Ririn, seorang gadis sederhana yang tiba-tiba mendapat lamaran dari Devan yang merupakan direktur perusahaan tempat Ririn bekerja.
Devan, seorang direktur perusahaan sekaligus seorang suami dari wanita bernama Citra.
Citra, seorang istri yang baik tetapi malang nasibnya. Dokter telah memvonisnya mandul, tidak bisa mempunyai anak. Karena rasa sayang luar biasa pada suaminya, Citra menyuruh suaminya yaitu Devan untuk menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan.
Bagaimana kelanjutan cerita Ririn, Devan dan Citra? Yuk baca novel ini sampai tamat😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Ternyata banyak juga toko disekitar hotel, ada yang bertitel factory outlet ataupun butik. Devan memilih salah satu toko yang terbesar.
"Pilih beberapa baju termasuk baju tidur."
Ririn mengangguk. Ia mulai memilih pakaian yang dipajang disitu. Ririn bukan tipe orang yang rewel dalam memilih, yang penting pakaian itu menutup aurat dan nyaman dipakai. Dengan mudah Ririn sudah mendapatkan dua setel pakaian dan itu sudah termasuk kerudungnya juga. Sekarang tinggal memilih pakaian dalam. Kali ini Ririn melakukan pemilihan ukuran dengan kecepatan maksimal yang ia bisa, ia malu kalau Devan melihatnya sedang memilih pakaian dalam.
Baru disadarinya Devan dari tadi tidak didekatnya. Mata Ririn mencari sosok Devan. Ah, itu dia sedang menelepon rupanya. Ririn mendekatinya.
"Bye sayang... hati-hati ya di rumah... I love you... muahh," sebagian percakapannya terdengar oleh Ririn.
Oh... dia sedang menelepon Citra sepertinya. Suamiku sedang berusaha membagi perhatiannya. Ia sedang belajar bersikap adil. Ketika sedang bersamaku, ia tetap berusaha memberi perhatian pada Citra.
Ririn tersadar, ia tidak akan memiliki Devan seutuhnya, ia harus berbagi dengan Citra.
"Mas sudah dapat apa aja?"
"Celana jeans, celana pendek, kemeja, t-shirt, sepatu kets, baju dalam.... kalo kamu udah dapat apa aja?" Devan balik bertanya.
"Baju dua setel sama baju dalam."
"Baju tidurnya aku yang pilihin ya?"
Mereka mencari counter yang memajang baju tidur perempuan. "Yang ini aja... gimana?" Devan menunjuk manekin yang memakai baju menerawang yang super minim. Ririn langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak ah... sama aja nggak pake baju... semuanya kelihatan... ini aja." Ririn menunjuk daster seperti yang biasa ia pakai di rumah.
"Jangan yang itu... kayak emak-emak... ini aja ya?" Devan menunjuk baju tidur model dress yang lengannya cuma tali, panjangnya mungkin hanya sepaha.
Ah.. ini mah bakalan lama, seleranya aneh tidak sama denganku, aku harus sedikit mengalah.
"Gimana kalo ini?" Ririn menunjuk manekin yang sebelahnya, memakai baju tidur model dress tanpa lengan... kata orang sih model you can see... panjangnya selutut.
"Mbak tolong yang itu satu... yang itu juga satu." Devan menunjuk baju tidur yang dipilih oleh Ririn dan satu lagi pilihan dia yang tangannya cuma tali.
"Rin pilih juga sepatu yang nyaman buat jalan." Ririn menurut, ia ke counter sepatu, dicarinya sepatu yang nyaman buat jalan kaki nomor 39. Tak memakan waktu lama, ia sudah mendapatkannya.
"Mas, aku perlu make up juga."
"Oh aku lihat tadi counter makeup ada dibagian depan toko ... Kamu kayaknya butuh tas juga Rin," kata Devan ketika melewati counter tas perempuan.
Ririn mengangguk, ia kemudian memilih tas berwarna hitam berukuran sedang. Kalau tas warna hitam biasanya matching aja dengan warna apapun dari pakaian kita.
Ririn teringat, ia juga tidak membawa alat sholat. "Mas aku mau beli sajadah dan mukena juga ya?"
Sekarang tinggal ke counter makeup. Ririn menunjuk semua makeup yang biasa ia gunakan. Akhirnya.. selesai sudah, pikirnya.
Ririn mencari Devan, ah itu dia sedang di counter parfum. "Beli parfum juga Mas?"
"Iya, aku pilihin parfum buat kamu juga.."
"Mas, kita belanja banyak hari ini."
"Iya nggak apa-apa... anggap saja kita memulai hidup baru dengan barang-barang yang serba baru juga," Devan tertawa.
...***...
