Dilarang memplagiat, mengcopy atau mengupload di platform, media sosial ataupun aplikasi manapun. Novel ini hanya ada di noveltoon.
Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.
Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Baca cerita ini hingga tamat.
Follow Ig @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Akad Nikah
Tidak lama kemudian penata rias itu datang bersama Akmal dan Alika. Mereka bertugas untuk mendampingi bunda mereka. Penata rias memberikan sebuah buket bunga untuk dipegang oleh Alika.
Akmal dan Alika berdiri di depan bunda mereka. Pintu ballroom dibuka, sebuah alunan suara saxophone menyambut kedatangan Jihan. Akmal dan Alika berjalan terlebih dahulu, Jihan berjalan di belakang mereka. Mereka berjalan menuju ke meja akad nikah. Di meja akad nikah sudah ada Abrisam yang duduk di hadapan Pak Dedi. Abrisam menggunakan masker karena sedang sakit.
Setelah sampai di meja akad nikah Jihan duduk di sebelah Abrisam. Sebelum akad nikah dimulai dibacakan sebuah ayat suci Al Qur’an. Selesai pembacaan ayat suci Al Qur’an barulah akad nikah dimulai. Abrisam membuka maskernya lalu berjabat tangan dengan Pak Dedi. Dalam satu tarikan terdengar kata “Sah” dari semua tamu yang hadir menyaksikan akad nikah Abrisam dan Jihan.
“Alhamdullilah hirobbil alamin,” ucap Abrisam dan Jihan ketika mendengar kata sah dari para tamu.
Setelah itu mereka menanda tangani buku akad nikah. Kemudian Abrisam dan Jihan saling memasangkan cincin nikah. Jihan mencium tangan Abrisam dan Abrisam mencium kening Jihan. Mereka berdua difoto sambil memperlihatkan cincin nikah mereka.
Alika dan Akmal mendekati orang tua mereka.
“Bunda,” kata Alika sambil memeluk kaki Jihan.
“Iya, sayang,” jawab Jihan sambil mengusap kepala putri sambungnya. Kemudian mereka di foto berempat.
Selesai akad nikah adalah acara bebas. Para tamu dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Namun mereka terlebih dahulu memberikan selamat kepada Abrisam dan Jihan. Abrisam menggunakan kembali maskernya sebelum menyambut para tamu yang memberikan selamat kepada mereka.
Ibu Wenti dan Kamal menghampiri Abrisam dan Jihan.
“Selamat atas pernikahan kalian. Semoga sakinah, mawadah waromah,” ucap Ibu Wenti.
“Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih,” jawab Abrisam dan Jihan.
Kamal membawa temannya. Seorang perempuan cantik yang menggunakan kerudung dan berkacamata. Perempuan itu duduk di kursi roda. jIka dilihat sepintas, perempuan itu tidak ada cacatnya. Namun jika dilihat dengan jelas, perempuan itu memiliki cacat pada kaki dan tangan. Dengan tanpa ada rasa malu Kamal mendorong kursi roda dan mendekati Jihan dan Abrisam.
“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Kamal ketika menyalami Jihan dan Abrisam.
“Terima kasih, Bang,” jawab Jihan.
“Terima Kasih, Kamal,” jawab Abrisam.
“Kenalkan ini Lita, teman dekat saya,” kata Kamal.
Jihan dan Abrisam menyalami Lita.
“Selamat atas penikahannya, Teteh Aa,” ucap Lita.
“Terima kasih,” jawab Jihan dan Abrisam.
Kemudian Kamal berlalu dari hadapan Jihan dan Abrisam. Jihan memperhatikan Kamal dari belakang.
Ya Allah semoga Bang Kamal tidak mempermainkan perasaan Lita, ucap Jihan di dalam hati.
Abrisam menoleh ke Jihan yang sedang memperhatikan Kamal.
“Kamu memperhatikan apa?” tanya Abrisam.
“Bang Kamal. Semoga saja Bang Kamal tidak mempermaikan perasaan Lita. Kasihan Lita kalau sampai Bang Kamal mempermainkan perasaannya,” kata Jihan.
“Doakan saja semoga Kamal disadarkan dari sifat buruknya. Dan diberikan jodoh yang terbaik untuknya,” ucap Abrisam.
“Aamiin ya robbal alamin,” jawab Jihan.
Setelah menerima ucapan selamat dari tamu yang hadir, Jihan dan Abrisam mengambil makanan untuk sarapan. Maklumlah tadi pagi mereka belum sarapan.
“Obatnya dibawa nggak, Mas?” tanya Jihan ketika mereka sedang makan.
“Bawa, ada di saku,” jawab Abrisam.
Jihan melihat Akmal dan Alika sedang berjalan sambil meminum sesuatu.
“Akmal Alika, sini!” panggil Jihan.
