Judul : Namaku, Aya
Author : Mamak_A
Sinopsis :
Inginnya menikah dengan pria yang kita cintai, bersama hingga menua dan menuju surga.
Tapi perjalanan hidup tak bisa diduga. Semua rencana bisa saja tak sesuai. Karena sesungguhnya, skenario-Nya lah yang terbaik.
Lika liku perjuangan hidup yang hebat, harus dilalui seorang Ayatul Husna. Sejak sang ayah mengalami kecelakaan kerja, ketika dirinya duduk di kelas 1 SMA, membuat Aya harus menjadi asisten rumah tangga paruh waktu, demi melanjutkan pendidikannya.
Bahkan setelah lulus SMA, dirinya bekerja sebagai cleaning service di sebuah gedung perkantoran, untuk membiayai kuliahnya.
Selesai menempuh pendidikan di universitas, Aya pun mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak. Dia meminta ibunya untuk tidak bekerja lagi sebagai asisten rumah tangga. Aya pun menjadi tulang punggung kala itu. Hidup mereka menjadi sedikit mudah, setelah Aya menjadi seorang karyawan di perusahaan besar.
Namun, takdir seolah mempermainkannya. Ayahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Dan satu minggu setelah kepergian sang ayah. Aya harus menanggung beban yang selama ini tertutup rapi. Membayar hutang sang ayah yang jumlahnya tidak sedikit.
Aya juga harus membuat banyak keputusan penting dari dilema hidupnya, sekarang. Termasuk soal harus menikahi pria yang tidak dikenalnya demi membayar hutang sang ayah. Pria dengan usia yang terpaut 19 tahun.
Aya pun berkali-kali dihadapkan dengan pilihan menyerah atau bertahan. Bisakah gadis itu bertahan? atau, dia malah memilih menyerah?
. . .
Namaku, Aya. Ayatul Husna. Semoga kalian menyukai kisahku.
©2021, Maya Asviana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 22
Sore ini Bu Retno memperkenalkan Aya dengan Andri, pria berusia 20 tahun yang akan mengurus Lutfi selama Aya bekerja. Wanita itu mengajari hal-hal apa saja yang harus Andri lakukan.
“Ibu saya sudah memberitahukan sama kamu kan tentang jadwal kerjanya, Ndri?”
Pria itu pun menganggukkan kepalanya, “Iya Mba. Saya harus datang pukul 09:00 pagi, membersihkan badan pak Lutfi dan memberi sarapan. Nanti datang lagi saat jam makan siang, dan jadwal mandi sore,” jelas Andri. Aya menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Andri.
“Suami saya agak pemarah, jadi maaf ya kalau nanti dia suka bentak kamu atau berkata kasar, kamu anggap angin lalu aja ya. Semenjak sakit dia begitu,” jelas Aya. Andri pun mengangguk, “Iya Mba Aya,” jawabnya.
Aya lalu memperkenalkan Andri kepada Lutfi. Pria itu hanya diam dan tidak menanggapi Andri yang menyapanya. Aya pun meminta maaf dan berharap Andri betah membantunya mengurusi Lutfi.
.
“Untung kamu dapat cabang yang dekat dengan rumah ya Ya,” ucap bu Retno ketika Aya tengah menyuapi Nasya.
“Iya Bu. Jadi Aya bisa memandikan dan menyuapi Nasya lebih dulu. Bisa membersihkan rumah juga,” jawab Aya. Bu Retno pun tersenyum sumringah.
“Alhamdulillahhh ...,” sorak Nasya, ketika makanan yang disuapi oleh ibunya. Aya dan bu Retno pun tersenyum melihat tingkah anak yang sebentar lagi berusia empat tahun itu.
Aya pun segera menyandang tas dan memakai sepatunya, ketika selesai menyuapi Nasya. “Mama sudah mau pergi?” tanya Nasya. Aya pun menatap dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Nasya.
“Jadi anak baik ya sayang. Nurut sama nenek, oke.”