Ternyata ketika tiba di hotel, sudah lewat tengah hari. "Rin, kita makan siang dulu aja mumpung dekat ke restorannya." Ririn hanya mengangguk sambil tersenyum.
Selesai makan, Ririn dan Devan menuju ke kamarnya dilantai atas dengan menenteng banyak paper bag hasil berbelanja tadi.
"Mas, sholat Zuhurnya mau berjamaah?" tanya Ririn ketika sudah sampai di kamar.
"Kamu duluan aja deh... aku mau istirahat dulu sebentar," kata Devan sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Ririn pun mengambil wudhu, kemudian menunaikan sholat Zuhur
"Sekarang giliran Mas yang sholat." Ririn berjongkok didekat sofa yang ditiduri Devan. Dilihatnya mata Devan terpejam. Dicoleknya pipi Devan "Mas... sholat dulu.."
Devan membuka matanya, ia tersenyum pada Ririn. Tiba-tiba tangannya memeluk leher Ririn dan menariknya supaya mendekat. Ia mencium bibir Ririn dengan mesra.
"Mmm... ahh... " Ririn gelagapan kehabisan nafas, tangannya mendorong dada Devan agar menjauh. "Mas sholat dulu ya... aku mau mandi." Ririn memberanikan diri membuat terobosan... cup... ia mengecup pipi Devan.
Devan tersenyum. "Salah... ciumnya disini..." Ia menunjuk bibirnya.
"Nggak mau, nanti jadi lama lagi" Ririn mencebikkan bibirnya.
Devan beranjak dari sofa, ia mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Zuhur.
Ririn masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan berendam sebentar didalam bathtub. Ia mulai mengisi bathtub dengan air, mencampurnya dengan sedikit air panas agar sedikit hangat, lalu memasukkan sabun cair sampai berbusa. Setelah membuka bajunya, Ririn masuk kedalam bathtub. Ah... nyamannya... me time.... Ririn memejamkan matanya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ririn keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Devan sudah selesai sholatnya. Kini ia sedang duduk di sofa dan bertelepon. Ririn mendengar sebagian percakapannya.
"Kamu jangan terlalu capek ya? Ingat... jaga kesehatan! Pekerjaan di rumah biar Bi Sari saja yang mengerjakannya."
"I love you, bye..." Devan mengakhiri percakapannya. Ririn yakin Devan sedang bertelepon dengan Citra.
Ririn pura-pura tidak mendengarnya, ia pura-pura sibuk berdandan, memakai pelembab kemudian meratakan bedaknya. Sampai saat ini ia belum mendengar Devan mengatakan sayang atau cinta pada dirinya. Ririn penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Devan padanya.
...***...
Kini Devan dan Ririn duduk di restoran menikmati afternoon tea. Ada yang spesial dari afternoon tea dihotel ini, yaitu menyajikan kue-kue dan minuman tradisional seperti kue lumpur, talam, goreng pisang, kroket, sekoteng, wedang jahe dan goreng tahu susu yang disiram kecap pedas.
"Tahu susunya enak."
"Rin, kamu makannya kayak anak kecil aja, belepotan gini." Devan mengusap kecap dari bibir Ririn dengan tissue. Ririn hanya tertawa kecil. Ia tampak asyik menikmati makanannya.
"Mau aku ambilin lagi tahu susunya?"
"Gak usah Mas... sudah cukup, itu masih ada pisang goreng." Ririn kini menyantap pisang goreng bertabur keju dan meises. Ia harus mengisi ulang tenaganya yang tadi terkuras habis.
"Selesai makan, nanti kita jalan-jalan di taman ya?" Ririn mengangguk, tapi sepertinya Devan tidak melihat anggukkannya, ia sedang sibuk dengan ponselnya.
"Iya Mas." Ririn bersuara mengiyakan. Devan masih sibuk dengan ponselnya, sepertinya ia sedang mengirim pesan... mungkin dengan Citra, pikir Ririn.
Ririn menatap Devan... walaupun ia berada tepat didepannya namun pikirannya pasti terbagi. Apa ini yang namanya cemburu?
*********************************************
terima kasih sudah membaca novel ini, mohon beri dukungan author dengan memberikan rate, vote, comment n like ya 😘😘😘
*********************************************
ceritanya kyk keseharian bagus 👍
mampir juga di karya ku ya Tangis Gadis Tegar dan Dikhianati tapi Dicintai karya Fiwanaka
terimakasih
yg maksa minta devan nikah lagi sopo,,, devan jelas² saranin adopsi, citra ngeyelll !!!
akh sumpah kasian aku mah sama Ririn, sekolah yg tinggi Rin, trus berkarier, buka usaha ato apa,,, hempaskan lah Devan n Citra,,, seumur hidup makan ati klu kayak gitu ceritanya,,,