Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Gadis Ca-bul
"Kenapa kamu tertawa terus?" tanya Tuan Asland dengan tampang juteknya.
Seketika pertanyaan itu membuatku tersadar dan menggeleng pelan.
"Ah ... Itu ... Tidak ada apa-apa, Tuan."
Tuan Asland yang tidak percaya menyipitkan mata. "Sejak tadi pagi kamu tertawa terus, ada apa?"
"Benar, tidak ada apa-apa kok, Tuan." Intonasiku sudah berubah normal sekarang untuk meyakinkan Tuan Asland. Namun, pria yang belum terpengaruh pada ucapanku itu terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan.
"Tadi pagi kamu membersihkan kamarku?"
"Ya Tuan. Semua ruangan kubersihkan."
"Apa ada yang aneh?"
"Ya."
"Apa itu?"
"Kain segiempat pengaman milik Tuan"
'Oh my gosh! Aku keceplosan bicara. Bagaimana ini? Matilah aku. Mungkin Tuan Asland akan marah jika aku mengetahui rahasianya. Seorang pengguna ****** ***** segiempat.'
"Kain segiempat pengaman? Kamu memeriksa barang-barangku!" Kerutan kesal membuat alis Tuan Asland hampir menyatu. Aku pun gelagapan jadinya.
"A-aku tidak sengaja menemukan benda itu, Tuan."
"Tidak mungkin benda itu ada di luar!"
"Ma-af Tuan. Aku tidak sengaja lihat laci lemari Tuan. Karena penasaran jadi aku ambil dan lihat...," kataku memelan di akhir kata seraya menunduk takut. Rupanya penjelasanku barusan membuat Tuan Asland semakin terkesiap.
"Apa? Kamu ambil dan lihat? Kamu benar-benar gadis ca-bul!"
"A-pa ... ca-bul?"
"Ya, kamu gadis ca-bul!" Sorot mata Tuan Asland jijik melihatku. Gara-gara kain segiempat pengaman itu, Tuan Asland menjulukiku gadis ca-bul.
"Tapi aku kan tidak sengaja...." Jemariku saling beradu gelisah di depan dada. "Maaf ya, Tuan."
"Kamu ambil dan lihat, itu namanya disengaja. Aku mau bekerja sekarang. Jangan buat keributan dan jangan muncul di hadapanku. Aku ingin suasana yang tenang!" Ia berjalan pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan aku sendirian, kikuk di ruang tengah.
**
Pagi kedua pun menjelang.
Kukucek mata sambil mengerjap beberapa kali. Setelahnya kulirik jam dari layar ponsel yang muncul usai tombol kunci kutekan. Sekarang sudah pukul 05.03 subuh. Aku bangun di jam yang sama seperti kemarin.
"Tuan Asland ... Tuan Asland...," panggilku mencari ke sekeliling ruangan, tetapi pria dingin itu tidak kutemukan. Tidak tahu jam berapa ia pergi tadi malam. Pokoknya pagi ini dia sudah tidak ada.
Di gedung perusahaan G.F Company, aku banyak membantu Mbak Sheryn mengetik laporan dan mengirimnya ke beberapa divisi berbeda. Kantor bagian pemasaran sedang banyak pekerjaan sebab omset penjualan meningkat.
Mungkin karena hal itu juga, aku tidak melihat Tuan Asland seharian ini di kantor. Sebagai presiden direktur, dia menjadi orang yang paling sibuk pastinya. Itulah yang kupikirkan.
Seusai pulang bekerja, aku beranjak pulang ke apartemen. Hari ini lebih cepat sampai karena jalanan tidak terlalu macet. Lima belas menit menghabiskan waktu di jalan, aku pun tiba. Biasanya perlu waktu hampir setengah jam untuk menerobos kemacetan.
Namun, betapa terkejutnya aku tatkala melihat pintu kamarku sudah terbuka dan Tuan Asland, aku tidak melihatnya seharian ini di kantor, tetapi kulihat Tuan Asland sedang berdiri di dekat lemari pakaian kamarku sekarang.
"Ke-kenapa Tuan ada di sini?"
"Ini apartemenku. Terserah aku mau berbuat apa dan di mana," sahutnya sesuka hati.
"Tapi ... ini kan kamar perempuan, Tuan. Bukannya laki-laki tidak boleh masuk sembarangan ya ke kamar anak perempuan." Setahuku sih begitu.
"Kamar perempuan? Perempuan apa yang bra-nya sampai berubah warna jadi kuning!" ketusnya dengan sorot mata mengejek.
'Apa! Be-Ha!'
Tuan Asland melempar bra yang dipegangnya ke arahku dan sialnya, terkena tepat di depan mukaku. Mataku sampai membelalak mengenali kain penutup dada itu.
