NovelToon NovelToon
Trapped By The Devil

Trapped By The Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: ingrid nadya

Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.

Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.

"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.

Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.

Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?

Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Please Don’t Go

Raka sempat ragu untuk mem-posting foto Davina di media sosialnya. Keraguan ini sebenarnya bukan karena memikirkan diri sendiri. Setelah mengunjungi Espoir kemarin, dia menyadari bahwa Davina cukup terganggu dengan gosip-gosip yang ditimbulkan oleh orang-orang sekelilingnya.

Bagaimana pun juga, teman-teman mereka tahu betul bahwa dulu mereka berdua menjalin hubungan. Sudah pasti banyak gunjingan miring tentang dia dan Davina saat ini.

Lalu dia berpikir lagi.

Toh, kemarin semua teman-teman mereka akan hadir di gereja. Apalagi yang perlu disembunyikan?

Dan lagian, semua foto Davina yang dulu sama sekali belum dihapus dari media sosialnya. Kalau ditambah satu lagi, tidak akan menjadi masalah besar kan?

Raka pun cepat-cepat menekan tombol posting sebelum dia berubah pikiran lagi. Kalau nanti Nikolas keberatan, apa pedulinya?

Raka pun kembali larut ke dalam pekerjaannya.

Tanpa menyadari, memang bukan pendapat Nikolas yang perlu dia pedulikan, tetapi pendapat sang objek foto sendiri, Davina.

***

Pintu apartemen Raka tiba-tiba digedor dengan kuat.

“Rakaaaaa!!! Keluar kamu!!!” Davina menjerit.

Raka sampai terlonjak kaget dari kursinya, sama sekali tidak menyangka bahwa Davina akan berani mendatangi apartemennya.

Tapi dia langsung tersenyum. Bukankah ini kesempatan dari semesta untuknya?

Dia berdiri menuju pintu, sempat berpikir untuk langsung membukanya. Tapi dia punya ide lebih menarik. Dia berhenti tepat di depan pintu.

Dia perlu mengajarkan Davina siapa yang mengatur seluruh permainan ini.

“Apa?” tanya Raka, sama sekali tidak berniat membuka pintu.

“Buka pintunya!!!”

“Kamu siapa nyuruh-nyuruh aku?” tanya Raka, lagi.

Davina sempat terdiam di luar sana.

Raka sampai harus mengintip dari lubang kecil di pintu apartemennya, sempat ciut jika rencananya takkan berhasil dan malah membuat Davina pergi dari sini. Tapi dia melihat sosok Davina sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu.

Dia langsung tersenyum lagi. Dia memang paling suka melihat gadis itu pusing tujuh keliling.

“Aku minta kamu hapus sekarang juga postingan kamu, Ka!” kata Davina.

“Aku tanya sekali lagi, kamu siapa nyuruh-nyuruh aku?”

“Kamu bener-bener setan!!!” maki Davina, kehilangan kesabaran.

Dia langkahkan kakinya menjauh dari apartemen Raka sebelum dia punya niat untuk menendangi pintu tersebut. Dia masih sayang kakinya, dia masih sayang menari. Tidak sudi lagi dia menyakiti diri sendiri hanya karena RAKA!

Tapi langkah Davina terhenti begitu dia mendengar pintu apartemen Raka terbuka. Laki-laki itu pun muncul, seperti biasa hanya dengan kaus oblong hitam andalannya. Tapi dia tetap semempesona biasanya dengan tatapan tajam yang penuh intimidasi.

“Password kunci otomatisnya masih tanggal ulang tahun kamu kok,” kata Raka.

Davina menggeram.

“Aku gak peduli!!!"

“Tadi katanya mau masuk, sekarang kok pergi?” tanya Raka, tidak tahu diri.

“Aku benci banget sama kamu, Ka!”

“Aku punya susu cokelat favorit kamu. Mau mampir dulu?” Dia tersenyum jahil.

“Kamu jangan besar kepala! Aku cuma mau minta kamu hapus fotoku dari media sosial kamu!”

“Kamu siapa sih, Dev, nyuruh-nyuruh aku?”

Davina menggeram. Dia benar-benar ingin mengucapkan seluruh kata makian pada Raka. Tapi itu tidak akan membuatnya menang dari laki-laki iblis macam Raka ini. Justru Raka akan semakin senang melihatnya seperti kebakaran jenggot.

“Kamu tuh punya berapa kepribadian sih, Ka?” tanya Davina, pelan, tapi masih bisa didengar oleh Raka.

“Kenapa emangnya?”

“Tadi pagi kamu ninggalin post-it, kemarin kamu ngasih bunga, tapi sore ini kamu kayak orang gila lagi.”

“Jadi kamu ngelihat post it ku tadi? Kamu pasti jadi gak lupa sama seat belt kan?” tanya Raka kesenangan.

“Aku gak butuh lagi semua itu, Ka.”

Raka menghela nafas. Baru kali ini Davina berhasil membuatnya sedih.

“Kalaupun kamu gak butuh, aku gak bakal berhenti ingetin kamu.”

“Kamu udah berhenti ingetin aku dua tahun lalu. Kenapa memulainya lagi?” Kini mata Davina sama sedihnya dengan mata Raka.

Mereka hanya saling menatap tanpa sepatah kata pun selama beberapa menit. Terlalu banyak hal yang tidak bisa diungkapkan, terlalu banyak penyesalan dalam hati Raka. Bagaimana dia bisa menebusnya? Bagaimana mereka bisa kembali pada hubungan yang sempat begitu menyakiti Davina?

Betapa Raka ingin mengungkapkan bahwa sekarang semuanya sudah berbeda. Raka mau berubah. Dia sadar bahwa hanya akan ada satu perempuan saja dalam hidupnya. Dulu, sekarang dan sampai kapan pun juga.

