VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 21 : Saatnya Ken Beraksi
"Benar-benar pagi hari yang menyusahkan! Badanku masih capek dan pegal, aku juga belum sarapan tapi sudah harus memanjati gedung seperti ini! Sialan!"
Ken tak hentinya bersungut-sungut dalam hati. Matahari pagi bersinar terik dan mulai menyengat. Tidak perlu waktu lama suasana di sekitar gedung sekolah ini semakin ramai oleh para penghuninya yang berkerumun di depan sebuah menara.
"Eh? Bukannya itu Bu guru Kimmy? Apa yang dia lakukan disana?"
"Waah, hebat sekali! Dia seperti pemanjat profesional! Wonder woman!"
"Miss. Kimmy semangat!!!
Sorak sorai siswa yang pernah Ken ajar di kelas terdengar antusias. Mereka sangat berisik persis seperti di pasar. Ken hanya memutar bola matanya sebal, merutuki kenapa dirinya harus berpakaian ini di saat seperti ini. Rok dan blus renda-renda ini menyusahkan saja.
Kalau saja Ken memakai setelan dia yang biasanya, dia pikir saat ini pasti dirinya tampak keren. Tapi di saat darurat seperti ini adalah tanggung jawabnya sebagai polisi untuk langsung turun tangan. Dengan gesit tanpa mempedulikan penampilan dan keselamatan dirinya, Ken memanjat menara gedung itu layaknya spiderman. Sebenarnya dia bisa saja naik tangga tapi menurutnya itu akan memakan waktu terlalu lama.
"Hey, kau yang disana! Namamu Jerome, kan? Jangan berdiri disitu! Ayo kemarilah..." Bujuk Ken tepat setelah dia sampai di atap. Dengan nafas terengah dia mengulurkan tangannya ke arah Jerome, berharap pemuda itu meresponnya.
"Pergilah orang aneh!" Jerome malah membentak dan mengusirnya.
Ken bisa melihat dari kejauhan jika tubuh pemuda itu tampak gemetar ketakutan. Berdiri di tepi atap menara berpegangan pada pagar kawat, salah langkah sedikit akan berujung fatal. Melihat keadaannya seperti itu membuat Ken semakin cemas.
"Kau tahu banyak hal yang indah di dunia ini yang mungkin belum pernah kau temui dan kau alami... kenapa kau malah ingin mengakhiri hidupmu?"
Dengan nada bicara lembut Ken mulai berusaha memberi konseling. Dia sadar sebagai pribadi yang sering bersikap cuek dan masa bodoh, Ken bukanlah tipe orang yang cocok untuk memberi nasihat apalagi membujuk orang yang sedang putus asa seperti ini. Tapi bagaimanapun dia harus berusaha membujuk pemuda ini agar tidak melakukan hal bodoh yang berujung tragis.
"Aku tidak mau mendengar ceramah dari seorang ladyboy!" Balas Jerome. Ucapannya itu membuat Ken sadar saking panik dan terburu-buru dirinya lupa malah berbicara dengan suara pria.
"Hey aku ini bukan ladyboy! Aku ini pria tulen, coba kau lihat?" Ken yang sudah tak peduli lagi dengan penyamarannya spontan melepas wig yang dia pakai hingga benda itu terbang tertiup angin.
"HIII! APA ITU! RAMBUT TERBANG?!" Terdengar seruan kaget dari orang-orang yang berkerumun bawah.
"Namaku Kennedy bukan Kimberly, dan aku adalah polisi, detektif" Lanjut Ken dengan nada bicaranya yang tegas.
"Pffs, mana ada polisi yang berdandan seperti ladyboy? Apa kau gila? Kau pikir sedang main film komedi apa?" Ledekan sarkastis Jerome malah membuat Ken jadi naik darah.
"Hey! Ini namanya penyamaran, BODOH! Aish, susah sekali kau mengerti!" Jawab Ken yang gregetan. Dia sengaja memanfatkan perbincangan tadi untuk mengalihkan perhatian Jerome agar bisa menghampirinya lebih dekat.
"Diam disitu! Jangan memakiku atau aku melompat!" Sialnya Jerome cukup peka dengan apa yang dilakukan Ken. Dia malah semakin nekat melangkahi pagar kawat pembatas lalu kemudian duduk di tepi atap. Menyadari situasi semakin berbahaya, Ken mencoba berbicara lebih lembut.
"Baiklah maaf...maaf! Kumohon tenanglah... aku yakin kita bisa bicarakan masalahmu dan mencari jalan keluarnya, oke?!"
"Apalagi yang perlu dibicarakan? Orang sepertimu tidak akan mengerti!" Balas Jerome dingin.
"Kalau kau tidak menceritakannya bagaimana aku bisa tahu masalahmu? Apalagi untuk mengerti! Katakan apa karena ada masalah keluarga, utang piutang atau karena patah hati?"
"..." Tidak ada jawaban dari pemuda itu membuat Ken Jadi bingung harus berbuat apa.
"Dengar, anak muda! Aku juga pernah seumuran dirimu dan mengalami masalah yang hampir sama! Dengar, kalau hanya soal masalah cinta lalu kau coba bunuh diri, itu adalah langkah yang sangat bodoh! Lihatlah dirimu ini! Kau sangat tampan, Jaguar! Pasti banyak wanita bahkan juga pria mengantri untuk menjadi kekasihmu! Apa kau tahu itu, huh? Dulu aku juga bodoh dalam hal mata pelajaran dan juga bodoh soal pacaran. Kerjaanku hanya membolos dan ugal-ugalan dan saat itu aku pikir aku tak punya masa depan! Tapi lihat, sekarang aku sudah menjadi detektif walaupun sialnya aku masih single sampai sekarang!" Ken mulai berceloteh mengenang masa lalunya layaknya orang tua. Dia harap upayanya ini walaupun terdengar bodoh tidaklah sia-sia.
