Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Meet Helen & Dominic
Frederic berjalan mengikuti langkah kaki seorang pria yang bertubuh tegap beberapa langkah di depannya. Perawakan pria itu tinggi, lebih tinggi dari dirinya sendiri. Padahal dirinya tergolong bertubuh tinggi. Badan pria tersebut sangat besar, dengan dada lebar dan sepertinya kuat layaknya tembok beton. Di sepanjang lorong yang mereka lewati di gedung kantor tersebut, kesibukan yang Frederic lihat di balik meja yang ada di balik setiap ruangan kaca yang ia lewati berjalan seperti bagaimana biasanya sebuah kantor.
Frederic mengatur napasnya, entah kenapa pria yang tengah berjalan di hadapannya dan akan membawanya menemui Tuan Dominic membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Seolah ia tengah di giring oleh tukang pukul, padahal bukan dirinya yang ada di depan, tapi ialah yang ada di belakang pria itu.
Sulit sekali bagi Frederic untuk bertemu dengan Paman ataupun bibi dari Vivianne. Mansion keluarga itu dijaga ketat, walaupun ia sudah memberitahu siapa dirinya dan apa keperluannya, dia tetap tidak diizinkan masuk. Frederic mencoba mendatangi kantor mereka, dan hasil yang ia peroleh sama saja. Ia disuruh membuat janji temu, yang entah kapan akan diterima.
Hari ini, akhirnya ia memutuskan menimbulkan keributan yang membuat dirinya sekarang mengikuti laki-laki yang berada di hadapannya ini. Ketika sang resepsionis menelepon ke sekretaris tuan mereka Dominic, mengabarkan bahwa Frederic datang lagi, ia sengaja berteriak. Berkata bahwa Paman Dominic dan Bibi Helen tidak akan dapat menemukan Vivi, tidak akan dapat membuat Vivi menuruti keinginan busuk mereka. Suaranya yang amat kencang membuat para pria berseragam di lobi mulai berlarian ke arahnya. Frederic terus berteriak, ia juga yakin, kamera cctv yang menyorot daerah lobi ditonton oleh orang-orang yang ingin ia temui itu.
Firasat Frederic benar. Seorang pria yang menahan bahunya dari belakang berbisik ke telinganya agar berhenti membuat keributan dan ikuti perintah jika ingin bertemu dengan bos mereka setelah mendengar perintah dari alat komunikasi yang ada di telinga pria itu. Dan sekarang di sinilah Frederic, berjalan melalui beberapa ruangan, menaiki lift dan berjalan lagi mengikuti pria itu ke sebuah pintu. Tempat akhirnya pria itu berhenti dan berbalik menoleh ke arahnya.
"Jangan bersikap merepotkan, Tuan Frederic," ucap sang pengawal.
Frederic tidak menjawab pria itu, ia mencoba menata wajahnya agar tidak terlihat gentar. Sorot mata pria didekatnya itu terlihat mengancam. Pintu terbuka beberapa detik kemudian. Dengan langkah mantap Frederic memasuki ruangan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Selamat datang, Tuan Frederic." Sapaan untuknya itu diucapkan oleh seorang pria dengan pandangan mata menilai ke arahnya, yang duduk di belakang sebuah kursi besar di balik meja mahoni yang dicat mengkilat. Frederic mencoba tersenyum, membalas sapaan selamat datang itu.
"Terima kasih. Maaf, apakah kalian Paman Dominic dan Bibi Helen?" Frederic berusaha memastikan kalau pria yang tadi mengucapkan selamat datang padanya adalah paman Dominic dan wanita yang berdiri di samping kursi pria itu adalah istrinya bibi Helen.
Pria tadi berdiri dari kursinya, lalu mulai bergerak dengan anggun ke arah satu set sofa yang ada di ruangan itu. Wanita yang tadi berdiri di dekatnya hanya mengikuti tanpa bicara.
"Kemarilah, Frederic. Duduklah di sini," ucap pria itu sambil mengambil posisi duduk di salah satu sofa. Wanita tadi mengikuti duduk di sebelah pria itu. Sekarang mata keduanya menatap Frederic dengan tatapan menilai yang tidak disembunyikan.
Frederic bergerak perlahan dan memutuskan duduk di hadapan keduanya. Ia berharap ia tidak terlihat gugup di mata kedua orang itu.
"Perkenalkan, kita memang tidak pernah bertemu. Aku Helen, adik ibunya Vivianne dan pria ini suamiku, Dominic." Wanita cantik yang tampak angkuh tadi akhirnya bersuara meski tanpa keramahan sedikit pun. Frederic menganggukkan kepalanya lalu memberikan senyum sebelum menjawab.
"Aku Frederic, kalian pasti sudah tahu karena tadi Paman Dominic sudah tahu namaku. Aku sepupu Vivianne, Bibi. Ayahku Ferdinand Margue, kakak dari suami Bibi Beatrice."
Bola mata Helen tampak bergerak, menatap Frederic dari rambutnya yang tersisir rapi ke arah belakang, lalu ke wajahnya yang tersenyum, turun ke setelan jas dan kemejanya. Frederic berani bertaruh, jika kakinya tidak tersembunyi di balik meja, bibi Helen pasti juga akan menatap ke arah sepatunya. Tatapan seperti menilai, seberapa mahal benda-benda yang sekarang ia pakai. Ia bersyukur memutuskan sejak awal akan menemui keduanya dengan sedikit berdandan dan memakai setelan terbaik. Karena penjahit pakaian yang ia kenakan sekarang adalah penjahit yang sama yang menjahit pakaian tuan Enrico, Frederic yakin ia tampak meyakinkan, tampan dan juga sukses.
"Sepertinya kau sudah jadi orang sukses, Frederic." Mata Helen tidak berpindah dari wajah tampan Frederic, "dan tak kusangka kau juga terlihat tampan."
Frederic tersenyum dengan mata melirik reaksi paman Dominic atas perkataan pujian istrinya itu. Pria itu hanya memandanginya dengan tatapan yang sama seperti tadi, menilai.
"Well, aku tidak tahu bagaimana definisi sukses dalam kamus Anda, Bibi Helen. Tapi kalau boleh kukatakan, aku punya pekerjaan yang bagus. Bolehkah aku langsung mengutarakan maksud dari kunjunganku kemari?"
"Dimana Vivianne?" Paman Dominic bertanya tanpa menjawab pertanyaan Frederic.
"Di suatu tempat. Kalian pasti bisa menebak alasan kedatanganku bukan? Mengenai utang Paman Gerard dan Bibi Beatrice ...."
"Katakan pada kami di mana Arabella dan Vivianne? Kami mengunjungi rumah Arabella ketika kau datang ke mansion waktu itu. Mereka berdua telah pergi ... sepertinya keduanya berniat melarikan diri dari tanggung jawab," ucap Helen dengan nada sinis.
Frederic menahan agar nada suaranya tetap santai seperti semula. "Ah, jadi kalian tahu aku datang berkunjung ke mansion saat itu? Sayang sekali ... tidak ada yang membiarkan aku masuk ... soal Nenek Arabella, kumohon jangan bicara seperti itu Bibi Helen. Nenekku dan Vivi tidak melarikan diri. Justru aku datang kemari ingin menyelesaikan semua permasalahan. Bukankah tenggat waktu yang kalian berikan masih belum habis?"
Dominic dan Helen tampak saling berpandangan setelah mendengar ucapan Frederic.
"Apa kau tahu berapa jumlah yang harus kau bayarkan?" tanya Dominic.
Frederic tersenyum sambil mengembuskan napas panjang.
"Tentu saja aku tahu, Paman Dominic. Jangan salah mengira, aku kemari tidak meminta kelonggaran. Jumlah itu akan langsung aku bayarkan segera. Dengan syarat ... pengacaraku akan mengecek surat utang tersebut."
Helen kembali menatap Frederic dari atas kepala sampai kaki. Kemudian mata wanita itu menyipit penasaran.
"Itu jumlah yang sangat besar. Boleh aku tahu pekerjaan apa yang membuatmu memiliki kekayaan sebesar itu, Frederic?"
"Sepertinya kita tidak perlu membahas tentang pekerjaanku, Bibi. Kita bahas tentang surat utangnya saja," ucap Frederic sambil tersenyum.
"Ah, jangan menghindari pertanyaan ini, Frederic. Meski tidak memiliki hubungan darah, kita terhitung keluarga karena hubungan pernikahan. Siapa tahu aku bisa memulai berbisnis denganmu. Kau tampak sukses dan punya banyak uang, hingga bisa dengan mudah membayar utang Gerard dan Beatrice pada kami." Dominic tampak menyeringai ke arah Frederic.
Meski ia ingin sekali mendengus, namun sekuat tenaga Frederic menahannya. Ia hanya menampilkan senyum kecil sebagai jawaban pada paman Dominic.
"Apa kau tahu Verga Marchetti, Frederic? Semua orang yang besar di Kota Broken Bridge mengenal keluarga Marchetti ...."
Frederic menarik napas panjang, ia bersandar di sofa dan mulai menatap tajam ke arah Dominic dan Helen. Perkiraannya benar, dua orang di hadapannya ini tidak akan membuat semuanya mudah. Mereka mulai mengajaknya berputar-putar.
Perubahan sinar mata Frederic yang menatap tajam membuat Dominic tersenyum miring dan menebak isi pikiran tamunya tersebut.
"Ah, kau pasti mengenalnya. Kau lahir dan dibesarkan di kota ini sebelum pergi dan memulai hidupmu sendiri bukan? Verga Marchetti, putra Verone Marchetti ... katakan, kau tahu mereka?"
Dengan seringai sinis tersungging di bibir, Frederic menatap dua orang di depannya dengan sorot marah yang sengaja tidak ia sembunyikan.
"Jangan membawa nama yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini, Paman Dominic. Aku kemari mengurus masalah surat utang Paman Gerard, jangan bicara yang tidak perlu di hadapanku!"
Ucapan Frederic membuat suami istri di depannya tampak terkejut dan kemudian saling memandang. Sorot mata keduanya tampak mulai gelisah, Bibi Helen menyatukan kedua tangannya dan terlihat menarik napas panjang. Sedangkan suaminya tampak menyandarkan punggung ke arah sandaran sofa dengan kedua mata terus menatap ke wajah Frederic yang masih menunggu.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Tunggu kisah kepulangan Enrico di bab-bab selanjutnya ya. Yuk, tekan lagi like, dan vote, lalu beri komentar kalian.
Terima kasih pembaca semuanya,
Salam hangat, DIANAZ.
ah akhirnya selesai membaca
novel ini akan menjadi salah satu novel favorite ku...
sudah lama diNT kemana saja diriku baru ketemu kita😁
terima kasih ya Thor cerita nya bagus banget 👍
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.