Bagaimana perasaan mu, ketika kau di jual oleh keluarga mu demi beberapa lembar uang?. Bahkan ketika kau tak memiliki siapapun, selain mereka. Sakit bukan?
Itulah yang di alami Rachel, gadis yang dari kecil di adopsi oleh keluarga Darwin dari panti asuhan.
Mereka membesarkan gadis itu di bawah tekanan, dan berbagai macam penderitaan. Yang ada dalam benak mereka, hanyalah kebahagiaan Carene. Gadis yang lahir tak lama setelah Rachel di adopsi.
Keluarga Darwin bahkan tega menjual anak angkatnya itu kepada keluarga Kim James. Demi menutupi skandal yang dibuat oleh Carene dan putra tunggal Kim James.
Di keluarga Kim, Rachel mengalami berbagai macam siksaan dan penderitaan. Bahkan gadis itu hampir meregang nyawa di tangan Ayud Jonathan, laki-laki yang telah menghamili Carene.
Akan kah pada akhirnya Rachel berhasil menemukan kebahagiaan nya?
Atau dia memilih menyerah dan selamanya menjadi orang yang kalah?
Novel ini menceritakan tentang perjuangan berat yang harus dilalui oleh Rachel untuk menemukan kebahagiaan nya.
Beberapa adegan di dalamnya, sukses membuat hati tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duri manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPK BAB XXIII - Kehilangan -
Seorang laki-laki muda tampak duduk sambil memegang kepala nya. Dari raut wajahnya terlihat dengan jelas, laki-laki itu sedang mengalami masalah yang berat.
Seorang laki-laki paruh baya berdiri di sampingnya, dengan tatapan kuatir yang tak bisa di sembunyikan. Sesekali laki-laki paruh baya itu melirik ke arah koridor, berharap orang yang mereka tunggu segera tiba.
Mereka adalah Ayud Jonathan dan Manager Huang. Sudah hampir 3 jam, sejak kakek Liam masuk ruang operasi dan selama itu pula Kim dan Anna tak kunjung hadir.
Laki-laki itu menekan dengan frustasi nomor Rachel, gadis yang sudah pergi meninggalkan nya tanpa kabar berita. Namun, lagi dan lagi ia tersambung ke mail box pesan.
Tak lama kemudian, Dokter Hatta datang. Wajahnya terlihat tegang. Ayud segera menghampiri sang dokter. Firasat nya tak enak,
"Bagaimana keadaan pak Liam Dok?. Apa operasi nya berjalan dengan baik?".
Dokter Hatta menepuk pundak Ayud, laki-laki itu mendesah pelan.
"Kami sudah berusaha semaksimal nya tuan. Untuk saat ini, kita patut bersyukur. Pak Liam telah berhasil melewati masa kritis nya. Namun saya sangat berharap, jangan dulu membebani beliau dengan masalah-masalah yang berat".
Ayud menatap Dokter Hatta,
"Boleh saya bertemu pak Liam sekarang Dok. Saya ingin melihat keadaan nya".
Dokter Hatta mengangguk,
"Iya, silahkan tuan. Saya permisi dulu".
Ayud mengangguk dan bergegas menemui kakek Liam di susul Manager Huang. Tak lama berselang, terlihat seorang laki-laki tua terbaring lemas di ranjang nya. Begitu melihat kehadiran sang cucu, kakek Liam tersenyum.
Laki-laki tua itu tampak berusaha berbicara. Ayud membantu nya untuk memperbaiki posisi berbaring nya menjadi setengah duduk. Sehingga, ia bisa berbicara dengan leluasa.
Kakek Liam tampak mengenakan masker oksigen untuk membantu nya bernafas dengan baik. Ayud duduk di sampingnya dan memegang tangan sang kakek,
"Bagaimana perasaan kakek sekarang?. Apa masih ada yang sakit?. Kakek jangan banyak bergerak dulu ya, tubuh kakek masih sangat lemah".
Kakek Liam tersenyum di balik masker nya,
"Ay, kakek ini sudah tua. Kapan-kapan saja bisa pergi. Itu sudah ketentuan sang pencipta, tak ada yang bisa menghalanginya. Kakek bersyukur, masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan mu.
