Di usianya yang baru menginjak usia tujuh belas tahun, Renzela Oskar harus di hadapkan dengan permasalahan rumit keluarga, keserakahan sang Papi yang tengah menguasai seluruh aset warisan dari sang Kakek untuk menghidupi wanita selingkuhannya membuatnya memilih jalan yang paling dia benci; Menikah di usia muda.
Demi mengambil kuasa atas semua aset yang Papinya kuasai, Renzela rela mengubur dalam-dalam kebahagiaannya dan menikah dengan seorang lelaki yang tidak pernah dia kenal. Hanya sebatas nama yang dia ketahui, yaitu Darrel Bastian Baskara; pengusaha mapan yang Om nya pilihkan.
Siapa sangka, saat pertemuan pertamanya dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya, Renzela malah di kaget kan dengan sebuah kontrak pernikahan yang harus dia tanda tangani.
Bagaimana perjalanan pernikahan mereka?
Mampukah Renzela memanipulasi hak walinya untuk menyadarkan sang Papi? Dan akankah Renzela mendapatkan kebahagiaan nya sendiri?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TPK Bab 23 : Panggilan Yang Meresahkan.
Suasana canggung mulai terasa, Renzela yang mengerti akan suasana memilih diam, mengabaikan dua insan yang tengah berbincang di belakangnya. Sedangkan wanita cantik yang datang dengan sendirinya berbaur di ruangan itu terus bicara seolah tak rela melihat lelaki yang dia kagumi bersanding dengan pasangannya.
"Pernikahan ini begitu mendadak, seperti bukan senior saja. Apa terjadi sesuatu?" Clarissa berusaha menebak memahami keadaan, dia sudah lama mengenal sosok Darrel, bahkan sudah tahu seperti apa sifat lelaki ini, lelaki pekerja keras yang ambisius ini tidak mungkin bertindak gegabah terlebih dalam berkomentar memilih pasangan, "Senior bukan sengaja menjadikan pernikahan ini hanya sekedar pelampiasan atas penghianat Alessandra kan? aku dengar dia telah kembali." ucapnya lagi. Sejujurnya bukan telah kembali, tapi dia yang menyuruh nya kembali.
Darrel sampai langsung menatap Clarissa dengan tajam, tidak tahu malu, setelah menyatakan perasaan nya sekarang malah menarik orang lain dan bicara sesukanya, "Jangan melewati batasan, Clarissa." ucapnya geram. Entah apa maksudnya, kenapa wanita ini malah menyabit-nyabit masa lalu, dia enggan mendengar dan menanggapi perkataan itu.
"Maaf, aku kan hanya menebak, Senior." Clarissa sesaat menunduk, sungguh menakutkan saat senior memasang ekspresi yang mengerikan seperti itu, dia sampai tak berani untuk menatapnya. "Senior, boleh aku duduk?" tanyanya berusaha meredam suasana, meski lelaki yang tenang duduk itu masih terlihat dingin tanpa ada niatan merespon kedatangannya dia akan terus berusaha mendekati nya. "Aku hanya ingin memberi salam kepada istri senior, tapi sepertinya dia masih bersiap." ucapnya lagi mencari alasan, sejujurnya kedatangannya ke sini hanya untuk memastikan sesuatu, dan lagi ia ingin memperlihatkan kedekatannya dengan senior Darrel pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
Darrel sesaat terdiam, geram sendiri, kedatangan Clarissa benar-benar membuatnya tidak nyaman, terlebih sikap nya yang terang-terangan menggoda nya membuat ia semakin jengkel, "Terserah, duduk saja." Ia menjawab dengan datar, setelahnya langsung menutup majalah yang sedari tadi dia baca dan lekas berdiri menghampiri Renzela. Sepertinya dia membutuhkan peran istrinya itu untuk mengusir wanita genit itu dari kehidupannya.
"Aisst, kok pergi sih?" Ingin kesal, tapi Clarissa tahan. Dia masih bisa sedikit bersabar karena beberapa menit lagi, permainannya pasti akan segera di mulai.
Renzela sendiri yang sadar akan pergerakan Om Darrel langsung menunduk, kenapa malah kemari, bukannya terlihat jelas kalau wanita cantik itu ingin terus bersamanya, "Kalau mempunyai hubungan dekat, berbincang saja kenapa malah meninggalkan nya." hanya berani membatin, dia kini kembali memeriksa ponselnya saat lelaki yang berstatus sebagai suami nya itu benar-benar berdiri tegak di belakangnya. "Akh... Sampai sekarang Papi masih belum menghubungi ku." hatinya kembali teriris, menunggu tanpa kepastian ternyata memang menyakitkan.
