NovelToon NovelToon
Kepingan Jingga

Kepingan Jingga

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Nikahmuda / TimeTravel / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

Apa jadinya jika seorang berandal paling dibenci di sekolah tiba-tiba mengaku suami sah-nya?
TEROR, begitulah Rengganis Kamania si gadis berusia 18 tahun dan masih duduk di bangku SMA tahun ajaran akhir menyebut hal itu.
Sikap Nata Prawira, pemuda satu angkatan dengannya yang seperti ingin menelan Ganis hidup-hidup, mengikuti kemanapun Ganis pergi membuat gadis ini takut juga membenci salah satu berandal yang masuk daftar hitam sekolah ini.
Dan berhasilkah Wira meyakinkan Ganis? Mengumpulkan kepingan-kepingan jingga kisah keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEJAUH MANA KAMU PERGI AKAN KU KEJAR

Tasnya merosot dari pundak Ganis, hingga jatuh tergeletak di kaki ranjang. Suara keras memekakkan telinga, Ganis biarkan begitu saja, meskipun tak suka dengan genre lagunya tapi ia coba dengarkan, gadis manis berzodiak virgo ini merebahkan badannya demi mengurai rasa lelah hari ini.

"Bank kee banget hari ini!" ia menghembuskan nafasnya kasar, mengingat kejadian Suci tadi dan kejadian dengan Wira.

Alisnya bertaut menatap neon yang padam tepat di atasnya, kepingan kejadian saat Wira menyatakan cintanya dulu memutar di otak Ganis, seakan langit-langit kamar menjadi layar putih tempatnya mengulang nostalgia.

Flashback on

Seminggu setelah kejadian Ganis mengganti rokok dengan permen di belakang sekolah, Ganis benar-benar menjadi orang lain untuk Wira.

"Stop! Ikut campur privasi gua, hidup masing-masing, di dunia masing-masing!"

Ganis berdiri bersama siswa lain, berbaris rapi dengan sikap sempurna dan seragam lengkap di depan bendera merah putih yang baru saja dikibarkan oleh tim pengibar dari paskibraka sekolahnya.

Pak Nuha, si guru kesiswaan menggiring siswa-siswa bermasalah untuk berbaris di depan seperti seorang pesakitan yang akan dihakimi.

Tatapan keduanya bertemu, tapi Ganis membuang muka. Itulah kali pertama Wira merasakan hatinya berdenyut sakit karena seorang gadis.

Beberapa kali mereka dipertemukan secara berpapasan, tapi Ganis seperti menganggap Wira tak ada untuknya, dan Wira tak suka itu. Sebelumnya ia pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis tapi kenyataannya harus berakhir, anehnya itu tak sesakit saat Ganis tak menganggapnya.

Padahal jika dikatakan, Wira satu frekuensi dengan Ivana, baik dalam hal kesukaan maupun pemikiran. Wira gubluk Ivana ikut gubluk, saking keduanya satu hati. Saat keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan, keduanya setuju-setuju saja. Bahkan selang beberapa bulan mereka berpisah, Ivana sudah menikah dan memiliki anak.

~Agustus 202X~

Ganis berjalan menyusuri selasar kelas menuju gerbang sekolah, angin siang setidaknya membawa sejuk, membawa serta rasa penat dan lelah para siswa.

"Nis, temenin aku jajan dulu es teh sebentar lah panas!" ajaknya menarik tangan Ganis tanpa aba-aba, pandangan Ganis menyapu area pedagang gerobak di depan sekolahnya. Dimana satu kumpulan anak yang tengah duduk diatas motor dan sebagian lainnya duduk jajan di gerobak es teh menjadi pemandangan lumrah jika pulang sekolah begini.

Ganis bukan tak melihat pemuda satu itu, pemuda yang paling mencolok diantara semua karena kesendirian dan kediamannya. Tapi gadis ini memang sengaja tak menyapanya bukan karena tak mengenal atau sombong, tapi Wira sendiri lah yang mengatakan terakhir saat mereka bicara untuk pergi. Ganis bukan gadis yang merendahkan harga diri dengan mengejar-ngejar Wira walau sudah ditolak. Ia memang secuek itu, entah karena memang bawaan sifat angkuhnya seperti itu atau memang sebuah pendirian, tak ada di kamus hidupnya mengejar-ngejar orang lain agar mau berteman dengannya, masih banyak orang lain yang mau menerima keberadaan Ganis, jadi untuk apa memasalahkan seorang yang tak ingin menerima kehadiran Ganis, tak rugi baginya. Begitulah prinsip Ganis.

Ganis tidak buta, ia melihat Wira disana.

"Nis, mau juga ngga? Aku jajanin!" senyum lebar Olip menawari sahabatnya itu, tapi Ganis menggeleng.

