NovelToon NovelToon
I'M THE ANTAGONIST

I'M THE ANTAGONIST

Status: tamat
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Epik Petualangan / Masuk ke dalam novel / Chicklit / Tamat
Popularitas:78k
Nilai: 4.9
Nama Author: Widya_Kim02

Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?

Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!

Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?

ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23| Dendam

Hari ini Elena mendapatkan kunjungan khusus dari raja, yaitu Max. Mendengar berita bahwa Elena kembali dengan selamat membuatnya semalaman tak dapat tertidur.

Kini dia telah berada tepat di depan Elena, sayangnya tak ada senyuman di wajah cantiknya itu. Sejak semalam, Elena terus murung dengan tatapan yang kosong. Seakan hidup sudah tidak menjadi prioritasnya.

Max tahu, Elena masih terpuruk dan tidak terima atas meninggalnya Loretta. Dia menatap sendu pada gadis di depannya, mencoba untuk membaca pikiran Elena, tetapi tak bisa.

   "Elena?" panggilnya, sementara Elena hanya menatapnya tanpa berniat menjawab atau sekedar tersenyum.

   "Ibu ingin bertemu denganmu, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Ibu juga bilang dia akan menunggu kau."

Elena hanya mengangguk, sungguh semangat hidupnya seperti menghilang entah ke mana.

   "Elena, ayolah bersemangat sedikit. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?" tawarnya dan mendapatkan gelengan dari Elena.

   "Aku akan langsung menemui ibumu."

Di sebuah ruangan, hanya ada Elena dan mantan ratu saja. Suasana di sekitar mereka menjadi tegang.

   "Elena ... Saya turut berduka cita atas meninggalnya Loretta, tetapi tolong untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ibumu pasti tak ingin kau begini dan juga ada hal penting terkait kebakaran di rumah orang tuamu yang ingin saya katakan."

Elena hanya mengangguk dan menyimak setiap ucapan wanita di depannya.

    "Saya secara tidak sengaja mendengar Lily berbicara dengan seseorang dan meminta seseorang itu untuk melakukan sesuatu. Salah satu pelayan menemukan ini di kamarnya!"

Carolline memberikan Elena sebuah cincin emas. Matanya membulat ketika tahu bahwa cincin tersebut milik sang ibu. 

    "Lily sialan!" geramnya dengan mengepalkan tangannya.

   "Elena, kau harus cari bukti yang kuat untuk bisa memberikan hukuman padanya. Gadis itu, terlalu banyak memberikan luka padamu."

   "Tentu saja nyonya Carolline, sekarang aku akan hidup hanya untuk membalaskan dendam ibuku. Mari kita lihat, peran seperti apa lagi yang cocok untuk aku mainkan!"

Elena meminta izin pada Carolline untuk tinggal beberapa hari di kerajaan, tentu saja wanita itu mengizinkannya. Dia juga membicarakannya dengan Max, alasannya adalah Carolline meminta tolong pada Elena membantunya dalam menangani masalah pajak warga desa.

Mengingat Lily sangat bodoh dalam hal itu, jadilah Max mengizinkannya dengan senang hati. 

Elena sekarang sedang berada di ruang kerja milik Carolline, sudah sekitar enam jam dia duduk.

   "Aku rasa jalan-jalan sebentar tidak ada salahnya."

Elena pun melangkah keluar dan tak sengaja melewati kamar Lily yang saat itu, gadis tersebut sedang berbicara dengan seseorang.

Jadilah Elena menguping demi bisa mengetahui rahasia apa lagi yang gadis itu simpan.

   "Kau sudah membawa itu, kan?"

   "Tenang saja nona, saya telah berhasil mendapatkan benda itu."

   "Bagus, dengan benda sakti itu aku bisa membunuh Elena dan menjadikan kerajaan ini sepenuhnya milikku!"

Mendengar itu, Elena semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran di otak Lily. Sungguh serakah manusia satu itu, tak puas dengan segala pencapaian kotornya.

Ia lantas mengintip dari lubang kunci, mencoba melihat benda apa yang mereka maksud.

Begitu melihatnya, Elena terkejut bukan main.

    "Benda itu ... Jangan bilang Lily akan?" Setelah membatin, Elena bergegas pergi dari sana.

Di kamar, wajahnya menunjukan kegelisahan. Elena tahu, ini tidak akan baik.

   "Bagaimana bisa mereka mendapatkan batu iblis?"

Elena bisa tahu tentang batu iblis karena kebiasaan membacanya, dia selama ini mengoleksi buku-buku tentang pengetahuan. Dia mendaratkan pantatnya ke arah kasur dan mulai berpikir lagi.

