Alena gadis tangguh penuh tekad, dia adalah seorang Mahasiswi semester 5 disebuah universitas di Jakarta, suatu hari nasib buruk menimpa dirinya saat ayahnya yang gila judi itu terlilit begitu banyak hutang akibat hobi gilanya itu.
Alena dijadikan taruhan kepada seorang Mafia kejam dan menjadi tumbal keserakahan ayahnya sendiri.
Alena terpaksa harus menjadi tawanan sang Mafia karna ayahnya ternyata kalah dalam permainan judi bersama sang Mafia.
Dalam semalam hidupnya berubah, dia terpaksa harus menikah dengan laki laki asing yang terkenal berdarah dingin bernama Raka Bumiatmaja, namanya harum dikalangan para penjahat kelas kakap, tak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Dia Mafia yang menangani penyelundupan senjata api untuk negara negara besar. Kekayaannya mungkin hampir separuh negri, dengan kuasa dan uang yang dia miliki apapun bisa di dapatnya hanya dengan menjentikkan jarinya.
Akan kah Alena bahagia dengan kehidupan barunya sebagai istri seorang Mafia kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lela W.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah menyelesaikan makan malamnya sendirian di dalam kamar, Alena kembali termenung.
Kemana perginya Darren, kenapa ruangan ini jadi sangat sepi? Apa dia sedang berada di klub Devil nya ya?
Alena menerka-nerka karna tidak juga melihat batang hidung Darren.
Seorang pelayan tiba tiba masuk untuk mengambil piring kotor dari atas meja.
Alena memperhatikan pelayan muda yang sepertinya seusia dengannya.
"Emm maaf, apakah kau melihat Tuan Darren di depan?"
Pelayan itu hanya mengangguk, wajahnya terlihat ketakutan.
"Hei, tenanglah aku hanya mengajak kamu mengobrol biasa."
Alena langsung menutup mulutnya, dia lupa peraturan dirumah ini, bahkan mengobrol pun bisa membuat seseorang dihukum dirumah ini.
Akhirnya dia membiarkan pelayan itu pergi dari kamarnya.
Alena bangkit dan menemui Pak Lim untuk bertanya dimana Darren.
Saat keluar kamar mata Alena langsung tertuju pada tangga, Lim sedang berjalan bersama seorang pria yang memakai jas putih.
Dia pasti dokter yang menangani Jasmin. Gumam Alena.
Lim terkejut saat melihat Alena berdiri di depannya.
Buru buru dia membungkuk hormat, begitupun lelaki yang ada di sebelahnya, refleks dia juga ikut membungkuk sambil tersenyum ramah.
Alena jadi tidak enak setiap kali orang orang di rumah ini membungkuk kepadanya, apalagi orang itu lebih tua darinya.
"Nona Alena, saya belum sempat meminta maaf langsung untuk kejadian tadi pagi, mohon maafkan keteledoran saya pada anda." Kata Lim dengan tampang datar, tapi cara bicaranya terkesan tulus dan penuh penyesalan.
Alena menepuk pundak Lim sambil tertawa renyah.
"Haha Lim, sudah lah lupakan saja kejadian itu, aku sudah tidak apa apa."
Josua yang berdiri disebelah Lim hanya diam memperhatikan.
"Maafkan saya Nona, kedepannya Nona mohon untuk tidak membiarkan diri Nona terluka dengan sengaja lagi."
Tawa Alena mendadak hilang, kenapa kalimat Lim barusan terdengar seperti sebuah peringatan.
Apa dia marah karna Alena sudah lancang masuk tiba tiba ke dalam kamarnya untuk menyelamatkan Dea? begitu?
"Iya, aku akan mengingat perkataan mu ini." Jawab Alena ketus.
Huh, dasar tidak punya hati, kau memang bersalah sudah mencambuk ku, hukum dia Tuan Darren, cepat hukum dia! Sedikit menyesal karna sudah memohon pengampunan pada Darren untuk pria tidak punya perasaan ini.
"Lim, apakah ini Nona Alena?"
Josua yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulutnya.
"Iya, perkenalkan, ini Josua, dia Dokter pribadi keluarga Tuan Muda." Lim memperkenalkan Josua pada Alena.
Josua mengulurkan tangannya ke hadapan Alena.
"Nona Alena, suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan istri Tuan Darren, ternyata Nona sangat cantik." Puji Josua tulus.
Alena memang terlihat begitu cantik alami dengan dandanan natural khas dirinya.
Alena menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum malu malu.
"Haha, terima kasih, anda berlebihan."
Josua menahan tawa melihat sikap malu malu Alena, menggemaskan. Ternyata gadis yang di nikahi Darren ini adalah gadis biasa pada umumnya. Dia terlihat sangat sederhana baik dalam penampilan maupun sikapnya.
Dia pikir Darren akan memilih salah satu gadis yang ada di Klub Devil atau gadis gadis bule yang selama ini mengejar ngejarnya.
"Josua, kembali lah ke kamar Nona Jasmin." Kata Lim tiba tiba.
"Kenapa Lim? Nona Jasmin belum siuman, aku sudah menyuruh satu perawat untuk stay di dalam sana, dia akan memanggilku kalau ada keadaan darurat. Biarkan aku mengobrol dulu dengan Nona Muda." Jawab Josua tanpa rasa takut sedikitpun.
Lim memicingkan matanya. Alena sudah ngeri melihat tatapan membunuh yang Lim layangkan pada Josua tapi sepertinya Josua adalah orang yang sangat santai, dia bahkan tak ragu membantah ucapan Lim.
