NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target Berisiko Tinggi dan Jurnal Pembalik Takdir

Bunyi ketukan keyboard mekanikal di meja Dika terdengar ritmis, mirip suara detak jam dinding tua di dalam rumah kosong. Clack. Clack. Clack. Setiap kali jari telunjuk Dika menekan tombol Enter, seberkas pendar biru keperakan berpindah dari monitor lengkung raksasa itu, merayap lewat kabel, lalu terserap masuk ke dalam urat-urat nadi di pergelangan tangannya.

Lina masih terduduk di lantai karpet kantor yang berdebu. Dunianya rasanya baru saja diguncang gempa berkekuatan delapan skala Richter, tapi anehnya, orang-orang di kubikal lain tetap mengetik dengan wajah lempeng. Pak Bambang di ujung ruangan bahkan masih asyik menyeruput kopi hitamnya sambil memandangi dokumen perpajakan yang membosankan.

Sistem The Seven Actuaries benar-benar gila. Mereka tidak menyembunyikan diri di dalam gua gelap atau lereng gunung berkabut kemenyan. Mereka beroperasi tepat di bawah hidung masyarakat modern, menyamar sebagai investor kakap, meminjam wajah birokrasi, dan menggunakan struktur korporasi untuk memeras sari pati kehidupan manusia.

"Dik... beneran, berhenti, Dik," Lina merangkak bangun, bertumpu pada pinggiran meja kerja Dika. Suaranya bergetar menahan tangis yang mulai menyumbat tenggorokan. "Lu nggak liat nama-nama di layar itu? Itu nama anak-anak Panti Hendra, Dik. Ada nama Doni, ada nama Tiara... mereka masih kecil, Dik. Kalau lu terus-terusan neken tombol itu, lu sama aja kayak ngebunuh mereka pelan-pelan lewat potongan umur."

Dika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Dia menoleh lambat-lambat ke arah Lina. Sepasang matanya yang cokelat kini tertutup lapisan selaput tipis berwarna keperakan. Tatapannya kosong, datar, dan benar-benar kehilangan binar jenaka khas cowok kosan yang biasanya hobi ngutang rokok sebatang.

"Lina," suara Dika terdengar berat, dengan intonasi yang terlalu tertata rapi, persis seperti rekaman suara operator layanan pelanggan bank swasta. "Secara matematis, tindakan ini adalah satu-satunya opsi dengan tingkat mitigasi risiko tertinggi. Jika saldo piutang tak tertagih ini tidak segera dicicil melalui alokasi energi makro dari subjek eksternal, maka sistem otomatis akan melakukan eksekusi jaminan pada tanggal jatuh tempo. Tiga puluh hari dari sekarang. Saya hanya sedang memperpanjang napas mereka."

"Tapi caranya bukan dengan numbalin karyawan magang dari perusahaan lain, Dika!" bentak Lina, frustrasi meluap sampai ke ubun-ubun. Dia mencengkeram kerah kemeja flanel Dika, mencoba mengguncang tubuh pemuda itu. "Mana Dika yang asli? Mana cowok tolol yang nangis-nangis gara-gara encoknya kambuh kemarin sore? Lu yang sekarang ini bukan manusia, Dik. Lu cuma kalkulator berjalan milik mereka!"

Dika tidak bergeming. Dia tidak marah, tidak juga merasa terganggu oleh cengkeraman tangan Lina. Keadaan emosinya benar-benar datar, berada di angka nol mutlak akibat manipulasi energi dari ID card biru tua yang mengalung di lehernya.

"Dika yang Anda maksud sedang berada dalam mode suspend demi efisiensi performa kerja," sahut Dika dingin, lalu dengan lembut namun bertenaga memindahkan tangan Lina dari kerah kemejanya. "Tugas berikutnya sudah masuk ke dalam antrean. Skala prioritas: Berisiko Tinggi."

Bzzzzt.

Layar monitor lengkung di depan Dika mendadak berkedip merah darah. Seluruh baris data tentang perusahaan semen dan tekstil yang tadi sedang dia kerjakan langsung tergeser ke bawah, digantikan oleh satu baris dokumen tunggal yang dikunci dengan simbol gembok emas berbentuk kepala naga tanpa mata—simbol yang sama dengan kotak kayu hitam milik Wijaya yang sudah hancur kemarin.

Nama subjek baru yang muncul di layar membuat Lina menahan napas: PT Lawu Nusantara Energy (Holding Tbk).

Di bawah nama perusahaan tersebut, tertera detail transaksi yang bikin bulu kuduk berdiri:

* Jenis Produk: Konsesi Keberuntungan Eksplorasi Tambang Batubara Geothermal.

