Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22. Persetujuan Kedua Orangtua
Suasana yang tadinya begitu seru mendadak membuat Aldi terdiam tak melanjutkan lemparan bola itu lagi. Bahkan ia menjatuhkan bola itu saat melihat kehadiran wanita yang secara tiba-tiba di sampingnya.
Bibir merah merekah tampak membuat segaris senyum tercetak di bibirnya. Rambut coklat terang terlihat tergerai dengan sempurna kala mengikuti gerakan langkah yang semakin mendekati Aldi.
"Aku menunggu mu di kantor, Aldi. Rupanya kau berada di sini?" tanya wanita itu dengan melingkarkan kedua tangan di leher Aldi.
Manik mata Naina seketika melirik menengadah demi menyaksikan apa yang terjadi.
"Re, apa yang kau lakukan di sini? aku masih belum bisa bekerja hari ini. Wajahku masih lebam. Ini karena polesan make up saja." kilah Aldi sementara matanya melirik ke sana kemari memastikan jika Meisa tidak melihatnya.
"Tapi aku melihat mu baik-baik saja, aku tunggu di kantor hari ini juga. Ada pekerjaan yang harus kamu tangani dan ingat kamu harus banyak menggunakan waktumu untuk mempelajari semua mengenai perusahaan."
Aldi menelan kasar salivahnya, ia segera melepaskan tangan Rere yang melingkar di lehernya itu. Saat wajah Rere ingin mendekati wajah Aldi secepat itu pula Naina masuk di tengah-tengah tubuh mereka.
Rere Anjani, wanita cantik sahabat Aldi sejak mereka bersekolah SMP. Pemilik tunggal perusahaan Mabrata. Yang bergerak di bidang pengolahan kertas.
"Tante jangan dekati Om Aldi." dorong Naina sekuat tenaga hingga tubuh Rere sedikit menjauh.
"Aku tunggu." tutur Rere.
"Pergilah." pintah Aldi dengan kesal.
"Naina, tolong jangan bilang sama Mommy Mey yah soal Tante tadi. Kasihan Mommy Mey nanti kepikiran sayang." Aldi duduk melipat kakinya agar sejajar dengan bocah itu.
"Tapi Naina tidak suka Om, Tante itu mau rebut Om dari Mommy." sahut Naina.
Aldi tersenyum mendengar pembelaan bocah manis itu. "Hey, kan ada Om Aldi. Om Aldi akan hajar Tante itu kalau jahat. Yah?"
Belum sempat mereka banyak melakukan penawaran kini Meisa sudah menghampiri lebih dulu.
"Loh kok berhenti mainnya? kenapa?" tanyanya dengan senyuman begitu lebarnya.
"Em..." Naina tampak ragu bersuara. Ia ingat perkataan Aldi dan akhirnya bocah itu benar mengurungkan niat untuk mengatakan apa yang baru saja terjadi.
"Mei, sebaiknya kita pulang yah? aku mendapat panggilan di kantor baru ku. Aku tidak mungkin bisa menolak berhubung aku masih karyawan baru di sana. Apa tidak apa-apa?" tanya Aldi tak enak hati.
Meisa mengangguk pelan. "Yasudah, ayo Mas kita pulang. Tentu tidak apa-apa, mengapa aku harus keberatan untuk pekerjaan suamiku?" tutur Meisa.
Aldi kembali melakukan mobilnya menuju ke rumah. Selama di perjalanan dirinya terlihat sangat tidak tenang. Keberanian Rere muncul di tengah-tengah keluarga Aldi sungguh membuatnya semakin was-was.
Sesekali manik mata Meisa menangkap kecemasan di wajah sang suami. Aldi yang menyetir dengan buliran keringat di dahinya terlihat jelas ada yang tidak beres.
Meisa perlahan mengambil tisu dan mengusap lembut dahi suaminya. "Jangan seperti itu, Mas. Kau bisa tidak fokus bekerja jika memendam sesuatu. Katakan padaku ada apa?" bujuk Meisa.
"Em... tidak ada apa-apa, Mei. Kalian di rumah saja yah. Jangan terlalu lelah, aku akan segera pulang ke rumah setelah pulang kerja."
"Iya Mas." jawab Meisa.
Tak lama setelah perbincangan hangat itu, kini mobil Aldi pun sampai di rumah mereka. Naina, Meisa dan Aldi turun dan masuk ke rumah.
Bu Nirmala terlihat duduk di sofa menonton sementara Meisa meminta Naina untuk bersama Bu Nirmala dulu.
"Naina, sama Oma dulu yah sayang. Mommy Mey mau bantu Om Aldi ganti baju."
"Oke Mommy." ucap Naina datar.
Meisa menyadari hal itu, sungguh tidak seperti biasanya bocah itu berwajah datar. Biasanya ia selalu menjawab dengan wajah tersenyum cerianya.
