Pada umurnya yang ketigabelas, Nala Turasih pernah sakit parah dan meninggal. Warga kampung menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika gadis itu kembali hidup setelah baru saja dipocongi.
Novel ini terdiri atas beberapa Serat dan Hikayat yang jalan ceritanya berpusat pada tokoh utama, Nala Turasih:
Serat Grha Pamujan
Serat Bhumi Menungsa
Serat Jiwa
Serat Samudra Yudha
Serat Pamungkasan
Hikayat Sang Nayu
Hikayat Amin Kelaru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikodemus Yudho Sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Nala
Novel Nala terdiri dari beberapa bagian yang disebut sebagai Serat. Setiap serat memiliki jalan dan gaya cerita yang kadang-kadang berbeda, tetapi pada akhirnya akan berlabuh di tokoh Nala Turasih. Novel ini juga direncanakan beraliran supernatural cult horror, meski di dalamnya, yaitu di setiap Serat akan ditampilkan beragam jenis aliran seperti misteri atau triler psikologis.
Di dalam penceritaan, saya akan selalu memasukkan ilustrasi sebagai sokongan jalan cerita dan pembangun nuansa. Ilustrasi-ilustrasi tersebut diciptakan menggunakan Artificial Intelligence (AI). Dalam hal ini, bisa dipastikan setiap gambar adalah original, asli, dan tidak melanggar hak cipta atau copyright. Saya yang menciptakan gambar-gambar tersebut dibantu interpretasi AI.
Dalam menggunakan AI, memerlukan beberapa kali percobaan dan usaha agar hasilnya sesuai dengan harapan. Misalnya saya akan mengetikkan kata-kata secara sepesifik: A beautiful Javanese girl. She has a classical beauty of old times Javanese queens and princesses. Bila masih belum sesuai, saya juga kerap menambahkan penjelasan mendetail, seperti: She has round eyes and red thin lips. Her skin is light-dark-toned. Jadi, bisa dikatakan semua ilustrasi, cukup sesuai dengan nuansa yang ingin saya sampaikan, bukan apa yang ada di dalam pikiran, karena itulah tujuan dari rangkaian kata-kata yang saya tulis.
Saya ingin pembaca dapat mengalami penggambaran tempat atau tokoh, atau situasi berdasarkan interpretasi para pembaca sendiri atas setiap kata, kalimat, alinea atau paragraf, bukannya merujuk pada ilustrasi-ilustrasi tersebut.
Misalnya saja, ketika membahas mengenai kecantikan Nala Turasih, ada beberapa ilustrasi AI yang mungkin cocok bagi penggambaran fisik sang gadis. Dua diantaranya saya sampaikan di tempat ini.
Hanya saja, dua gambar tadi telalu gamblang. Kecantikan Nala Turasih di dalam benak saya harus memiliki unsur lokal yang kental. Kulit putihnya harusnya bersemu coklat, warna khas gadis Jawa. Ada aura mistis sekaligus sensual, tetapi juga klasik. Sangat jauh dari gambaran kecantikan populer atau modern masa kini, seperti gadis Korea misalnya. Nala Turasih harus membawa nyawa gaib dan kepolosan di saat yang sama. Maka muncullah ilustrasi-ilustrasi berikut.
Ini adalah ilustrasi Nala Turasih muda yang memiliki unsur kebinalan yang kental.
Ini juga Nala Turasih yang sedikit lebih dewasa, dengan sudut 'keji' dan 'galak' yang kentara.
Semua ilustrasi memiliki gaya hidung, mata dan bibir yang serupa.
Kemudian, nyatanya saya masih melihat bahwa ilustrasi-ilustrasi tersebut masih terlalu ‘megah’. Akhirnya, setelah sekian banyak text yang saya berikan kepada AI untuk diinterpretasikan dan beragam percobaan, saya akhirnya mendapatkan gambaran yang paling mendekati wajah Nala Turasih yang ada di dalam benak saya. Berikut ilustrasi berbasis AI yang saya dapatkan.
Sialnya, saya masih belum puas. Bukan pada ilustrasinya, tetapi lebih pada cara saya memperlakukan karya ini, novel Nala ini. Harusnya kekuatan tulisan saya sudah dapat diandalkan untuk menjadi alat penggambaran yang sesungguhnya. Saya juga tidak ingin menjadi seorang penulis egois yang membatasi ruang lingkup imajinasi para pembaca.
Oleh sebab itu, sebagai hasilnya, saya akan kembali ke misi utama dan pertama, yaitu menggunakan ilustrasi hanya sebatas pendukung cerita dan nuansa, bukan patokan (Kecuali novel ini diangkat ke layar lebar. Amin!).
Kelak, ilustrasi Nala Turasih, atau tokoh-tokoh lain juga akan diarahkan ke gambaran siluet, simbol, atau bentuk seni lain yang kembali ke fungsinya semula, bukan gambar yang jelas dan gamblang.
Terimakasih atas perhatian para pembaca yang luar biasa. Tolong terus berikan dukungan atas karya ini dalam bentuk komentar, pujian dan cacian, atau kritik dan saran. Serius! Tolong berikan.
Ini karena rencananya Nala akan menjadi sebuah novel panjang yang akan menguras segala daya upaya, hasrat dan gairah saya. Mohon dukungannya.
semangatt pak Nikodemus ✊
jadi ? Nala itu titisan Nara dan putri junjung buih?
kira-kira respon pak Kuranji gmna tuh, smakin insecure kah?
next pak Nikodemus 👌