Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Maaf
Pukul 15.30 para kerumunan murid-murid tengah berhamburan keluar sekolah untuk pulang kerumahnya melepas penat. Tak banyak dari mereka juga lebih memilih untuk nongkrong terlebih dahulu. Banyak klakson terdengar dimana-mana, dengan adanya 1 gerbang berukuran sedang jelas para anak-anak sangat tidak sabar untuk segera melajukan kendaraan. Apalagi mereka harus menyebrang terlebih dahulu.
Dua halte yang berdiri di depan sekolah SMA Cakrawala juga dipenuhi mereka yang menunggu jemputan dan bis sekolah, termasuk Monica yang sekarang tengah duduk memainkan ponselnya. Sebenarnya tadi dia sempat mendapat tawaran dari Daniel untuk pergi ke Rumah Sakit menengok Dami lalu pulang, akan tetapi dia menolaknya dengan alasan langsung ingin pulang saja. Sedangkan yang sebenarnya terjadi perasaannya ingin menyendiri.
Di sana Monica acuh dengan sekitarnya, dia terus mencoba menggeser-geser layar ponselnya untuk menghilangkan jenuh menunggu bis sekolah datang. Namun tiba-tiba seseorang datang memberikan helm padanya, Monica mendongak dan mendapati Ardan berdiri menatapnya dengan helm di kepala dan di tangan yang diserahkan padanya. Dia tidak langsung menerimanya, menunggu lelaki itu untuk menjelaskan.
"Aku antar kamu pulang." ucap Ardan yang masih dengan tangan menyodorkan helm ke gadis di depannya.
"Aku naik bis sekolah aja." balas Monica mengalihkan tatapannya ke arah lain sambil memasukkan ponsel ke saku.
"Kalau nunggu bis sekolah lama, Ka. Mereka nggak jemput sekolahan kita doang."
"Enggak masalah."
"Aku mau ngomong sama kamu."
Monica diam tak menjawab, matanya tetap ia alihkan ke sembarang arah. Ardan yang tahu mulai menjadi pusat perhatian pun menarik lengan Monica untuk melangkah menuju motornya. Ia sempat berontak sampai akhirnya Ardan dengan cepat memakaikan helm untuk Monica, hingga dia akhirnya diam menuruti mau laki-laki itu.
"Naik!"
Monica tetap diam, dia merasa bingung dengan sikap Ardan. Kemarin ia merasa kekasihnya itu baik-baik saja lalu disekolah tadi tiba-tiba aneh sekali, dan sekarang berubah lagi.
"Mau naik sendiri atau aku paksa." ucap Ardan menatap Monica yang tidak bergerak sama sekali. Sedangkan Monica yang tak mau ambil pusing pun menuruti permintaa Ardan dan pasrah akan dibawa kemana.
Di perjalan Monica duduk mengabil jarak dengan Ardan membuat tangannya ia letakkan begitu saja di depannya.
"Jangan mundur-mundur nanti kamu jatuh, Ka." ujar Ardan setengah berteriak agar Monica mendengarnya di belakang.
Jelas Monica mendengarnya, tapi ia berlagak tak mendengar apapun dan lebih mundur untuk tetap menjaga jarak. Namun belum sempat ia mundur tangannya ditarik oleh Ardan dan dilingkarkan ke pinggangnya. Dengan Refleks tubuh Monica juga semakin maju,, ia mencoba menarik tangannya, akan tetapi kekuatan Ardan lebih besar dari pada dirinya.
Ardan lebih memelankan laju motornya karena sekarang ia menyetir dengan satu tangan sedangan satunya tetap memegang tangan Monica agar tidak lepas.
Motor itu mulai memelan dan berhenti tepat di depan kedai ice cream. Monica segera turun, melepaskan helmnya sendiri dan diserahkan ke Ardan. Ia mengamati sekeliling, sebenarnya dalam hati dia kegirangan. Tapi karena perasaannya yang egois membuat Monica tetap menunjukkan rasa marahnya.
Ardan menarik Monica untuk lebih mendekat ke kedai, menyuruh gadisnya itu untuk duduk terlebih dahulu sembari menunggunya memesan ke abang penjualnya. "Tunggu di sini dulu, jangan ke mana-mana." perintah Ardan sambil menarikkan kursi untuk Monica.
Ardan tidak perlu lagi harus repot-repot bertanya apa yang Monica inginkan. Apapun yang menyangkut perempuan itu sudah tertata rapi di luar kepalanya.
Ardan datang membawa dua cup ice cream rasa coklat, diletakkannya di meja tempat Monica duduk. Ia ikut mendudukkan pantatnya lantas menatap kekasihnya yang masih terlihat marah padanya.
"Aku minta maaf, ya. Untuk masalah tadi." ucap Ardaan menarik satu tangan Monica yang berada di atas meja.
"Kamu pasti tahu kan, Ar. Aku nggak butuh itu ... Yang aku butuhin itu penjelasan kamu."
