NovelToon NovelToon
Perebut Suamiku

Perebut Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Selingkuh / Cerai / Janda / Tamat
Popularitas:3.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Meta.morfosa

Rubah itu melemparkan koperku ke halaman dengan arogan, "tinggalkan tempat ini secepatnya!!"

Ini adalah penghinaan paling hina yang pernah aku terima selama hidupku, namun aku juga tidak mempunyai kuasa untuk melawan.

"Memangnya siapa yang ingin tinggal di tempat seperti ini??" Ucapku dengan percaya diri. "Jika kamu menginginkan k*parat ini, ambil saja! Bos kaya raya baru suamiku."

"Cuih.. bos mana yang ingin memperistri wanita sepertimu??" Suara Rubah ini terdengar penuh ejekkan.

Aku sama sekali tidak mendengarkan ucapan provokatif dari si Rubah, sebagai gantinya aku justru tersenyum simpul saat melihat sebuah mobil Chevrolet Camaro tipe SS, bergaya sporty datang memasuki halaman dan berhenti tepat di depan kami semua, dan sesosok pria berumur sekitar empat puluh lima tahunan keluar dari dalam mobil.

"Himalaya, jika kamu sudah selesai, ayo kita pergi!!" Ucap pria itu seraya menggenggam tanganku.

Semua orang tertegun melihat sosok Zidan selaku ayah si rubah datang untuk menjemputku, aku mendekat ke arah rubah itu, "kamu merebut suamiku, maka ku rebut ayahmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta.morfosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PS chapter 23

➡➡➡

Kepergian seringkali tanpa isyarat, sekalipun dengan pamit, tidak ada yang benar benar siap atasnya.

Selalu ada hampa bersamanya, selalu ada sedih yang mengiringi, selalu ada rindu setelahnya.

Kemudian.. hari hari berikutnya adalah perjalanan tentang merelakan dan melupakan. Beberapanya dapat berganti dan beberapanya lagi selamanya tidak bisa mati. #raiiiny

➡➡➡

Keesokan harinya aku pergi mengunjungi Kirani. Aku membeli susu juga kebutuhan Kirani seperti biasanya.

Kirani sedang bernyanyi bersama Ibuku saat aku tiba. Karena Helena harus pergi ke sekolah sampai siang hari, maka Kirani bersama Ibuku sampai Helena pulang.

"Sayang, ayo kemari!!!" Ucapku merentangkan tangan agar Kirani memelukku.

"Mama..." teriakan nyaring Kirani menggema keras, bahkan mungkin terdengar sampai ke halaman, di sertai dengan pelukan manja Kirani yang sangat aku rindukan.

"Apa Kirani sangat merindukan Mama?" Tanyaku yang di jawab oleh Kirani dengan anggukan.

..VISUAL KIRANIA BLINDA..

"Kamu terlihat sangat menggemaskan hari ini." Ucapku seraya merapikan rambut Kirani yang sedikit berantakan, "apa yang sedang kamu lakukan dengan nenek?"

"Kirani dan nenek sedang bernyanyi, Ma. Suara nenek sangat bagus." Jawab Kirani dengan mengacungkan ibu jarinya untuk memuji suara neneknya.

"Tentu saja suara Nenek sangat bagus, apa Kirani merindukan Paman Haris?"

Kirani mengangguk.

"Apa Kirani ingin mengunjungi Paman Haris di Rumah Sakit??"

"Iya Ma, Kirani ingin bertemu Paman Haris."

"Baiklah, ayo kita bersiap siap. Kita akan naik sepeda motor, jadi.. pakai baju hangat dan pakai helmmu, hmm??"

"Siap Ma," ucap Kirani seraya berlari ke kamarnya untuk mencari baju hangat.

Aku hanya tersenyum melihat ini, kemudian aku mendekat dan duduk di samping Ibu yang dari tadi hanya menyimak obrolanku dan Kirani tanpa bersuara sedikitpun. "Apa Ayah belum pulang, Bu?" Tanyaku sambil bergelayut manja pada lengan Ibu.

"Ayahmu akan pulang terlambat hari ini," jawab Ibu sambil menepuk tanganku.

