NovelToon NovelToon
Tak Seindah Mutiara

Tak Seindah Mutiara

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:861.2k
Nilai: 5
Nama Author: meliani

"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Jimmy

"Ada apa kamu dipanggil Pak Imron Mut?" tanya Rina, dia mendekati kubikel Mutia saat Mutia baru saja kembali dari ruangan atasannya.

"Lembur!" jawab Mutia singkat.

"Wah, parah... lembur lagi, lembur lagi nih."

"Tau ah capek, aku mau mengundurkan diri aja deh kalau gitu."

"Hemm... gayamu mentang-mentang punya pacar orang kaya."

Mutia menanggapi mereka dengan candaan. Keduanya melanjutkan pekerjaan mereka hingga tak sadar hari sudah semakin malam. Mutia memesan taksi online untuk pulang, tapi kali ini dia memutuskan pulang ke rumah Papa Ahmad.

Sesampainya dirumah Papa Ahmad...

"Papa, assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam," jawab Pak Ahmad. Beliau langsung berbalik badan ketika ia mendengar suara putrinya. "Masya-Allah, putri Papa. Gimana kabarnya? Sudah lama nggak jenguk Papa."

"Kabar Mutia baik Pa..." jawab Mutia.

"Kamu masih pakai baju kantor, kamu langsung kesini tanpa pulang terlebih dahulu Nak?"

"Iya, Mutia langsung kesini karena Mutia sudah kangen sama Papa." Mutia menyandarkan kepalanya ke pundak Papa Ahmad dan bergelayut manja di sampingnya. "Mutia mau tidur disini ya Pa,"

"Boleh, rumah ini akan selalu terbuka untukmu dan suamimu." Papa sejenak teringat Jimmy. "Kamu sudah izin dari suamimu akan pulang dan tidur disini?"

Mutia terdiam sejenak lalu menunduk.

"Kamu belum izin suami kamu kan? Papa tahu itu. Nggak boleh begitu Nak, berdosa."

"Sekarang, kamu telepon suamimu. Minta izin sama dia." Sambung Papa lagi.

Belum sampai Mutia mengambil gawainya , terdengar suara ketukan pintu.

Tok tok tok.

"Mutia buka pintu dulu ya Pa?"

"Iya Nak..."

Mutia membulat seketika saat ia membuka pintu.

"Kenapa kamu nggak bilang mau kesini?" To the point pertanyaan dari Jimmy saat melihat wanita itu terlihat di depan matanya. Suara itu terdengar tak biasa di telinga Mutia. Lebih keras dari suara Jimmy yang biasa.

"Kamu tahu nggak, saya nyari kamu sampai kemana? Tiga jam saya menunggu kamu di kantor seperti orang bodoh!"

"Maaf Mas Jim, aku tadi baru aja mau hubungi kamu. Aku baru aja nyampe ke rumah Papa. Kalau kamu nggak percaya kamu tanya aja. Aku memang lembur hari ini." Jawab Mutia jujur.

"Semakin dibebaskan malah kamu semakin menjadi, saya sangat kecewa sama kamu!! Nggak punya hati!!"

Nggak punya hati!!

Tangis Mutia luruh membasahi pipinya saat kata itu keluar dan tersimpan dalam di memorinya. Sebelumnya Mutia tak pernah mendengar Jimmy semarah ini. Ada apa dengannya? Kenapa Jimmy menjadi sangat emosi?

"Apa perlu saya tekankan lagi, bahwa kamu istriku!! Tanggung jawabku!? Apa sebegitu tidak berharganya aku dimata kamu Mut?! Hanya untuk sekedar izin saja kamu tidak bisa?!"

"Kalau memang iya, tinggallah disini selama kamu mau!!"

BLAM!

Pintu tertutup dengan keras. 

"Hiks... aku tadi lembur Mas, aku nggak bohong... hiks..." Ternyata sakit sekali dimarahi oleh orang pendiam seperti Jimmy. Kata-kata Jimmy barusan terasa sangat menusuk di relung hati Mutia.

Papa mendekati Mutia dan tersenyum tipis, kemudian berujar, "baru Papa bilang tadi kamu harusnya izin dulu. Papa tidak menyalahkan Jimmy karena pada dasarnya kamu yang salah." Ucap beliau lembut kemudian pergi meninggalkan Mutia yang sedang duduk terisak. Beruntung, jantung beliau tidak terasa terhimpit karena melihat pertengkaran mereka barusan.