"Aku tidak butuh banyak orang menyukaiku... yang aku inginkan hanya seseorang saja... " Jerome berucap lirih sambil tertunduk lesu. Dari situlah Ken menelan ludahnya kasar. Ternyata persoalan cinta adalah alasan utama pemuda ini bertingkah gila. Ken bisa merasa situasi semakin gawat terurana saat melihat raut wajah Jerome yang tampak semakin murung.
Ken jadi serba salah dan semakin bingung. Bagaimana bisa dia menolong pemuda ini jika dirinya saja yang usianya hampir kepala 3 masih bingung dengan masalah cinta. Di saat Ken sedang sibuk memutar otaknya tiba-tiba seseorang datang di antara mereka dan berteriak.
"JEROME HENTIKAN YANG KAU LAKUKAN!!!"
"PERGILAH KAK JOSH! Jangan peduli padaku!" Sahut Jerome tanpa menoleh sedikitpun pada pemuda yang baru datang.
"Dengar Jerome, sebelum kau memutuskan ingin mati kau harus kencan denganku dulu!"
Perkataan Joshua yang tiba-tiba membuat Jerome tersentak kaget dan hampir terjatuh.
"Apa maksudmu dengan kencan? Heh, pergilah kau tidak perlu mengasihaniku!" Usir Jerome dengan nada sinis.
"Dasar keras kepala! Aku tidak sedang mengasihanimu! Kau ini benar-benar bodoh! Oh... tidak yang bodoh itu aku." Joshua menggelengkan kepalanya. Dia berpegangan pada pagar kawat sambil menatap nanar punggung Jerome
"Aku sangat bodoh sampai tidak menyadari perasaanmu sejak lama. Jerome... Saat tim kita kalah, saat aku baru putus dengan mantan-mantan pacarku, kau selalu ada disampingku dan menghiburku. Kau meskipun agak bodoh dan lamban tapi kau adalah orang yang paling mengerti aku... aku tidak ingin kehilanganmu, Jer! Dalam tim ataupun dalam hidupku. Kau sangat berharga bagiku Jerome! Kau tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun!"
Penuturan Joshua yang panjang lebar membuat Ken merasakan suasana di atap menara ini mendadak jadi romantis. Sebagai pria dewasa yang straight, Ken jadi merasa canggung karena baru kali ini menyaksikan sepasang kekasih gay yang masih remaja bertengkar. Ken merasa seharusnya dia tak berada disini.
"Bagaimana Jerome... apa kau mau berkencan denganku? Ayo pegang tanganku! Jangan terus duduk di situ!" Bujuk Joshua sekali lagi.
Hening. Tidak ada jawaban dari Jaguar, pemuda itu malah menatap ke bawah dan kakinya mulai gemetar. Kalimat yang diutarakan Joshua sebenarnya cukup membuat hatinya terenyuh. Tapi dia tidak begitu percaya karena dia tahu Joshua adalah pemuda yang pandai merayu.
"Jikapun kau tidak mau karena sudah kadung membenciku dan tidak percaya padaku, ingatlah... kau juga masih memiliki orang tua. Apa kata Ibumu jika melihat putra kebanggaannya seperti ini?!" Lanjut Joshua lagi.
"Mereka tidak peduli padaku! Alasanku bersekolah disini berbeda denganmu Kak Josh!" Mata Jerome yang merah kembali berkaca-kaca menahan tangis. Dia menarik nafas dalam, tatapannya menerawang jauh. Mimpi dan masa depan baginya sudah tidak ada lagi, tekadnya sudah bulat, bahkan kata-kata manis Joshua tak bisa lagi menggerakkan hatinya.
"Semuanya sudah terlambat Kak Josh..." Ucap Jerome sambil mengatupkan bibirnya rapat. Tanpa disangka kalimat itu menjadi kalimat terakhirnya sebelum dia melompat.
"OH TUHAN! JEROME JANGAAAN!!! AWAASSSS!!!"
Beberapa orang penonton spontan berteriak dan sebagian lagi memejamkan mata dan menahan nafas. Tidak ada suara tubuh yang jatuh membuat sebagian orang bernafas lega meskipun masih berharap cemas saat melihat tubuh Jeromeng ya sedang bergelantungan di atas menara.
"Ugh Sial! Jerome kau sangat beraattt" Joshua menggeram hebat saat menahan beban Jerome di satu tangannya. Beruntung berkat kesigapannya dia berhasil menangkap Jaguar sebelum pemuda itu berbuat gila dengan melompat.
"LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MATI!" Teriak Jerome yang malah berontak, berusaha melepaskan tangannya dari Joshua.
"TIDAK, BODOH! KALAU KAU MATI AKU JUGA... AKH!" Joshua mengernyitkan giginya berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dirinya dan juga Jerome. Namun sialnya pagar kawat tempat dia berpegangan sepertinya akan putus, tak sanggup menahan beban tubuh keduanya.
"YAAH! AAAARGHH!!" Jeritan histeris para penonton terdengar lagi saat pagar kawat benar-benar putus. Sebagian dari mereka menutup mata karena tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan tragis di sekolah ini untuk kesekian kalinya.
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh