Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Pewaris
*
*
*
"Oma minta, kamu hamil lagi ya ..."
Qistina terdiam. Kesunyian jatuh seketika di ruangan itu. Hamil? Bagaimana mungkin dia hamil lagi, disaat kesehatannya yang akhir-akhir ini memudar. Dan lagi putri mereka masih sangat kecil, baru berusia hampir empat bulan.
"Oma ... Eloise masih kecil. Mana mungkin aku hamil lagi."
Oma Retno, menggenggam tangan Qistina hangat. Senyum terlukis tipis di wajahnya. "Tentu tidak sekarang Sayang. Nanti saat Usia Eloise satu tahun. Oma ingin kamu memberikan cicit laki-laki. Karna Dewangga Group membutuhkan pewaris laki-laki."
Qistina menggigit bibirnya. Pikirannya melayang pada layar mesin pencarian yang ia sangkal tadi pagi. Ada sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya. Meski berkali-kali ia menyangkal hasil dari mesin pencarian itu, namun sudut hatinya yang lain seolah mengambil peran untuk membenarkan.
Lalu sekarang, Oma mengharapkan bayi laki-laki dari rahimnya dengan dalih perusahaan besar milik mertuanya membutuhkan pewaris tahta.
Qistina memaksakan senyumnya, bingung harus memberi jawaban Oma apa.
"Setelah Eloise berusia satu tahun, Oma minta... kamu jangan menunda kehamilan. Setidaknya, sebelum usia orang tua ini benar-benar habis aku ingin melihat pewaris Dewangga lahir dari keturunan Albie."
Kalimat yang dilontarkan Oma Retno mengunci bibir Qistina. Perempuan itu hanya mampu mengangguk ragu-ragu. Karna tak enak jika harus menolak permintaan Oma yang selama ini begitu baik padanya.
*
*
*
*
Gedung Rumah Sakit Pusat, bergerak dengan ritme yang sama. Namun bagi Albie, waktu berlalu seperti kungkungan duri tajam di setiap gerakannya. Diruangan dokter Surya, pria itu duduk dengan jemari bertaut dibawah meja.
"Kita harus mulai kemoterapi secepatnya, Bie."
Suara penuh wibawa dokter Surya, mendominasi ruangan.
Albie yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajah. "Secepatnya, Dok?"
Dokter Surya mengangguk. "Karena ini leukemia akut, Bie. Kita nggak bisa menunggu terlalu lama. Sel blast-nya berkembang cepat. Kalau kita biarkan, kondisinya bisa semakin buruk."
Albie terdiam.
"Jadi semakin lama ditunda... Semakin besar risikonya." Dokter Surya menyelesaikan kalimatnya.
Albie masih terdiam beberapa saat. Senyum getir terukir di sudut bibirnya. "Bahkan saya belum sanggup memberitahu Qistina, Dok."
Dokter Surya menarik napas, kemudian membuka kembali lembar hasil pemeriksaan Qistina. " Seperti yang saya katakan tadi Bie, kita nggak bisa membiarkan kondisinya berjalan tanpa terapi."
Albie menunduk. Jemarinya yang sejak tadi bertaut perlahan mengepal.
"Ini terlalu berisiko, kita punya banyak waktu untuk menunda, " imbuh Dokter Surya.
Albie perlahan mengangkat wajah. Jemarinya yang sejak tadi bertaut dibawah meja perlahan terlepas. "Kalau begitu, kapan jadwal induksinya Dok?"
Dokter Surya menutup map didepannya. Sorot mata penuh wibawa miliknya, menunjukkan ketegasan. "Pemeriksaan terakhir selesai, kalau tidak ada kendala kita bisa mulai terapi induksinya."
Albie mengangguk pelan. Menatap map yang di tutup oleh beliau. "Baik, Dok."
Baru saja Albie hendak bangkit dari kursi, ponsel di sakunya berderit panjang. Gegas ia raih, memeriksa layar, sebelum mengangkat. Untuk kemudian menggeser tombol hijau.
"Dokter Albie ..." Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa. "Pasien kecelakaan in coming Dok, kondisinya tidak stabil. Dokter diminta segera menuju IGD."
Albie menoleh sekilas pada Dokter Surya. Demi sopan santun, ia mengangguk hormat padanya. Dan dibalas anggukan yang sama oleh Dokter tersebut.
"Iya, saya ke sana." sahutnya sembari berdiri, melangkah keluar ruangan.
