Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Jantung di Balik Dinding Batu
Kastil Blackiron, yang biasanya hening seperti makam raksasa, kini memiliki detak jantung baru.
Bukan detak jantung yang berirama lembut, melainkan serangkaian suara gaduh yang bergema melalui koridor-koridor batu: denting palu yang menghantam logam, gesekan gergaji memotong kayu, dan teriakan para pekerja yang saling memberi instruksi.
Debu mengepul di udara, partikel-partikel kuno yang telah tidur selama satu dekade kini dibangunkan secara paksa.
Elara berdiri di tengah Aula Besar, mengenakan gaun kerja sederhana berwarna abu-abu yang ia pinjam dari lemari pakaian lama mendiang ibu Kaelen—gaun sutranya terlalu berharga untuk dikorbankan di tengah debu konstruksi ini. Rambutnya diikat tinggi, menampakkan leher jenjangnya yang kini berkeringat meski udara masih dingin.
Di tangannya, ia memegang gulungan denah pipa kastil. Di hadapannya, tiga orang tukang batu senior mendengarkan dengan wajah skeptis namun patuh.
"Bagian ini," Elara menunjuk titik di denah dengan jari telunjuknya yang kotor oleh arang. "Pipa uap di bawah lantai sayap barat tersumbat total oleh kerak mineral. Jangan hanya menambalnya. Bongkar lempengan batunya, bersihkan pipanya dengan larutan cuka dan asam, lalu pasang kembali. Jika kalian hanya menambal, tekanan uapnya akan meledakkan lantai dalam dua minggu."
Kepala tukang, seorang pria kekar bernama Brom, menggaruk janggutnya yang penuh serbuk batu. Ia menatap Elara, lalu menatap denah itu, lalu kembali menatap Elara.
Awalnya, ketika Duchess muda ini memberi perintah, Brom dan anak buahnya tertawa di belakang punggungnya. Apa yang diketahui putri manja dari ibu kota tentang pipa uap kuno? pikir mereka.
Namun, setelah dua hari bekerja di bawah pengawasannya, tawa itu lenyap. Elara tahu persis di mana letak katup pengaman. Ia tahu cara menghitung tekanan. Ia bahkan tahu campuran semen yang tepat untuk menahan suhu ekstrem utara.
"Itu pekerjaan besar, Nyonya," gumam Brom. "Butuh waktu dua hari ekstra. Dan kami butuh lebih banyak tenaga."
"Ambil tenaga dari para pelayan kandang yang sedang tidak bertugas," jawab Elara cepat. "Saya sudah bicara dengan kepala kandang kuda. Mereka bisa membantu mengangkat batu. Dan untuk upah lembur..." Elara memberi jeda sejenak , menatap mata Brom tajam. "...kalian akan dibayar dengan koin emas dari hasil penjualan kulit, bukan surat hutang."
Mata Brom berbinar. Di masa perang, koin emas adalah barang langka. Kaelen biasanya membayar dengan surat jatah gandum atau janji pembayaran pasca-perang.
"Baik, Nyonya!" seru Brom penuh semangat. "Hei! Kalian dengar Nyonya! Bongkar lantai barat! Sekarang!"
Para pekerja bubar dengan semangat baru. Suara palu kembali berdentang, kali ini dengan tempo yang lebih cepat dan bertenaga.
Elara menghela napas panjang, menggulung kembali denahnya. Punggungnya terasa pegal. Ia belum duduk sejak pagi. Namun, rasa lelah itu tertutup oleh kepuasan yang aneh. Ia sedang membangun sesuatu. Ia sedang memperbaiki rumah yang rusak ini, satu pipa dalam satu waktu.
"Nyonya," suara Silas terdengar dari arah pintu utama yang terbuka lebar. "Master Gremio telah tiba. Pedagang dari Selatan yang Nyonya panggil."
Elara menegakkan punggungnya. Ini adalah ujian sebenarnya. Perbaikan pipa hanyalah masalah teknis. Menghadapi pedagang licik adalah masalah mental.
"Bawa dia ke ruang penerimaan tamu di sayap timur, Silas," perintah Elara. "Dan pastikan teh yang disajikan adalah teh kualitas kedua, bukan yang terbaik. Jangan biarkan dia berpikir kita sedang menjamu raja."
