Novel BERANTAI.
1. JODOH AISYAH.
2. JANJI ANISSA.
3. ZAHIRA UNTUK YUSUF.
4. MEMORY JUWITA.
Cahaya adalah perempuan yang kurang beruntung diawal kehidupannya. Ia melarikan diri dari situasi yang membuat hidupnya suram. Tak ada cinta kasih dalam rumah tangganya. Cahaya melarikan diri dan bersembunyi di sebuah pesantren hingga ia bertemu dengan Adam. Adam laki laki yang dua tahun lebih muda darinya, tiba tiba saja menyukainya.
Akankah Adam menerima masa lalunya Cahaya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan
Keesokan harinya. Cahaya sudah mengantarkan Ali lebih awal dari biasanya. Tak lupa juga Cahaya membawa sekotak makanan yang ia buat khusus untuk Adam sebagai ucapan terimakasih atas pertolongannya kemarin.
Cahaya sudah berdiri didepan gebang sekolah putra, ia sengaja menunggu Adam. Tidak lama kemudian Cahaya melihat Zahira yang sedang menggandeng Yusuf. Zahira langsung menghentikan langkahnya ketika matanya menatap sosok Cahaya yang sedang berdiri di depan gerbang.
"Waaah ada si Cahaya, zona gawat darurat, siaga 7 beraksi" batin Zahira yang kini menarik Yusuf untuk lewat jalan belakang.
"Kita mau kemana Ira?" tanya Yusuf heran.
"Sssttthhh, aku antar ka Yusuf lewat belakang ya. Di depan ada bahaya mengancam" ucap Zahira. Yusuf langsung mengernyit, namun ia tetap menurut dari pada berabe urusannya jika membuat istrinya merajuk.
Cahaya yang melihat Zahira menarik narik suaminya untuk jalan lewat belakang pun merasa minder.
"Apa mba Zahira takut kalau suaminya itu melihatku??" batin Cahaya.
Ketika Zahira dan Yusuf sampai di gerbang belakang yang hanya pagar besi kecil, pagar itu masih terkunci.
"Ira, pagarnya masih terkunci"
"Kak Yusuf manjat saja" pinta Zahira. Lagi lagi Yusuf mengernyit.
"Ira, kak Yusuf kan pakai sarung, susah buat manjat"
Tidak lama kemudian datanglah Silmi yang menarik narik tangan Ustad Usman.
"Mimi sayang, kenapa Abi ditarik tarik kaya kambing begini" ucap Ustad Usman sedikit protes.
"Ssttth Abi, didepan ada kak Cahaya, aku takut Abi genit genit pada ka Cahaya, nanti Umi cemburu. Kalau Umi sudah cemburu, semua masakan yang dibuat Umi terasa asin semua" tutur Silmi. Ustad Usman pun pasrah.
Zahira sudah tersenyum senyum melihat ustad Usman ditarik tarik putrinya.
"Silmi, kau pasti mau cari rumput ya?" tanya Zahira. Ustad Usman langsung memicingkan matanya.
"Eh kau jangan sembarangan kalau bicara. Emangnya aku kambing"
Ustad Usman pun menatap Yusuf yang sedang kebingungan.
"Kau kenapa Suf ada disini?" tanya ustad Usman.
"Aku disuruh masuk lewat sini, eh pagarnya masih terkunci" jawab Yusuf.
"Duh Suf, kita jadi korban kecemburuan. Ribet ya urusannya hanya karena ada janda muda berdiri didepan gerbang sekolah, kita jadi belusukan kesini" tutur ustad Usman.
Lalu datang lagi Ibra bersama Anisa. Ustad Usman sudah menahan tawanya.
"Ha ha ha, itu si Ustad preman pensiun jadi korban kecemburuan istrinya juga" batin Ustad Usman.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Kalian lagi ngapain kumpul kumpul di belakang sekolah?" tanya Ibra.
"Seperti apa yang terjadi padamu sekarang. Kita disini yang bersarung, telah menjadi korban kecemburuan dia yang memakai gamis" ucap ustad Usman. Anisa sudah menahan tawanya.
