Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setelah Alneo selesai mandi dan berpakaian rapi, ia segera mengambil satu unit ponsel pintar baru dari atas kasurnya.
Ponsel itu terasa sangat ringan dan kuat, dengan bodi belakang berwarna gradasi biru-perak yang elegan.
Ia memasukkannya ke dalam saku jaket, lalu melangkah keluar kamar membawa ponsel dan laptopnya di dalam tas.
Di ruang tamu, Riani sudah menunggu. Gadis itu sudah rapi. Ia sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding, tampak cemas sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
"Kak Alneo lama banget, ih! Riani takut gerbangnya keburu ditutup," gerutu Riani begitu melihat kakaknya keluar.
Alneo terkekeh, berjalan mendekat sambil merapikan kerah jaketnya. "Tenang saja, kita enggak akan telat. Lagian, Kakak punya kejutan buat kamu."
Riani langsung mendongak, matanya berbinar penasaran. "Kejutan apa? Jangan bilang Kakak cuma mau nepuk pundak Riani terus bilang 'semangat', ya?"
"Sembarangan kamu," Alneo mencibir jenaka.
Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan ponsel pintar dan 8 buah laptop lalu menyodorkannya ke hadapan sang adik. "Nih. Sesuai janji Kakak tadi."
Riani tertegun. Matanya melebar menatap ponsel dan laptop dari Alneo.
Bukannya langsung mengambil, ia justru melangkah mundur setapak dengan wajah pucat.
"Kak... Kakak dapat dari mana ponsel sebagus ini dan laptop yang sangat banyak ini? Ini... ini kan ponsel keluaran terbaru yang harganya belasan juta! Kakak enggak... enggak mencuri, kan. Dan laptop pengeluaran terbaru, mana banyak banget lagi?!" suara Riani gemetar.
Alneo langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, efek samping punya barang terlalu mewah dalam semalam," batinnya geli.
"Hei, dengar Kakak. Kakakmu ini bukan pencuri. Ini adalah bonus kerja keras Kakak. Bonus dri AI barang spek tinggi ini, pokoknya apa pun itu kamu jangan banyak tanya dan terima saja apa yang kakak berikan, dan semua ini legal, oke," kata Alneo dengan jelas.
Alneo terpaksa berbohong sedikit. Lagipula, tidak mungkin ia jujur dan bilang, "Hei Dek, Kakak punya Sistem melayang yang ada di kepala kakak yang bisa memunculkan barang dari layar hologram seperti sihir." Riani pasti malah mengira otaknya sudah geser.
Riani menatap mata Alneo lekat-lekat. "Benaran, Kak? Ini... buat Riani?"
"Iya, Riani sayang. Ini seratus persen milikmu. Sini, Kakak ajarkan cara menyalakannya," Alneo meraih jari jemari Riani, menuntunnya untuk menyentuh tombol daya di sisi ponsel.
Seketika, layar ponsel itu menyala dengan transisi cahaya yang sangat halus, menampilkan layar yang sangat modern namun anehnya sangat mudah dipahami.
"Wah... Cepat banget responsnya, Kak! Enggak kayak ponsel temen Riani yang suka nge-lag," kata Riani takjub, ibu jarinya mulai mengusap layar dengan ragu-ragu.
[Deteksi: Pengguna sekunder telah terdaftar. Mengaktifkan mode perlindungan radiasi untuk anak di bawah umur.]
Alneo tersenyum tipis. Sistemnya ternyata bekerja dengan sangat cerdas bahkan perlindungan untuk anak di bawah umur.
"Sudah, kagumnya disimpan buat nanti di sekolah. Sekarang ayo berangkat biar cepat, nanti kamu terlambat," kata Alneo sambil berdiri dan mengacak rambut Riani.
"Siap, Kapten! Terima kasih banyak, Kak Alneo! Kakak adalah kakak terbaik di dunia!" seru Riani riang, memeluk pinggang Alneo sekilas sebelum menyambar tas sekolahnya yang ada di kursi.
Riani membawa satu buah laptop dan satu buah ponsel, sisanya ia simpan di bawah bantal sofa, biar robot yang menyimpannya nanti.
Alneo tersenyum hangat melihat binar kebahagiaan adiknya yang sudah lama hilang.
Sambil melangkah keluar rumah dan mengunci pintu, ia berbisik dalam hati, "Sistem, terima kasih."
[Sama-sama, Tuan. Ini barulah permulaan dari perubahan hidup Anda.]