Kakek Liam diam sejenak, ia menatap lembut cucu satu-satunya itu.
Maafkan perlakuan kakek padamu terakhir kita bertemu ya Ay. Kakek merasa begitu kehilangan semenjak istrimu itu meninggalkan kita. Tapi itu memang bukan kesalahan mu Ay, bukan pula kesalahan gadis itu".
Laki-laki tua itu tampak kesulitan bernafas dan kembali diam sejenak,
"Ay, sebenarnya kakek merasa sangat sedih. Seandainya Rachel ada disini sekarang, kakek akan meminta maaf dengan cara yang benar. Keluarga kita telah banyak melukai perasaannya".
kakek Liam menangis, Ayud segera menenangkan laki-laki tua yang tampak lemah itu,
"Kakek jangan terlalu banyak pikiran, itu pesan Dokter Hatta. Saya janji saya akan memperbaiki hubungan saya dengan Rachel kek, oleh sebab itu kakek harus janji pada saya kalau kakek akan segera sembuh".
Kakek Liam menarik nafas lalu menatap langit-langit rumah sakit. Mata nya berkaca-kaca,
"Ay, maafkan kakek ya, mungkin kakek tak bisa menjanjikan hal itu padamu. Kondisi tubuh kakek rasanya sangat lemah, kakek benar-benar merasa capek dengan pisau operasi,jarum suntik, dan bau obat".
Pria tua itu terdengar terisak sedih,
"Sebelum terjadi sesuatu kepada kakek, kakek mau menyerahkan surat kuasa ini padamu. Kakek tahu Ay, kamu sangat menginginkan posisi ini".
Kakek Liam, memanggil dengan lirih bawahannya yang dari tadi berdiri di sampingnya. Laki-laki itu menyerahkan map berwarna merah kepada kakek Liam.
"Ambillah surat kuasa ini Ay, sekarang kamu resmi menggantikan kakek memimpin Liam's Group. Perlakukan semua karyawan dengan baik dan jangan menahan upah mereka".
Ayud menatap kakek nya dengan pandangan sendu,
"Kek, tolong jangan bicara seperti ini. Kakek harus sembuh, kakek harus melihat saya bahagia dulu. Saya belum bisa membuat kakek bahagia sepanjang hidup kakek".
Kakek Liam tersenyum dan menyerahkan map di tangan nya kepada Ayud. Laki-laki muda itu menerima dengan gemetar map berwarna merah tersebut, sambil menahan tangis.
"Kek, bukan ini yang saya inginkan. Selama ini saya banyak menghabiskan waktu dengan bermain-main. Rasanya, saya benar-benar tak layak menerima tanggung jawab sebesar ini. Saya belum mampu kek".
Laki-laki muda itu mulai menangis sambil terisak, di genggam nya tangan sang kakek.
"Sekarang, yang terpenting bagi saya itu adalah kesembuhan kakek. Berikan saya kesempatan untuk membahagiakan kakek. Saya janji saya akan berusaha memperbaiki semua nya".
Kakek Liam menepuk punggung tangan cucu nya itu untuk menghibur nya,
Ay, kamu adalah cucu kakek satu-satunya. Kamu lah satu-satunya harapan kakek untuk meneruskan kejayaan Liam's Group. Kamu lah satu-satunya orang yang bisa kakek andal kan untuk melakukan semua ini nak".
Laki-laki tua itu menyeka air matanya dengan tangan agak sedikit gemetar,
"Meskipun kakek tak sempat menimang anak mu yang lucu Ay, tapi kakek merasa sangat bahagia melihat mu tumbuh dengan baik. Sayangi wanita mu dengan tulus ya nak, jangan bersandiwara lagi".
Ayud segera memeluk tubuh tua itu dan menangis dengan sangat di sana. Kakek Liam melepaskan pelukan mereka dan menatap mata cucu satu-satunya itu,
"Nak, kakek mohon padamu bawa kembali Rachel ya. Gadis itu tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Semua orang yang dekat dengannya telah pergi meninggalkan nya, termasuk ibu yang dulu telah melahirkannya".
