Apa tujuan dari kehidupan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Kejayaan?
Tidak, tujuan dari kehidupan hanyalah kesenangan.
Ketika mereka mendapatkan kekayaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kekuasaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kejayaan, mereka senang.
Tujuan hidup sesimpel itu, pada akhirnya ketika mereka meraih tujuan, mereka akan senang.
Dan aku bereinkarnasi kedua kalinya untuk kesenangan.
Menggunakan segudang harta kekayaan dan pengetahuan, aku akan mencari kesenangan di kehidupanku yang ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermit of Imagination, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023. Markas?
Sementara Lucy memilih untuk tidur, kota itu masih ramai, terutama di distrik pusat dan distrik Kingswon yang paling dekat dengan gerbang kota. Itu adalah pemandangan yang tidak biasa, meskipun distrik Kingswon selalu ramai saat malam tapi yang kali ini lebih ramai dari sebelumnya. Seolah-olah semua orang ada disitu untuk menunggu. Bahkan jalur terbang itu dibersihkan seolah-olah hanya untuk kelompok yang ditunggu. Gerbang kota juga begitu, itu lebih terbuka lebar daripada yang biasanya.
Mulai dari wartawan, content creator atau yang hanya sekedar ingin mengabadikan momen semua sudah ada disitu. Bahkan ada dari mereka yang memanjat atap agar dapat melihat dari dekat.
Tak lama kemudian sekelompok orang yang berpakaian sama terlihat dari selatan kota, orang orang mulai berseru akan itu. Ketika mereka melewati gerbang kota, keramaian bersorak seolah-olah menyambut seorang pahlawan.
"Wahh, mereka benar-benar kebanggaan negara kami."
"Dengan mereka disini kota ini pasti akan aman."
"Semoga saja aku bisa bergabung dengan mereka."
mereka yang bangga akan prestasi akan kelompok itu menyerukan Pujian. Tapi mereka yang hanya seorang penggemar…
"kyaa, walik komandan tadi melihatku."
"Tidak, dia pasti melihatku."
"Kenapa dia bisa begitu keren sih, itu membuat hatiku berdetak kencang."
"bukankah dia lebih tampan dari apa yang ada di foto?"
ada juga yang seperti ini…
"Bukankah senyuman kapten divisi pertama sungguh menenangkan hati."
"Dia anggun seperti biasanya."
"Aku ingin menikah dengannya."
"Aku menjadi budak pun boleh."
Kelompok yang terbang melewati keramaian itu semua mengunakan seragam ungu gelap. Dipimpin oleh seorang pria berbadan besar berotot dan berpenampilan seperti singa. Jika lucy di sini akan mengatakan mirip babun. Disampingnya ada seorang pria yang karena penampilannya membuat Lucy merasa kesal. Dibelakang mereka ada wanita yang ikonik dengan senyumannya. Mereka adalah ordo Stella.
"Komandan, dimana hotel kita." Ferdinand dari samping bertanya.
"Kita tidak akan ke hotel."
"Apa!?" dia tampak terkejut.
"Tidak ada uang untuk menyewa hotel."
"Memangnya kemana uang itu?"
"Aku memberikannya kepada Lucy."
"Kenapa kau memberikannya kepada orang yang suka ngambek itu?" Ferdinand berkata tampak tidak senang.
"Bagaimanapun aku sudah menjanjikan itu." dia menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya sebelum dia melanjutkan. "Lagipula markas besar akan menggantinya."
"Tapikan itu bisa ditunda."
"Menunda sesuatu itu tidak baik."
"Lalu kita harus kemana untuk menginap." lalu dia menyarankan. "Gimana kalau kita semua bayar sendiri-sendiri. Itu bisa dilakukan."
"Tidak." komandan langsung menolak. "Selama kita bertugas, kita adalah kesatuan, jadi tidak boleh sendiri-sendiri."
"Dari kemarin kita hanya kesana kemari." dia berkata sambil tersenyum mengejek, entah itu ditujukan untuk komandannya atau dirinya sendiri.
"Tapi itu adalah perintah tuan kita, Jadi bisa dibilang itu adalah tugas." Komandan menegaskan.
"Lalu dimana kita akan menginap sekarang?"
"Markas kita tentu saja."
"Markas ya? kalau tidak salah itu ada di distrik Bricray."
****************
Ketika mereka berdua sampai disana wajah mereka sangat gelap melihat markas mereka. Bukan hanya mereka berdua saja tapi seluruh pasukan juga sama kecuali Vienna yang masih mempertahankan senyumannya.
"Komandan. Ini markas kita?" Ferdinand bertanya dengan ragu.
"Iya." Dijawab dengan jelas.
"Ini seperti rumah hantu." Vienna menjawab.
"Pertama ayo masuk."
Mereka turun ke tanah tepat di depan gerbang yang bertuliskan 'milik negara, dilarang dimasuki.' ini membuat Ferdinand berkomentar sinis.
"Apanya milik negara? Kenapa ini tidak dijaga sama sekali bahkan dinding luarnya banyak sekali coretan."
