Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Dua Alam dan Sumpah Penjaga Sangker
Kilau berlian tunggal di atas lingkar emas putih itu tampak berkilau indah, menangkap sisa-sisa cahaya senja yang menembus celah pepohonan di tepi Hutan Sangker. Anisa menatap jari manisnya dengan mata yang berkaca-kaca, merasakan desir kehangatan yang menjalar dari benda mati tersebut ke dalam lubuk hatinya. Zenix Dirgantara masih mempertahankan senyuman tipisnya, menatap lekat gadis di depannya dengan perasaan lega yang teramat sangat. Ikatan batin yang selama ini hanya terapung di atas selembar kertas, kini telah menemukan jangkarnya yang nyata.
Namun, tepat saat keheningan malam mulai merayap turun dan kabut putih Hutan Sangker perlahan bergulung mendekati halaman gubuk, suasana di teras bambu itu mendadak berubah secara drastis. Udara sejuk pedesaan seketika menjadi sangat sunyi, bahkan suara jangkrik dan kodok sawah yang tadinya bersahut-sahutan mendadak senyap, seolah memberi jalan bagi sesuatu yang agung untuk lewat.
Wuuusss...
Hembusan angin yang lembut namun membawa aroma harum bunga melati dan kayu cendana murni berembun di sekeliling mereka. Dari dalam kabit putih yang menebal di sudut halaman, muncul dua gumpalan cahaya putih yang berpendar terang. Cahaya itu perlahan-lahan memadat, membentuk siluet dua sosok pria yang mengenakan pakaian serba putih jubah panjang melambai.
Sosok pertama adalah seorang pria tua berjanggut putih panjang yang memancarkan aura kebijaksanaan seorang tabib besar dialah Sang Kakek. Sementara sosok kedua, yang berdiri tegak di sampingnya, adalah seorang pria paruh baya berwajah tegas namun memiliki sorot mata yang sangat teduh, yang gurat wajahnya sangat mirip dengan Anisa dialah Sang Ayah.
Kedua roh suci penjaga Anisa itu melayang pelan, menapakkan kaki spiritual mereka di atas tanah halaman. Menyaksikan jari manis anak dan cucu perempuan mereka kini telah terikat oleh cincin emas putih dari seorang pemuda kota, gurat kebahagiaan yang sangat murni terpancar dari wajah gaib mereka. Mereka tersenyum lebar, mengangguk serasi. Melalui mata batin spiritual mereka yang mampu menembus ruang dan waktu, mereka tahu betul bahwa Zenix Dirgantara adalah pria sejati yang telah mengalami proses pembersihan jiwa seorang pria yang sanggup pasang badan untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakan Anisa di masa depan.
Anisa, yang sejak kecil memang dianugerahi kemampuan mata batin untuk melihat dimensi lain, seketika menoleh ke arah halaman. Matanya berbinar cerah, dan senyumannya kian merekah lebar melihat kehadiran dua sosok yang sangat ia rindukan tersebut.
"Kakek... Ayah..." bisik Anisa dengan suara yang bergetar penuh kerinduan. Ia setengah bangkit dari duduknya, menatap kedua roh putih itu dengan pandangan penuh rasa hormat. "Terima kasih sudah hadir di hari bahagia Anisa. Mas Zenix baru saja menyematkan cincin ini, Yah, Kek."
Sementara itu, di samping Anisa, Zenix Dirgantara mendadak merasa seperti orang kikuk. Pemuda jangkung yang biasanya selalu tampil percaya diri, berwibawa, dan mengintimidasi di depan siapa pun di kota besar, kini hanya bisa duduk mematung dengan tubuh yang kaku. Pandangan mata tajamnya menyapu ke arah halaman yang ditunjuk Anisa, namun indra penglihatan manusianya yang terbatas logika hanya mampu menangkap gumpalan kabut putih tebal yang berputar-putar samar tanpa rupa.
