Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Klotak klotak.
Suara tabung reaksi kaca yang saling bersentuhan memecah kesunyian malam di laboratorium farmasi rumah sakit.
Bima Aditya berdiri di depan meja lab dengan mengenakan kacamata pelindung dan jas putih bersih.
Di belakangnya, Leo berdiri bersandar di dinding dekat pintu sambil melipat tangan di dada.
"Apakah Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan, Dokter Bima?" tanya Leo memecah keheningan.
"Satu tetes saja yang salah, ledakan racun itu bisa membunuh kita berdua di ruangan ini."
Bima tidak mengalihkan pandangannya dari pembakar spiritus di depannya.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Leo."
"Tetaplah berdiri di sana dan pastikan tidak ada staf rumah sakit yang masuk ke lab ini."
Bima mengambil pipet kaca dan menyedot cairan pelarut khusus.
"Sistem, berikan rasio pelarut yang tepat untuk menetralisir racun sintetis ini," batin Bima.
[Menganalisis komposisi neurotoksin sintetis.]
[Gunakan tiga tetes pelarut basa kuat dan panaskan pada suhu tepat lima puluh lima derajat celcius.]
[Peringatan, batas toleransi suhu hanya dua derajat.]
Bima meneteskan cairan pelarut itu dengan tangan yang sangat stabil.
Berkat peningkatan ketangkasan jari sebesar lima belas persen dari sistem, tangannya sama sekali tidak gemetar.
Tes, tes, tes.
Tiga tetes cairan bening jatuh ke dalam ekstrak akar yang berwarna merah darah.
Sssshhh.
Asap putih tipis langsung mengepul dari dalam gelas ukur tersebut.
"Tutup hidungmu, Leo!" perintah Bima cepat.
"Jangan hirup asap putih itu atau paru-parumu akan lumpuh!"
Leo segera menarik kerah mantelnya untuk menutupi hidung dan mulutnya.
Warna cairan ekstrak akar itu perlahan berubah dari merah darah menjadi merah jernih seperti kristal cair.
Bima menghela napas panjang dan mematikan pembakar spiritus.
"Berhasil."
"Racun neurotoksinnya sudah menguap sepenuhnya."
Bima memasukkan cairan merah jernih itu ke dalam sebuah botol kaca kecil dan menyumbatnya rapat-rapat.
Leo berjalan mendekat dan melihat botol itu dengan ekspresi lega.
"Jadi ini obat yang akan menyelamatkan Nona Kiara?" tanya Leo.
"Ini bukan obat penyembuh, Leo," jawab Bima sambil melepaskan sarung tangan karetnya.
"Ini hanya penstabil sementara untuk menekan pertumbuhan abnormal otot jantungnya."
"Lalu kapan Nona Kiara bisa sembuh total?"
Bima menatap botol kecil di tangannya dengan pandangan serius.
"Aku butuh waktu untuk membuka prosedur penyembuhan tingkat genetik."
"Obat ini akan memberiku waktu tambahan yang aku butuhkan itu."
"Ayo kita pergi ke kediaman Pratama sekarang, ini sudah hampir pagi."
Bima memasukkan botol itu ke dalam saku jasnya.
Mereka berdua berjalan keluar dari laboratorium dan menuju mobil van yang terparkir di belakang rumah sakit.
Brummm.
Van hitam itu kembali melaju membelah jalanan kota yang masih sepi.
Sinar matahari pagi mulai mengintip dari ufuk timur saat mereka tiba di gerbang kediaman Pratama.
Kakek Darma sudah menunggu di ruang tamu utama dengan wajah cemas.
"Bagaimana, Bima?"
"Apakah kau berhasil mendapatkan obatnya?" tanya Kakek Darma langsung berdiri saat Bima masuk.
Bima tersenyum dan mengangguk pelan.
"Saya berhasil memurnikan ekstrak akarnya, Kakek Darma."
"Di mana Nona Kiara sekarang?"
"Dia ada di kamarnya, dokter keluarga kami baru saja memasang infus cairan vitamin."
"Mari saya antar ke sana."
Bima mengikuti Kakek Darma menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.
Di dalam kamar yang luas dan mewah, Kiara terbaring lemas di atas ranjang.
Wajahnya masih terlihat sangat pucat dan napasnya pendek-pendek.
"Dokter Bima..." panggil Kiara dengan suara parau saat melihat Bima masuk.
"Jangan banyak bicara dulu, Nona Kiara," ucap Bima dengan nada lembut.
Bima duduk di tepi ranjang dan mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan merah jernih itu.
"Ini adalah ekstrak Akar Teratai Darah."
"Cairan ini akan menghentikan pembengkakan di jantung Anda dan meredakan rasa sakitnya."
Kiara menatap botol itu dengan sebersit harapan di matanya.
"Apakah ini pahit?" tanya Kiara mencoba bercanda meskipun tubuhnya lemah.
Bima tertawa kecil mendengarnya.
"Ini mungkin terasa sedikit panas di tenggorokan, tapi khasiatnya sangat cepat."
Bima menuangkan cairan itu ke dalam sendok teh yang ada di meja nakas.
"Buka mulut Anda perlahan."
Kiara menurut dan Bima menyuapkan cairan merah itu ke dalam mulut Kiara.
Glek.
Cairan itu tertelan dengan lancar.
Kakek Darma berdiri di samping ranjang dengan tangan saling menggenggam erat.
"Bagaimana rasanya, Kiara?" tanya kakeknya cemas.
Kiara memejamkan matanya selama beberapa detik.
"Dada... dadaku terasa sangat hangat sekarang."
"Rasa tertusuk jarum di jantungku perlahan menghilang, Kek."
Tit, tit, tit.
Suara dari mesin monitor detak jantung di samping ranjang mulai melambat dan teratur.
Angka denyut nadi yang tadinya berada di kisaran seratus tiga puluh kini turun menjadi delapan puluh.
"Luar biasa," gumam dokter keluarga Pratama yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan.
"Ekstrak tanaman apa itu tadi?"
"Bagaimana bisa menstabilkan ritme jantung secepat itu tanpa efek penurunan tekanan darah?"
Bima hanya menoleh sekilas pada dokter keluarga itu.
"Itu rahasia medis saya, Dok."
Bima kembali menatap Kiara yang kini terlihat jauh lebih santai.
Warna kemerahan perlahan kembali menghiasi pipi wanita cantik itu.
"Terima kasih banyak, Dokter Bima."
"Anda kembali menyelamatkan nyawa saya untuk kedua kalinya," ucap Kiara sambil tersenyum manis.
"Sudah saya bilang, saya tidak akan membiarkan penyakit ini mengambil nyawa Anda," balas Bima.