Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENANG BANYAK
Luna yang baru memasuki rumah dan merasa lelah, dirinya langsung berlari kecil menaiki tangga menuju kamar peristirahatanya.
Dia membuka pintu kamar dan melemparkan tasnya di atas tempat tidur, dan kemudian menerjunkan dirinya di atas kasur dengan posisi tengkurap membenamkan wajahnya.
"Putri Ayah sepertinya kelelahan hari ini." Suara Baron Alfonso yang kini melangkah menghampiri Luna.
Luna terkesiap kaget mendengar suara Ayahnya yang tidak di sadari telah berada di dalam kamar Luna sedari tadi.
"Papi, sejak kapan Papi ada disini?" Luna bangun dan membatalkan tidur sorenya.
"Ha..ha..ha, Papi sedari tadi berada disini. Kau saja yang tidak menyadarinya." Alfonso duduk dan mengusap kepala Luna.
"Maafkan Luna ya Pi, Luna beneran tidak tahu kalau Papi ada disini. Lagian aneh, Papi pulang kok tidak kasih kabar dulu sama Luna." jawab Luna yang sepenuhnya tidak mau di salahkan.
"Siapa lelaki tampan tadi yang mengantarmu pulang sayang?" selidik Alfonso pada putrinya.
"Lelaki, yang tadi yang ngantar Luna?" Luna berlagak bodoh di depan Alfonso.
"I ya, siapa dia. Apakah Papi boleh mengenalnya?" tanya lagi Alfonso.
"Ouwh, itu. Dia supir baru Luna, Pi." Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh, supir. Sudah lama dia bekerja denganmu?" tanya lagi Alfonso yang kini dengan mimik muka serius.
"Belum lama sih, Pi. Kurang lebih ketika Papi seminggu kemarin berangkat itu." jawab Luna yang membuat Alfonso mengingat kembali ingatanya.
Flash back.
"Bos, tadi saya bertemu dengan Tuan Aditya." Cody memberitahukan Alfonso di dalam panggilan teleponya.
"Apa, dimana dia sekarang?" Alfonso kaget.
"Saya tidak tahu, Bos. Tadi saya bertemu dan tak sengaja bertabrakan di depan lift perusahaan Nona Luna." jelas Cody.
"Apa yang kau maksudkan Adit, sedang berada disini?" tanya lagi Alfonso yang kebetulan berada di lantai atas Aluna company.
"Betul sekali, Bos. Tadi saya lihat, dia menggunakan pakaian hitam putih. Sepertinya dia sedang melamar pekerjaan di tempat Nona Luna." jawab Cody yang membuat air mata Alfonso menetes.
"Baiklah, Cody. Terima kasih untuk informasi yang telah kau berikan." ucap Alfonso yang langsung mengakhiri panggilan teleponya.
Frans, sesuai janjiku dulu padamu. Aku akan mengambil semua hakmu yang telah di rampas si bajingan itu dan mengembalikanya pada putramu.
Flash back Off.
"Pi, kok melamun?" tanya Luna sambil mengguncang tangan Alfonso.
Alfonso terhenyak dan sadar dari lamuna sesaatnya.
"Maaf, Papi hanya sedang banyak pikiran saja." Alfonso bangun dari tempat tidur dan berlalu meninggalkan kamar Luna.
Kenapa Papi tiba tiba berubah?, tidak seperti biasanya.
Sementara di lain tempat, beberapa suruhan Abraham terus mengintai kediaman Herman. Mereka mengambil gambar rumah Herman untuk di laporkan dan di berikan pada Abraham.
Malam itu, Mak siti kebetulan baru selesai dengan mengambil air wudhunya. Dia berputar menuju pintu depan karena pintu belakang sedang terkunci.
Sebuah cahaya camera ***** terlihat oleh Mak Siti. Tapi dia berpura pura seakan tidak mengetahui dan lanjut masuk ke dalam rumahnya.
"Pak.. Pak," panggil Mak siti dengan gelagat terlihat cemas.
"Ada apa, Bu?" jawab Herman yang sedikit kaget melihat istrinya memanggil.
Mak Siti menjelaskan apa yang baru saja di alami dan di rasa mencurigakan olehnya pada Herman.
"Yang benar, Bu?" tanya Herman yang turun dari tempat tidur sambil melingking sarungnya.
"I ya, Pak. Masa Ibu bohong." ucap Siti yang kini memeluk tangan Herman karena ketakutan.
Herman keluar dari kamar menuju kamar Adit.
"Dit, kamu sudah tidur Nak?" panggil Herman sambil mengetuk pintu Adit dengan pelan.
Adit yang baru selesai dengan sholat isyanya, dia bangun dan melipat sarung dan sajadahnya.
"I ya, Pak. Tunggu sebentar." Adit menghampiri dan membuka pintu kamarnya.
Herman merangkul Adit, dan membisikan sesuatu yang membuat Adit langsung tercengang.
"Masa sih, Pak?" tanya lagi Adit yang masih belum yakin.
"Kita intip saja lewat pintu belakang, terus kamu jalan saja lewat pinggiran rumah Pak Tama.yang ada di sebelah tembok rumah kita." Herman memberitahu Adit.
"Baik, Pak. Adit akan loncat lewat pagar rumah dan mengendap dari halaman rumah Pak Tama." jawab Adit dengan mengulang apa yang di katakan Ayahnya.