Darrel yang sadar akan sikap Renzela terus memperhatikan nya dari belakang, dia sadar pasti ada yang gadis kecil itu harapan, sedari tadi pagi hanya ponselnya yang dia lihat dan selalu ekspresi itu yang pada akhirnya terlihat, "Apa sebenarnya yang dia pikirkan?" Hanya bisa membatin, haruskah dia menghiburnya agar wajahnya tidak terlihat murung begitu. Dia tidak ingin menggagalkan resepsi pernikahan ini hanya karena wajah mempelai wanita tidak terlihat bahagia dalam pernikahan nya.
"Apa belum selesai?" Niatan apa, bicara apa. Darrel malah menatap staf yang berkutat merias wajah Renzela, sedangkan tangannya perlahan bergerak menyentuh kepala istrinya itu.
"Sebentar lagi, Tuan."
"Ekh..." Renzela sampai terperanjat, refleks menatap Om Darrel dari pantulan cermin di depannya, bukan karena apa-apa, hanya saja kenapa itu tangan om Darrel malah dengan begitu santai mengelus-elus rambutnya, kalau mau bertanya bertanya saja, kenapa main pegang pegang segala, dia jadi mau sendiri kan. "Apa dia sedang berperan menjadi suami yang baik?" Hanya bisa membatin, suami nya itu sepertinya memang sengaja mencuri perhatian orang-orang untuk memperlihatkan kedekatan mereka, lihat saja staf yang sedang meriasnya pun sampai senyam senyum sendiri melihat tingkah lelaki itu.
"Heh, bisa lebih cepat. Ribet sekali, hanya make-up saja sampai menghabiskan banyak waktu padahal tanpa di rias pun wajah istri ku ini memang sudah cantik dari sananya." ujar Darrel lagi dengan begitu santai.
Renzela makin kutar ketir, walau tahu ucapan itu hanya sandiwara, tapi kata-katanya terasa begitu nyata, "Oh Tuhan, tolong selamatkan aku, lelaki tua ini ternyata pandai menggombal juga."
Sang staf sampai kembali tersenyum, tidak sabar sekali Tuan Darrel ini, "Sebentar lagi Tuan, dan maaf, saya permisi mau menata rambut Nona Renzela." Dia sampai membungkuk malu, haruskah dia meminta izin untuk menyentuh rambut gadis cantik ini dan meminta Tuan Darrel menjauhkan tangannya dari sana.
"Akh, iya. Silahkan!" Darrel sampai refleks menjauhkan tangannya, langsung duduk saat salah satu staf mempersilahkan kursi kosong di samping Renzela, "Aisst...." hampir mati gaya, bisa-bisanya dia malah kebablasan mengelus rambut pirang itu, terasa halus dan lembut membuat nya terasa candu.
Beberapa menit berlalu, makeup dan tatanan rambut Renzela kini sudah selesai dengan sempurna, sang Stylish sampai tersenyum puas dengan hasil kerjanya, "Selesai Tuan. Bagaimana, Nona Renzela cantik kan?" tanyanya dengan antusias.
Darrel sampai tertegun, staf itu tiba-tiba memutar kursi Renzela membuat mereka saling berhadapan dengan tatapan mata saling bersetapa, dia tahu Renzela memang gadis cantik tapi tak mengira kalau istrinya itu akan menjadi secantik ini, bahkan di pandang bermenit-menit pun ia tidak akan puas menatapnya.
"Om." Renzela yang canggung tiba-tiba memanggil lelaki itu, baru pertama kalinya dia melihat tatapan redup nya, dan tentunya itu membuat dia salah tingkah, "Apa penampilan ku terlihat aneh?" tanyanya mengalihkan kecanggungan.
"Tidak, ini lebih baik dari yang ku duga." Darrel sampai langsung memalingkan muka menatap ke arah lain, meruntuti dirinya sendiri, sudah gila kah? Kenapa naluri nya mulai tak terkendali hanya karena melihat kecantikan gadis kecil ini, "Di nama gaun nya, ini sudah siang seharusnya sudah datang kan?" tanyanya pada staf itu untuk mengalihkan kecanggungan. Padahal ini baru setengah dari penampilan Renzela, tapi gadis kecil itu sudah memperlihatkan aura yang berbeda.
"Iya Tuan. Tunggu sebentar."
Sang Stylish pergi, kini Clarissa terlihat mendekati sepasang suami istri itu, geram sendiri, kenapa Darrel malah memilih wanita lain ketimbang dirinya yang sudah mengenalnya dari jaman SMA, bukannya itu tidak adil, seharusnya dia lah yang menjadi pasangan nya.
