Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Tetaplah di sisiku
Gilwang tidak menyangka Amira benar-benar akan pergi.
"Amira....," teriak Gilwang sembari berlari mengejar Amira.
Tanpa menengok kebelakang Amira terus saja melanjutkan langkahnya.
Gilwang tidak ingin Amira pergi.
"Amira! Tunggu!"
"Amira kamu jangan pergi."
Mendengar ucapan Gilwang yang mencegahnya pergi Amira menghentikan langkahnya. Amira tepaku masih dengan tangis harunya, yang sebenarnya di dalam hatinya paling dalam dia tak ingin pergi meninggalkan Gilwang orang yang begitu dicintainya.
Tak merasa direspon Gilwang mendekati Amira yang berdiri membelakanginya.
Gilwang memeluk Amira dari belakang dan menegaskan pada Amira untuk tidak pergi darinya. Dengan berderai air mata, sungguh Gilwang tidak ingin Amira pergi.
"Kamu tidak boleh pergi Amira, tetaplah disini disisiku. Aku sungguh tidak ingin kamu meninggalkanku," ucap Gilwang sembari mempererat pelukannya.
Tangis haru Amira terhenti. Amira tidak menyangka Gilwang benar-benar mencegahnya pergi.
Amira melepas pelukan Gilwang dan membalikkan badannya menghadap ke Gilwang.
"Benarkah kamu tidak ingin aku pergi?" Tanya Amira sembari menatap Gilwang yang masih dengan tangisnya.
"Iya Amira. Aku tidak ingin kamu pergi tetaplah di sisiku. Aku ingin kamu tetap menjadi istriku," ucap Gilwang dengan mata serius.
"Benarkah Gilwang?"
Senyum sumringah Amira tunjukkan, mewakili rasa bahagianya. Gilwang pun ikut tersenyum meyakinkan Amira dan memeluknya lagi lebih erat.
Amira sungguh sangat senang dan bahagia tidak jadi pergi meninggalkan Gilwang. Dan Gilwang juga tidak ingin di tinggalkannya.
Suasana haru bahagia kini meliputi mereka berdua.
Mereka berpelukan sangat lama, seperti orang yang tengah melepas rasa rindu yang sudah lama terpendam didalam hati.
"Aku sungguh merindukanmu Amira. Kamu orang yang selalu aku rindukan selama ini. Kamu anak kecil uang dulu sudah menolongku dari rasa ketakutan. Dan aku baru menyadari saat mendapat pelukanmu lagi yang sangat menenangkan hatiku," ucap Gilwang yag masih memeluk Amira.
"Jadi, waktu itu kamu yang menangis hanya karena melihat sedikit darah di lutut temanmu?" tanya Amira melepas pelukannya dan menatap Gilwang.
"Iya itu aku," tegas Gilwang.
Amira tertawa kecil tak menyangka kalau itu adalah Gilwang orang yang sudah di jodohkanya sejak kecil.
"Jadi kita sebenarnya sudah saling mengenal sejak kecil, tapi kenapa aku lupa. Itulah sebabnya hatiku tidak bisa dibohongi. Kamulah laki-laki pertama yang membuat jantungku berdebar dan merasakan cinta yang hebat yang tak pernah aku rasakan pada laki-laki lain," ucap Amira.
"Aku ini sungguh bodoh, tidak menyadari kehadiranmu yang sudah aku rindukan selama ini."
"Kamu tau Amira, aku selalu mengharap kehadiranmu kala aku ketakutan dalam segala hal. Aku berharap kamu datang dan memelukku, menenangkan hatiku."
"Benarkah?" Amira menatap serius ke wajah Gilwang.
"Iya," ucap Gilwang dan kembali memeluk Amira dengan erat.
"Aku sungguh minta maaf padamu Amira. Selama ini aku telah menyakiti hatimu. Mataku ini buta tidak melihat berlian yang berkilau indah. Maafkan aku."
Gilwang melepaskan pelukan Amira. Dia duduk berlutut dihadapan Amira meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah menyakiyi hatinya selama menjadi suaminya.
"Bangun Gilwang. Bsngunlah! Jangan seperti itu."
Amira bersusah payah membangunkan Gilwang.
"Aku memaafkanmu. Aku tau kamu adalah jodoh yang baik untuk yang di pilih orang tuaku. Karena itulah aku bertahan."
"Aku bahagia sudah menjadi istrimu. Istri dari orang yang bisa membuatku jatuh cinta," ucap Amira dengan sungguh-sungguh.