'Astaga, ini benar-benar BH-ku. Benda keramat milikku.'
"Kamu mengaku perempuan, tapi sangat jorok!" sambung Tuan Asland, mengomel.
BH lamaku memang sudah berubah warna dari krem menjadi kuning, tetapi bukan tanpa alasan aku membiarkannya. Itu karena aku tidak punya uang lebih untuk membeli BH yang baru.
"Aku tidak mau barang-barang bututmu ini mencemari udara di apartemenku. Jadi cepat buang!"
"Kenapa dibuang? Kan masih bisa aku pakai, Tuan."
"Kamu mau pakai bra seperti itu? Kamu tidak malu apa, jadi perempuan?" Tuan Asland menunjuk BH yang kupegang.
"Tapi inikan di pakai di dalam, Tuan. Tidak ada orang yang lihat."
"Buang barang-barang butut itu dan satu lagi. Aku tidak suka perempuan memakai baju seperti ini."
Tuan Asland menunjuk pakaianku yang ada di dalam lemari.
"Kenapa dengan bajuku, Tuan? Aku kan memakai pakaian sopan, Tuan."
"Aku tidak suka melihat perempuan yang tidak feminin."
Glek!
Kutelan saliva dalam. Bahkan sampai urusan baju pun, Tuan Asland yang mengaturnya.
"Maaf Tuan. Tapi aku kan cuma pembantu, Tuan. Bukan pacar Tuan. Jadi sepertinya masalah pakaian tidak perlu diributkan, deh. Maaf kalau aku salah bicara."
"Karena kamu pembantuku, aku cuma meributkannya. Kalau kamu pacarku, itu semua sudah kubakar!"
Glek!
Kutelan saliva untuk yang kedua kalinya.
"Ta-tapi kalau kubuang ... aku tidak punya uang untuk beli yang baru."
Tuan Asland menghela napas panjang yang tampak dari mengempisnya busungan dadanya. "Ayo ikut!"
"Ke mana?"
"Ikut saja."
"Baik Tuan."
Tuan Asland segera berjalan keluar apartemen. Dan aku-pembantunya, seperti Asisten June, sekarang aku harus mengekorinya di belakang.
Kami pun pergi menggunakan mobil Tuan Asland yang dikemudikan oleh Asisten June menuju salah satu mall di kota Jakarta. Mall itu banyak dikunjungi orang-orang. Tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga sekadar ingin bersantai.
Pemandangan di sekitar mall cukup asri. Terdapat sebuah taman yang diisi dengan kursi-kursi dan lampu hias pada sisi kanannya. Burung -burung merpati liar pun sampai betah terbang kian kemari ketika para pengunjung sengaja memberi mereka makan.
Tuan Asland berjalan cepat meninggalkanku. Membuatku cukup jauh tertinggal di belakangnya.
"Tuan Asland, tunggu aku!" Aku setengah berlari mengejarnya.
"Cepatlah!" jawabnya kesal.
Tiba-tiba, Gubraak....
"Akhh!" jeritku seketika. Aku tersandung batu dan jatuh tersungkur di depannya. Tuan Asland yang melihatku hanya berdiri dengan segala keanggunannya. Sama sekali tidak berniat menolongku.
"Akhh ... Sialnya!" rintihku menahan sakit di lutut. Sepertinya lututku terluka. Bukan hanya lututku saja, tetapi pakaian, telapak tangan dan kakiku terkena kotoran burung merpati.
"Apa ini? Kotoran burung! Huek!"
"Hahaha...."
Orang-orang melihatku dan tertawa. Tuan Asland melihatku dan tertawa. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau menolongku. 'Aku ingin mencincang mereka semua.'
"Tuan, aku mau ke toilet dulu," kataku setelah berhasil menghampiri Tuan Asland. Tuan Asland bergerak menjauh sambil menutup hidungnya.
"Setelah selesai kamu harus mencariku."
"Ya Tuan." Aku mengangguk.
Usai kepergianku, Tuan Asland pergi duluan memasuki mall lalu mulai memilih beberapa tas dan perlengkapan alat make up. Sedangkan aku sibuk membersihkan kotoran burung dengan tisu dan air. Bajuku jadi basah.
Dengan langkah tertatih-tatih aku berjalan memasuki mall. Penampilanku sudah sangat acak-acakan. Bukannya kasihan, orang-orang yang melihatku malah tertawa geli, dasar kampret.
Kudapati Tuan Asland sedang sibuk memilih pakaian. Pria tidak berperasaan itu hanya sibuk memilih. Sama sekali tidak bertanya tentang keadaanku, apalagi berempati. Dia malah membuatku terus banyak berjalan padahal aku sudah tertatih-tatih.
"Ukuran kakimu berapa?" tanyanya santai.
"38 Tuan," balasku uring-uringan.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz