NovelToon NovelToon
Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Nikahkontrak / Poligami / Tamat
Popularitas:372.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Indri Hapsari

Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.

Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?

Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 : Godaan

Empat gelas jus alpukat terhidang. Mbak Lastrilah yang menyiapkan. Dua piring berisi kue risoles dan donat juga tersaji, disiapkan oleh Mbok Darmi. Jus dan kue-kue itu diletakkan di atas nampan panjang, kemudian diantarkan ke depan.

Anjani sigap membantu. Gelas dan piring-piring yang tersuguh lantas dipindahkan ke meja ruang tamu. Riko, dialah yang pertama kali mencomot donat bertabur keju.

"Jangan repot-repot, ah!" celetuk Riko sambil mengunyah donat.

Bantal sofa mendarat ke bahu kanan Riko. Sempat mengaduh, Riko langsung tahu yang jadi pelaku.

"Apaan sih, Bel? Mau donat juga? Nih, kubagi dua!" Riko membagi dua donatnya.

"Buat aku aja!" Marisa merebut potongan donat yang disodorkan pada Isabel.

"Yaelah Marisa. Ambil sendiri kenapa, sih?" Riko protes.

"Biarin! Kamu aja rela bagi dua donatnya buat Isabel, masa sama aku nggak? Mencurigakan!" Marisa memainkan kedua alisnya, lantas mencomot donat yang baru saja direbutnya.

"Sudah cukup berdebatnya. Donatnya masih banyak tuh. Sana ambil satu-satu." Anjani menengahi.

Riko dan Marisa berhenti berdebat. Keduanya asik memakan donat dan menyeruput jus alpukat. Terasa nikmat. Lumayan untuk teman rehat usai menyelesaikan tugas kuliah yang sempat memadat.

"Anjani, pinjam toilet dong!"

"Mau kuanter, Bel?" Riko menawarkan diri, tapi justru mendapat lemparan bantal sofa lagi.

Anjani hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kejahilan Riko pada Isabel. Sementara Marisa yang memang menyukai Riko secara terang-terangan langsung ngomel-ngomel atas perhatian Riko pada Isabel.

"Anjani, ayo anterin aku. Biarin aja mereka ribut berdua!" Isabel menarik pelan lengan Anjani.

"Oke. Ke sebelah sini, ya." Anjani menunjukkan letak toiletnya.

"Tungguin bentar. Jangan ditinggal. Aku takut nyasar," pinta Isabel sebelum masuk toilet.

"Aduh. Mau nyasar kemana coba. Isabel ada-ada saja." Meski demikian, Anjani tetap menunggui Isabel hingga keluar.

Sembari menunggu, Anjani membaca pesan dari Mario. Seperti biasa, sejak lima hari ini Anjani rutin dikirimi pesan oleh Mario dari luar negeri. Sebuah pesan basa-basi tapi mampu membuat Anjani senyum-senyum sendiri.

"Sudah." Isabel keluar dari kamar mandi.

"Kok cepet, Bel?"

"Cuma benerin jilbab aja. Sudah bener kan sekarang?"

"Sudah cakep, kok. Aku senang, kamu makin istiqomah berhijab sekarang. Apa ini hijab pemberian Riko juga?" Anjani kepo, karena Isabel pernah bercerita waktu itu.

Isabel menggeleng. Gamis dan hijab yang saat ini dipakainya memang bukan pemberian Riko. Isabel bahkan sudah memiliki lebih banyak gamis dibanding awal-awal Riko menghadiahinya gamis dan hijab.

"Riko kadang bikin baper. Perhatian bener. Tapi ... sikap Riko sama kamu juga begitu. Ah, ngomong apa sih aku ini. Kok jadi curhat di depan kamar mandi.

Senyum Anjani mengembang. Semakin lama Anjani bisa merasakan perasaan Isabel yang tersimpan. Anjani dapat merasakan posisi Riko yang spesial di hati Isabel, meski Isabel tidak pernah mengakui secara terang-terangan.

"Itu artinya, Riko peduli pada teman-temannya. Riko punya cara tersendiri menunjukkan perhatiannya. Em, Bel. Apa kamu naksir Riko?" Anjani memberanikan diri untuk bertanya.

"Enggaaak! Siapa juga yang bakal naksir sama cowok yang jahil kayak Riko. Diusilin melulu yang ada." Isabel berdusta.

"Oh. Kalau Riko yang naksir kamu gimana?" Anjani memancing.

Isabel cekikikan. "Ya nggak mungkinlah. Meski Riko pernah ngajak pacaran, tapi semua itu hanya bualan. Ngajak ribut doang tuh anak." Isabel menampik kemungkinan.

Tanpa Isabel dan Anjani sadari, Riko mendengar obrolan itu. Riko tak sengaja mencuri dengar saat hendak menuju dapur mencari lap untuk jus alpukatnya yang tumpah di meja ruang tamu.

"Emang nggak seharusnya gue mikir cinta-cintaan. Sudah cukup ditolak Anjani. Nggak perlu lagi ngerasain yang namanya ditolak untuk kedua kali. Heeem. Fokus kuliah aja, Rik." Riko bergumam.

Tidak jadi mengambil lap, Riko memilih kembali ke ruang tamu dengan mimik wajah sedikit lesu.

"Kok balik? Lapnya mana?" Marisa melihat Riko kembali dengan tangan kosong.

"Pakai tisu itu aja, deh."

"Oke, deh."

Anjani dan Isabel kembali ke ruang tamu saat meja sudah dibersihkan dengan tisu. Mimik wajah Riko yang tadi lesu juga telah berubah tengil seperti yang lalu-lalu. Begitu pula dengan Isabel, tampak biasa saja meski hatinya sedikit sendu.

"Anjani, Pak Mario kapan pulang dari luar negeri?" Marisa kepo.

"Insya Allah lusa sudah kembali."

"Kamu nggak kangen jauh-jauhan sama Pak Mario?"

"Kayak gitu ya ditanyain. Anjani ya jelas kangenlah sama suaminya," celetuk Riko.

"Riko nyaut melulu, ih. Aku kan kepo sama Anjani." Marisa protes sambil melempar bantalan sofa.

Menanggapi itu, Anjani hanya senyum-senyum sendiri. Rasa rindu karena berjauhan dengan suami itu pastilah ada, tapi rasa rindu itu telah terbungkus dengan doa. Ditambah lagi, setiap malam Anjani tetap bisa berjumpa Mario, meski hanya lewat video call dengan durasi yang tak seberapa.

"Anjani, flashdiskmu bentar lagi diantar ke sini sama Kak Bas." Isabel memberi tahu usai membalas pesan singkat dari kakaknya.

"Eh, bisa besok aja pas di kampus, Bel."

"Nggak apa-apa. Kak Bas sekalian ada perlu di sekitar sini. Sudah otewe juga. Maafin aku ya. Tadi aku bener-bener lupa." Isabellah yang menyuruh kakaknya untuk mengantarkan. Tidak enak hati karena di dalam flashdisk itu ada file yang dibutuhkan Anjani.

"Yaudah, deh."

File dalam flashdisk sebenarnya memang dibutuhkan Anjani untuk menambah referensi artikel yang sedang digarapnya. File itu didapat dari salah satu kakak angkatan dan belum sempat Anjani pindah ke laptopnya. Tidak sengaja pula terbawa oleh Isabel kemarin sore usai kelas mata kuliah. Anjani bisa saja kembali meminta filenya via email. Akan tetapi, tidak enak hati untuk berkata tidak pada Isabel. Apalagi Kak Bas sudah dalam perjalanan. Semakin tidak enak hati jika Anjani menyuruh Kak Bas untuk balik jalan dan mengurungkan.

Mario bilang, aku nggak boleh ngajak Kak Bas main ke sini. Tapi kan ini perlunya beda. Kak Bas ke sini karena disuruh Isabel nganterin flashdisk. Hanya nganterin flashdisk. Ya, nggak akan apa-apa. Pesan Mario tetap kujaga. Anjani membatin.

Hingga Riko, Isabel, dan Marisa pamit pulang, Kak Bas tak kunjung datang. Isabel mengatakan bahwa Kak Bas mungkin kesasar, tak tau jalan, dan menyerah untuk melanjutkan perjalanan. Isabel masih sempat tak enak hati dengan flashdisk milik Anjani. Namun, usai Anjani memberi pengertian, Isabel pun menurut agar besok saja flashdisk itu dikembalikan.

"Non, ada tamu di depan. Cowok ganteng. Namanya Bas." Pak Gun memberi tahu.

"Minta tolong suruh tunggu sebentar, ya Pak."

"Baik, Non."

Tak disangka Bastian datang juga. Padahal sudah satu jam berlalu sejak Riko, Isabel, dan Marisa pamit pulang. Anjani lebih dulu meletakkan tumpukan baju bersih yang telah disetrika ke kamarnya. Barulah setelah itu Anjani menemui Bastian di teras depan rumah.

"Kak Bas. Maaf menunggu lama."

"Ah, tidak apa-apa."