"Engga usah Lip, makasih. Ganis bekel minum kok! Kamu aja," jawab Ganis memalingkan pandangan. Terlihat jelas jika Ganis sedang menghindari Wira.

"Gua cabut lah! Kerjaan banyak," ucap Wira pada teman-temannya pamitan.

"Oke coy, jangan lupa ntar malem! Di rumah Andan," seru Bobi, mereka bertos ria sebagai tanda pamit.

"Nis, aku duluan kalo gitu! Yakin ngga mau ditemenin nunggu ojolnya?" tawar Olip yang dijemput ayahnya.

"Ah ngga usah, kasian ayah kamu. Masa suruh nungguin Ganis." Jawab Ganis tak enak hati dengan kerlingan mata pada Olip.

"Neng Ganis, ngga apa-apa atuh biar ditunggu aja kasian," timpal ayah Olip.

"Ngga apa-apa pak! Saya pacar Ganis kok, maaf telat jemput ya," ketiganya menoleh cepat ke arah suara.

"Wira," Olip ikut mengerjap.

"Oh gitu, kalo gitu kita duluan ya neng Ganis," pamit ayah Olip, sementara Olip sendiri sudah menepuk-nepuk ayahnya namun tak digubris.

"Pak, Lip..."

Gleuk! Ganis menelan salivanya berat.

Tatapan mendelik, Ganis lemparkan pada Wira yang sedang duduk manis di atas motornya.

"Bisa bicara sebentar,"

"Ngga ada waktu, lagi nunggu ojol!" jawabnya ketus dan singkat. Dasar plin-plan, bukannya dia sendiri yang nyuruh Ganis pergi, sekarang dia yang datang lagi.

Ganis berulang kali mengecek layar ponselnya, ini si bapak jemput Ganis sambil ngesot apa gimana bawa motornya, Ganis kesal bukan main, tertera disana 10 menit lagi, tapi sudah hampir 15 menit si bapak tak nongol juga mon congnya.

Sementara Wira masih setia disana, di depan Ganis menatap Ganis yang jadi salah tingkah.

"Bisa geser ngga?" semprot Ganis.

Wira merebut ponsel Ganis dan malah meng-cancel ojol pesanannya.

"Eh!"

"Lu kurang aj ar banget!" wajah gadis itu sudah memerah karena kesal.

"Janji nggak lama, ongkosnya biat kuganti," Wira menyerahkan ponsel milik Ganis.

"10 detik," jawab Ganis.

"Yang bener aja---"

"10, 9, 8, 7,...." potong Ganis mulai berhitung.

Wira menyumpal bibir pink Ganis dengan telapak tangannya.

"Oke, Rengganis Kamania...aku suka kamu...aku mau kamu jadi pacarku,"

Grekkkk!

"Aww!" Wira melepaskan tangannya dari mulut Ganis dan mengibas-ngibaskannya, yup! Ganis menggigit tangan Wira layaknya steak, tinggal dipakein saus barbeque mantap tuh!

"Rasain lu!" umpatnya kesal, ia tersenyum penuh kemenangan saat raut wajah Wira meringis.

"Makanya jangan kebanyakan mabok, jadinya otak lu sableng! Ya jelas gua enggak mau lah!" tolak Ganis mentah-mentah, sementah jeruk bali..pahit, kecut dan masam. Sakit, sudah pasti. Baru kali ini ia menerima penolakan dari seorang gadis, biasanya para gadis lah yang mengejar-ngejarnya, bukan karena memiliki hutang atau diuber gara-gara nyuri selem vak.

Ganis segera berjalan menyusuri tepian jalan meninggalkan Wira yang masih melihat bekas gigitan di tangannya, gadis itu berniat mencari angkutan umum, semoga saja masih ada angkot yang melintas. Wira tak menyerah sampai disitu, ia menemani Ganis dengan melajukan motornya pelan menyamai langkah cepat Ganis.

"Aku bakal ganggu kamu sampai kamu mau!" paksanya.

"Pemaksaan!" sarkas Ganis mempercepat langkahnya.

"Terserah apapun kamu nyebutnya," Wira masih mengikuti, tak peduli jika Ganis tak suka.

Sebuah lampu pijar muncul ke atas dari kepala Ganis, ia dapat ide briliant agar lelaki ini jera, Ganis mengambil ancang-ancang suara,"tolong!! tolong!!! jambret!!!" pekiknya, sontak Wira panik meskipun tak merasa melakukan kejahatan, siapa juga yang tak panik jika diteriaki begini, teriakan Ganis memancing perhatian warga sekitar.

Di tengah lamunannya, Ganis tertawa mengingat itu. Hampir saja Wira digebukin karena ulahnya.

Segera Wira turun dari motornya dan menarik Ganis ke dalam dekapannya lalu membekap Ganis.