Naina menatap punggung Aldi dengan seksama. Manik mata hitam legam itu seperti merasakan ada yang menyakiti Mommy nya.
"Tante tadi siapa yah? kenapa dia peluk-peluk Om Aldi. Naina nggak suka mereka seperti itu." gumam Naina sambil bersedekap seraya memanyunkan bibirnya.
Bu Nirmala terkekeh melihat bocah yang begitu menggemaskan. "Hey, Naina kenapa sayang? sedang marah dengan siapa?" tanya Bu Nirmala lembut.
Naina yang terkejut karena ekspresinya di mengerti seketika tersenyum canggung.
"Hehe Naina tidak apa-apa kok Oma. Suer." jawabnya dengan melayangkan tangan membentuk tanda v.
Tak lama pintu kamar Meisa pun terbuka, Aldi segera berpamitan dengan Ibu mertuanya. "Bu, Aldi pamit kerja dulu yah." ucapnya sembari mencium punggung tangan Bu Nirmala.
"Oh iya Aldi, hati-hati yah."
Mereka semua berjalan ke halaman depan dan menyaksikan kepergian pria itu dengan senyuman yang begitu terpancar.
Naina masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Bukannya ia tidak mendengar apa yang sempat di bicarakan dengan Aldi dan Rere saat di mall tadi.
Mobil Fortuner putih itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan senyuman yang mengantarkan kepergiannya dengan penuh ketulusan seakan tengah menggantungkan harapan penuh untuk keluarga mereka.
Namun sayang, siapa sangka jika ternyata Meisa justru tersenyum begitu lebar mengantarkan kepergian suaminya pada jalan kehancuran rumah tangganya. Kepergian suami menuju wanita yang tidak lain adalah madunya.
Hari ini, adalah hari di mana kekuatan cinta akan di uji. Ketulusan cinta Meisa dan Aldi seakan penuh rintangan. Siapapun yang melihat bagaimana Aldi memperlakukan Meisa tentu tidak akan percaya dengan hal yang satu ini.
Mobil melaju membelah keramaian kota hingga sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Sungguh tak pernah terfikirkan jika ia akan bisa masuk dalam dunia bisnis.
Aldi memarkirkan mobil di depan dan di sambut hangat oleh bagian kendaraan untuk memasukkan mobilnya. Aldi memberikan kunci lalu ia melangkah, belum sempat langkahnya semakin dalam, tiba-tiba sebuah pelukan menyambutnya dengan hangat dari belakang.
"Em...Aku merindukan mu. Kita ke ruangan ku dulu yah." ajak Rere yang masih memeluk tubuh Aldi sembari melangkah kan kaki mereka bersamaan menuju lift.
Beberapa pekerja terlihat saling berbisik dengan tatapan berbagai macam pada mereka. Aldi sangat menyadari akan hal itu.
"Re, lepas pelukan mu ini. Aku tidak enak di tatap mereka. Jangan berlebihan." ucap Aldi melepaskan tangan yang menempel sempurna di tubuhnya.
"Tapi aku kangen Aldi." bujuk Rere dengan suara manjanya.
"Tolonglah jaga sikapmu."
Akhirnya dengan ogah-ogahan Rere melepaskan pelukannya. Di dalam lift Aldi beberapa kali terlihat gelisah. Ia penuh rasa bersalah karena lagi-lagi ini adalah hal yang paling ia takutkan jika sampai pernikahannya hancur.
Pintu lift terbuka dan mereka menuju sebuah ruangan kerja Rere. Belum usai keterkejutannya, kini Aldi kembali kaget melihat kehadiran dua orang tuanya di ruangan itu.
"Bapak, Ibu, kalian untuk apa di sini?" tanya Aldi penasaran.
"Ayo duduk." pintah Bu Sila pada putranya.
Aldi menurut dan duduk di samping Ibunya. Rere tersenyum penuh kemenangan karena ia mampu mengambil hati kedua orangtuanya.
"Aldi, Ibu senang hubungan kalian semakin dekat. Ibu senang melihat mu bisa mengambil keputusan yang tepat." tutur Bu Sila.
"Mengapa Ibu justru tidak pernah menjenguk istri dan calon cucy Ibu? mengapa justru kemari?" tanya Aldi penuh penekanan.
"Aldi, Ibu dan Bapak sudah baik dengan ku. Biarkan mereka dekat denganku setidaknya salah satu istrimu bisa di terima dengan baik kan oleh orangtua mu." Rere ikut menimpali pembicaraan keluarga itu.
"Kamu kan sudah tahu kalau Ibu tidak merestui hubungan kalian, lagi pula mana ada calon cucu Ibu di sana. Ibu yakin Meisa itu hamil bukan anak kamu. Kalian kan tidak tinggal bersama hari itu, bagaimana kamu bisa yakin jika itu anakmu?" Bu Sila begitu pandai bersilat lidah selama pemikirannya tidak sejalan dengan yang terjadi apa pun akan ia lakukan.