"Kau tahu?" komandan berusaha menjelaskan. "Ketika tuan memilih ini sebagai markas kita, aku diberi pilihan, yang pertama adalah tuan sendiri yang akan sepenuhnya menangani renovasi atau kita sendiri yang menangani renovasi dan tuan Hanya memberikan modal. aku memilih yang terakhir."
"kenapa?"
"Bukankah enak jika kita membangun rencana pembangunan markas kita sendiri secara bersama-sama."
"Anda ini selalu mementingkan kebersamaan."
"Tentu saja." dia menjawab itu sambil berusaha membuka gerbang dengan kunci yang dia pegang.
Tapi hanya dengan menyentuh gemboknya sedikit, gerbang itu langsung ambruk.
"haah." Ferdinand hanya bisa menghela nafas karena ini.
"Pokoknya ayo masuk dulu."
Dalamnya tidak lebih baik dari yang luar, bahkan lebih buruk. Coretan di dinding manapun, sampah berserakan, beberapa gedung sudah mau rubuh.
"Seperti hotel gratis." Vienna berkomentar di samping Ferdinand.
"Benar." Ferdinand melihat ke bawah hanya untuk disuguhkan oleh banyaknya bekas alat kontrasepsi yang berserakan.
"Kenapa bisa begitu banyak?"
"Menurut tuan." komandan menjelaskan. "Dikarenakan tidak adanya penjaga, tempat ini sering digunakan untuk tawuran, pelecehan sexual, **** bebas, pembunuhan, dan lain sebagainya. Karena itulah, demi mencegahnya terus berlangsung, tempat ini harus dimanfaatkan, dan kitalah yang dipilih untuk memanfaatkannya."
"Petama ayo kita bersihkan beberapa tempat yang bisa digunakan untuk tidur, jika tidak cukup maka hanya bisa mendirikan tenda."
"Ayo makan dulu sebelum itu." Vienna menyarankan.
Tapi sebelum mereka bisa melakukan itu. seorang bawahan menghadap mereka.
"Lapor komandan. Ditemukan 5 mayat yang termutilasi."
"oh, ya ampun."
" ha ha ha."
"Pimpin menuju mayat itu."
"Siap."
Dengan begitu mereka dipimpin menuju lokasi, lokasi kejadian itu terjadi di dalam sebuah bangunan. Pemandangan disana sangat mengerikan, membuat orang awam akan langsung muntah karena jijik. Di sana ada 5 mayat yang tercerai berai yang sudah dikerumuni oleh anggota ordo yang penasaran, tapi meskipun begitu mereka tidak terlalu dekat demi lancarnya investasi.
"Ini jelas bukan karena sengaja dimutilasi." Ferdinand langsung melihat kebenaran. "Mereka terlihat seperti terkena tembakan shotgun tingkat tinggi."
"Seperti shotgun milik Lucy." komandan menambahkan.
"Benar, tapi semoga saja bukan dia, aku sudah lelah berurusan dengan dia." Bagi Ferdinand berurusan dengan Lucy itu sangat menghabiskan energi jiwa.
"Tapi kelihatannya tidak seperti itu wakil komandan." Vienna berjongkok mengambil sesuatu dari lantai dan memperlihatkannya pada Ferdinand "Kau ingat proyektil ini?"
"Ugh" melihat itu wajah Ferdinand langsung gelap dan menunjukkan rasa keengganan.
"Proyektil macam apa itu." Komandan melihat dari dekat. "Mamang negara kita memproduksi proyektil yang memiliki warna putih?"
"Tentu saja tidak, lagipula tidak ada yang tahu bagaimana mensintesis logam hingga berwarna putih. Tapi, orang seperti itu memang ada." dia melihat Ferdinand sebelum melanjutkan. "benarkan, wakil komandan?"
"Benar ada satu orang, dan orang itu adalah orang yang paling tidak ingin aku temui sekarang."
"Lucy?" Komandan bisa langsung menebak.
"Benar." Ferdinand menyalakan rokok sebelum melanjutkan. "Entah saat dia menggunakan senapan mesin atau shotgun, semua proyektil yang digunakan memiliki warna putih."
"Apa yang dia gunakan untuk membuat logam seperti itu."
"Jangan tanyakan aku yang pengguna pedang. Tanyakan saja pembuat senjata."
"Tapi kenapa dia melakukannya." Entah kenapa Vienna memiliki senyum yang cerah.
Ferdinand berjalan lebih dekat, untuk investigasi. poin yang berhasil ditemukan adalah pakaian wanita yang compang-camping.
"Tentu saja karena dia berusaha melanggar kehormatan seorang wanita dan karena 5 orang ini ingin menghalanginya dia membunuhnya." setelah itu Ferdinand menghisap rokok dan menghembuskan asapnya
pakai nama aja Thor
saudaraku mohon ini yg sering baca novel saya gk enak baca pakai pihak pertama
Salam Permata Elemen.
🔥SEMANGAT TERUS THOR NGETIKNYA👏👏👏🔥
'setelah meminumnya' yang bener thor