Di perjalanan pulang Jimmy memukul-mukul stir mobilnya. Dia terus melakukan itu untuk menyalurkan kemarahannya. Memasuki lapangan besar saat ini, Jimmy mengendarai mobil dengan berputar-putar dengan kecepatan tinggi seperti orang yang sudah hilang kewarasan. Terdengar bunyi rem mobil yang terus memekik atas apa yang sedang ia lakukan.

"Aaaaaaaaaarrgh!! Kalian memang brengsek!! Bajingaaan!!" Bajingaaaannn!!" Teriaknya keras. Sakit sekali. Sayang, tidak ada yang dapat menjadi saksi kecuali Tuhan dan kesunyian.

Srrrriiitttttsss!

Mobil terhenti.

Jimmy memejamkan matanya meredam amarah. Ia teringat beberapa menit yang lalu saat menunggu Mutia di kantor selama tiga jam. Panik, cemas, takut, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. 

Dia menekan rasa malu bertanya-tanya kepada orang-orang dan celingukan seperti manusia bodoh yang telah kehilangan mati istrinya. Mutia tak pernah tahu bagaimana rasanya dia saat orang-orang mengatakan bahwa kantor telah kosong beberapa jam yang lalu. Dia juga telah mencari Mutia ke tempat-tempat yang biasa Mutia datangi. Tapi ternyata, wanita yang sangat dikhawatirkan sedang baik-baik saja di rumah Papa.

Apa sebegitu tidak berharganya dia dimata Mutia?! Bahkan untuk sekedar untuk izin saja Mutia tidak sudi menghubunginya?! Apa sebegitu menyebalkan dia baginya?!

Belum hilang kemarahan itu sepenuhnya, belum sembuh rasanya luka yang kemarin, Mutia sudah kembali menggoreskan lagi dengan luka yang baru.

"Kamu jahat Mut!! Selain berkhianat, apalagi yang ingin kamu lakukan?! Kamu--- aaaarghh!!" dia tak seberani itu mengumpat istrinya walaupun perempuan itu tak ada di hadapannya.

Jimmy menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil, keras. Melihat atap-atap mobil yang terlihat berkabut karena mata yang memanas menyemburkan saksi luka.

Hingga beberapa puluh menit berlalu, Jimmy memijat pelipisnya saat keadaan sudah jauh lebih tenang.

"Astaghfirullahaladzim... astaghfirullahaladzim," Jimmy terus menyebut nama Tuhannya. "Maafkan saya Ya Allah, hamba yang tidak tahu diri ini telah menentang ketentuan-Mu. Jika memang ini sebuah ujian maka harusnya aku lebih bersabar lagi, bukan malah terus mengeluh. Maafkan saya Ya allah, bantu saya keluar dari masalah ini."

***

To be continued.

Semua pertanyaan readers sudah dijawab dibab awal ya!

1
Ibelmizzel
dasar pelacur laknat.
Edah J
Ceritanya bagus tidak berbelit Belit karena sdh end jd bacanya cuma 2hari
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
Edah J
Emang sih firasat ibu terkadang lebih tajam
Edah J
ohh begitu yaa
Edah J
nyesel kan Lo😏
Edah J
Apa frans akan dendam
Edah J
So mut mut
Edah J
Istri yang g ada akhlak 😁😁😁
Edah J
Agaknya sedikit rese nie si mut mut🙁
Edah J
like ahh👍
Edah J
Aku engap,sesek nie napas 🙁
Edah J
Hadirr☝️☝️☝️
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
ibah
Candu bangaat baca karya othor yg satu ini,😘
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
Ana_: terima kasih kak❤😙
total 1 replies
Hera sasuwe
suka ceritanya ngena banget tuh
Hera sasuwe
suka critanya
Hera sasuwe
sedih lo dengerin penyesalan mutia nyesek banget bgitu mutia berusaha buat ikhlas
Ekawati Hani
Sosok Jimmy👍👍👍
tidak mau membahas masa lalu.
Ekawati Hani
Ini hukuman buat mutia belum selesai.
Ekawati Hani
Karma buat mutia
Ekawati Hani
Akhirnya Jimmy bersikap tegas👍
nyesek berada diposisi Jimmy😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!