Meski sebenarnya ia adalah orang yang baik, namun kebaikannya seketika lenyap jika mengetahui satu hal yang sangat tidak ia sukai. Baginya kesucian seorang wanita amat sangat berharga. Dan itu yang menjadikannya sangat membenci Meisa sampai saat ini. Ia jijik meski hanya melihat wajahnya.
"Bu, hentikan! jangan sekali-sekali Ibu menghina istriku." hardik Aldi yang sudah berdiri dari duduknya.
Wajahnya memerah menatap tajam pada sang Ibu. Namun Rere dengan sigapnya segera meredamkan amarah sang suami. Ia memeluk Aldi dan mengusap lembut dada sang suami.
"Bapak, Ibu biarkan saya bersama Aldi dulu yah." tutur Rere penuh kelembutan.
"Baiklah Re, Bapak dan Ibu pulang dulu. Kamu tolong buka hati dan pikirannya yah." titah Pak Reno yang baru saja bersuara.
"Iya Pak." sahut Rere.
Setelah kepulangan kedua orangtuanya, Aldi duduk di sofa, ia memijat keningnya pelan sembari memejamkan matanya.
"Mas, sini aku bantu. Kamu pasti gerah kan." tutur Rere lembut.
"Sudah aku ingin segera bekerja, kau meminta ku kemari untuk bekerja bukan?" tolak Aldi dengan menepis tangan Rere yang hendak meraih dasi pria itu.
"Mas, aku merindukan mu." ucap Rere menahan Aldi yang ingin berdiri.
"Re, tolong jangan berlebihan. Kau harus ingat posisi pernikahan kita. Aku hanya menyelamatkan nama baikmu. Kamu ingat itu." kecam Aldi mulai mendidih.
"Kau juga suamiku. Kau harus ingat kewajiban mu Aldi. Kau bahkan tidak pernah mengkhawatirkan aku semenjak pernikahan kita. Sama sekali kau tidak pernah melihat apakah aku baik-baik saja? setelah semua yang aku berikan apa seperti ini tanggapan mu pada ku?" Rere mulai berbicara dengan nada tinggi.
Aldi sungguh lelah, benar ketenangan yang ia dapatkan hanya ketika dirinya berada dengan Meisa. Wanita yang selalu memberikannya pengertian tanpa menuntut apa pun.
"Oke-oke sekarang apa mau mu?" tanya Aldi yang menyerah jika harus ribut terus.
Rere tersenyum lebar mendengar pertanyaan suaminya itu. Ia tanpa meminta persetujuan langsung duduk di pangkuan sang suami. Rere mulai melancarkan aksi dengan sentuhan sensual.
Godaan Rere benar-benar membuat Aldi merasakan seluruh darah mengalir begitu derasnya di tubuhnya.
Rere pantang menyerah meski Aldi masih tak berniat membalas permainan bahkan merespon sedikit pun. Wanita itu tampak menikmati permainan yang ia lakukan kali ini. Kerinduan akan sentuhan sang suami membuat wanita itu bergerak sangat liar. Ia mencium begitu rakus hingga tanpa Aldi bisa menolak lagi seluruh pakaiannya terlepas akibat tangan Rere.
Perlahan tanpa sadar Aldi mulai bergerak dengan aktif. Ia membalas seluruh permainan Rere. Keduanya yang kini sudah tidak memakai sehelai kain pun mulai melancarkan aksi mereka di sofa yang di rebahkan menjadi kasur itu. Ruangan kedap suara membuat Rere dan Aldi leluasa untuk melakukan layaknya di kamat pribadi.
Aldi bergoyang dengan lihai di atas tubuh wanita itu, kenikmatan yang tiada duanya membuat Rere tak menyerah begitu saja. Wanita itu membalikkan posisi mereka hingga kini ia yang menjadi pengendali tubuh Aldi. Keduanya saling melepaskan hasrat hingga setengah jam permainan itu kini berakhir dengan perasaan lega. Aldi segera menuju kamar mandi di susul oleh Rere.
Mereka bersiap dengan pakaian yang sudah di pungut di lantai kemudian Rere tersenyum puas pada Aldi.
"Terimakasih, aku sangat beruntung mendapatkan mu." tutur Rere mencium lembut bibir Aldi dengan senyuman penuh arti. "Aku akan membuat hal ini menjadi tagih mu, Aldi." lanjut Rere dalam batinnya.
"Sekarang katakan pekerjaan ku." sahut Aldi kembali berwajah datar. Ia sangat ingin segera pulang kerumahnya setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya.
"Oke tunggu sebentar."
Kira-kira pekerjaan apa yang akan Rere berikan pada Aldi yah?
Nantikan selanjutnya di episode berikutnya yah!
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