Anjani membiarkan Bastian tetap duduk di kursi teras, tanpa menyuruhnya masuk ke dalam ruang tamu rumahnya. Anjani benar-benar menjaga pesan Mario. Apalagi Bastian datang seorang diri. Beda dengan Riko yang tadi datang bersama Isabel dan Marisa.

"Mau nganter titipan Isabel ya, Kak?" Anjani tidak basa-basi.

"Iya. Ini flashdiskmu. Sebenarnya mau langsung menuju rumahmu, tapi tadi ketemu teman lama di jalan. Jadi ngobrol dulu deh."

Anjani manggut-manggut. Rupanya Bastian tidak kesasar jalan seperti yang Isabel bilang.

"Suamimu masih di luar negeri?"

Kak Bas kok bisa tau, ya? Oh, mungkin tau dari Isabel. Batin Anjani.

"Iya, kak."

Anjani menjawab seadanya. Berharap Bastian segera menyudahi obrolannya. Nyatanya, Bastian memulai topik lainnya dengan mengajukan tanya.

"Oya, jadinya kamu pilih tempat magang sendiri atau mau yang ditentukan jurusan?"

"Sepertinya aku ikut pilihan jurusan aja, Kak. Isabel juga begitu. Kecuali Riko sama Marisa." Anjani memperjelas agar Bastian tidak bertanya yang lainnya.

Sejujurnya Anjani kurang nyaman berbicara hanya berdua dengan Bastian. Meski posisi mereka di teras depan rumah, tapi Anjani tetap terusik hatinya. Kecemburuan Mario pada Bastianlah alasannya.

"Em ... sebenarnya kemarin aku iseng ngelamar kerja di salah satu kantor. Bukan perusahaan yang terlalu besar, sih. Tapi ... Alhamdulillaah aku diterima kerja di sana."

Sorot mata Anjani berubah. Anjani tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Anjani ikut senang mendengar kabar baik yang disampaikan Bastian. Bermula dari sinilah obrolan-obrolan lainnya tercipta. Anjani lupa dengan niatan awalnya untuk tidak berlama-lama. Alhasil, hingga setengah jam berlalu, obrolan itu telah terlengkapi dengan canda tawa.

"Astaghfirullaah. Mau azan dhuhur, Kak." Anjani terperanjat.

"Kalau gitu aku pamit dulu, ya."

Anjani lekas mengiyakan. Bastian pun pamit dengan langkah riang.

"Tadi itu bukan mengundang Kak Bas kemari. Kak Bas hanya mengembalikan flashdisk ini."

Berulang kali Anjani meyakinkan diri bahwa dirinya tidak melanggar pesan Mario. Tak ingin membebani diri dengan pikiran macam-macam tentang pesan terhadap Bastian, Anjani lebih memilih untuk segera bersuci dan menunaikan kewajiban.

***

Senyum-senyum sendiri, itulah reaksi yang ditunjukkan Mario usai melakukan video call dengan Anjani. Sama seperti hari-hari sebelumnya, di hari kelima ini Mario juga menghubungi sang istri. Hanya saja kali ini lebih awal, agar Anjani tidak tidur terlalu larut malam.

"Paman Li, agenda besok tinggal tanda tangan kontrak saja, kan? Apa ada jadwal yang kulewatkan?"

"Besok, di malam harinya ada jamuan dari pihak relasi. Tidak terlalu formal. Hanya saja penting untuk saling mengenal antar pihak yang berkepentingan."

"Siang harinya adakah jadwal penting?"

"Tidak ada, Tuan. Apakah Tuan Mario berniat membelikan sesuatu untuk Nona Anjani?" Paman Li menebak dengan senyum sumringah.

Mario tersenyum, lantas mengiyakan tebakan Paman Li. Oleh-oleh untuk Anjani pantang dilewatkan oleh Mario.

Hari berganti. Tanda tangan kontrak kerja telah dilalui. Banyak pihak yang terlibat dalam hal ini termasuk Lovey. Siang itu usai pertemuan, sebenarnya Lovey mengajak Mario jalan-jalan. Namun, Mario menolak ajakan karena lebih mementingkan niatannya untuk membelikan Anjani buah tangan.

"Ah, beruntung sekali istrimu ditakdirkan memiliki suami yang perhatian sepertimu. Baiklah. Sampai ketemu di jamuan nanti malam, Mario."

"Vey, ponselmu tertinggal!" Mario sedikit berseru.

"Ups. Iya. Makasih. Bye, Mario!"

Sapaan yang digunakan Mario dan Lovey telah berubah. Tidak lagi seformal dulu. Perjalanan bisnis yang hampir seminggu ini telah membuat Mario dan Lovey semakin akrab. Namun, tetap saja keakraban mereka berdua hanya sebatas rekan bisnis belaka.