“Iya Ma!” tegas Nasya. Aya pun membawa anaknya itu ke dalam pelukannya. “Doakan mama banyak rezeki ya.” Anggukan kepala Nasya membuat Aya beranjak menjauh dari kediaman mereka. Aya berjalan keluar dari gang rumahnya, hingga lima belas menit kemudian, Aya pun tiba di jalan raya.
Aya berdiri persis di depan mini market, menunggu angkutan kota yang akan membawanya ke perusahaan tempat dia bekerja. Tak lama berselang, angkutan kota itu pun datang, hingga Aya bisa menaikinya.
Hanya perlu watu 30 menit untuk Aya tiba di kantor barunya. “Kiri Bang,” ucap Aya. Sopir angkutan kota itu pun berhenti tepat di depan sebuah kantor. Aya menghela napas kasar terlebih dulu, sebelum melangkahkan kakinya, masuk ke dalam gedung itu.
“Bismillah,” ucap Aya.
Aya pun melangkah masuk, wanita itu berjalan menuju meja resepsionis dan mengutarakan maksud kedatangannya. Resepsionis itu pun menjawab dengan ramah. Gedung kantor itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari dua lantai. Dan kini Aya menuju lantai dua, tempat dia akan menghabiskan waktunya kini, dari pagi hari hingga sore hari.
“Mba staff admin yang baru ya?” tanya seorang wanita yang ada di ruangan yang sama dengan Aya. Aya pun mengangguk, “iya, kenalkan saya Aya,” jawab Aya seraya mengulurkan tangannya. Gadis itu pun membalas uluran tangan Aya.
“Saya Devi, Mba,” ucapnya ramah. Devi pun menjadi orang pertama yang menjadi teman Aya. Ada empat orang staff yang ada di ruangan itu. Aya adalah staff admin yang kelima.
Tidak seperti dua staff wanita lainnya, Devi sibuk mengajak Aya mengobrol. Bahkan berkat Devi, kini mereka semua tau, jika Aya seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak. “Sama dengan Mba Nia yang di sana dong Mba, sudah punya anak juga,” ucap Devi.
Aya pun menatap nindi dan mengangguk sembari tersenyum. “Mba Aya duduk di sini aja, tunggu pak Azzam datang,” sambung Devi. Aya pun mengangguk dan menuruti ucapan Devi. Wanita itu pun duduk di meja, persis di samping Devi. Tak lama berselang, seorang pria masuk.
“Staff baru ya,” ucapnya santai. “Iya,” jawab Aya. Pria itu langsung menyodorkan tangannya, “Nama aku Reza, usia 24 tahun, status jomblo dua bulan lima hari delapan jam.” Aya pun tertawa kecil mendengar perkenalan diri pria yang bernama Reza itu.
“Aya, 26 tahun, sudah menikah dan punya anak satu,” ucap Aya. Reza langsung melongo mendengar ucapan Aya. Sedangkan ketiga staff wanita lainnya terkekeh melihat wajah terkejut Reza.
“Maaf Mba, saya pikir .... mba masih jomblo, hehehe ...,” ucap Reza sembari menggaruk leher belakangnya yang terasa gatal. Lagi-lagi ketiga staff wanita di sana tertawa melihat ulah Reza.
Sepuluh menit sebelum jam masuk, Azzam pun masuk ke ruangan staff operasional itu dan berjalan melewati para karyawannya dengan wajah dingin seperti biasa. Ketika dia berjalan melewati Aya yang tengah serius memerhatikan Devi yang tengah merapikan berkas kerjanya, pria bernama Azzam itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Aya.
Devi menyenggol pelan Aya dengan sikutnya. Aya pun mempertanyakan tentang maksud Devi menyenggolnya. Devi menunjuk ke arah Azzam, Aya pun mengikuti arah jari Devi.
“Kamu karyawan baru kan?”
“Iya Pak,” jawab Aya dengan menganggukkan kepalanya. Azzam pun mengajak Aya ke ruangan kerjanya.
...****************...
.......
.......
.......
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...
...BERI HADIAH & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....