* Nilai Likuiditas Gaib: 7.000.000 Soul Units per tahun.

* Agunan Utama: Kelestarian Ekosistem Lereng Gunung Lawu & Jatah Umur Kolektif Tiga Kabupaten di Sekitarnya.

* Status Dokumen: Overdue (Tunggakan Kuartal IV).

"Ini..." Lina membaca detail di layar dengan mata membelalak. "Ini kan perusahaan energi terbesar di Jawa Tengah. Pemiliknya... jangan-jangan..."

"Benar," Dika mulai mengetik kembali, namun kali ini gerakannya lebih lambat karena proteksi gaib dari dokumen tersebut menolak akses administrasinya. "PT Lawu Nusantara adalah aset utama milik tujuh dukun lereng Gunung Lawu yang mendirikan firma The Seven Actuaries. Mereka mengalami defisit energi spiritual masif setelah proyek Formasi Penyelaras Jiwa milik Wijaya dihancurkan kemarin sore. Terjadi kebocoran sistem akibat tindakan... tindakan sabotase internal."

Dika sempat terjeda sesaat ketika mengucapkan kata "sabotase internal". Bagian terdalam dari kesadaran manusianya seolah mencoba mendobrak keluar ketika mengingat bahwa dialah sang pelaku sabotase tersebut. Tapi dalam hitungan detik, pendar biru di matanya kembali menguat, menekan kembali ego manusianya ke dasar jurang kesadaran.

"Tugas saya hari ini adalah melakukan audit forensik terhadap tunggakan mereka," lanjut Dika, nadanya kembali datar. "Jika saya berhasil menyeimbangkan neraca mereka dengan cara memindahkan beban defisit ini ke akun lain... maka utang Panti Hendra akan dianggap lunas sepenuhnya oleh firma. Ini adalah skema tukar guling aset."

"Tukar guling ke akun mana, Dik?" tanya Lina, firasatnya mendadak memburuk.

Dika mengarahkan kursor monitornya ke kolom kosong di sebelah kanan. "Ke akun sekunder yang memiliki tingkat ketahanan spiritual tinggi namun belum dioptimalkan. Akun atas nama: Lina Amanda."

Lina mundur dua langkah, menatap Dika dengan pandangan tidak percaya. Namanya sendiri. Sistem itu ingin menggunakan dirinya sebagai wadah penampung defisit energi hitam dari tujuh dukun Gunung Lawu sebagai bayaran untuk membebaskan panti asuhan. Ini bukan sekadar audit; ini adalah eksekusi hukuman mati yang dikemas dalam bentuk mutasi jabatan.

"Jangan lakukan itu, Dika... Tolong," bisik Lina, punggungnya menabrak sekat kubikal.

Di saat Dika bersiap menekan tombol Enter untuk mengeksekusi pemindahan aset terlarang tersebut, tangan Lina yang berada di dalam saku blazernya mendadak menyentuh sesuatu yang tajam. Patahan pulpen butut dua ribu rupiah yang dia pungut dari sisa abu Dika di basemen kemarin sore.

Anehnya, patahan pulpen plastik yang murah itu tiba-tiba terasa sangat panas. Begitu panas sampai membuat kulit telapak tangan Lina melepuh tipis. Tapi bersamaan dengan rasa sakit itu, sebuah aliran informasi spiritual yang sangat murni mendadak menyengat otak Lina. Itu adalah sisa-sisa kesadaran dari Akuntan Langit kuno yang sengaja ditinggalkan di dalam pulpen tersebut sebelum dia meleburkan diri.

Sebuah teknik rahasia yang tidak ada di dalam buku panduan The Seven Actuaries. Sebuah fungsi koreksi akuntansi purba yang dinamakan: Jurnal Pembalik Takdir.

Dalam akuntansi, jika ada kesalahan input data yang disengaja oleh pihak manajemen demi manipulasi keuntungan, maka seorang akuntan sejati tidak boleh menghapusnya. Dia harus membuat satu jurnal baru yang arah transaksinya berbalik total untuk menihilkan efek manipulasi tersebut.

Lina memejamkan mata, membiarkan rasa panas dari pulpen itu menuntun gerakannya. Keberaniannya yang semula runtuh kini kembali berkobar. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak bisa mengalahkan birokrasi gaib ini dengan kekuatan fisik atau mantra dukun; dia harus mengalahkan mereka dengan menggunakan aturan main mereka sendiri.

"Dika," Lina melangkah maju dengan cepat, memotong jarak di antara mereka.

Sebelum Dika sempat bereaksi, Lina menghantamkan patahan pulpen butut yang membara itu tepat ke atas tombol Spacebar di keyboard mekanikal milik Dika, bersamaan dengan tangan kirinya yang menyambar ID card biru tua di leher pemuda itu.

