Dewa Abraham. CEO tampan dan juga fosessive. Pria yang sangat mencintai Bunga dan sekarang mereka telah bertunangan. Namun dibalik sifat Dewa yang penyayang, ia sangatlah egois.
Indah, perempuan yang berstatus menjadi sahabat Dewa dari sekolah menengah pertama selalu melakukan berbagai cara untuk merebut Dewa dari Bunga. Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Indah tanpa sepengetahuan Dewa.
"Jujur sama aku Dewa!! kamu sayang sama Indah??" tanya Bunga dengan wajah sendunya.
"Iya. Indah sahabat aku sayang. Apalagi sekarang dia lagi sakit. Kamu ngertiin posisi aku sayang!! aku ngak bisa menjauh dari Indah."
"Tega kamu Wa. Kamu selalu ada waktu sama dia ketimbang sama aku. Dia emangnya ngak punya orang tua ahh?? Kenapa harus kamu selalu ajha kamu??"
"Sayang!!"
"Terserah. Kalau kamu pergi! kita putus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 // Rumah Indah
"Rumah Indah di mana sih?" tanya Bunga sudah siap dengan keranjang buahnya. Awalnya tadi, Bunga ingin membeli jeruk saja, tapi kasihan jugak melihat Indah. Nanti dia protes lagi. Terus sakitnya kambuh dan meninggal. Kan repot kalau itu terjadi. Bisa-bisa Bunga tidak bisa mengejek Indah lagi.
Dewa langsung membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam gerbang berwarna putih. Satpam di sana juga sudah mengenali mobil Dewa, sehingga mobil Dewa langsung diizinkan masuk.
"Kamu sering banget ke sini ya?" tanya Bunga memicingkan matanya.
"Hem.... Dulu sayang."
"Oh... Kirain kemarin. Kalau kemarin kita pulang ajha. Enak banget tuh Indah lihatin kamu terus."
"Kamu cemburu ya?" tanya Dewa tersenyum mengejek.
"Ngak. Siapa bilang begitu?" tolak Bunga dengan cepat.
"Itu kan tadi."
"Aku hanya memastikan mantan aku baik-baik ajha. Kan besok kamu mau menyaksikan kebahagiaan aku dengan dokter Rian."
Dewa langsung memicingkan matanya dan menatap Bunga tajam.
"Aku mantan kamu begitu?"
"Tergantung, kalau kamu dekat-dekat dengan Indah. Kamu tahu kan jawaban nya."
Bunga langsung membuka pintu mobil secara elegan, tanpa dibukakan oleh Dewa seperti biasa. Dewa langsung mengikuti Bunga, keluar dari mobil.
"Assalamualaikum!"
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
"Waalaikumsalam."
Pintu berwarna putih bersih terbuka dengan lebar. Memperlihatkan wajah mama Indah dengan bahagia, namun seketika luntur karena kedatangan Bunga.
"Hai tante! Apa kabar?" sapa Bunga ramah dan langsung mencium tangan mamanya Indah.
Dewa berada di belakang Bunga, hanya bisa tersenyum memandang mama Indah.
Mereka semua masuk. Ketika mama Indah langsung mengandeng tangan Dewa. Dewa hanya bersikap biasa tanpa menolak. Sedang kan Bunga tersenyum penuh dengan rencana. Sepertinya, hukuman apa ya yang cocok untuk Dewa nanti.
Mereka bertiga menaiki tangga. Terlihat jelas pintu berwarna coklat berada di depan mereka.
"Tante! Bisa buka ngak?" tanya Bunga tersenyum.
"Tinggal di buka saja."
"Saya kan bawa buah. Kalau buahnya jatuh bagaimana?"
Dengan terpaksa, mama Indah melepaskan tangan Dewa dan membuka pintu.
Namun, sebelum mama Indah kembali mengandeng Dewa. Bunga Langsung beraksi.
"Yuk sayang. Waktu aku ngak banyak," ujar Bunga mengandeng Dewa dan memberikan Dewa keranjang buah yg ia bawa.
Mama Indah berdecak kesal melihat kelakuan Bunga. Ia langsung turun ke bawa menyiapkan makanan.
Ceklek.
"Dewa!" panggil Indah tersenyum, dengan tubuh yang tengah berbaring sembari memeluk boneka berwarna pink.
"Nama gue Bunga. Tunangan gue baru namanya Dewa," ujar Bunga tersenyum dan langsung duduk dengan senang hati di dekat Indah bersama kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Dewa.
"Lo..." tunjuk Indah langsung duduk melihat ke arah Bunga.
"Iya gue? Emangnya kenapa? Masak lo amnesia sih Ndah. Lo ngak hilang ingatan kan?"
"Lo kenapa ke sini?" tanya Indah dengan wajah memelas nya melihat ke arah Dewa.
"Sayang! Kok kamu diem ajha sih? Aku di usir tuh," rengek Bunga dengan manjanya di lengan Dewa.