"Kau mau Tuan Darren membunuhmu?" Suara Lim terdengar santai tapi tatapan matanya penuh dengan ancaman.
Josua akhirnya menyerah.
"Haha baiklah Lim, sepertinya kau tidak ingin melihatku lama lama mengobrol bersama Nona Muda."
Setelah membungkukkan dirinya kepada Alena, Josua pergi ke kamar Jasmin.
Tinggallah Lim dan Alena berdiri berhadapan.
"Pak Lim, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan."
"Silahkan Nona,"
"Kemana Tuan Darren? aku tidak melihatnya sejak pagi.."
Eh, Alena tiba tiba mematung sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, merasa bingung sendiri kenapa dia mencari Darren.
"Tuan Darren pergi keluar kota untuk urusan bisnis, dia akan kembali dalam dua hari ke depan, jika ada yang Nona butuhkan, Nona bisa memanggil saya atau kepala pelayan disini." Kata Lim menjawab pertanyaan yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya itu.
Alena hanya mengangguk pelan.
"Apa ada yang Nona butuhkan?"
"Tidak, tidak ada Pak Lim, oh iya bagaimana keadaan Nona Jasmin?" Tiba tiba dia teringat adik iparnya itu.
Lim diam sesaat.
"Nona Jasmin sudah di pindahkan kembali ke kamarnya, operasinya berjalan lancar, sekarang tinggal menunggu beliau sadar." Jawab Lim.
Mumpung kau ada disini, aku akan bertanya sesukaku. Siapa suruh melarang ku mengobrol dengan para pelayan.
"Ada lagi yang mau Nona tanyakan?"
Alena belum sempat berpikir apapun tapi Lim malah bertanya balik.
Akhirnya dia hanya menggeleng pelan.
"Baiklah, saya permisi dulu."
Lim membungkuk hormat kemudian berjalan meninggalkan Alena seorang diri.
Esoknya..
Seperti biasa, Lastri dan kedua pelayannya datang ke kamar utama untuk mengantarkan sarapan pagi pada Alena.
Selama Darren pergi dari rumah, ternyata Darren sudah menitipkan pesan agar Alena makan di dalam kamar saja, entah apa alasannya, mungkin dia ingin agar Alena semakin merasa kesepian dirumah ini.
Alena duduk di sofa dan merentangkan kedua tangannya sambil menyenderkan kepala, dia menatap langit langit kamarnya yang begitu indah.
Rumah ini seperti istana, semua fasilitasnya juga lengkap, tapi bosan sekali rasanya berada dirumah ini tanpa melakukan apapun, hanya termenung seorang diri, tiba tiba dia teringat kedua orang tuanya, bagaimana keadaan mereka ya? apakah Tuan Darren mengijinkan seandainya aku memohon untuk bertemu dengan mereka?
Ah, Alena memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas panjang, mustahil.
Lama dia berdiam diri tanpa melakukan apapun, Alena akhirnya bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah pintu kamar dan menarik handle.
Membuka lalu menutupnya kembali, Alena membiarkan kakinya melangkah sesuka hati. Terserah dia mau kemana saja, tanpa sadar Alena berjalan ke arah kamar Jasmin yang letaknya hanya terhalang satu ruangan dengan kamar utama.
Baru saja Alena hendak mengetuk pintu, tapi pintu malah terbuka lebih dulu.
Josua kaget saat melihat Alena kini sedang berdiri di hadapannya.
"Wah, Nona Alena, selamat pagi." Pria yang seumuran dengan Darren itu membungkuk hormat.
"Selamat pagi. Apa kau habis memeriksa Jasmin? bagaimana keadaannya?"
Josua tersenyum hingga menampilkan gigi gigi putihnya. Sepertinya hanya pria ini yang masih bisa diajak ngobrol dengan normal dirumah ini, wajahnya terlihat sangat ramah.
"Nona tidak perlu khawatir, Nona Jasmin sudah siuman, keadaannya semakin membaik."
Alena menganggukkan kepala sambil menghela nafas lega, syukurlah.
"Apa Nona mau melihatnya ke dalam kamar? kebetulan Nona Alena sedang sarapan di dalam sana." Tawar Josua yang langsung dijawab anggukan oleh Alena.
"Bolehkah? apa aku tidak mengganggunya?"
"Sama sekali tidak Nona." Jawab Josua ramah, Josua membukakan pintu untuk Alena.
mereka masuk ke dalam kamar, cahaya diruangan itu cukup terang, Alena mengernyitkan alisnya, tumben, biasanya kamar ini selalu gelap gulita. Kalau dinyalakan beginikan kelihatannya lebih nyaman dipandang.
"Kak Alena.." Jasmin yang sedang disuapi bubur oleh seorang perawat tiba tiba terkejut melihat kedatangan Alena ke kamarnya.
"Jasmin, bagaimana keadaanmu?" Alena mendekat ke sisi ranjang. Jasmin terlihat bahagia dengan kedatangannya.
"Aku sudah mendingan kak, ini berkat penanganan dari Dr. Josua." Kata Jasmin sambil menatap Josua malu malu.
"Bukan karna aku Jasmin, tapi kau yang sudah berjuang dengan sangat keras, kau hebat Jasmin bisa melewati masa kritis mu kemarin, aku sangat bangga padamu." Josua menatap Jasmin balik dengan senyum lebar.
Entah kenapa Alena merasakan ada sesuatu dari cara Jasmin menatap Josua. Sepasang mata indah itu menatapnya dengan sorot yang berbeda, Apa cuman perasaannya saja ya?
bersambung