 

    "Jika jiwa Lily sampai bersatu dengan batu iblis itu, maka dia bisa kehilangan kendali dan menghancurkan seluruh kerajaan termasuk kekaisaran sekalipun. Aku pikir hewan sihir dan Hugo adalah yang paling berbahaya, ternyata aku salah."

Elena ingat, saat diperjalanan menuju portal berada, dia sempat bertemu dengan seseorang. Batin mereka saling terhubung saat mata keduanya bertemu.

Saat itu seseorang tersebut memberitahukan hal ini pada Elena.

   "Rasa sakit yang kau simpan sekarang akan menyenangkan bila kau lampiaskan kemarahannya pada orang yang menimbulkannya."

Elena terus-terusan mencerna ucapan itu, dia tahu maksud dari kata-kata tersebut.

Ketika kau sakit hati, cara terbaik menurut orang-orang adalah melupakannya, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya.

Akan lebih menyenangkan dan melegakan ketika dendam dan sakit hati yang telah kau pendam dilampiaskan pada orang yang menyebabkannya.

Dalam hidup, siapapun bisa menjadi jahat dan baik.

Dendam memang hanya akan melahirkan kebencian dan keikhlasan adalah akhir dari segalanya, tetapi hal seperti ini tidak berlaku untuk Elena.

Dia adalah gadis yang jika seseorang telah melukai harga dirinya, maka seseorang itu harus merasakan hal yang lebih menyakitkan darinya.

    "Apa yang lebih menyenangkan dari pada balas dendam?" ucap Elena dengan menatap langit yang semakin oranye.

Malam harinya, terlihat Lily yang sedang melakukan sebuah ritual untuk penggabungan jiwa dan batu iblis itu. Sebelum melakukannya, dia telah membuat perjanjian juga.

Lily nampak duduk di tengah-tengah sebuah simbol misterius dengan beberapa lilin yang berada di setiap sisi memutarinya.

Seseorang bertudung hitam melangkah dan mencoret wajah Lily menggunakan darah manusia.

Malam itu, hujan turun dengan deras disertai kilatan petir. Langit seakan mengamuk atas perbuatan Lily yang akan merepotkan penghuni kerajaan.

Elena terbangun dengan mimpi buruknya, keringat telah membasahi area wajah.

    "Sial, mimpiku buruk sekali."

Firasat Elena malam ini sangat tak enak, mungkinkah Lily akan melakukannya sekarang?

Suara dentuman yang sangat keras terdengar, getaran hebat membuat Elena kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dia mengintip dari jendela dan melihat para prajurit berlarian menuju gerbang utama.

    "Apa yang terjadi?"

Dia bergegas keluar dan tak sengaja menabrak salah satu pelayan yang kala itu ikutan panik.

   "Ah, nona Elena ... Maafkan saya!" ucapnya dengan membantu Elena bangkit.

   "Ada apa ini? Mengapa semua orang terlihat panik sekali!"

   "Anda tidak tahu?" tanyanya dan mendapatkan gelengan dari Elena.

    "Warga desa sedang diserang oleh sesuatu yang bergerak menuju kerajaan. Saat ini pangeran dan para prajurit sedang mengurus, kami diminta untuk pergi mengungsi."

    "Apa?"

Elena bergegas berlari menuju pintu utama, dari sana dia bisa melihat bagaimana para prajurit benar-benar sibuk. Beberapa bangsawan telah dikerahkan bersama pasukannya.

Elena terkejut kala merasakn energi yang jauh lebih besar sedang bergerak secara melambat ke arah kerajaan.

   "Energi gila macam apa ini?"

Ternyata Xavier dan Merida juga merasakannya, jadilah keduanya menghampiri Elena yang baru saja akan melangkah keluar.

   "Elena!" Xavier dan Merida mendekati dia.

   "Xavier, nyonya Merida. Apa kalian merasakan energi ini juga?" tanya Elena panik.

   "Benar. Seseorang telah lancang menggabungkan jiwanya dengan batu iblis. Padahal batu itu telah terkurung ribuan tahun lamanya dan tempat itu hanya raja terdahulu yang mengetahuinya!" ucap Merida sembari menatap ke arah kepulan asap serta derasnya hujan.

   "Sepertinya aku tahu siapa pelaku utamanya."

Elena mengepal, sesungguhnya Lily telah melakukan tindakan bunuh diri. Siapapun yang telah menggabungkan jiwanya dengan batu iblis, hal itu sama saja dengan memberikan seluruh hidupnya untuk iblis yang mendiami batu tersebut.

