Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Pengobatan (1)
Ruang kelas praktik ramuan obat, dihadiri seratus murid pengobatan. Pagi itu, tampak lenggang. Jadwal pelajaran belum waktunya. Kebanyakan para murid mengobrol di teras kelas menghadap taman belakang Istana Perak. Sebagian murid berlalu lalang sepanjang koridor.
Seseorang mengisi waktu dengan duduk sembari membaca kitab.
Kayaning namanya. Duduk deretan bangku kanan paling depan. Dia selalu serius membaca kitab-kitab pengobatan pada saat-saat lenggang. Tak pernah lepas dari kitab-kitab yang dibawanya, ia selalu membaca setiap hari. Meskipun kadang-kadang ia bosan dan ingin mengobrol dengan seorang murid, atau bersenda gurau. Namun itu andai-andai terlalu muluk. Kenyataannya, hingga hari ini tak seorang pun mau mendekati dan berteman dengan Kayaning.
Akhirnya ia melangkah keluar kelas, menuju tepian balkon seperti beberapa murid lain di sana dan sedang asyik mengobrol seputar nilai-nilai mereka. Ketika Kayaning menghampiri kerumunan murid-murid itu, mereka langsung menghindar sambil memandang jijik.
Sebentar-sebentar mulai terdengar bisik-bisik dari murid-murid yang membicarakannya, menertawakan bahkan mengejek. Tawa dan cekikikan mengiringi gunjingan serupa dari berbagai kerumunan murid-murid di sana-sini.
Ada yang berkata, ”Jadi dia berhasil mengobati praja yang terluka itu! Murid tanpa kasta. Sepandai apapun, tetap saja budak!”
”Apa gunanya memiliki ilmu hebat, jika status rendahan!” sebuah suara renyah seorang murid yang nimbrung di bawah pilar.
”Sepandai apapun, tidak akan pernah semenarik gadis sepertiku,” tanggap seorang murid bernama Seruni disertai derai tawa kawan-kawan lainnya.
Kayaning menoleh pada mereka, semuanya mendadak bungkam dengan tawa tertahan berat. Kayaning pura-pura tak peduli walau tahu itu sangat mengejek dirinya.
”Lihat saja cara dia berjalan, sok bangsawan!” lanjut mereka, ”Padahal rendahan!”
Demikian seterusnya gunjingan serupa seakan tak berhenti. Sekali mereka terhanyut dalam bual menghina Kayaning, maka terus berlanjut selama mungkin.
Akhirnya Kayaning memilih kembali ke kelas. Namun di sepanjang selasar, lagi-lagi murid memandangnya penuh rasa aneh setiap kali bertatap muka. Siapapun membuang muka darinya. Sesekali ketika ia menoleh ke belakang, banyak murid bergerombol dan membicarakannya. Bahkan ada juga sekelompok dari mereka sengaja mengikuti Kayaning sambil terus mengejek terang-terangan. Mereka selalu dikenal sebagai murid-murid terpandai di kelas.
”Memalukan! Untung saja aku bukan bagian dari keluarganya!” terdengar seseorang murid berbicara cukup keras sampai-sampai semua mata tertuju ke sekelompok murid itu.
”Aneh. Kenapa dia diterima di sini," seorang dari sekawanan murid itu lagi-lagi menyindir.
”Pasti sangat tidak diinginkan kehadirannya di sini, andai saja bukan karena hadiah dari Paduka ... mungkin dia sudah dihukum mati, begitulah kata pamanku!” Seruni yang paling centil mengumbar kata. Meledak lagi tawa mereka bersamaan.
Cukup lama Kayaning mencoba untuk bersabar. Tetapi mereka semakin bicara tak karuan. Raut Kayaning berubah merah, tidak tahan lagi memendam amarah luar biasa. Langkahnya terhenti seketika, lalu berbalik dan mendekati sekawanan murid-murid centil sedang membicarakan dirinya.
Plak!
Satu tamparan cukup keras melayang ke pipi Seruni, si penebar ejekan. Semua murid tercengang, tak pernah disangka jika Kayaning berani menampar Seruni, murid terpopuler di kelas tabib dan bukan dari kalangan biasa.
Seruni melotot tajam dan memegangi pipinya yang memerah, terkejut sekali ia karena belum pernah ada yang seberani itu terhadapnya. Apalagi Kayaning yang telah melakukan itu.
”Kalian benar, aku bukan dari kasta terhormat dan terpandang. Hutan dan serigala habitatku. Aku terbiasa melawan serigala dengan tanganku sendiri, mau bertarung denganku satu lawan satu?!” tegas, tak gentar sedikitpun, Kayaning menantang Seruni da sekawanannya.
"Apa yang kau banggakan selain memiliki kerabat terpandang? Seharusnya kau malu!" lanjut Kayaning.
Tanpa seorang murid pun membalas, Kayaning lebih dulu menggertak dengan serentetan kalimat dan ekspresi marah besar, menarik seluruh perhatian murid yang berada di sekitarnya.
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