Jujur saja, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa penasaran yang amat sangat membuncah di dada Zenix. Ia tahu dari cerita masa lalu bahwa kakek dan ayah Anisa adalah sosok-sosok hebat yang jiwanya kini menjadi pelindung gaib tempat ini. Zenix sangat ingin mengetahui rupa, wajah, dan perawakan dari dua pria luar biasa yang telah mendidik dan melahirkan gadis suci sekira Anisa.
Melihat ekspresi wajah Dylan yang kebingungan, kikuk, dan pandangannya yang kosong beralih ke sana kemari, Anisa menoleh sambil tersenyum lembut, memahami apa yang sedang bergolak di dalam pikiran kekasihnya.
"Mas Zenix ingin melihat Kakek dan Ayah?" tanya Anisa dengan nada suara yang meneduhkan.
Zenix menoleh, menatap Anisa lalu mengangguk pelan tanpa ragu. "Iya, Anisa. Jika diperbolehkan, aku sangat ingin memberi hormat dan melihat wajah mereka secara langsung."
Anisa mengangguk santun. Ia menggeser posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah Zenix. "Kalau begitu, Mas Zenix tolong pejamkan mata Mas sekarang. Tenangkan pikiran, hilangkan semua logika kota, dan pasrahkan hati Mas kepada Allah," tuntun Anisa lembut.
Zenix menuruti perintah tersebut. Ia perlahan memejamkan kedua kelopak matanya, membiarkan kegelapan menguasai pandangannya. Di saat yang sama, Anisa mengulurkan kedua tangan mungilnya, memegang erat punggung tangan kanan Zenix yang mengenakan cincin perak. Sentuhan tangan Anisa terasa begitu hangat dan mengalirkan sejenis gelombang energi murni yang tenang, seolah membuka sumbatan spiritual di dalam pelipis dan cakra mata ketiga milik Zenix.
"Sekarang, buka mata Mas secara perlahan," bisik Anisa di dekat telinganya.
Zenix menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kedua kelopak matanya dengan sangat perlahan. Detik itu juga, napas Zenix seolah tercekat di tenggorokan. Pandangannya tidak lagi buram atau tertutup kabut. Tepat di tengah halaman pondok, sekitar tiga meter di depannya, wujud gumpalan cahaya itu telah berubah menjadi sangat jelas dan nyata.
Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok Sang Kakek yang berwajah teduh dengan janggut putihnya yang bersih, serta Sang Ayah yang memiliki pembawaan gagah laksana seorang ksatria pelindung pedesaan. Aura yang dipancarkan oleh kedua roh itu begitu berwibawa hingga membuat bulu kuduk Zenix meremang, bukan karena rasa takut yang mengerikan, melainkan karena rasa hormat yang teramat sangat terhadap eksistensi suci di depannya.
Zenix segera memajukan tubuhnya, menundukkan kepalanya dengan sangat dalam di atas bale-bale bambu, menunjukkan tata krama terbaik yang pernah ia pelajari dalam hidupnya.
"Perkenalkan... nama saya Zenix Dirgantara, Kek, Paman," ujar Zenix dengan suara beratnya yang bergetar penuh penjiwaan dan ketegasan. "Saya adalah pria dari kota yang telah jatuh hati pada kesucian dan kebaikan Anisa. Hari ini, di hadapan gubuk ini dan di bawah kesaksian alam, saya dengan segala kerendahan hati ingin memperkenalkan diri sekaligus memohon restu yang tulus dari Kakek dan Paman atas hubungan serius saya dengan Anisa. Saya berjanji akan memantaskan diri untuk menjaganya."
Kedua roh putih itu menatap Zenix yang sedang menunduk hormat. Sang Kakek perlahan melangkah maju, membelai udara di depan wajah Zenix seolah memberikan sentuhan berkah spiritual yang membuat dada Zenix mendadak terasa sangat adem dan lapang.
Kemudian, Sang Ayah membuka suaranya. Suara roh tersebut tidak terdengar melalui lubang telinga fisik Dylan, melainkan menggema langsung di dalam rongga dada dan pikiran paling dalam milik Zenix sebuah suara yang berat, berwibawa, namun mengandung ancaman mutlak yang tak terbantahkan.