"Pasti itu sangat melelahkan," ucapku membayangkan betapa lelahnya Ayah saat harus mengajar anak anak jaman sekarang yang susah di atur. "Jika aku mempunyai banyak uang nantinya, mungkin aku akan meminta Ayah untuk berhenti dari pekerjaannya."

Ibu hanya tersenyum, "ini bukan tentang uang Sya, tapi ini tentang kepedulian. Apa kamu tahu alasan mengapa Ayahmu lebih memilih menjadi Dosen dari pada bekerja pada Perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi?"

Aku menggelengkan kepala, karena aku memang tidak tahu. Seumur hidupku bahkan aku tidak pernah menanyakan ini pada Ayah, ataupun mencoba untuk mencari tahu. Aku hanya berpikir, jika Ayah menjadi Dosen karena memang tidak ada pilihan lain.

"Karena Ayahmu ingin mengajarkan orang lain tentang ilmu yang sudah Ayah dapatkan selama ini. Ayah tidak ingin ilmunya hanya di miliki oleh dirinya sendiri, minimal Ayah ingin membaginya dengan orang lain."

Oh.. begitu? Jadi itu alasan Ayah yang sebenarnya? Pantas saja Ayah selalu memasukanku, Haris dan Helena di sekolah terbaik, meskipun itu adalah sekolah swasta dengan biaya yang super mahal.

"Mama, Kirani sudah siap, ayo.. kita berangkat!" Kirani berteriak seraya berlari dan merentangkan tangan agar aku memeluknya.

"Hap.." aku menangkap tubuh Kirani dan memeluknya erat, "Ayo.. pamit sama nenek dan kenakan helmmu!"

"Kirani berangkat dulu Nek." Ucap Kirani menjabat dan kemudian mencium punggung tangan Neneknya.

"Baiklah, hati hati!"

...

Aku dan Kirani tiba di Rumah sakit lima belas menit kemudian.

Kami berjalan melewati lorong rumah sakit dengan tangan yang terjalin satu sama lain. Aku dapat melihat raut gembira yang Kirani tunjukan karena dapat mengunjungi Haris.

Akhirnya kami tiba di depan ruang tempat Haris di rawat. Karena aku datang bersama Kirani, maka aku hanya bisa melihat Haris dari luar melalui kaca lebar, terlebih karena anak kecil tidak di izinkan untuk membesuk orang sakit di ICU.

Sejauh ini, Haris masih sama, masih setia dengan tidur panjangnya seperti telah nyaman dalam mimpinya hingga lupa bahwa dia masih memiliki keluarga yang selalu menunggu di dunianya yang sebenarnya.

"Apa Paman Haris akan bangun?" Pertanyaan Kirani menahan air mataku agar tidak jatuh.

"Tentu saja sayang, Paman pasti akan segera bangun." Ucapku menghibur Kirani, meski sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin, tapi aku tidak sampai hati untuk membuat Kirani sedih.

"Tapi kenapa Paman Haris tidak pernah membuka matanya sampai sekarang?" Pertanyaan Kirani seperti belati yang menusuk sampai aku mati rasa, hingga tanpa terasa bulir bening mulai mengalir dari kedua mataku tanpa bisa ku tahan lagi.

Aku bungkam, tidak bisa lagi untuk berkata kata, karena jawaban dari pertanyaan Kirani adalah.. aku juga tidak tahu.

Untuk kesekian kalinya, aku benar benar merasa bodoh. Aku ingin menjadi kuat untuk bisa melindungi keluargaku, agar semua orang yang ku sayang tidak pernah merasakan apa yang di sebut dengan perpisahan. Tapi nyatanya? Aku gagal melindungi mereka, aku bahkan tidak mampu dan tidak berkuasa.

"Kondisi Mas Haris masih sama Mbak." Suara Perawat Mitha cukup mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati Perawat Mitha sudah berada di sampingku, entah sejak kapan dia berdiri di sini, aku sama sekali tidak memperhatikan ini.

Meski sejujurnya aku menghela nafas lega dan bersyukur karena Perawat Mitha datang di waktu yang tepat dan telah menyelamatkanku dari pertanyaan Kirani yang tidak bisa ku jawab.

"Aku tahu." Jawabku singkat.