“Kalau kamu masuk, aku bakal hapus fotonya.”

Davina kaget dengan nada lembut Raka, tapi dia tidak percaya begitu saja.

Melihat keraguan Davina, Raka langsung mengambil kesempatan.

“You have my words, Devni...”

(Kamu bisa pegang kata-kataku, Devni...)

***

Davina pun masuk ke dalam apartemen Raka. Tempat yang dulu pernah sangat familiar untuknya.

Beberapa kenangan langsung menyerbu ingatannya. Beberapa kenangan terasa menyenangkan, tapi beberapa yang lain sangat menyakitkan.

“Duduk dulu.” Raka menunjuk sofa.

Davina mengangguk.

Dia mengamati sekelilingnya begitu Raka menghilang ke dapur. Sama sekali tidak ada yang berubah dari tempat ini. Semua perabotannya masih merupakan pilihan Davina dulu.

Davina sudah bergerak maju selama dua tahun terakhir, tanpa menyadari bahwa Raka tetap berada di tempat yang sama. Ntah karena dia malas saja mengganti seluruh perabotannya, atau memang Davina benar-benar pernah jadi orang yang sangat berarti. Bahkan tadi Raka mengaku bahwa masih membuat tanggal ulang tahun Davina sebagai password kunci otomatis apartemen ini. Kekonyolan yang tiada habisnya jika mengingat bagaimana dulu Raka begitu teguhnya mengabaikan Davina. Jika benar secinta itu, kenapa Davina dulu ditelantarkan?

“Mungkin dia cuma malas...” gumam Davina meyakinkan diri.

“Gue bukan pemalas, Devni.” Tiba-tiba Raka muncul. Dia memegang dua gelas yang sedang mengepulkan hawa panas. Wangi cokelat langsung menyebar ke seluruh ruangan.

Davina menunduk.

Raka berjalan dan meletakkan satu gelas di depan Davina.

“Tempat ini sama sekali gak berubah bukan karena aku malas.”

Davina menarik nafas. Bagaimana Raka selalu dapat membaca pikirannya? Dia menutupi kegugupannya dengan mengangkat gelas berisi cokelat hangat buatan Raka.

“Aku gak peduli. Sekarang kamu harus nepatin janji kamu untuk ngehapus fotoku dari media sosial kamu.”

Kali ini Raka yang menghela nafas, Davina yang sekarang sama sekali bukan gadis penurut kesayangannya. Dia pun mengambil ponsel dari saku celananya, lalu cepat-cepat menghapus postingan fotonya tadi.

“Done. Puas?” tanya Raka.

Davina mengangguk. Dia sempat menyeruput cokelat tersebut beberapa kali hanya demi sopan santun. Lalu, akhirnya dia memutuskan untuk bangkit berdiri.

“Ya udah, aku pulang ya.”

“Cepet banget.” Raka cemberut.

Davina mengabaikannya, kemudian berjalan keluar.

“Devni...” panggil Raka.

Davina tetap berjalan.

“Davina Elizabeth Mahardhika...”

Langkah Davina berhenti. Bukan karena dia menyukai panggilan itu. Tubuhnya hanya selalu refleks untuk patuh pada panggilan Raka. Selalu. Tanpa disadari.

Raka buru-buru berjalan menuju Davina. Dipeluknya tubuh Davina yang bergetar dari belakang.

“Please, don’t go...”

(Tolong, jangan pergi...)

***

Sa ae sepiknya, si anak setan 🤪

1
Borahe 🍉🧡
Haha gila si Raka
Vina
uhuy
Shifa Burhan
novel egois wanita

aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu

jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)

kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain

ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah

author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,

novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
Fareza Gmail.Com: baper keknya..
total 3 replies
Shifa Burhan
kasian sekali karakter pemeran utama pria di dalam nov buatan wanita

raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina

aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini

jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil

lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh

pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
Indri Any: bener banget novel mom tree aku ngikuti novelnya semua
total 2 replies
Shifa Burhan
enak ya jadi pemeran utama wanita dalam novel bebas berbuat apa saja dan semua perbuatannya pasti dibela author (karena authornya wanita jadi dia hanya melihat dari posisi ini)

dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita


*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu

pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita

sekian
Andi Andi
puas banget bacanya. sesuai keinginan ku. 🥰
Andi Andi
nggak sadar diri banget sih si yuni. dari awal dia muncul dicerita ini. aku uda benci banget.
Andi Andi
mantaap raka utk pertama kalinya bersikap dewasa😄
Andi Andi
assyk ini yg aku mau. aku sukaaaa.
Andi Andi
akhirnya ketahuan kan siapa yg lebih tulus mencinta. mana si yuni yg sok sok an. dukung teman. yg di dukung kurang ajarrr. 😁
Andi Andi
akhirnya terucap juga. rasa yg terpendam selama ini
Andi Andi
ya aku juga benci julia
Andi Andi
aku benci yuni.
Andi Andi
niko kamu tu yg masuk dalam kehidupan raka dan dav bukan raka yg masuk dlm hubungan kalian. lupa ya. klu aku mah ogah punya camer kayak mama niko
Andi Andi
aku dari awal uda benci banget sama si yuni ini.
Andi Andi
uda balikan lagi aja.
Andi Andi
nggak banget nih mamanya niko.
Andi Andi
sumpah aku tak bisa lagi menahan air mata ku. tes.. yes jatuh deh. mewek ha.. 😂
Andi Andi
nyesek ya. nyesek nggak. nyesel nggak. bangeeet pake iya. ya mau gimana lagi. Terima aja walau pahit.
Andi Andi
kok aku nggak rela ya niko sama dav. pake cium2 lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!