Dalam tahap revisi.
like, komentar, dan vote
Bermula dari pertengkaran Mawar dengan kedua orang tuanya, yang tidak memberi restu hubungannya dengan Marsel kekasihnya, Mawar memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya. Di malam yang tengah turun hujan deras, Mawar mengendarai sepeda motornya tanpa arah dan tujuan. Hingga dia sampai dipertengahan jalan yang kanan-kirinya dikelilingi pohon yang menjulang tinggi. Jalan itu seperti tak berujung, Mawar lalu melihat seorang gadis seumurannya. Mawar berhenti dan bertanya arah jalan keluar. Gadis tersebut memberitahu Mawar untuk terus berjalan lurus, sampai ada jalan yang bercabang, Mawar diperintahkan untuk berbelok kiri. Mawar menuruti semua kata-kata gadis tersebut, lalu Mawar meneruskan perjalanannya. Sangat jauh jalan yang ia tempuh, hingga ia menemui jalan bercabang, ia berbelok kiri dan terjatuh karena menabrak sosok hitam tinggi besar. Seketika Mawar pingsan ditempat.
Sosok apa yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sukangarang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Siapa Ndoro Kusuma?
Pak Kyai tengah mengobrol dengan Pak Ridwan, beliau adalah teman semasa mencari ilmu di pondok pesantren dulu. Pak Kyai menceritakan soal ia merogo sukmo untuk mencari keberadaan Mawar, namun gagal. Pak Ridwan tersenyum mendengar cerita dari Pak Kyai.
"Yah, yang kamu lawan itu ajudan setianya. Dia bisa berubah menjadi genderuwo, Wewe Gombel, dan Banteng bertanduk."
"Lalu, dimana tempat yang saya jumpai itu, Kang?"
"Jauh, Kyai! njenengan itu baru saja masuk di halamannya saja. Gadis yang kamu cari itu, ada di tengah hutan. Dia terjebak di sana,"
"Kalo boleh tau, itu di hutan mana, Kang?"
"Alas tuo, Kyai! Hutan yang sudah berabad-abad tidak di jamah oleh manusia. Terakhir kali, hutan itu dijadikan makam untuk seorang istri raja, yang meninggal karena sering di siksa di istana. Namanya Ndoro Kusuma."
Pak Kyai tertegun mendengar penuturan dari sahabatnya itu. Kalo soal sejarah masa lalu, Ridwan sahabatnya bisa mengetahui hanya melihat bekas-bekas jalan yang pernah di lalui oleh orang yang bersangkutan. Sayangnya, Ridwan tidak bisa merogo sukmo seperti Pak Kyai. Ridwan hanya bisa melihat cuplikan-cuplikan kejadiannya saja lewat mata batinnya.
"Ndoro Kusuma?"
"Iya, itu panggilan dari dayang-dayangnya. Selain Ndoro Kusuma, makam yang ada di sana adalah makam pengawal-pengawal setia Ndoro Kusuma. Kamu harus hati-hati, lawan yang kamu hadapi sekarang, bukan sembarangan. Ndoro Kusuma memiliki separuh kekuatan dari Raden Abimana,"
"Raden Abimana?"
"Iya, dia Raja terhebat pada masanya. Pusakanya berupa Naga Emas. Ndoro Kusuma berhasil mencuri separuh dari potongan pusaka tersebut. Ndoro Kusuma bisa berubah menjadi wujud yang ia sukai, bahkan, dia mempunyai kekuatan yang besar berkat Naga Emas itu. Saran saya, Pak Kyai, lebih baik, Pak Kyai cukup mengobrol saja dengan gadis yang hilang itu. Jangan merogo sukmo lagi."
Pak Kyai mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Ridwan. Jika Ridwan sudah memberi saran, berarti masalahnya tidak main-main.
Bahkan sebelum Pak Kyai memulai percakapan itu, Ridwan sudah bisa menebak masalahnya.
"Mudah-mudahan saya bisa menolong gadis itu, ya, Kang!"
"Amiin, saya do'akan Kyai, yang terpenting, jangan sampai lewat 365 hari, dan do'a dari sini tidak terputus."
Pak Kyai dan Pak Ridwan kemudian saling terdiam. Mereka memilih menikmati teh hangat dan cemilan yang sudah di sediakan oleh Bu Nyai.
"Kang, dimanakah, jalan yang saya jumpai itu?"
tanya Pak Kyai. Pak Ridwan kemudian meletakan gelasnya.
"Mudah, cukup jalan ke arah selatan, belok satu kali lalu lurus saja terus. Sebenarnya itu jalan buntu Kyai, tidak bisa di lewati kendaraan, karena di depannya sudah rawa-rawa. Tapi kalo bisa menyebranginrawa tersebut, Kyai akan menjumpai jalan lurus yang disisi kanan dan kirinya banyak pohon tinggi menjulang. Arah jalan itulah yang menuju ke hutan, menuju makam Ndoro Kusuma."
Pak Kyai tampak khidmat menyimak penjelasan dari sahabatnya.
"Saya melihat kendaraan Mawar berada di sana, Kang. Bisakah kita kesana dan mengambilnya secara langsung?"
Pak Ridwan tersenyum kecut mendengar pertanyaan Pak Kyai.
"Bisa saja, tapi sulit, bagaimana cara menyebrangi rawanya? Semak belukar sudah menutupinya, tidak menutup kemungkinan akan banyak binatang melata di sana, dengan ukuran yang berbeda-beda tentunya. Belum lagi, dengan para penghuni di sana, Pak Kyai! kita perlu membuat rencana yang matang. Jangan terlalu gegabah mengambil keputusan. Karena salah sedikit saja, nyawa kita sebagai taruhannya."
Pak Kyai menunduk mendengar jawaban Pak Ridwan. Ridwan merasa iba melihat wajah Pak Kyai.
"Kyai, kenapa anda mau menolong mereka? padahal bisa saja kita mengikhlaskannya."
"Orang-orang yang terjebak di sana juga ingin keluar, Kang! mereka juga ingin terlepas dari belenggu. Ingin kembali, setidaknya, mereka tidak menjadi penghuni tetap di sana. Sebagian dari mereka masih memiliki iman di hatinya. Saya merasa kasihan dengan mereka. Dan tentunya, ini permintaan dari saudaranya muridku yang paling ku sayangi. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
Pak Ridwan mengusap pundak Pak Kyai. Ia tahu maksud dari ucapan Pak Kyai.
"Aku akan coba membantu sebisa saya, Kyai. Tapi untuk saat ini, sebaiknya, Pak Kyai jangan merogo sukmo dulu. Kesehatan Pak Kyai sedang tidak bagus."
"Iya, aku akan menuruti saranmu, Kang! terimakasih karena kamu sudah sudi datang kesini."
"Jika waktu luangku banyak, pasti setiap hari aku mengunjungimu, Kyai." jawab Ridwan diiringi senyuman. Mereka kemudian mengobrol di luar topik pembicaraan.
nduk itu kan panggilan orgtua ke anak perempuannya
semangat ya thor..
aq rasa mawar disesatkan didunia lain.