Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Uang SPP
Seketika Emi terdiam, matanya nampak membulat dengan sempurna. Baru kali ini ia mendengar ibunya berkata kasar kepadanya. Tidak lama, dan karena merasa kesal, Emi pun melangkah pergi dari sana dengan setengah berlari menuju kamarnya dan membanting pintu itu dengan kuat setelah ia masuk ke dalamnya.
Bu Hesti yang melihat itu, sejenak terdiam. Ia merasa bersalah karena telah berkata kasar kepada anaknya. itu karena dirinya sering merasa kelelahan bekerja nyambi mengurus anaknya yang masih kecil. Apalagi setelah kepergian Aisyah, tidak ada yang membantu pekerjaannya. Emi juga bekerja setelah pulang sekolah untuk membungkus kue, namun karena ekonomi keluarganya meningkat sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan yang hanya memiliki pendapat 20 ribu perhari. Apalagi harus membayar biaya SPP sekolah, itu tentu tidak akan cukup.
Emi membenamkan wajahnya di balik bantal, menangis dengan sensegukan disana. Namun, tiba-tiba tangisnya terhenti seketika, suara dering handphonenya telah mengagetkannya.
Di ambilnya benda pipih kesayangannya itu di atas meja, sebuah nama Kakakku Sayang telah menelponnya, yang tidak lain adalah Aisyah.
Emi mengangkat telepon itu, lalu suara lembut kakaknya terdengar dari seberang sana.
"Hallo Emi. Kamu lagi apa? Dimana Ibu?" tanya Aisyah.
"Hik, kakak.."
Aisyah mengerut keningnya, lalu mulai bertanya, "Emi! Kau menangis? Ada apa?" tanya Aisyah khawatir.
Emi terlihat menarik nafas dalam-dalam, "Aku gak bisa bayar SPP sekolah kak. Tadi aku minta sama ibu, tapi ibu marah dan bilang aku minta sama ayah aja" Ungkap Emi yang masih sensegukan.
Aisyah menghela nafas panjang setelah mendengar cerita adiknya dari balik telepon.
"Menjadi orang tua tunggal itu sangat tidak mudah Emi. Mungkin Ibu hanya lelah, keadaan begitu mendesaknya sehingga membuat emosinya meluap dan melontarkan segala kekesalan. Tidak ada yang mengerti dirinya. ia berjuang sendirian menjaga, menyekolahkan, menafkahi anak-anaknya. Namun, keadaan selalu tidak berpihak kepadanya. Siapa yang akan mengerti perasaannya kalau bukan kita? Sakit dan penderitaan ia telan begitu saja, itu hanya demi anak-anaknya.
Membanting tulang sendirian, hingga tidak perduli akan panas dan hujan menerpa. Jangan melihat sisi luarnya, tapi lihat perjuangannya," Ucap Aisyah menasehati. Emi terdiam dan merasa bersalah kepada Ibunya karena telah berpikir ibunya tidak menyayangi dirinya.
"Kamu harus bersabar! Nanti akan kakak transfer uang SPP mu ya. Kebetulan kakak kuliah disini bisa sambilan bekerja. Itu sebabnya kakak menelpon dan ingin mengirim uang hasil kerja kakak untuk Ibu" Lanjut Aisyah lagi.
"Iya kak! Emi mengerti. Terimakasih kak" Ucap Emi, yang masih dengan nada bicara yang lemah.
"Kakak transfer ke Pak Rangga ya! Nanti Pak Rangga akan mengantarkannya ke rumah. Bilang sama Ibu, kalau Pak Rangga sebentar lagi mau ke rumah kita" Ujar Aisyah lagi.
"Iya kak"
"Ya sudah. Kamu sekolah yang rajin ya! Kakak akan selalu ada untuk mu. Jangan sedih lagi, sekarang hampiri ibu dan minta maaf sama dia." Perintah Aisyah lagi.
"Baik kak" Emi hanya menurut, ia mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang.
Setelah itu, Aisyah mengakhiri teleponnya. Emi pun kembali ke dapur untuk menghampiri ibunya.
"Bu!" Seru Emi.
Ibunya menoleh ke sumber suara. Setelah melihat Emi berada di dekatnya, ia segera berdiri, lalu berbicara dengan wajah bersalah, "Emi, I-ibu minta maaf" Ucap ibunya.
"Emi yang seharusnya minta maaf Bu. Emi tidak melihat pekerjaan ibu yang banyak, Emi telah membuat beban untuk hidup Ibu, Emi yang tidak mengerti beban yang Ibu rasakan. Emi minta maaf," Balas Emi dengan wajah tertunduk.
.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