Akmal dan Alika menghampiri Bundanya,
“Kalau minum jangan sambil berjalan. Harus sambil duduk,” kata Jihan kepada Akmal dan Alika.
“Iya, Bunda,” jawab Akmal.
Akmal dan Alika duduk di sebelah Jihan.
“Alika minum apa?” tanya Jihan kepada Alika.
“Minum copdling,” jawab Alika.
“Ya Allah. Bang, kenapa adenya dikasih minuman seperti ini? Nanti dia sakit perut,” kata Jihan kepada Akmal.
“Kata Abang bole. Alika kan udah mamam dicuapin ua,” sahut Alika.
“Sekali saja, ya. Jangan tambah lagi!” pesan Jihan.
“Iya, Bunda,” jawab Alika.
“Bang, Alika jangan dikasih soft drink lagi! Kasih puding atau kalau nggak kue,” kata Jihan kepada Akmal.
“Iya, Bunda,” jawab Akmal.
“Nih, buat Bunda,” Alika memberikan minumannya kepada Jihan.
“Alika mau puding,” kata Alika sambil turun dari kursi.
“Abang temani,” kata Akmal yang langsung berdiri. Akmal mengikuti Alika.
Jihan meminum minuman pemberian Alika.
“Pantasan Alika tidak mau, sodanya masih terasa,” ujar Jihan.
“Alika hanya penasaran dengan rasanya,” kata Abrisam.
Pukul dua belas siang para tamu sudah berpamitan pulang tinggallah keluarga inti yang masih ada di ballroom.
“Kalian bulan madu kemana?” tanya Pak Dedi kepada Jihan dan Abrisam.
“Tidak kemana-mana, Pah. Mas Abri tidak cuti,” jawab Jihan.
“Lagi flu berat mau masuk kantor?” tanya Ibu Nia.
“Mudah-mudahan hari Senin sudah sembuh,” jawab Abrisam.
“Bulan madunya nanti saja, kalau Akmal sudah libur sekolah,” kata Abrisam.
“Kalau bawa anak-anak bukan bulan madu, dong. Tapi liburan keluarga,” sahut Rahma.
“Tidak apa-apa, Kak. Sekalian ajak anak-anak jalan-jalan,” jawab Abrisam.
Pukul setengah satu mereka membubarkan diri. Ibu Farida pulang bersama dengan Ibu Wenti, Mimin dan Bi Isah. Sedangkan Kamal pergi mengantar Lita pulang ke rumahnya. Sedangkan Abrisam dan Jihan beserta anak-anak mereka masih menginsp di hotel.
“Siapa yang menyetir mobil ibu?” tanya Jihan setelah mereka sampai di kamar mereka.
Walaupun Ibu Farida bisa menyetir mobil tapi tetap saja Abrisam melarangnIbu Farida menyetir sendiri karena sudah tua.
“Supir kantor. Mas pinjam supir kantor,” jawab Abrisam sambil membuka suitnya.
Jihan membuka kerudungnya lalu membersihkan make-up di wajahnya dengan susu pembersih. Abrisam diam ketika melihat Jihan tanpa menggunakan kerudung. Ini pertama kalinya ia melihat Jihan tanpa kerudung. Jihan tidak tau kalau suaminya sedang memperhatikannya.
Setelah selesai membersihkan wajah, Jihan mengambil dasternya dari dalam koper.
“Jihan mandi dulu, ya Mas. Badan Jihan rasanya lengket,” kata Jihan kepada Abrisam.
Abrisam mengangguk. Jihan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian Jihan keluar dari kamar mandi. Jihan keluar dengan menggunakan daster yang berbeda dari yang biasa ia pakai. Ia menggunakan daster pendek dengan lengan yang pendek. Rambut Jihan terlihat basah, sepertinya ia habis keramas. Abrisam menelan ludah ketika melihat penampilan istrinya. Istrinya terlihat sangat cantik danmenggairahkan.
“Mas, Jihan ganti baju anak-anak dulu. Nanti kita sholat dzuhur berjamaah,” kata Jihan kepada Abrisam.
“Iya,” jawab Abrisam.
Jihan menuju ke kamar anak-anak melalui conneting door.
Alika dan Akmal sedang asyik menonton televisi. Akmal sudah mengganti bajunya, sedangkan Alika belum ganti baju.
“Abang sudah sholat dzuhur?” tanya Jihan kepada Akmal.
“Sudah, Bunda,” jawab Akmal.
“Bunda, mau cucu,” kata Alika yang sudah mulai mengantuk.
“Nanti Bunda buatkan susu. Sekarang Alika ganti baju dulu,” kata Jihan.
“Gendong,” kata Alika sambil mengangkat kedua tangannya.
Jihan menggendong Alika.
“Anak Bunda sudah besar. Sudah tambah berat,” kata Jihan ketika menggendong Alika.
-
selingkuh itu penyakit otak dan hati penasaran..
suatu saat akan kymat kalo ada kesempatan atau godaan..