Sambungan telepon terputus. Ia memasukkan kembali ponsel kedalam saku jas putihnya. Kemudian secepatnya masuk kedalam lift, yang akan membawanya menuju lantai paling bawah.
Pintu berlapis logam itu, otomatis tertutup. Lampu berwarna hijau bergerak turun. Tanpa menunggu lama, ia sudah berada di lantai satu.
Albie berjalan semakin cepat, tetapi pikirannya justru masih tertinggal di ruangan Dokter Surya. Kata-kata dari dokter senior itu berputar di kepalannya. Hingga tanpa sadar langkahnya sudah sampai di depan IGD.
"Dok!" Hana perawat yang tadi menelpon Albie, menyapanya duluan.
Albie langsung masuk keruang tindakan. Menyibak gorden berwarna hijau tua dengan satu kali sentakan. " "Gimana kondisinya?"
Adrian menoleh, tangannya sedang sibuk mengenakan sarung tangan steril. "Pasien perempuan, sekitar usia dua puluh lima. Kecelakaan motor, " sahutnya.
Albie ikut meraih sarung tangan yang diberikan oleh Suster Hana. "Tekanan darahnya gimana?" tanya Albie.
"Tekanan darah turun," sahut Adrian, " Aku curiga ada perdarahan di bagian abdomen."
Albie mengangguk. Matanya beralih pada monitor.
"Berapa tekanan darah terakhir?"
"Tekanan darahnya, 80 per 50 Dok." sahut Hana.
"Han, Dokter Naufal sudah di hubungi?" Adrian bertanya.
Belum sempat Hana menjawab, dari arah pintu langkah kaki mendekat. Naufal sampai dengan nafas sedikit memburu. "Buruk?" tanyanya cepat.
"Mengarah pada perdarahan abdomen." Albie menjawab tanpa menoleh pada Naufal. Tatapanya tertuju pada pasien.
Pasien perempuan itu meringis. Tubuhnya bergerak selisah di atas ranjang. Hana sigap menahan bahunya agar tidak terlalu banyak bergerak.
Albie menatap monitor kembali, dahinya berkerut melihat angka yang tertera di layar. "Naikkan cairannya. Terus siapkan ... "
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Tatapan Albie kembali ke pasien. Setetes cairan berwarna merah jatuh dari hidung pasien tersebut.
Albie terdiam. Irama jantungnya berdetak lebih cepat. Ia terpaku pada cairan merah yang terus mengalir melewati lekuk hidung, kemudian jatuh ke kain putih yang di tempelkan Hana untuk menahan cairan itu agar tidak jatuh mengenai bantal.
Albie membeku. Kain putih yang berubah warna itu mengingatkannnya pada sesuatu. Bukan lagi wajah pasien yang ia lihat, tapi wajah Qistina yang pagi tadi mengusap darah di hidungnya. Sama persis dengan pasien itu.
Monitor terus berbunyi. Semua yang ada di ruangan itu terus bergerak. Masih sibuk di sekelilingnya. Namun Albie tetap tak bergerak. Pandangannya masih tertahan di kain putih yang sudah berubah warna. Tangannya perlahan mengepal.
"Bie." panggil Adrian.
Albie tetap diam.
Naufal meliriknya. Kemudian mendekat dan menepuk pundaknya. "Bie."
Albie tersentak. Kedua matanya berkedip beberapa kali, seolah baru kembali dari tempat yang jauh. "Hm?"
Naufal menunjuk pasien di hadapan mereka. "Pasien!"
Albie menoleh. Tatapannya langsung berubah. Ia segera mengambil kasa dari tangan Hana, lalu menempelkannya pada hidung pasien. "Tekan hidungnya Han."
Hana langsung mengikuti instruksi.
Albie kembali menatap monitor, "Pasang dua jalur infus besar. Siapkan cairan dan crossmatch darah. Kita lakukan USG FAST, untuk mendeteksi cairan di rongga perut." lanjutnya.
Semua bergerak sesuai instruksi Albie tanpa banyak bicara, tanpa banyak bertanya.
"Tekanan masih turun, dan FAST positif." ujar Naufal
"Gimana Bie?" tanya Adrian.
Albie diam sebentar, menatap pasien yang semakin lemah.
"Siapkan OK!"
Albie sangat terbiasa menghadapi kasus-kasus seperti ini, namun bagaimana jika yang terbaring nanti adalah Qistina? istrinya sendiri yang selama ini menjadi pusat dunianya.
Albie menelan ludah, yang terasa seperti bola duri melewati kerongkongannya yang kering.
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