Kejadian seperti pernah menggemparkan seluruh warga kekaisaran, bahkan menjadi trauma untuk masing-masing kerajaan.

Jika ingin menghentikan iblis itu, maka harus melakukannya dengan nyawa. Ada banyak sekali nyawa yang tidak bersalah sedang berada di ujung tanduk.

Anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban atas keegoisan Lily. Keserakahan yang tumbuh perlahan sejak dulu mengubah seluruh pola pikirnya menjadi manusia yang penuh dengan keegoisan tanpa peduli resiko.

Tidak ada waktu, monster seperti iblis itu harus segera dimusnahkan dengan cara apapun.

   "Aku akan menghadapi Lily!" Ucapan Elena langsung mendapatkan bantahan dari Xavier.

   "Tidak! Kau tidak bisa pergi, cukup berdiam saja di sini atau pergi ke tempat yang aman bersama nyonya Carolline!"

Elena menatap tajam ke arah Xavier, tak ada waktu untuknya berdebat.

   "Apa kau ingin banyak nyawa melayang, ha? Di sana, ada warga desa yang tidak tahu-menahu mengenai masalah ini. Xavier, aku tak bisa hanya dengan berdiam diri saja. Aku juga harus membalaskan dendam atas kematian ibuku dan membuat dia menbayar semua perbuatan terkutuknya. Jika kau coba-coba menghalangiku, maaf saja aku harus melenyapkanmu jika itu perlu!" ancam Elena tak main-main.

Dari sorot matanya menunjukan gairah untuk membalaskan dendam serta sakit hatinya selama ini. Sudah cukup baginya menyimpan semua penderitaan Elena.

Mulai dari titik ini, dia akan berperang sebagai seorang Melinda bukan Elena.

Sebelum melangkah pergi, dia diam sejenak di tempat dan mengucapkan sesuatu pada Xavier.

    "Kalau aku gagal, maka kau yang harus menyelesaikannya dan memberikan Lily hukuman yang setimpal. Jiwaku juga akan kembali pada tubuh asliku."

Elena langsung membuka portal menuju tempat kejadian. Mendengar itu, tubuh Xavier menegang hebat. Dia tahu maksud ucapan dari Elena.

    "Tidak ... "

Jika Elena gugur, itu berarti dia tidak akan bisa bertemu dengan gadis tercintanya lagi. Apa yang akan Xavier lakukan jika hal itu benar-benar terjadi?

Dia bahkan tak bisa membayangkan jika melihat tubuh Elena tak bernyawa lagi.

Xavier tak bisa memikirkannya lagi.

Bersambung...

1
Travel Diaryska
mantep
my+ng
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ervina
Luar biasa
𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶
amazing
𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶
aku suka yang begini ....ringkas ga terlalu banyak bab dan ga berbelit²... semangat thor
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Sulati Cus
😂😂😂jd inget anak gadisku yg gemar sm anime masak pgn py cowok yg kyk anime mentang2 suka gambar anime😂
Mama Muda
tulisan kurang rapi, yang berbicara gak di sebut namanya, buat pusing baca nya sampe sini aja dulu
Sarah: iya bener, tapi storynya nice-nice aja sih
total 1 replies
🥰PencintaDuniaHalu🤪
Luar biasa
Sary Vya
cerita nya bagus
Nur Lela
luar biasa
Arie Susan92💜🇮🇩
ceritanya sangat bagus, sayang bgt cepat endingnya
Eka Nurmila
harus banyak berlatih sihir. biar ga cepat lelah
Narimah Ahmad
sesuai dgn gaya jln yg ringkas dan akhirnya bahagia
Narimah Ahmad
selasai akhirnya cerita mu Thor 👏👏👏 terima kasih cerita ya ringkas dan tak belit belit ucap ku semoga terus maju lagi kedepannya 👍
Lucy🌼: Aamiin, makasih doanya
dukung authornya selalu yaa
total 1 replies
Narimah Ahmad
cinta itu datang dgn sendiri tak di undang tapi hadirnya nyata aku tulis aku pun pusing kok 🤨🤔🤭
Narimah Ahmad
🤭🤭🤭
Narimah Ahmad
kebetulan pula ada cimilan dari pada terbuang ya lansung dimakan ☺️🤭
Narimah Ahmad
aku baru mulai ni
Kania Rahman
singkat padat jelas,💪💪👍👍🙏🙏, terimakasih banyak ceritanya sehat selalu Thor,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!