"Tapi setidaknya kondisi Mas Haris sangat baik, maksudku organnya. Berdasarkan pemeriksaan Dokter terakhir kali, mengatakan jika semua organ Mas Haris masih bekerja seperti biasanya dan tidak ada masalah sama sekali." Perawat Mitha menjelaskan tanpa aku harus bertanya.

Aku mengangguk. Aku tahu selama Organ Haris masih bekerja dengan normal dan tidak ada masalah, maka kemungkinan Haris untuk bangun adalah empat puluh persen. Setidaknya, selama organ Haris masih sehat dan tidak membusuk maka itu sudah cukup untuk saat ini.

"Jika Mbak Sasya ingin masuk, silahkan.. tinggalkan Kirani bersama saya di luar." Ucapan Perawat Mitha membuatku tersenyum.

"Terima kasih Suster," ucapku seraya membungkukan badan, kemudian aku menoleh ke arah Kirani, "Kirani.. jadilah anak yang baik dan tidak merepotkan Tante Mitha, okey?"

Kirani mengangguk.

Aku memakai pakaian protektif pembesuk agar bisa melihat Haris dari dekat, dan segera memasuki ruang ICU tanpa menunggu lagi. Suasana ICU sangat mencekam, hanya terdengar suara dari Ventilator yang memonitoring Haris selama dua puluh empat jam untuk memantau denyut nadi serta pernafasan Haris. Selang infus dan juga selang untuk mengeluarkan cairan dari tubuh Haris menambah suasana menjadi tidak biasa.

Aku mengamati wajah Haris lekat, semua luka luar Haris telah sembuh dan kembali seperti sedia kala. Tapi kenapa Haris masih tidak membuka matanya?

Aku takut Haris sudah merasa nyaman dalam mimpinya sampai tidak berniat untuk bangun kembali, aku takut tidak bisa melihat Haris lagi, dan aku takut Haris akan pergi jauh.

Aku membungkam mulutku agar tidak menangis, namun air mata s*alan ini terus saja menetes tanpa bisa ku bendung lagi. Aku lelah..

"Haris.. aku ingin kamu kembali hidup, dan kita akan berdiri di puncak dengan kehidupan baru keluarga kita. Aku berjanji."

1
Dewi Dama
wajah korea....
Dewi Dama
Luar biasa
Dewi Dama
Lumayan
Dewi Dama
murahan amat sihhh..br.kenal udah berani nyium laki..
Yuliana Rahmawati
Luar biasa
Anonim
Katany wanita pintar,tp kenapa sudah tau suami selingkuh tidak ada persiapan??disini dijelaskan kalau dia bs berpikir jalang yg akan menang bla bla bla tp knp tdk mempersiapkan diri utk kemungkian twrburuk??mlh terkesan membiarkan dan mendukung perselingkuhan.bru cri kerja stlh ad srt cerai.
Marlialeeya
masih belum mau cerita, masih abu-abu dan penuh tanda tanya atas kisah si Rubah dan Adnan 😵😌😏
Ernawati
lanjut..
Nur amna Azkiya
bagus
Novita Shamin
tidak buruk
fandha
maaf ya thor sekedar masukan itupun kalo mau.tlg dong dikondisikn ngomong nya..kog aku risih baca.."iblis kecil'..maaf bgt .caramel kn seorg manusia..jgn pula dibilang iblis kecil..dosa lho ngatain atau nyumpahi org dg kata2.. yg kurang enak didenger
fandha
cerita nya bagus..dan menyentuh
Windarti08
kok aku bacanya Rexona ya...🤭🤭 setelah ku ulang lagi, ternyata Roxana... galfok aku😅😅
Windarti08
udah dong... aku itu klo habis baca, di akhir bab auto klik LIKE lho👍
Windarti08
Adnan said, "aku masih sangat mencintaimu Ibu mertua..."
Windarti08
Zidan said, "cucuku anak mantan suami istriku"
Windarti08
aku juga nonton drakor ini pada waktu itu
Windarti08
Hasyekkk..... ini kalimat yang aku tunggu-tunggu😂😂😂
Windarti08
oh mau nanya dong Thor... knapa putrinya Zidan memakai nama belakang Silvia yaitu Megan bukan nama belakang Zidan?
Windarti08
ahh bentar lagi dong... tinggal 2 bab lagi kita akan berjumpa dengan si rubah betina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!