Adit pun mulai membuka pintu belakang rumahnya, dia berjalan mengendap kemudian meloncat pagar pembatas atara rumahnya dengan rumah Pak Tama tetangganya.
Setelah tak lama, memang benar adanya. Terlihat mobil Jeep berwarna maroen sedang terparkir tak jauh dari depan Rumah Herman.
Adit berperang melawan pikiranya, mencari ide agar bisa mendekati 2 orang yang sedang merokok sambil bersandar di mobil Jeep yang Adit curigai.
"Aku tahu," Adit mengambil sarung pak Tama yang yang masih menggantung di jemuran dan melilitkanya di leher.
Beruntung di saku celana pendek Adit, dia masih mengantongi uang 5000 rupiah. Dia berpikir untuk membeli rokok di kios terdekat, dan kembali menghampiri mobil jeep tersebut.
Setelah membeli rokok secara ngeteng. Adit berjalan menghampiri dua orang yang masih bersender di mobil jep sambil memasang kamera jarak jauhnya memantau kediaman Herman.
Dok.. Dok..
Adit mengetuk pelan mobil Jeep tersebut, dan membuat kedua orang bawahan Abraham sedikit kaget. Suasana jalan yang remang membuat kedua bawahan Abraham tidak mengenali wajah Adit.
"Ada apa, Bang?" tanya salah satu bawahan Abraham.
"Maaf, Bang saya mau pinjem koreknya, Boleh?" pinta Adit yang sedang menyamar.
"Ada Bang, Ini." salah satu bawahan Abraham meminjamkan korek apinya pada Adit.
Setelah selesai, Adit mengembalikan korek api tersebut pada bawahan Abraham.
"Sory, Bang. Perkenalkan. Saya ketua karang taruna disini, dan saya sebagai ketua pemuda belum pernah melihat Abang berdua ini." Adit berlagak dengan sedikit kebohonganya.
"Ouwh, Abang ketua karang taruna merangkap ketua pemuda disini ya?" tanya bawahan Abraham.
"I ya, kenapa emang, butuh bantuan?" Adit menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke arah muka bawahan Abraham.
"Abang, kenal donk dengan pemuda yang namanya, Adit." tanya salah satu bawahan Abraham.
"Kenal donk, si Adit yang kerja jadi supir itu kan." Adit memancing informasi.
Kedua orang itu saling mengunci pandangan dan menggendikan kepalanya dengan optimis.
"Bang ini," salah satu bawahan Abraham memperlihatkan foto Aditya pada Adit.
Adit menahan tawanya ketika melihat fotonya sendiri yang sedang di cari.
"Bang, ada upah yang besar. Jika abang bisa bawa ini pemuda, ke tempat kami." ucap salah satu bawah Abraham sambil menunjuk foto dengan tanganya di hadapan Adit.
"Berapa Upah yang saya dapatkan jika saya bisa mengerjakanya." tantang Adit pada mereka berdua.
Kedua bawahan Abraham saling berbisik menetukan komisi yang pantas di berikan pada Adit.
"2 juta bang," ucap mereka bersamaan.
"Kagak, 2 juta murah banget. Gak sesuai dengan resikonya." Adit mengibas ngibaskan foto di ke arah mukanya.
Kedua bawahan Abraham kembali berdiskusi, mengangguk dan memandang wajah Adit yang tak begitu jelas karena kurangnya pencahayaan di tambah sarung yang Adit gunakan untuk membungkus badan kepalanya.
"5 juta bang, gimana?" tawar kedua bawahan Abraham pada Adit.
"Apa, cuma 5 juta?" Adit berlagak kaget.
Dia mengepalkan tanganya ke arah muka bawahan Abraham.
"Emang, berapa yang abang inginkan?" tanya Kedua bawahan Abraham.
"Lo berdua di bayar berapa sama bos luh. Gua pengen fifty fifty." ucap Adit dengan nada yang kini sudah di naikan.
"Bang, kita cuma di bayar 50 juta." ucap salah satu bawahan Abraham.
"Ya sudah, sini separonya." pinta Adit sambil menadahkan tanganya.
Salah satu bawahan Abrahan mengambil amplop coklat panjang yang di simpan di laci mobil dan berniat menghitungnya.
Namun dengan cepat, Adit merampas amplop tersebut.
"Bang, kok di ambil semua?" kedua bawahan Abraham melongo melihat Adit menghitung uang dalam amplopnya.
"I ya, Pas. 50 juta." Adit mengantongi uang tersebut dengan santainya.
"Wah, ngelunjak juga ini orang." ucap salah satu bawahan Abraham.
"Kenapa, kalian gak terima?" Adit menunjuk muka kedua orang tersebut.
Tanpa aba aba lagi bawahan Abraham yang merasa di permainkan Adit, dirinya memutuskan menyerang.
Namun dengan gampang, kedua orang tersebut di kalahkan Adit sampai babak belur.
"Ampun bang, kami hanya di suruh." Kedua orang itu memelas di hadapan Adit.
Alih alih mendengar permohonan kedua orang tersebut, Adit malah menghajar kembali kedua orang tersebut hingga tak sadarkan diri.
" Akhirnya, beres juga." Adit berlalu meninggalkan kedua bawahan Abraham dengan posisi pingsandi dalam sarung berdesakan.
"Cair.. Cair," Adit mengibas ngibaskan uang 50 juta ke arah muka sambil berjalan menuju halaman rumahnya.
semanhat bang😊😊😊