"Abim, masuk sana" pinta Anisa.
Ibra pun menurut dan mencoba masuk, namun pagarnya masih terkunci.
"Dikunci Isya" ucap Ibra.
"Loncat, bukankah kau jago menaiki pagar dan tebing"
Ibra pun pasrah dan menaiki pagar besi itu meski masih menggunakan sarung. Setelah menaiki pagar, Ibra langsung loncat masuk ke dalam. Zahira yang melihat pun langsung tepuk tangan.
"Wuih hebat" ucap Zahira.
"Ayo Yuyu ku sayang. Loncat kaya ustad Ibrahim" pinta Zahira. Yusuf sudah mengernyit.
"Ira kak Yusuf tidak bisa loncat seperti ustad Ibrahim. Takut sarungnya robek" bisik Yusuf. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah tunggu disini sampai si Cahaya pergi dari gerbang depan" ucap Zahira sedikit merajuk. Mau tak mau Yusuf pun pasrah dan berusaha menaiki pagar itu. Ketika Yusuf berada di atas pagar, Ibra pun membantunya turun. Kini tinggalah ustad Usman yang masih berdiri diluar.
"Ehem ehem" Zahira sudah melirik ustad Usman.
"Apa selebor, kau pake ehem ehem segala" ucap ustad Usman. Zahira sudah tertawa kecil.
"Ayo loncat" pinta Zahira.
"Kau jangan macam macam ya Ira. Aku ini pemimpin pesantren, masa aku harus loncat loncatan segala" gerutu Ustad Usman. Silmi langsung menatap Abinya.
"Jadi Abi mau lewat depan untuk melihat janda muda yang cantik" tuduh Silmi. Ustad Usman langsung mengernyit.
"Mimi kau tidak boleh bicara seperti itu. Cahaya itu perempuan biasa, kasihan dia kalau diperlakukan seperti ini. Kalian seolah olah mengnggapnya hama dalam rumah tangga kalian. Cahaya kan tidak genit, jadi tidak perlu takut dia menggoda suami kalian" tutur ustad Usman. Zahira, Silmi dan Anisa langsung terdiam.
"Kami tidak menganggap Cahaya seperti itu, hanya saja ada rasa cemburu sedikit" ucap Anisa.
"Nah berarti kau tidak punya rasa percaya diri. Kau pasti merasa Cahaya paling cantik dan menggemaskan, jadi takut kalau suami kalian lirik lirik janda" ucap Ustad Usman kembali.
"Diralat ya om Ustad, yang punya gelar cantik, imut dan menggemaskan itu cuma punya aku seorang. Untuk soal Cahaya, pasti para istri merasa cemburu ketika melihat ada perempuan singgle berdiri dihadapan suaminya. Cemburu itukan wajar, yang penting tidak berlebihan" tutur Zahira.
"Kau pikir menyuruh suamimu naik pagar itu tidak berlebihan?"
Zahira, Anisa dan Silmi pun terdiam.
"Sudah sudah tidak perlu berdebat, aku mau masuk dulu ada perlu" ucap ustad Usman yang kini mengangkat sedikit sarungnya untuk naik pagar. Zahira sudah menutup matanya.
"Om ustad naikin sarungnya jangan tinggi tinggi, bahaya" ucap Zahira. Saat ustad Usman mau loncat ke bawah.
"Bismillahirrahmanirrahim"
JRUUUT, SRUEEEEEK.
"Astaghfirullah alazim"
Dilihatnya sarung Ustad Usman sobek karena tersangkut ujung besi pagar. Zahira dan Anisa sudah cekikikan tak bersuara.
"Om ustad kenapa?, ko aku mendengar suara aneh" ucap Zahira pura pura tidak tau.
"Sarungku robek selebor"
"Dinikmati saja om ustad, itu namanya rejeki dipagi hari"
Ibra dan Yusuf sudah menunduk menahan tawanya. Tiba tiba Ustad Usman menepuk jidatnya sendiri.
TEPOOOOOK.