Ardan mengusap lembut punggung tangan Monica, meredakan amarah perempuan itu yang tergambar jelas di wajahnya. "Tadi tuh aku cuma kaget, karena tiba-tiba kamu ada di sekolah, dan aku sempat lihat kamu dekat sama Daniel. Jadi aku cuma ingin tahu apa hubungan kamu sama dia ... maka dari itu aku tarik kamu keluar lapangan karena ada Daniel di sana, malah setelah itu Daniel nyamperin kita, jadi aku refleks bilang kaya gitu."
"Tapi tadi kamu juga diem aja, nggak ngejar aku." sanggah Monica.
"Daniel udah ngejar kamu, ngapain juga aku ikutan."
Monica tersenyum melihat wajah Arkan yang menampakkan kekesalan begitu juga dengan nada bicaranya. "Jadi kamu cemburu cuma karena itu, sampai harus bilang aku cuma teman kamu."
"Ya, cemburu lah. Secara kamu tuh pacar aku, trus tahu tiba-tiba kamu kenal sama cowok lain."
"Ya, emang harus juga bilang aku cuma teman." ulang Monica menekankan kata 'teman'
"Soal itu aku minta maaf ... kelepasan."
"Jangan gitu lagi, aku takut."
"Iya ... maaf ya."
"Iya, Arrr ... minta maaf mulu dari tadi. Makan tuh es krimnya udah leleh." Monica menarik tangnnya yang digenggam oleh Ardan, ia mulai menyantap ice cream miliknya dan melupakan semua masalah yang ada.
"Pasti es krim aku udah hambar deh." celetuk Ardan.
"Kenapa" tanya Monica.
"Karena ... "
"Manisnya udah pindah ke kamu." potong Monica dengan nada meledek, ia sudah sangat tahu apa yang akan Ardan katakan. Sedangkan Ardan tertawa mendengar ucapan Monica yang seakan tengah meledeknya.
"Basi deh Ar dari dulu gombalan itu terus gak berubah."
"Soalnya itu doang yang aku hafal." balas Ardan sambil mengacak gemas rambut Monica.
Ardan sadar ia salah telah melakukan itu pada orang yang jelas amat dia cintai. Tapi entahlah seiring berjalannya waktu ia seperti menemukan orang lain dihatinya.
...
Tayangan televisi drama korea sedang diputar. Pandangan Kayla tidak lepas sedikitpun dari sana, ia sangat serius menyimak jalannya ceirta ditemani cemilan ciki yang ia pangku. Akan tetapi ada satu tangan yang sedari tadi ikut campur memakan cemilannya dan terus bertanya hal-hal yang menjengkelkan baginya, seperti yang terjadi sekarang ini.
"Ini ya si Goblin nya, Ay?" tanya lelaki di sampingnya sambil menunjuk layar.
"Iya, Daniel ... " jawab Kayla santai.
"Goblinnya bisa prediksi masa depan gitu ya?"
"Hmm."
"Kenapa kok muncul tiba-tiba si Goblinya."
"Iya, kan tadi si ceweknya niup api gitu, itu caranya manggil Goblin."
"Semua orang bisa manggil dong."
"Enggak, pengantinnya doang yang bisa." jelas Kayla yang masih terfokus.
"Ouh ... itu pengantin Goblin."
"Ha'ah."
"Si Goblinnya itu nyari apa sih di sana?"
"Pengantinnya."
"Yang tadi kan, kok nggak bilang aja kalau dia pengantin Goblin gitu."
"Enggak tau aku juga, liat aja dulu gimana ceritanya."
"Enggak maksud aku kenapa nggak langsung bilang aja kan biar cepet gitu." ulang Daniel bertanya yang membuat wajah Kayla mulai menampakkan kekesalan.
"YA AKU NGGAK TAU DANNN!! Ih ... yang bikin cerita bukan aku nanya mulu deh."
"Maklum lah baru kali ini lihat, kan pengen ngerti ceritanya."
"ENGGAK GITU JUGA DANNN, BIKIN NGGAK FOKUS." Rengek Kayla yang menatap Daniel penuh amarah. Bisa-bisanya dia sedari tadi terus dihujani pertanyaan tak penting.
"Ya ... Salah sendiri lihat langsung episode tengah nggak dari depan dulu biar aku ngerti."
"Ya mana aku tahu, orang yang nayangin tv bukan aku kok."
"Dih, ngambekan." ledek Daniel melihat Kayla benar-benar terlihat kesal, dia mengambil ciki yang ada dipangkuan Kayla untuk ia makan sendiri.
"Daniel!!! Apa-apaan sih, balikin."
"Enggak."
"Daniel balikin ihhh, itu ... "
Mereka berdua langsung kicep kala mendengar bunyi telpun dari ponsel Kayla yang tergeletak di meja samping televisi. Dengan jengkel Kayla berjalan ke arah tv. Ia terkejut saat melihat nama 'Tante Reni' sedang memanggilnya, jarang-jarang ibu sahabatnya itu meneleponnya.
"Hallo ... Ada apa ya tante?"
"Ay, tolong kamu sama Daniel ke Rumah Sakit sekarang ya, Dami kritis lagi."
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