Cesssss!

Suara erangan gaib terdengar nyaring ketika tinta hitam yang tersisa di dalam pulpen butut itu meleleh, menetes di atas celah-celah keyboard dan mendadak bergerak sendiri membentuk guratan aksara kuno berkedip emas—bukan biru keperakan. Itu adalah tanda tangan digital dari Sang Penjaga Buku Besar Karma yang asli.

Layar monitor lengkung raksasa itu langsung mengalami distorsi parah. Grafik neraca yang semula rapi mendadak berputar terbalik. Angka-angka di kolom PT Lawu Nusantara Energy yang semula berwarna merah tua, mendadak berubah menjadi hijau terang, namun arah alirannya berbalik 180 derajat. Instead of memindahkan beban utang ke nama Lina, Jurnal Pembalik Takdir itu menarik paksa seluruh sisa aset kejayaan, kekayaan, dan umur dari tujuh dukun Gunung Lawu, lalu menyuntikkannya langsung ke dalam saldo Panti Asuhan Hendra hingga angkanya melesat melampaui batas maksimal.

"Apa... yang kamu... lakukan...?" Dika mengerang, tubuhnya kejang-kejang di atas kursi kerjanya. Pendar biru di matanya berkedip tidak stabil, beradu dengan pendar emas yang mendadak meletup kembali dari dalam dadanya akibat hantaman energi pulpen butut tersebut.

"Gue cuma lagi ngoreksi kesalahan input data lu, Dik!" teriak Lina, menahan sekuat tenaga gempuran angin gaib yang berembus kencang dari dalam monitor, mengacak-acak seluruh kertas dokumen di ruangan kantor.

Di dalam layar, sebuah notifikasi sistem raksasa muncul dengan latar belakang warna emas menyala:

"KOREKSI JURNAL DISETUJUI. PT LAWU NUSANTARA ENERGY: BANGKRUT TOTAL AKIBAT GAGAL BAYAR REPUTASI. SALDO PANTI HENDRA: SURPLUS ABADI (TERPROTEKSI HUKUM ALAM)."

Di saat yang sama, di luar jendela kaca kantor cabang Tomang, nun jauh di lereng Gunung Lawu yang berjarak ratusan kilometer, terdengar suara gemuruh petir yang menggelegar di siang bolong—menandakan bahwa tujuh dukun tua yang duduk di dewan komisaris gaib baru saja kehilangan seluruh kultivasi dan kejayaan bisnis mereka dalam satu petikan jari seorang akuntan magang.

Brak!

Monitor lengkung di meja Dika meledak, mengeluarkan kepulan asap putih beraroma kopi sasetan dan melati. Seluruh lampu di kantor padam total. Keheningan kembali menyergap ruangan.

Dika ambruk ke depan, kepalanya mendarat di atas meja kerja yang kini berantakan oleh sisa abu tinta pulpen. Tali ID card biru tua di lehernya telah hancur menjadi serpihan plastik tak berguna.

Lina terengah-engah, tubuhnya lemas hingga dia terpaksa bersandar pada kubikal kerja. Dia menatap Dika dengan cemas. "Dik... Lu hidup kan, Dik?"

Perlahan, sosok di atas meja itu bergerak. Dika mengangkat kepalanya, memegangi punggung bawahnya dengan ekspresi wajah yang amat sangat menderita. Sepasang matanya kini benar-benar normal—cokelat sayu, kelelahan, dan penuh dengan penderitaan manusia biasa.

"Aduh... Lin..." Dika meringis, suaranya kembali cempreng dua oktaf seperti biasa. "Gila... punggung gue rasanya kayak habis dipakai gotong semen tiga roda se-kecamatan. Koyo cabai gue mana ya, Lin? Tolong ambilin di tas..."

Lina tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung tertawa keras di tengah ruangan kantor yang gelap, air matanya menetes saking leganya. Dika-nya yang bodoh dan encokan akhirnya benar-benar kembali.

Namun, kegembiraan mereka tidak bertahan lama. Dari arah pintu kaca depan kantor yang otomatis terkunci karena mati lampu, terdengar suara ketukan yang pelan namun sangat ritmis.

Tok. Tok. Tok.

Bukan suara sepatu hak tinggi Arini. Melainkan suara ketukan sebatang tongkat kayu berujung besi yang biasa digunakan oleh orang tua yang buta. Dan dari balik kaca film yang gelap, samar-samar terlihat siluet tujuh orang tua berjubah hitam yang sedang berdiri berbaris, menunggu pintu itu terbuka dengan aura balas dendam yang pekat.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!