"Hai." Clarissa langsung menyapa, memperlihatkan senyum yang paling manis menatap wanita yang terlihat jelas gadis ini masih Balia, "Apa yang di lihat Senior dari wanita ini sih, tidak ada yang menarik sama sekali." batinnya mengumpat kesal, jujur rasanya dia ingin menjambak wajah so imut itu, "Wah, Stylish nya sudah pro ya, dengan keahlian makeup nya pengantin wanitanya bisa sampai secantik ini." tuturnya dengan menyeringai.
Renzela yang awalnya ingin membalas sapaan itu tiba-tiba mengerutkan bibirnya, apa wanita itu pikir dia bodoh sampai akan diam saja menerima ledekan itu, "Saya memang sudah cantik dari lahir, Tante. Makeup ini hanya penyempurna saja. Sepertinya Tante juga harus menggunakan jasa MUA itu agar penampilan Tante bisa terlihat lebih cantik natural." balasnya tak kalah menyeringai. Salah siapa berani mengusik nya di pertemuan pertama mereka.
"Tante?" Aisst, Clarissa geram sendiri, bisa-bisanya gadis itu memanggilnya Tante, tidak adakah panggilan yang terdengar lebih enak, panggilan itu terdengar seperti ledekan akan dirinya yang sudah cukup Tua.
Darrel yang melihat percakapan dua wanita itu hanya tersenyum simpul, tidak mengira Renzela berani juga, "Tidak heran, Kakak sepupunya juga bar-bar," batinnya sambil kembali menatap Renzela. Sepertinya dia harus membantu istrinya itu agar tidak kalah dari Clarissa. "Sayang! Kenakalan dia Clarissa." tuturnya tanpa dosa.
Renzela yang mendengar itu hampir saja tersedak, ada angin kenapa kata sayang bisa keluar dari bibir Om Darrel, bahkan terdengar begitu mesra. "Oh, Tante Clarissa ya." timpalnya berusaha menetralkan hatinya. Benar-benar bak terkenal ultimatum, Om Darrel langsung mengeluarkan jurus terakhirnya menyempurnakan sandiwara hubungan mereka.
"Iya, dia adalah salah satu brand ambassador di perusahaan." ucap Darrel menjelaskan.
Mendengar itu Renzela langsung mendekatkan kursi yang di duduki nya, semakin mendekat kepada suaminya itu untuk membisikan sesuatu, "Om, jadi maksudnya aku akan sering bertemu dengan nya?" tanyanya memastikan. Argh hanya membayangkan saja dia enggan sekali kembali berusaha dengan wanita ini.
"Iya, Sayang."
"Argh.... Bisakah jangan terus menggunakan kata itu," Renzela Hanya bisa menjerit dalam hati, kutar ketir sendiri. Bisa-bisanya kata sayang keluar lagi, panggilan itu terdengar sangat nyata, jadi tolong hentikan sebelum dia benar-benar terbawa suasana dan semakin terlena. Lihat bahkan Clarissa yang sama-sama mendengar itu sampai mengepalkan tangannya menahan rasa cemburunya.
Darrel sampai mengangkat sudut bibirnya melihat ekspresi Renzela, bukan hanya gadis kecil itu, dia juga geli sendiri mengucapkan kata itu, kalau saja tidak terdesak, dia enggan mengucapkan nya.
Jika Renzela malah salah tingkah, berbeda dengan Clarissa, kata sayang yang keluar dari bibir Darrel membuat dia hampir tak percaya "Bahkan Senior sampai memanggilnya sayang, padahal saat berhubungan dengan Alessandra pun Senior tidak pernah seromantis itu. Apa istimewanya wanita ini si?" batinnya semakin terbakar api cemburu, ingin rasanya dia meninggalkan ruangan ini, tapi dia tahan karena sepertinya drama akan segera di mulai saat gemuruh para staf mulai terdengar memasuki ruangan.
"Ada apa?" Darrel langsung menatap orang-orang itu dengan tajam. Dia menyuruh nya mengambil gaun istrinya kan, kenapa malah heboh seperti itu.
"Maaf, Tuan. Gaun Nona Renzela rusak."
"Kalian pikir ini lelucon. Jawab yang benar, bodoh!" Darrel sampai langsung berdiri, jawaban macam apa itu. Tadi malam jelas-jelas dia menerima laporan sudah ada tiga gaun yang tersedia untuk acara resepsi ini dan sekarang tiba-tiba mereka bilang gaun nya rusak, bukankah ini tidak masuk akal.
kasian renzelanya dong Thor,kok dapet yg udah GK perjaka