Malam telah tiba. Hall hotel tempat Mario menginap menjadi tujuan. Mario didampingi Paman Li menghadiri jamuan yang diadakan pihak relasi. Tentu saja Lovey ikut di acara ini. Terlihat pula pebisnis-pebisnis lain yang turut hadir. Jadilah, jamuan yang diadakan persis seperti pesta pertemuan kalangan pebisnis.

"Pak Mario apa kabar? Masih ingat dengan saya?"

"Pak Dewangga." Mario mengingat mantan relasinya yang baru dua bulan lalu putus kerjasama dengan perusahaannya karena pelanggaran kontrak.

"Hai, Pak Dewangga. Apa kabar?" Lovey juga mengenal, karena Dewangga juga mantan relasinya dua tahun silam.

"Oh hai, Bu Lovey juga ada di sini. Mari kita duduk satu meja dan mengenang kesuksesan di masa lalu."

Mario tidak ingin memutus hubungan meski sudah tidak terikat kerjasama dengan Dewangga. Jadilah, Mario dan Lovey duduk satu meja dengan Dewangga dan rekan bisnisnya yang baru malam itu Mario kenal. Sementara Paman Li dan sekretaris Lovey duduk di meja lainnya.

"Apa Bu Lovey sudah menikah?" tanya Dewangga.

Lovey cukup terkejut juga langsung diserbu pertanyaan seperti itu. Sebagai jawaban, Lovey hanya tersenyum lantas menggeleng pelan.

"Sayang sekali jika perempuan secantik dan sesukses Bu Lovey ini belum menikah." Teman Dewangga menanggapi.

"Kalau Pak Mario ini sudah menikah." Dewangga menjelaskan pada temannya. "Apakah Pak Mario punya niatan untuk beristri lebih dari satu?" imbuh Dewangga.

"Hm?"

Mario mulai tidak nyaman dengan topik obrolan. Baru kali ini Mario mendapati jamuan para pebisnis tapi topik yang dipilih bukan tentang bisnis. Sama halnya seperti Mario, Lovey juga merasa kurang nyaman dengan obrolan yang dibuat mantan relasinya itu.

"Atau mungkin, Bu Lovey ini adalah calon istri keduanya Pak Mario?"

Deg!

Lovey tersenyum canggung. Diliriknya Mario sekilas demi melihat ekspresinya, lantas meneguk minuman yang tersuguh di hadapannya.

Bersambung ...

Terima kasih sudah hadir dan membaca. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙

NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.

***

1
Surya Hermawan
2021 dah lama banget ya, baru gabung thor baru unduh novel toon
eti rohaeti
Luar biasa
Medy Jmb
Mario gak jelas
Mimin Mintarsih
Alhamdulillah, semua bahagia
Mimin Mintarsih
Semoga jd berempat bersahabat
Mimin Mintarsih
Semoga mereka menjadi sahabat sejati
Adiba Shakila Atmarini
ending yg bhagia.sukss sllu dngn krya brikutx
Mimin Mintarsih
Aduh kenapa lagi bahagia ada ada saja
Mimin Mintarsih
Marisa naksir Riko tp tak terbalaskan
Mimin Mintarsih
Marisa nekad dan bakal kena batunya.
Adiba Shakila Atmarini
wah.laki2 sma aja sintingx..dh pnya bini hmil tua .msih mau nikah lgi..
Adiba Shakila Atmarini
jngn sampai anjani dan babyx knpa2 thor..
Adiba Shakila Atmarini
ada bau2 g sedap ni dri ayu.
Mimin Mintarsih
Semoga Anjani nyaman di kampus baru
Ai Hodijah
awalnya teman terus teman curhat lama-lama teman hidup,lupa deh sama yang di rumah
Ai Hodijah
kalau menurutku si mario dan anjani tidak tegas terhadap lawan jenis, berteman akrab boleh tapi harus ada jarak,awalnya hanya dekat lama-lama pegang yang lain kan tetep aja selingkuh
Ai Hodijah
ini si mario mikir gak sih,kan di rumah sakit pasti ada perawat,ini malah mau gendong lagi,menolong boleh tapi gak harus gitu juga di depan istri lagi bikin panas haredang aja
Ai Hodijah
sotoy kamu riko
Lina Handayani
Assalamualaikum, aku mampir, Kak. Awal yang menarik 😍😘.
Nurliana Saragih
Yang lucunya, kenapa Ayah Mario yang selalu berperan?!
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!