"Astaghfirullah alazim, aku sampai lupa kalau aku ini bawa kunci cadangan setiap gerbang. Kenapa aku gak buka saja gembok pagarnya. Usman Usman, padahal kau belum punya cucu, tapi kau sudah pikun duluan" tutur ustad Usman. Zahira dan Anisa sudah tertawa tawa.
"Mimi sayang, kau ambilkan Abi sarung yang baru ya, nanti titipin sama pakde Soleh" ucap Ustad Usman. Silmi pun mengangguk.
Didepan gerbang. Cahaya masih berdiri menunggu kedatangannya Adam untuk memberikan sekotak makanan sebagai tanda terimakasih karena Adam sudah menyelamatkan Ali.
Dari kejauhan Adam datang sambil digandeng Hawa. Cahaya langsung menunduk, ada rasa cemburu yang tiba tiba menghampiri.
"Kenapa aku merasa tidak suka jika Adam dekat dengan perempuan lain. Apa aku cemburu?" batin Adam.
Hawa sudah pamit masuk ke kelasnya. Adam pun berjalan kembali menuju gerbang santri putra. Adam langsung tersenyum melihat Cahaya sedang berdiri didepan gerbang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Cahaya hanya diam saja sambil menundukan kepalanya, tak lupa bibirnya cemberut tak jelas.
"Apa Cahaya melihatku bersama Hawa?. Apa dia masih belum tau kalau Hawa adalah saudari kembarku?" batin Adam.
"Apa kau sedang menungguku?" tanya Adam. Cahaya langsung menggeleng.
"Lalu sedang apa kau berdiri disini?"
Cahaya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Adam. Adam sudah tersenyum senyum.
"Ko pagi pagi begini aku sudah mencium bau bau kecemburuan" ucap Adam sambil menatap kearah lain.
"Aku tidak cemburu pada perempuan yang menggandengmu tadi" ucap Cahaya sedikit ketus hingga Adam malah tersenyum senyum.
"Kalau tidak cemburu kenapa bicaramu ngegas begitu?"
Lagi lagi Cahaya tidak bisa menjawab.
"Katakan padaku, sedang apa kau disini, apa kau rindu padaku?" tanya Adam.
"Nggak"
Adam pun menatap sekotak makanan yang dibawa Cahaya.
"Apa makanan itu untuku?" tanya Adam sambil menunjuk kotak makanan ditangannya Cahaya.
"Bukan untukmu, tapi untuk ustad Usman" jawab Cahaya sambil mengerucutkan bibirnya. Adam mengangguk ngangguk sambil tersenyum, ia tau kalau Cahaya bohong.
"Waaah ko tiba tiba aku cemburu ya sama Pakde Usman"
Tiba tiba Cahaya memberikan kotak makanan itu pada Adam.
"Untukmu" ucap Cahaya.
Adam menerimanya sambil tersenyum senyum.
"Terima kasih, tapi kudengar katanya ini untuk Pakde Usman" ucap Adam. Cahaya semakin menunduk.
"Itu sebagai ucapan terima kasihku padamu, karena kemarin kau telah menolong Ali" ucap Cahaya. Adam pun mengangguk tersenyum.
"Aku ikhlas menolong putramu. Boleh aku bicara sesuatu padamu?" ucap Adam kembali. Cahaya pun mengangguk.
"Izinkan aku menikahimu. Aku ingin menjagamu dan Ali" ucap Adam. Cahaya langsung menatap Adam, lalu kembali menunduk. Adam hanya tersenyum, ia bisa mengerti jika Cahaya belum siap untuk menjawab.
"Aku masuk dulu ya, assalamualaikum" pamit Adam melangkah pergi. Cahaya langsung mengangkat wajahnya menatap kepergian Adam.
"Waalaikum salam"
"ADAAAAM"
Panggil Cahaya sedikit berteriak hingga Adam menghentikan langkahnya lalu menatap Cahaya.
"Mau kah kau bersabar menunggu jawabanku?. Aku ingin meyakinkan hatiku dulu" ucap Cahaya. Adam pun mengangguk hingga Cahaya tersenyum.
janji Anisa
Zahira untuk Yusuf
Memory Juwita
Cahaya
semuanya menghibur.. terimakasih