Belum hadirnya seorang buah cinta di tengah-tengah keluarga kecilnya di usia pernikahannya hampir sepuluh tahun itu membuatnya bersedih.
Segala upaya dan usaha sudah mereka tempuh dan lakukan, tapi hasilnya tetap nihil hingga mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang ibu hamil yang ditinggal oleh suaminya itu yang sudah memiliki tiga orang anak untuk bekerjasama dengannya.
Akankah kehidupan rumah tangganya akan bahagia dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang dipersembahkan oleh mamanya dengan sukarela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Ayunda Atifah dan Ibrahim Abrani Asy'ari sangat bersyukur, karena anak-anaknya selalu pengertian terhadap apapun yang mereka lakukan.
"Aku juga setuju dengan perkataan dari kak Gun, Adli dan Adila itu manusia yang tidak bersyukur dan tidak berterima kasih mereka semua kacang yang lupa kulitnya," kesalnya Hana.
"Kalau aku sih sudah lapor polisi tidak pakai nunggu lama malah biar mereka kapok dan tidak berani berbuat curang lagi untuk kedepannya agar ada efek jeranya," usulnya Aerin.
Afnan yang hendak pergi ke luar rumahnya segera menghentikan langkahnya "Afnan ingat besok bertemu dengan Andini kalian telponan dulu saja atur gimana baiknya," imbuhnya Bu Ayunda.
"Aku akan menghubungi Andini kok Ma hanya saja kalau sekarang aku belum bisa soalnya aku mau keluar menemui temanku dulu," jawabnya Afnan padahal ia sudah mengirimkan nomor hpnya Andini ke nomornya Akmal adik kembarnya.
Afnan meraih tangan kedua orang tuanya itu lalu menciumnya dengan takzim. Pak Ibra dan Bu Ayunda tersenyum melepas kepergian putranya.
"Aku berharap kalian selalu bahagia Nak," gumamnya Pak Ibra.
Afnan menelpon adik kembarnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya itu. Akmal bersyukur karena mendapatkan akses untuk bertemu dengan gadis yang selalu ia dambakan tapi, tidak punya kemampuan dan percaya diri untuk dekat dengan Andini gadis yang sejak kecil selalu bersamanya itu.
"Saya tidak ingin menikahi perempuan yang sama sekali tidak pernah membuat hatiku bergetar, aku ingin perempuan itu membuatku selalu ingin melihat senyumannya, tawanya candanya bahkan aku tidak sanggup melalui hari-hariku tanpa mendengar suaranya," gumam Afnan yang terus mengemudikan mobilnya menuju kesuatu tempat.
Entah kenapa awalnya hendak ke kafe miliknya, malahan langkahnya menuntunnya ke alamat rumah seorang perempuan yang diajaknya kerjasama untuk mencari dan mengumpulkan bukti keterlibatan Adli Zenit Muis dengan kekasihnya Adila Angelina.
Afnan hanya duduk di atas mobilnya sambil memperhatikan aktifitas seorang perempuan berusia 20 tahun itu. Perempuan itu dengan lincahnya melayani banyaknya pembeli di warung makan ibunya yang baru dibuka sekitar dua minggu lalu.
Awalnya usaha itu dibuka di tempat lain tapi, karena tempat biasanya itu akan dibangun sebuah perumahan elit, sehingga mau tidak mau Bu Hanifah harus berpindah mencari lokasi area tempat jualan baru yang cocok.
"Ibu pesan ikan gurame goreng, sambalado telur, sama sayur asem yah?" Tanyanya seorang gadis yang mengikat rambutnya ekor kuda itu sambil memasukkan belanjaan langganannya itu.
"Saya ikan goreng tepung,tahu dan tempe mendoan sama sambal rica-rica sama sayur bening saja," ucap salah seorang ibu-ibu yang memakai hijab.
Bu Hanifa dan putri pertamanya sibuk melayani banyaknya pembeli yang membludak sore itu menjelang magrib. Keempat anaknya yang lain membantunya membereskan beberapa perabot masak yang sudah dipakainya.
"Andien totalnya berapa Nak?" Tanya ibu itu.
"35ribu Bu," jawabnya Andien Andara Anum.
Afnan memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh perempuan muda yang entah perasaan dari mana yang membuatnya betah berlama-lama duduk dibalik kemudi mobilnya itu.
"Perempuan yang cukup tangguh, waktu libur membantu ibunya dan dihari biasanya pasti akan bekerja di kafe, padahal kebanyakan gadis seumurannya itu banyak yang menghabiskan waktunya bersantai, hangout bareng temannya atau mungkin ke Mall shopping sedangkan Andien tanpa pernah sekalipun mengeluh dengan apa yang terjadi padanya selama ini," cicitnya Afnan yang sudut ekor matanya selalu tertuju pada apa yang dilakukan oleh Andien gadis yang terkadang jutek dan judes kepada orang yang membuatnya jengkel.
Andien menyeka keringatnya yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dan pipinya itu. Pagi harinya terkadang menjual beberapa macam kue basah dari beberapa tetangga yang menitipkan kuenya di warungnya.
Siang harinya menjual berbagai jenis masakan rumahan yang hasilnya cukup membantu untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.
sungguh mulia hati pak ibra