Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Pagi yang cerah, namun wajah dari seorang gadis yang terlihat berjalan dengan tas yang ia sampirkan di bahunya itu sangat tak bersahabat. Kakinya ia langkahkan dengan malas untuk menuruni anak tangga yang terasa tidak ada habisnya. Pagi ini, ia telah disambut oleh pemandangan yang sangat membuat jiwanya menangis. Carla menarik kursi dan mendudukkan dirinya dengan lesu.
"Sayang, ada apa dengan wajahmu?"
"Hah? Carla udah cuci muka kok mom." sahut Carla sambil meraba-raba wajahnya sendiri.
Charissa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri semata wayang nya itu. "Bukan itu, kenapa wajahmu kusut sekali? Apa kau kurang tidur?" tanyanya sambil memberikan segelas susu pada putrinya.
Sekali lagi, Carla meraba wajahnya sendiri. Apa benar wajahnya terlihat kusut? "Tidak mom, mungkin Carla hanya kecapean."
"Hm, iya mungkin saja."
Carla kembali memakan sarapannya meski tidak lapar ia harus sarapan, jika tidak ingin kembali memancing masalah yang membuat jiwa nya terluka kembali.
"Kemarin mom dengar keributan dari kamarmu, ada apa sayang?"
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
Charissa beranjak dari duduknya dan segera memberikan air pada putrinya. "Pelan-pelan."
"A-apa? Keributan mom?"
"Iya waktu tengah malam, ada apa sayang?"
"Oh itu, ada kecoa mom jadi Carla teriak."
Charissa menatap putrinya dengan tatapan aneh, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar rumahnya dengan tatapan ngeri. "Kecoa? Bagaimana bisa?"
Carla mengangkat bahunya acuh, kemudian beranjak dari duduknya. "Mungkin rumah kita kurang bersih kali mom."
"Kurang bersih?" cicit Charissa sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Carla berangkat ya, bye mom!" teriak Carla sambil berlari, ia tidak ingin ditanya lebih lanjut mengenai kejadian semalam.
Teriakan yang memenuhi seluruh penjuru rumahnya itu, membuat Charissa tersadar dari lamunannya. Ia pun menoleh dan mendapati anaknya yang sudah berlarian keluar. Charissa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Namun ia kembali bergidik ngeri ketika mengingat perkataan putrinya, bahwa ada kecoa di rumahnya.
***
Hening, hanya deru nafas yang tertelan oleh suara kendaraan di pagi hari yang berbunyi. Carla menyandarkan kepalanya pada jendela mobil, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Matanya terpejam menikmati alunan dari kicauan para burung yang tengah menari indah. Carla membuka matanya, kicauan itu membuatnya tidak ingin memejamkan mata. Ia ingin melihat bagaimana para penghuni angkasa itu menikmati hidupnya.
Tanpa batasan, larangan, serta kekangan. Mereka, para penghuni angkasa yang senantiasa menghiasi langit tanpa imbalan. Meskipun begitu, para manusia tidak pernah membuat kaumnya tenang. Itulah manusia, pemilik derajat tertinggi. Tapi tidak pernah puas dengan keadaan.
Gadis itu kembali menutup matanya, dengan rasa keterkejutannya. Kemudian ia tersenyum tipis, sekarang dirinya seperti burung yang terbang di angkasa. Terbang, menikmati keindahan bumi namun tiba-tiba tanpa sengaja tertembak oleh para manusia.
"Nanti kau masuk angin."
Suara yang sarat akan perintah itu mengalun, celah jendela yang membuatnya bisa melihat dunia kini tertutup sempurna. Carla menghembuskan nafasnya pelan, entah kenapa jalanan menuju tempatnya menimba ilmu terasa panjang.
"Suka kejutanku?"
Carla menoleh, kemudian tersenyum tipis. "Hm, sangat indah dan sangat mengejutkan! So thank you."
Steve ikut tersenyum, dan meraih tangan gadisnya. Namun segera ditepis kasar oleh empunya. Bukannya marah ataupun merasa tersinggung lelaki itu malah tertawa renyah.
"Ada apa? Bukankah kau bilang kejutannya sangat indah?"
"Kau keterlaluan Steve.."
"Tidak baby, itu tindakan yang tepat."
Carla menggelengkan kepalanya tak percaya, atas apa yang lelaki itu katakan. "Tepat? Dengan cara membakarnya?"
Steve tersenyum miring, kejutan yang ia berikan pada gadisnya ternyata begitu istimewa. "Iya, apapun bisa aku musnahkan!"
Air mata yang menggenang di pelupuk matanya, menetes begitu saja tanpa diminta. Carla dengan segera mengusapnya kasar. Kejutan yang kekasihnya itu berikan, sungguh sangat mengejutkan. Satu-satunya benda yang menemani harinya kala bosan, dimusnahkan begitu saja. Novel yang biasanya tersusun rapi di rak buku, kini naas karna telah menjadi abu.
"Cepatlah kita sudah terlambat!" seru Carla datar, menatap lurus jalanan kota London yang padat.
"Jangan marah, kau boleh meminta apapun hari ini. Kecuali pergi dariku!"
"Tidak banyak, biarkan aku belajar dengan tenang hari ini!"
Steve tersenyum manis, dan segera mempercepat laju mobilnya. "Of course **bab**y.."