Gilwang memegang erat kedua tangan Amira. Mereka berdua saling menatap.
"Terima kasih Amira kamu benar-benar istri yang baik untukku. Mulai detik ini aku akan mencintaimu, menyayangimu dan menjagamu. Aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi."
"I love you," ucap Gilwang.
"I love you too," ucap Amira.
Mereka kembali saling berpelukan dalam suasana haru bahagia.
"kriiiing..."
"Kriiiiing...."
Dering suara hand phone Gilwang membuyarkan pelukan mereka. Anita yang sedang menelfon Gilwang saat ini.
Gilwang menggeser tombol merah tidak mau mengangkat telfon dari Anita. Gilwang ingin menuntaskan rasa bahagianya dengan Amira.
Anita sungguh mengamuk di rumah sakit. Setelah berteriak kesakitan yang membuat Ayah dan Ibunya bingung bukan kepalang merasakan anaknya yang nggak mau bersabar merengek seperti anak kecil.
Sekarang Anita kembali berteriak kesal karena telfonnya nggak di angkat sama Gilwang.
Dengan posisi duduk kepala di perban kaki juga di perban Anita Amarahnya membuncah.
"Gilwang...., kenapa kamu nggak angkat telfonku."
Teriakan Anita bikin ngiung-ngiung di telinga ibunya.
"Anita! Ini di rumah sakit, kenapa kamu selalu berteriak. Malu dengan pasien yang lain, dikira kamu orang gila lo," tutur Ibunya Anita.
"Ini Bu, Mas Gilwang nggak ngangkat telfonku. Kemana dia? Katanya hanya ingin cari makan di luar kenapa lama banget nggak kembali kesini?"
"Mungkin dia pulang, karena Ibu lihat bajunya kotor kena darahmu?" Ucap Neni.
"Pulang!"
"Jadi Gilwang sekarang di rumah bersama Amira."
Anita teringat saat di villa, Amira telah mengoda Gilwang dengan mengurai rambutnya. Anita mulai curiga, dia khawatir Gilwang.
"Mereka sekarang berduaan saja di rumah. Jangan-jangan Amira menggoda Gilwang dan Gilwang jatuh ke pelukannya. Kalau itu terjadi hancur sidah posisiku. Tidak, itu tidak boleh terjadi," gumam Anita.
"Aku harus pulang dan memastikannya."
Anita tidak sadar kalau dirinya tengah sakit. Anita mencopot saluran infusnya yang menempel di punggung tangannya dan mulai turun dari ranjangnya.
Anita mulai berdiri dari duduknya dan di rasakan sakit yang hebat di kakinya hingga tubuhnya ambruk.
"Aduh sakit sekali," ringis Anita kesakitan.
Neni yang ada di kamar mandi mendengar suara tangisan Anita buru-buru keluar. Sungguh sangat terkejut Neni melihat Anita yang meringkuk kesakitan di lantai.
"Anita! Kamu ngapain sampai jatuh kebawah gini?" Neni mendekati putrinya yang menangis kesakitan dan membawaya kembali ke atas ranjang.
"Aku mau pulang Bu!"
"Bodoh sekali kamu, sudah tau masih sakit malah ingin pulang. Tu lihat kakimu malah berdarah."
"Kamu tu bukannya mau sembuh malah memperparah sakitmu." Neni memarahi Anita.
"Mas Gilwang Bu, panggil Mas Gilwang ke sini," regek Anita.
"Gilwang juga lama banget, pulang kok ngggak balik-balik. Sudah tau istrinya lagi kesakitan juga!" Omel Neni.
Neni mencoba menghubungi Gilwang.
Saat tau yang menelfon Ibunya Aita Gilwak sedikit panik.
"Jangan-jangan terjadi apa-apa sama Anita?" Gumamnya yang sedang duduk santai bercengkerama bersama Amira.
" Hallo! Ada apa Bu?"
"Gilwang cepat kamu kesini, Anita baru saja terjatuh dari ranjangnya. Dia kembali meringis kesakitan," ucap ibu mertuanya dari telefon.
"Anita terjatuh!" seru Gilwang.
Amira tercenang mendengar ucapan Gilwang.
"Oke aku akan kesana," ucap Gilwang.
Gilwang sedikit panik mendengar keadaan Anita. Dia pun pamit sama Amira akan pergi ke rumah sakit.
Amira mengizinkan Gilwang pergi degan lapang. Bagaimana pun juga Anita juga sama-sama istri Gilwang.
Amira tidak ikut ke rumah sakit, takut Anita malah kesal melihatnya.