!” maki Bobby. “Apa katamu tadi? Hebat sekali kau merasa lebih tinggi dariku.”

“Seperti itulah agama mengajarkan. Jika apa yang aku sampaikan salah, berarti agamaku mengjarkan sebuah kesalahan.”

“Pake ceramah pula kau di rumahku! Kau ini memang tidak punya malu. Kalau otakmu sudah benar-benar sembuh, seharusnya kau sudah pisah dari istrimu dan tidak perlu ke sini lagi. Apa yang kau harapkan?”

Sekonyong-konyong Chyntia, dengan setelan dasternya, menghambur ke luar rumah lalu mencerocos kasar, “Kau pasti mengharapkan harta Kakek Sanjaya! Sengaja kau tidak ingin bercerai dari Lionny karena alasannya harta warisan kan.”

Stefan bingung mau jawab yang mana dulu. Lantas dia mengawasi wajah Bobby dengan cukup tenang lalu bilang, “Justru aku memilih langkah ini karena otakku sudah sembuh dan jauh lebih baik.” Kemudian Stefan mengawasi wajah Chyntia lalu menjawab, “Tidak ada sedikit pun niat dariku untuk mengincar harta warisan dari Keluarga Sanjaya. Aku sadar aku tidak punya siapa-siapa dan masih saja dianggap sampah di rumah ini, tapi aku juga punya harga diri. Aku hanya ingin menuntut hakku.”

Tiba-tiba Lionny yang tengah berderai air mata keluar dari kamar lalu melangkah gontai menuju teras. Disekanya bulir jernih yang keluar dari mata sayunya, lalu bicara dengan pelan, “Sebaiknya aku harus pergi bersama Stefan ke Surabaya. Stefan benar. Suami harus didahulukan dari pada siapa pun. Lagi pula Stefan berada pada posisi yang tidak salah.”

Darah Bobby makin mendidih. Bola matanya kian membulat. Ada gerutan urat di keningnya. “Kau mau jadi anak durhaka, Lionny?!”

Situasi memanas dan tensi makin meninggi.

“Lionny, kau sudah mulai berani menyela pembicaraan ayah dan ibumu?!” Chyntia naik pitam. Digenggamnya erat tangan Lionny, lalu bermaksud menggeretnya masuk ke dalam.

Lionny melepaskannya, kemudian melangkah ke arah Stefan dan memeluknya. “Biarkan aku pergi bersama Stefan.”

Sempat terjadi ketegangan di antara mereka. Sumpah serapah dari Bobby dan Chyntia tak henti-hentinya. Namun, Stefan merasa tidak mempan atas semua makian karena kupingnya sudah biasa mendengarnya.

“Lionny akan hidup bahagia bersamaku.”

Piimmp!!

Go-Car yang tadi dipesan sudah tiba. Stefan buru-buru menarik tangan istrinya menuju mobil. Sebelum pergi, Stefan mengucapkan terima kasih kepada kedua mertuanya karena sudah memberikan tumpangan, makan, dan kendaraan selama ini.

1
Achmad
ya kita akan menunggu backsound
Sopwan Gojali
masih ada krlanjutan nya
Ranasartika Lacony
makan tuh "diam"!!!! SDH dewasa ga bs bedain yg hrs dilakukan mn yg TDK.
Ranasartika Lacony
jgn balik lg si Stefan SM Lionny, ga rela aku
Ranasartika Lacony
Stefan seperti tidak menghargai dirinya sendiri, sdhlah, tinggalkan sj si Leony, toh dia jg tak begitu sayang SM Stefan, kalau mmg dia sayang SM suaminya pasti sdh curhat SM Kakek Sanjaya....
Ranasartika Lacony
harusnya Stefan kerja aja di LN, t4 Ayahnya Grace.... Kenapa msh ngotot mau kerja d Sanjaya.....
Edy Kurniawan Zonk
heddeeeh kelamaan bom nya.
jadi males baca.
UP
Edy Kurniawan Zonk
stef si paling drama, bosen thor ceritanya terlalu monoton.
kpn balas dendamnya
Edy Kurniawan Zonk
jenius dari mananya cob, nyelesain masalah aja pakek cara yang rumit padahal sdh ada cara yang super simple.
Edy Kurniawan Zonk
dengan tidak berterus terang soal cerita yang sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan kecerdesan stef.
malah bisa di bilang bodoh tuh stef.
Wahyu Kasep
bingung gwa jadinya
Ali
,beneran si mc sampah terus si othor goblik bikin alur cerita.tolol bin bego lu thir.skip ah.kabuuuuuuuuur
OI
sepertinya harta kluarga sanjaya itu punya si steven dech soalnya kakek sanjaya kekeuh sama si steven
OI
alamat balikan lagi
Raidy Damaring
mending gak usah baca la...novel sampah..genius kok jadi Babu...harga diri gak ada...gimana caranya author menggambarkan mc...atau author yang begonya udah gak ketulungan...kalo gini anak2 sd juga bisa buat cerita
Raidy Damaring
benar2 sampah...genius tapi sampah...wajar aja dianggap benalu...
Raidy Damaring
mc Dan author bodoh kalo ya...udah diperlakukan tidak baik Masih saja bertahan ...katanya hacker handal...gak perlu susah payah tinggal dengan sekumpulan monyet kali
Dudin Syawaluddin
ini gimana pelaku utamanya betul betul g ada harga diri...sebagai laki atau suami atau orang lah...babi aja x
Ichal 1479
terlalu banyak iklan sangat mengganggu/Puke/
Mang Jangkung
penulis novel na pika sebelen ,,, si setifen iraha rek bungah na heh .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!