Ayud mengangguk dan membantu kakek Liam untuk berbaring. Belum sempat Ayud duduk dengan sempurna, tiba-tiba kakek Liam mengalami kejang-kejang, nafas nya naik turun tak karuan.
Ayud dengan panik nya membentak semua pekerja di rumah sakit itu untuk segera menolong kakek Liam. Ia memaksa pekerja di Rumah sakit itu untuk memberikan obat terbaik kepada sang kakek. Namun, takdir berkata lain.
Siang itu, kakek Liam, pemilik Liam's Group telah meninggal dunia di pangkuan cucu kesayangan nya. Tanpa di saksikan oleh kedua anak kandung dan menantu nya, Anna dan Kim.
Ayud menjerit histeris dan Manager Huang dengan sigap menenangkan nya. Tak lama kemudian, Kim dan Anna datang dengan mimik wajah tanpa salah. Anna terkejut melihat tubuh ayahnya di tutup dengan kain putih.
"Ayah? Ayah. Tidak ayah. Bangun, ayah".
Ia menghambur ke atas tubuh sang ayah yang telah terbaring kaku. Ayud melayangkan tinju nya dengan telak ke wajah ayahnya Kim. Laki-laki paruh baya itu jatuh terlentang sambil memegang pipinya.
"Apa-apaan ini?. Berani sekali kau, anak kurang ajar".
Kim membentak Ayud sambil berusaha berdiri. Namun, lagi-lagi Ayud menghadiahinya pukulan keras yang tepat mengenai wajahnya untuk kedua kalinya
"Anak macam apa kalian?. Kemana kalian saat kakek membutuhkan kehadiran kalian?. Kalian bahkan tega membiarkannya berjuang melawan maut sendirian. Kalian benar-benar tak punya hati dan perasaan".
Ayud memukul-mukul tembok rumah sakit dengan kuat. Laki-laki itu menghentak kan kepalanya di sana. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis.
"Aku malu memiliki orang tua seperti kalian. Aku malu mengakui kalian sebagai bagian dari keluarga Liam. Disaat terakhir nya pun, kalian masih sibuk dengan harta s*alan itu. Aku benar-benar benci pada kalian".
Anna segera berlari ke arah Ayud dan menampar pipi laki-laki itu,
"Semakin kurang ajar ya, kamu sekarang?. Siapa yang mengajari mu kurang ajar begini pada orang tua?. Dasar anak tak bisa di andalkan".
Laki-laki itu tak bergeming, ia menatap Anna dengan geram.
"Tampar aku sepuas hatimu Ma. Tapi, mulai detik ini aku sudah benar-benar kehilangan rasa hormat kepada kalian berdua. Setelah kakek Liam di makam kan, tolong jangan pernah muncul lagi dalam hidupku".
Ayud menyeka air matanya dengan kasar dan menjatuhkan dirinya ke kursi,
"Liam's Group sekarang resmi aku pimpin sendiri, tentu saja tanpa kalian di dalamnya. Kalau kalian merasa kurang puas dengan keputusan ku, silahkan berurusan dengan Manager Huang dan pengacara ku"
Ayud memegang map pemberian mendiang kakek nya,
"Selembar kertas ini memberi aku kuasa melakukan semua yang ku inginkan. Tak ada kalian di dalamnya sedikit pun. Aku kuat secara hukum dan tak ada yang bisa mengusik ku".
Ayud meninggalkan kedua suami istri itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Meski Anna memanggil-manggil namanya sambil memaki. Apa yang terjadi hari ini benar-benar telah mengubah segalanya, terutama Ayud.
Dua hari kemudian, kakek Liam sukses di makam kan berdekatan dengan almarhum istrinya.
Kim dan Anna di berikan selembar cek oleh Ayud, Angka yang tertera disana sukses membuat mata keduanya membulat. Mereka meninggalkan Seoul dengan membawa uang dalam jumlah yang sangat besar itu dengan perasaan gembira.
❤️❤️❤️❤️
Tersenyum lah karena senyuman mu itu manis😘
Salam penuh cinta dari Author, Duri Manis 😊😊🥲