Silas tersenyum tipis, kilatan geli terlihat di matanya. "Siap, Nyonya."
Master Gremio adalah pria bertubuh pendek dan gemuk, mengenakan jubah beludru merah mencolok yang terlalu mewah untuk perjalanan ke utara. Jari-jarinya dipenuhi cincin batu akik besar, dan wajahnya berminyak dengan senyum yang terlalu lebar.
Ketika Elara memasuki ruangan, Gremio bangkit dari kursinya, membungkuk berlebihan hingga topinya yang berbulu menyapu lantai.
"Ah, Yang Mulia Duchess Draxos!" suaranya melengking dan manis seperti sirup basi. "Sebuah kehormatan! Sungguh, kecantikan Anda mencerahkan tanah tandus ini. Saya mendengar Baron Vane memiliki putri yang jelita, tapi rumor itu tidak sebanding dengan aslinya."
Elara tidak tersenyum. Ia berjalan menuju kursi utama di ujung meja, duduk dengan anggun, dan membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik untuk membuat Gremio gelisah.
"Simpan pujian Anda untuk istri Anda, Master Gremio," kata Elara datar. "Saya mengundang Anda ke sini untuk bisnis, bukan untuk mendengarkan puisi buruk."
Senyum Gremio goyah sedikit, tapi ia cepat-cepat memulihkannya. "Tentu, tentu. Bisnis. Saya dengar Anda memiliki... ah, sisa kulit hewan buruan yang ingin dibersihkan dari gudang? Saya datang untuk membantu membuangnya. Tentu saja, karena kondisinya sudah lama, harganya tidak akan..."
"Seratus lembar kulit serigala musim dingin," potong Elara, meletakkan daftar inventaris di atas meja. "Lima puluh kulit beruang hitam. Dan dua puluh kulit rubah perak utara."
Mata Gremio melebar sedikit mendengar 'rubah perak'. Itu barang langka.
"Ah, jumlah yang lumayan," Gremio mengusap dagunya, berpura-pura berpikir. "Tapi Nyonya, kulit yang disimpan di gudang lembap selama tiga tahun... kualitasnya pasti menurun. Bulunya rontok, kulitnya kaku. Saya hanya bisa menawarkan... katakanlah, 500 koin perak untuk semuanya. Itu sudah harga teman, demi menghormati Duke Kaelen."
Silas, yang berdiri di sudut ruangan, mengerutkan kening. 500 perak adalah penghinaan. Itu bahkan tidak cukup untuk membeli gandum selama sebulan.
Elara tidak marah. Ia justru tertawa pelan. Tawa yang dingin dan kering.
"Lima ratus perak?" ulang Elara. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan, membiarkan Gremio menunggu. "Master Gremio, apakah Anda pikir karena saya wanita, saya tidak tahu matematika? Atau apakah Anda pikir karena saya dari ibu kota, saya tidak tahu bedanya kulit tikus dan kulit rubah?"
Gremio tampak tersinggung. "Nyonya, pasar sedang lesu! Perang membuat jalur dagang sulit dan..."
"Silas," panggil Elara tanpa menoleh. "Bawakan contoh nomor 4."
Silas maju, meletakkan selembar kulit rubah perak di atas meja. Kulit itu berkilauan di bawah cahaya matahari, bulunya tebal, halus, dan berwarna perak kebiruan yang sempurna. Tidak ada tanda-tanda kerusakan. Elara telah memilih sendiri kulit-kulit terbaik dan memerintahkan pelayan menjemurnya seharian kemarin.
Gremio menelan ludah. Tangannya gatal ingin menyentuh barang mewah itu.
"Gudang kami dingin dan kering, Master Gremio," kata Elara, suaranya tajam. "Suhu beku mengawetkan bulu dengan sempurna. Ini adalah kualitas Prime Northern. Di ibu kota, satu lembar kulit rubah ini bisa dibuat menjadi syal untuk istri Menteri Keuangan seharga 200 koin emas."
Elara condong ke depan. "Saya tidak minta harga eceran ibu kota. Tapi saya tidak akan menerima harga sampah. 2000 koin emas untuk seluruh lot. Atau Anda bisa pulang sekarang, dan saya akan menjualnya ke pedagang dari House Blackwood minggu depan."