"Zenix Dirgantara... kami telah melihat ketulusan hatimu, dan kami tahu proses perjuanganmu untuk berubah di kota sana. Kami merestui niat sucimu untuk meminang putri dan cucu kami, Anisa," ucap Sang Ayah, membuat secercah rasa lega muncul di wajah Zenix.
Namun, sedetik kemudian, sorot mata teduh Sang Ayah mendadak berubah menjadi sangat tajam, sewarna dengan kilat perak yang membelah kegelapan Hutan Sangker. Aura di sekeliling pondok mendadak menurun drastis menjadi sangat dingin membekukan.
"Namun, ingatlah baik-baik janji dan sumpah penjaga tempat ini, anak muda," lanjut Sang Ayah dengan nada penuh penekanan yang menggetarkan jiwa Dylan. "Anisa adalah permata suci yang kami tinggalkan di dunia ini. Jangan pernah sekali-kali kamu berniat buruk, mengkhianati, atau menyakiti hatinya. Jika suatu hari nanti, karena kesalahan atau kesengajaanmu, ada setetes saja air mata kesedihan Anisa yang runtuh karena kamu sakiti... maka tidak akan ada ampunan bagimu."
Sosok Sang Kakek ikut menatap Zenix dengan pandangan memperingatkan. "Jika itu terjadi, kami sendiri, bersama seluruh kekuatan gaib Hutan Sangker, yang akan menyeret tubuh dan jiwamu dari kota. Kami akan membuatmu terlempar ke kedalaman inti Hutan Sangker, membusuk di sana, dan menjadi budak abadi di bawah kaki makhluk-makhluk kegelapan untuk selamanya tanpa pernah bisa melihat matahari lagi. Pegang sumpah ini di dalam darahmu, Zenix Dirgantara."
Ancaman gaib yang luar biasa nyata itu membuat Zenix meneguk ludahnya dengan berat. Ia tahu betul, mahluk-mahluk bermata merah yang menghancurkan empat orang preman sewaan Jennie semalam adalah bukti nyata bahwa sumpah itu bukan sekadar gertakan kosong. Namun, karena Zenix masuk dengan cinta yang murni dan tidak pernah sedikit pun berniat untuk menyakiti Anisa, ia justru menatap balik mata kedua roh itu dengan pandangan yang sangat berani dan mantap.
"Saya terima sumpah dan syarat itu, Kek, Paman. Demi Allah, saya tidak akan pernah membiarkan setetes pun air mata kesedihan mengalir di pipi Anisa karena perbuatan saya," jawab Zenix lantang dan pasti.
Mendengar jawaban tegas dari Zenix, kedua roh putih itu tersenyum puas kembali. Perlahan-lahan, wujud padat mereka mulai mengabur, mencair kembali menjadi gumpalan cahaya putih yang halus, hingga akhirnya lenyap tak berbekas menyatu dengan embun senja Hutan Sangker. Di saat yang sama, Anisa melepaskan genggaman tangannya, dan pandangan mata batin Zenix kembali normal hanya melihat halaman gubuk yang kini kembali diterangi oleh cahaya temaram lampu minyak petromak yang mulai dinyalakan.
Hanya berselang beberapa menit setelah hilangnya kedua roh pelindung tersebut, suasana kesunyian di sekitar pondok mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang berat dan helaan napas yang memburu dari arah jalan setapak depan halaman.
"Aduh... gila, capek banget! Betis ku rasanya mau copot!" Keluh sebuah suara cempreng yang sangat dikenal.
Silvia berjalan terhuyung-huyung masuk ke dalam halaman, diikuti oleh Jovanka yang baju kausnya sudah basah oleh keringat, serta Sasti yang berjalan sembari mengipasi wajahnya menggunakan selembar daun pisang kering. Ketiga orang kota itu tampak sangat kelelahan akibat terlalu bersemangat berjalan-jalan mengitari area persawahan dan perbukitan pinggir desa yang medannya naik-turun menanjak.
