Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Kabar Bohong
Kemarin Malam...
Apa yang di katakan Laila ternyata benar. Beberapa hari ini, Safira merasakan ada yang aneh di perutnya.
Di area bawah pusar terasa lebih keras dari biasanya. Disamping itu, sudah dua bulan ini tamu bulanannya tidak datang.
Sebenarnya, bulan kemarin Safira sudah curiga, karena tamu bulannya tidak datang. Namun ia abaikan. Gara-gara repot dengan segala macam pekerjaan. Belum lagi ia dan sang suami diberi tugas yang cukup menguras waktu dan emosi.
Tetapi tidak untuk malam ini, Safira sungguh merasa aneh dan semakin aneh.
Bagaimana tidak? Area perut bagian bawah agak keras. Safira takut jika ada tumor atau penyakit yang ia takuti.
Akhirnya, diam-diam ia pun pergi ke dokter seorang diri. Sengaja tidak mengajak sang suami. Sebab ia takut, kalau apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Safira takut jika di dalam perutnya ada penyakit serius yang mematikan.
Safira masih belum berpikir bahwa dirinya hamil. Mengingat ia pernah keguguran. Kata dokter yang menanganinya dulu, mungkin Safira akan sulit untuk hamil lagi. Itu sebabnya ia sangat bersemangat ketika bertemu baby Naya.
Namun, sesampainya di rumah sakit, Safira malah jadi bahan tertawaan antara sang dokter dan perawat yang membantunya.
"Kenapa dokter malah tertawa? Apakah yang saya takutkan benar, Dok?" tanya Safira takut.
"Tidak, Bu. Semua aman. Saya akan merekomendasikan anda ke dokter kandungan. Nanti suster akan membantu Anda menemui beliau. Semoga apa yang saya pikirkan adalah kabar gembira untuk anda dan suami," ucap sang dokter.
"Tunggu, Dokter! kabar gembira untuk saya dan suami? Maksud Dokter?" Safira menatap penuh tanya pada dokter yang menanganinya.
"Nggak ada maksud apa-apa, cuma saya curiga, saat ini anda sedang hamil. Jadi bukan penyakit seperti yang anda takutkan," jawab Sang Dokter, ikut antusias.
Safira tertegun. Menelan salivanya. Tak tahu harus berucap apa. Sebab ia bahagia, bahkan kelewat bahagia.
"Dokter serius, dokter lagi nggak ngeprank saya 'kan? Dokter yakin? Saya nggak ada penyakit yang mengerikan?" cecar Safira takut.
"Insya Allah, nggak, Bu. Itu sebabnya saya merekomendasikan ibu untuk bertemu dengan dokter kandungan di rumah sakit ini. Nanti suster saya yang akan mengantar anda ke sana," jawab Sang dokter yakin.
Tak ada hal yang membahagiakan seperti malam ini. Safira berkali-kali berucap syukur dalam tangis bahagianya.
Lalu, tak menunggu waktu lagi, ia pun segera pergi ke tempat di mana dokter kandungan yang telah di rekomendasikan oleh dokter syang memeriksanya tadi.
Tiga puluh menit menungu, akhirnya giliran Safira diperiksa.
Sebelum itu Safira menceritakan pada dang dokter perihal kecelakaan yang mengakibatkan ia kehilangan calon bayinya. Bukan hanya membicarakan perihal itu, Safira juga menceritakan pada sang dokter bahwa dia telah di vonis akan susah memiliki keturunan. Dan Vonis itu telah melekat di dalam pikirannya.
Itu sebabnya dia enggan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Takut mengecewakan.
"Jangan takut, Bu. Vonis dokter hanyalah perkiraan. Namun jangan lupa kalo kita punya Tuhan yang maha segala-galanya," ucap Sang Dokter mencoba menenangkan Safira dan membangkitkan lagi semangat wanita cantik ini.
"Iya dokter, saya percaya," jawab Safira.
Lalu tak menunggu waktu lagi, sang dokter pun memberikan Safira sebuah testpack, dan meminta wanita itu untuk mengetes kecurigaan dua dokter yang telah memeriksanya.
Sepupu menit berlalu, akirnya Safira menemukan dua garis merah di dalam testpack tersebut.
Safira tersenyum senang. Bagaimana tidak? Hal yang paling ia nanti dalam hidupnya, kini telah menjadi kenyataan.
Dalam perjalanan pulang, Safira terus tersenyum dan mengelus perut yang masih terlihat rata itu. Tak henti-hentinya ia bersyukur. Ia berharap, kabar ini akan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya di tengah-tengah masalah yang saat ini telah menghampiri mereka karena ulah kakak kandungnya ini.
Bersambung...