"Mana jambret?!" beberapa orang menghampiri keduanya dengan membawa perkakas seadanya, sudah siap menghantam wajah si penjambret jadi teman nasi, tapi sejurus kemudian wajah mereka masam.

"Beuhhhh! Kalo mau mesum jangan disini atuh! Heran, masih sekolah udah bikin dosa!"

"Huuu!!!" sorak mereka marah dan kecewa. Anak muda jaman sekarang kelakuannya memang meresahkan.

Wira malah tertawa, dibandingkan ia, Ganis lebih malu karena tak memakai helm, wajahnya tersorot jelas. Segera Wira membawa kepala Ganis ke dada, "punteun, bapak-bapak! Si neng-na nuju pundung,"

(Maaf, bapak-bapak! Si neng-nya lagi ngambek,)

"Ohhh," mereka berohria. Untung saja Wira gercep berfikir, jika tidak mereka mungkin sudah di arak ke KUA.

"Si*@lan ih!" semprot Ganis mendongak memasang wajah keruh kaya air comb eran, dapat ia rasakan detakan jantung Wira saat itu. Wajah mereka sedekat antara jantung dan paru-paru. Wira menatap Ganis dengan cengirannya,

"Ga ada yang lucu! Ga usah nyengir, lu jelek kaya ogre!!"

"Nis, aku suka kamu..." Wira kembali mengulangi perkataannya.

"Maaf atas kejadian yang lalu, aku ngerasa kehilangan kamu, Nis. Aku ga suka kalo kamu ketawa sama cowok lain, larang aku Nis, tegur aku, dan sapa aku!"

"Lu egois," cerca Ganis.

"Orang egois ini suka kamu Nis," mohon Wira.

"Lu cowok ga punya perasaan!" pukul Ganis di lengan Wira, pemuda itu meraih tangan Ganis dan membawanya ke dalam genggaman.

"Aku butuh kamu, aku anter kamu pulang ya?!"

Ganis diam di tempatnya, tak ada jawaban pasti dari mulutnya. Karena percuma, sejauh mana pun ia berlari Wira akan mengejarnya.

.

.

.

1
Triana Oktafiani
Salah baca mulainya dari cerita alvaro, bagas baru nata, tapi at least semua ceritanya sangat kerennnnn 👍
Mahira Batari
jaman ibunya Alva udh ad ojol yaaa
Hani Ekawati
🤣🤣🤣🤣
Hani Ekawati
Duit 2 ribuan 🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
wira ini bela"in ampe ga naik kls 2x, demi.... kamu,,,
Sri Wahyuni
tebak tebak buah manggis... kyany wira sm ganis ini ada something dimasa lalu,, jangan' yg kena dr.obyg itu ganis
next ach....
bibuk Hannan & Afnan
cerita nya selalu keren, ada pelajaran nya juga dlm kisah ini bahwa dint judge people from the cover book, dan semua orang punya masa lalu dan kesalahan dan dr kesalahan kita bisa belajar supaya jd lebih baik lg
bibuk Hannan & Afnan
pisin tuh bahasa nasional bukan ya kak sin, soalnya aku orang Cirebon timur juga sama si namainnya juga pisin tp pake f si bukan pake p, di tempat suamiku di Jatim juga sama namainnya fisin juga
bibuk Hannan & Afnan
mommy sha awas kena hukuman nti mlm oleh pak guru killer🤣🤣🤣🤣🤣
bibuk Hannan & Afnan
nah lho bangunin pak guru killer yg lg mode kalem 🤣🤣🤣🤣🤣
bibuk Hannan & Afnan
ini ayah Arkala Mahesa yaaa, duhh jd kangennn
bibuk Hannan & Afnan
abak=anak

anaknya si Gale pong dan bang Fatur euy
bibuk Hannan & Afnan
gadia=gadis
bibuk Hannan & Afnan
typo sudsh=sudah
bibuk Hannan & Afnan
hahahaha kalah sama Ganis si muka Barbie, malu atuh sama julukan preman dan anak metal 🤣🤣🤣🤣🤣
bibuk Hannan & Afnan
aku udah ngebayangin gimana paha betis berbulu damar dan raja anak metal yg pakai rok ke sekolah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak guling-guling euy
bibuk Hannan & Afnan
pinh tuh maksudnya paling apa gimana kak sin?
💜 Shin_Chan 💜: iya kak, sudah ku revisi 🙏
total 1 replies
bibuk Hannan & Afnan
kaleng legend si kong ghuan 😅😅😅
bibuk Hannan & Afnan
an unya dispasi aku jd bacanya smpe 3x baru ngeh 😅😅😅😅
bibuk Hannan & Afnan: gpp si kak sin jd sedikit Lola baru deh ngakak setelah nya 🤣🤣🤣
total 2 replies
bibuk Hannan & Afnan
bilanh=bilang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!