"Lu sih, Silvi... katanya mau lihat pancuran air, tapi malah ngajakin jalan muter sampai ke dekat perbatasan pohon besar sana. Kan jauh banget," gerutu Jovanka sambil mendudukkan bokongnya dengan kasar di atas tanah rerumputan halaman, menjulurkan kedua kakinya yang pegal.
Sasti langsung naik ke atas teras bale-bale, ikut duduk di dekat Zenix dengan napas yang masih terengah-engah. "Asli, Zen... pemandangan desanya emang juara banget, tapi udara sorenya mulai bikin merinding, ditambah jalan kakinya lumayan menguras tenaga buat ukuran kita yang biasa naik eskalator."
Melihat kedatangan ketiga tamu yang tampak sangat kelelahan dan kehausan tersebut, Anisa seketika bangkit berdiri dari duduknya dengan senyuman penuh empati yang tulus. Rasa cemas di wajahnya berganti menjadi sikap ramah seorang tuan rumah yang baik.
"Astagfirullah... kalian pasti kelelahan sekali ya setelah keliling desa," ujar Anisa dengan nada suara yang lembut meneduhkan. "Tunggu sebentar ya, mbak Sasti, mas Jovan, dan adek.....
"panggil saja namaku Silvi kak, aku adik kandungnya bang Zenix" ucapnya memperkenalkan namanaya pada anisa.
"oh iya Dek Silvi, nama yang sangat cantik, secantik orangnya kalau begitu aku ambilkan minuman dulu ya untuk kalian."
Anisa bergegas berjalan masuk ke dalam ruang tengah pondok bambunya. Dengan gerakan yang cekatan dan penuh ketelatenan, gadis itu menuangkan air putih bersih yang telah direbus matang dari kendi tanah liat tradisional ke dalam tiga buah gelas kaca besar. Air dari kendi tanah liat desa memiliki keunikan tersendiri suhunya selalu terjaga sangat dingin alami dan memiliki rasa segar yang murni, sangat cocok untuk meredakan dahaga orang yang kelelahan.
Tak lama kemudian, Anisa kembali keluar ke teras dengan membawa sebuah nampan kayu berisi tiga gelas air putih tersebut. Ia membagikannya satu per satu dengan sikap santun yang luar biasa.
"Silakan diminum dulu air putihnya untuk menghilangkan rasa lelahnya," tutur Anisa lembut, menyodorkan gelas pertama kepada Silvi.
Silvi yang kerongkongannya sudah terasa sangat kering langsung menyambar gelas tersebut. "Wah, terima kasih banyak, Kak Anisa cantik!" Pekik Silvi, langsung meneguk air putih itu hingga tandas dalam beberapa tegukan besar. "Ahhh... segar banget! Ini airnya kok bisa se dingin ini padahal enggak pakai es batu ya, Kak?" tanya Silvi dengan mata bulatnya yang berbinar takjub.
"Itu karena disimpan di dalam kendi tanah liat, Dek Silvi. Alami dari alam," jawab Anisa sembari terkekeh kecil, memberikan gelas berikutnya kepada Jovanka dan Sasti yang juga langsung meminumnya dengan lahap hingga tersenyum lega.
Sembari meneguk air minumnya, pandangan mata jeli Sasti mendadak menangkap sesuatu yang berbeda pada tangan kanan Anisa yang sedang memegang nampan kayu. Sasti menurunkan gelasnya, matanya menyipit fokus tertuju pada jari manis Anisa yang kini dihiasi oleh sebuah cincin emas putih murni bermata berlian tunggal yang sangat berkilau indah di bawah temaram lampu petromak.
Sasti seketika tersedak air minumnya sendiri, lalu melirik ke arah Zenix yang duduk santai di sampingnya dengan wajah datar tanpa dosa. Kesadaran mendadak menghantam otak Sasti, memicu sebuah senyuman menggoda yang lebar di wajahnya. Langkah awal dari sebuah takdir besar rupanya baru saja resmi terukir di teras sunyi ini sewaktu mereka pergi tadi.