***
Carla memasuki kelasnya dengan lesu, mood nya hari ini telah hilang begitu saja. Buku-buku novel kesayangannya telah hilang begitu saja dalam waktu semalam. Entah kapan lelaki itu menyelinap ke kamarnya dan mengambil semua bukunya, kemudian membakarnya. Carla menghembuskan nafasnya kasar, begitu banyak bagian yang belum sempat ia baca.
"Kusut amat, kenapa?"
"Novel."
"Ada apa dengan novel?" tanya Keisya penasaran.
"Dibakar."
"Hah?! Siapa yang membakarnya? Apa rumahmu kebakaran Carla?" teriak Keisya histeris.
"Dibakar Keisya, bukan kebakar!"
Keisya menopang dagunya di atas meja, seolah mencerna apa yang Carla ucapkan. "Hah? Siapa yang membakarnya?"
"Memangnya siapa lagi yang bisa membakarnya?"
"Apa dia?" bisik Keisya pelan.
"Hm."
Keisya mengusap tengkuknya, tiba-tiba saja ia merasa merinding setelah mendengar kisah sahabatnya itu. "Lalu dimana dia sekarang?" tanyanya pelan, pasalnya ia tidak melihat kekasih sahabatnya itu dimanapun.
Carla mengangkat bahunya acuh, seolah tak peduli kemana perginya lelaki itu. Setelah mengantarnya tadi memang, entah kemana Steve pergi meninggalkannya tanpa mengucapakn sepatah katapun.
Keisya berdecak tak suka, lihatlah betapa tidak pedulinya Carla pada kekasihnya sendiri. "Kalau dia selingkuh, mampus!"
Carla memutar bola matanya malas mendengar peringatan sahabatnya itu. "Hm, semoga." jawabnya acuh.
"Huh yaudah! Jangan nangis-" ujar Keisya, namun ucapannya terhenti kala mendengar suara seseorang yang datang tanpa diundang.
"Hai semua, boleh gabung?"
Keduanya kompak menoleh, namun Carla kembali memalingkan wajahnya segera setelah melihat siapa yang bicara. Berbeda dengan seorang gadis, yang mematung di tempat dengan mulut terbuka lebar.
"Duduk aja."
Suara dari Carla, berhasil membuat Keisya sadar dari lamunannya sendiri. Ia kembali mengusap tengkuknya sendiri, entah kenapa ia berkali-kali lipat merasa takut dibandingkan mendengar cerita sahabatnya tadi.
"Carla aku ke toilet dulu ya." seru Keisya cepat kemudian segera beranjak dari duduknya, dan berlari keluar.
Carla mengerutkan keningnya, ia bingung dengan tingkah sahabatnya yang berubah-ubah setiap saat. Terlebih ia melihat sepupunya yang hendah duduk, namun diurungkan dan malah berlari keluar. Carla mengangkat bahunya acuh, toh bukan urusannya juga.
***
"Tunggu!"
Keisya menoleh kebelakang, namun hanya sekilas dan setelahnya ia berlari dengan sekuat tenaganya. Oh God, kenapa dirinya seperti pencuri yang tertangkap basah sekarang?
"Keisya berhenti!" Teriakan nyaring sepanjang koridor itu menggema, yang membuat jantung Keisya semakin berdetak kencang. Pagi-pagi dirinya sudah berlarian di koridor yang membuat tatapan para siswa siswi yang berlalu lalang mengarah padanya.
Kakinya terus saja berlari hingga terhenti di taman belakang sekolahnya. Ia mendudukkan dirinya dengan nafas yang tersengal sambil mengusap keringat di keningnya. Keisya mengadahkan kepalanya ke atas, menatap awan yang menyejukkan hati. Hari masih pagi yang membuatnya bisa menatap gumpalan awan secara langsung tanpa terhalang sinar matahari. Keisya memejamkan matanya sejenak, menetralisir rasa paniknya sendiri. "Aku takut..." lirihnya pelan.
"Kenapa lari?"
"Aaaaaaaaa." pekik Keisya nyaring, setelah mendengar bisikan lelaki itu tepat di telinganya. Dengan cepat ia beranjak dari duduknya, namun belum satu langkah tangannya di cekal kuat yang membuatnya kembali terduduk sambil meringis.
"L-lepas!"
"Tenanglah, ayo kita bicarakan baik-baik."
"Saya tidak ada urusan apapun dengan anda!" desis Keisya tajam dan menatap nyalang lelaki itu. Meski rasa takut menderanya, namun ia harus berani agar lelaki tidak jelas di hadapannya ini tidak semena mena padanya.
Lelaki itu tertawa lepas dan menatap remeh pada seorang gadis yang tadinya lari terbirit-birit, namun sekarang terlihat begitu berani. "Tidak ada?" tanyanya pelan.
"Apa harus aku ingatkan Sasya?"
"Keisya! Namaku Keisya!" tekan Keisya di setiap katanya. Ia tidak suka orang lain memanggilnya dengan nama itu.
"Terserah! Tapi kau berhutang sesuatu padaku, dan sekarang aku ingin menagihnya."
"Katakan berapa!"
Alden tersenyum miring, "Kau tau sendiri bukan uang yang aku maksud."
Keisya menelan ludahnya susah payah, tidak adakah seorang malaikat yang datang untuk menolongnya sekarang?
"Cepat katakan! Aku sudah memberimu waktu Sasya!"
...TBC...
...Voment!...