Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakhir hanya karena perjanjian
Sya di ajak oleh Umi Fatimah ke meja makan, di susul oleh Hasan yang melangkah di belakang mereka.
" Rupanya kalian sudah datang, syukurlah, kalau begitu langsung duduk saja. "
Sya mengangguk, Ia mulai merasa tidak nyaman melihat raut wajah mertuanya yang nampak kurang ramah kali ini.
" Bagaimana, apa kalian sudah ada kabar baik. Ini sudah satu bulan dari waktu yang kalian janjikan, apa jangan- jangan kamu mandul Sya. "
Sya terkejut begitu juga dengan Umi, ucapan Ayah Husein benar-benar menyakiti hatinya.
" Ayah, Ayah apa - apaan sih. "
Umi Fatimah meraih tangan Sya dan menggenggamnya dengan erat.
" Sudahlah Fatim, sebaiknya kamu diam dan tidak perlu ikut campur. Apa kamu akan diam saja kalau benar kamu punya menantu mandul, mau berapa tahun lagi waktu yang kita berikan padanya untuk membuktikkan kalau dia wanita subur. "
Bisa di bayangkan bagaimana sakitnya hati Sya, Ia di tuduh tanpa bukti yang cukup.
" Sesuai dengan perjanjian kita bulan lalu, karena sampai saat ini kamu belum hamil juga, maka kami putuskan untuk menikahkan Hasan dengan wanita lain. "
Sya menatap suaminya, berharap suaminya akan membelanya dan menolak niat sang Ayah, namun Hasan tidak bereaksi apapun.
" Bagaimana menurutmu Sya, apakah kamu bersedia kalau Hasan menikah lagi demi memperoleh keturunan. "
Sya dilema, Ia tidak bisa menjawab apapun sekarang, Sya hanya menundukkan wajahnya mencoba menahan tangisnya.
" Sebenarnya sih kami tidak perlu minta ijin padamu, bukankah pernikahan ini ada karena keinginan Ayahmu. Sekarang Ayahmu sudah tidak ada, jadi kalian bebas mau mengakhiri hubungan ini dan menikah dengan siapa pun pilihan kalian. "
Umi Fatimah kecewa mendengar ucapan suaminya, bagaimana mungkin sebuah pernikahan begitu mudah berakhir hanya karena perjanjian. Ia memilih meninggalkan meja makan. Sedangkan Sya hanya bisa menunduk sedih.
" Bagaimana jawaban mu Sya. " Tanya Ayah Husein lagi.
Sya melirik suaminya berharap suaminya akan mempertahankannya sebagai seorang Istri.
" Hasan, bagaimana dengan mu. Apa kamu ingin menikah lagi dengan wanita lain. " Tanya Ayah Husein.
Di luar dugaan Sya, Hasan justru mengangguk.
" Hasan terserah Ayah saja, apa yang buat Ayah senang. " Jawab Hasan.
Sya melangkah keluar, Ia meninggalkan kediaman Umi Fatimah dengan hati yang hancur. Hasan mencoba mengejar namun Sya dengan cepat memanggil taksi yang kebetulan lewat disana.
" Taksi. " Panggil Sya.
Ia bergegas masuk sebelum Hasan menariknya kerumah orang tuanya lagi.
" Jalan Pak. " Pinta Sya.
" Baik Neng. "
Taksi meluncur muter-muter karena Pak supir tidak tau harus kemana. Sya tidak menyebutkan alamat yang harus Ia tuju.
" Neng, maaf kita sekarang kemana ya. " Tanya supir pada akhirnya.
Sya merasa bingung, Ia harus kemana saat ini. Akhirnya Sya menyebutkan sebuah alamat, meskipun bingung tapi sang supir tetap mengantarkan kemana penumpangnya pergi.
" Neng, apa mau di tunggu. " Tanya Pak supir merasa tidak tega melihat kondisi Sya.
" Tidak perlu Pak, nanti saya cari taksi yang lain. " Jawab Sya, tak lupa Ia mengucapkan terima kasih atas tawaran baik dari Pria yang tidak Ia kenal itu.
Sya melangkah pelan melewati satu persatu makam hingga sampai kesebuah makam yang masih baru, disana Ia memberi salam dan jongkok. Sya menceritakan semua beban hidupnya pada sang Ayah.
Lama Ia jongkok di samping makam sang Ayah, hingga tanpa sadar kalau malam semakin larut. Sebuah tangan menyentuh pundaknya membuat Sya menoleh.