Indah yang melihat hal itu merasa sesak sendiri.
Dewa hanya terdiam.
"Wa! Kamu kemana ajha kemarin? Ngak main ke rumah."
"Di larang pakai aku-kamu. Itu hanya berlaku untuk seorang kekasih, seperti gue dan Dewa. Lo nyari dong kekasih. Biar ngak ngarep sama tunangan gue."
Indah mengepalkan tangannya. Dewa yang melihat Indah merasa tidak tega.
"Bunga!" bentak Dewa langsung.
"Kenapa sih?" tanya Bunga menantang, "Ngak mau gitu jadi tunangan aku?"
"Bukan gitu sayang. Kan Indah lagi sak..."
"Tega kamu Wa. Aku ngak di anggap tunangan. Di bentak lagi karena belain dia," Bunga histeris, "Oke kalau kamu ngak mau. Ngak apa-apa! Aku mau telpon papa. Laporin tentang kelakukan kamu."
Bunga langsung membuka layar ponselnya. Dewa langsung merebut ponsel Bunga cepat.
"Jangan ya sayang. Kamu mau ngak nikah sama aku?"
"Mau banget," jawab Bunga dengan senang hati.
"Aku cinta sama kamu sayang."
"Buktikan?" tantang Bunga langsung.
Indah yang melihat adegan romantis itu berdecak kesal. Ini kamarnya, bukan tempat pementasan drama.
"Mau bukti seperti apa sayang hem...?" tanya Dewa halus.
"Aku mau bulan madu besok ke Lombok. Selama sebulan. Tanpa di ganggu oleh siapapun," ucap Bunga manja. Dengan meliris sinis ke arah Indah.
"Iya sayang. Kemana pun kamu mau kita akan pergi ke sana. Mau pergi kemana lagi?"
"Hem... Besok aku nyari lagi," jawab Bunga tampak berpikir.
"Wa! Besok jemput aku ya?" mohon Indah. Tidak ingin mendengar Bunga lagi.
"Dewa besok sibuk sama aku. Dia mau nganterin aku ke salon," jelas Bunga tersenyum ke arah Dewa.
Sedangkan Dewa tampak berfikir. Sejak kapan gadisnya hobi ke salon? Bukannya gadisnya tidak pernah ke tempat itu. Walaupun Dewa paksa untuk membayarkannya.
"Beneran Wa?" tanya Indah melihat ke arah Dewa. Biasanya Dewa akan cepat luluh dengan kondisi Indah.
"Ngak bisa Indah ku sayang," sambung Bunga dengan pelan namun tampak mengejek.
Pelakor memang harus digituin. Dasar miskin belaian.
"Sayang! Yuk pulang! Aku gerah di sini. Lo ngak pernah bayar listrik ya?"
"Setiap hari," jawab Indah dengan cepat. Enak ajha dia di katakan miskin di depan Dewa.
"Kok panas ya sayang. Besok gue sumbang kipas deh ke rumah lo."
"Ngak panas kok yang."
"Tiupin!" rengeng Bunga manja.
Dewa langsung mengibaskan tangannya dan membuat angin buatan. Agar Bunga tidak berkeringat.
"Pokoknya besok. Aku ngak mau ke sini lagi."
"Loh kenapa sayang?"
"Gerah."
"Besok aku perbaiki," jawab Indah halus.
"Ngak perlu. Lo cukup perbaiki iman lo ajha. Biar ngak masuk neraka.".
"Maksud lo apa?" tanya Indah halus.
Indah sudah mulai berakting untuk mengambil perhatian Dewa.
"Pulang yang!" ujar Bunga lucu.
"Sebentar lagi sayang."
"Pulang atau aku telpon papa."
"Ya udah kita pulang."
Dewa sebenarnya tidak enak melihat Indah. Namun Bunga ingin pulang secepatnya.
"Bye Indah. Cepet sembuh ya! Atau jangan sembuh deh. Biar ngak ada pelakor," bisik Bunga dengan pelan menusuk jantung Indah dengan perkataannya.
Indah mengeram marah. Namun dia langsung menahannya. Dewa sekarang ada di sini.
"Oh. Iya ndah. Jangan lupa buahnya di makan ya! Gue udah berbaik hati nyumbang nya. Masak lo ngak menghargai perjuangan gue."
Indah tersenyum lembut, walaupun ada guratan dendam di sana.
"Terima kasih Bunga."
"Sama-sama. Yuk sayang kita jalan-jalan," ujar Bunga segera menarik tangan Dewa dan keluar dari kamar luknut itu.
Panas dan gerah, karena pemilik nya kebanyakan dosa.
"Gue permisi! Semoga lo cepet sembuh," pamit Dewa. Setelah itu mereka berdua hilang dari pengelihatan Indah.
ga mau di php in ni cerita ak udh bca judulnya udh ok Lit komen2 nya jga kyana seru tpi liat part traktir kpn jdi diem di t4 ak jg dia smpe mna ni cerita di lnjut
maaf ya thor