" Maaf Neng, tapi ini sudah malam. Saya antar pulang ya. "
Rupanya sang supir taksi tidak jadi pulang karena tidak tega pada Sya, Sya menatap sekeliling dan baru sadar kalau memang disana sudah sangat gelap.
Di kediaman Bunda Pipik
Bunda Pipik sedang gelisah setelah mendapat kabar dari besannya, wanita itu mondar-mandir sambil sesekali memeriksa ponselnya.
" Kamu dimana sih Nak, kenapa nggak pulang. Semoga kamu baik- baik saja. " Gumam Umi Pipik.
Di tengah kegelisahan nya akhirnya sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Umi, bergegas Umi keluar. Ia langsung berlari memelui Putri kesayangannya yang nampak diam tanpa berkata apapun.
" Sayang, kamu dari mana saja Nak. Umi khawatir sayang. " Umi mengelus pelan kepala dan juga punggung Sya.
Tetap saja Sya tidak bersuara sama sekali, ekor mata Umi melihat supir taksi. Ia melepas pelukannya secara perlahan.
" Maaf Pak, saya tidak tau harus apa tapi saya sangat berterima kasih pada Bapak karena sudah membawa Putri saya kembali, makasih banyak Pak. "
Supir mengangguk pelan dengan senyum merekah, akhirnya Ia bisa mengembalikan penumpangnya dengan selamat kerumahnya.
" Ini Pak, terimalah untuk Bapak. " Umi menyodorkan beberapa lembar uang di tangan Pak Supir.
Supir menolak karena Ia senang membantu orang lain, lagipula bukan penumpangnya yang memintanya menunggu tapi ini semua adalah inisiatif nya sendiri.
" Tidak perlu Bu, saya ikhlas kok membantu Si Neng cantiknya. "
Umi Pipik tetap memaksa Supir taksi menerima pemberiannya, baginya uang tidak penting saat ini. Nyawa putri kesayangannya adalah segala-galanya baginya.
Supir pun terpaksa menerimanya dan berpamitan pulang, Umi mengangguk dan membawa Sya masuk kedalam rumah.
Ia membantu membersihkan tubuh Putrinya yang nampak kotor.
" Kamu darimana saja Nak, kenapa tangan dan juga pakaian mu penuh dengan tanah begini. " Batin Umi Pipik.
Umi merebahkan tubuh Sya di tempat tidur dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
" Tidurlah Nak, lupakan semuanya. Ada Umi disini, jangan takut. " Umi mengelus kepala Sya pelan berulang kali.
Sya yang merasa tenang mulai memejamkan mata dan masuk dalam dunia mimpinya.
" Ya Allah, apa yang terjadi padamu Nak. Apa yang Umi dan Ayah lakukan selama ini salah Nak, maafkan Umi sayang. "
Umi memilih tidur di samping Putrinya karena merasa tidak tega, keduanya akhirnya tertidur dalam damai.
Esok paginya Hasan menyempatkan diri pulang kerumah sebelum ke kantor, Ia merasa heran karena tidak ada tanda- tanda ada orang disana.
" Apa dia belum bangun. " Gumam Hasan.
Ia ingin melangkah ke lantai dua namun tidak jadi karena ponselnya berdering.
" Iya sayang, ah aku masih di rumah. Baiklah, tunggu disana. Aku akan segera kesana. "
Hasan menoleh sebentar ke lantai dua namun kemudian memilih pergi karena tidak ingin membuat kekasihnya menunggu lama, Ia juga ingin memberitahukan kabar baik pada kekasihnya itu.
Sementara di kediaman Umi, Sya akhirnya membuka mata pelan, Ia mencium aroma masakan yang membuat isi perutnya meronta.
Ia melangkah pelan keluar menuju asal aroma yang menyengat di penciumannya.
" Eh sayang, kamu sudah bangun Nak. "
Umi langsung menghampiri Sya dan membimbing nya duduk di kursi.
" Mau makan Nak. " Tanya Umi.
Sya mengangguk, Umi dengan senang hati menyiapkan sarapan untuk Sya. Sepiring nasi dengan lauk di tempat yang berbeda, namun tiba-tiba Sya merasa tidak enak badan. Ada sesuatu dari dalam perutnya yang ingin keluar ketika melihat mie goreng buatan sang Umi. Makanan yang biasa adalah paforitnya.
~ Uek Uek ~
Sya berlari ke wastafel dan mengeluarkan semua isi perutnya, Umi yang melihat itu semakin khawatir.
" Ya Allah, kamu sakit Nak. "
Umi memijat pundak Sya pelan, Sya menggeleng pelan dengan nafas memburu. Ia juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan